Saat berusia sepuluh tahun, Paman Berg membawa Alesia putri dari Bella Alexandria ke sebuah pulau terpencil di segitiga Bermuda, sebuah pulau yang dilindungi oleh kabut dan gugusan karang, ke sebuah kastil yang atapnya ditaburi oleh bintang dan diliputi oleh kekuatan.
Setiap tiga ratus tahun sekali kekuatan Kastil Bintang akan melemah, dan dinding penahan gunung Utara akan runtuh, setiap tiga ratus sekali keluarga Alexandria ditakdirkan untuk berjuang mempertahankan Kastil Bintang dari serangan Amenthis dan gunung Utara.
Mampukah Alesia bersama keluarganya mempertahankan Kastil Bintang hingga malam berakhir, Sanggupkah Alesia mengalahkan Amenthis dan membalaskan dendam kematian dari kedua orangtuanya.
Sebuah kisah tentang kekuatan dan keberanian untuk melindungi keluarga, sebuah kisah tentang keajaiban Kastil Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radeya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Besar Untuk Alesia
Kamar itu adalah ruang kerja Nyonya Lucy, aku menengok ke dalam kamar yang terbuka itu dan melihat Nyonya Lucy sedang berdiri di depan jendela menatap ke arah halaman depan, dia berdiri membelakangi pintu, sudah seminggu lebih aku tidak melihatnya. Yang lebih mengejutkan lagi di belakang Nyonya Lucy di seberang meja, tinggi dan menjulang, Paman Berg sedang memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Untuk apa paman Berg tengah malam ke Kastil Bintang? Bukankah seharusnya dia berada di menara pengawas? Apa yang sedang mereka berdua bicarakan? kakiku tidak bergerak, kakiku seperti terpaku di lantai, ini sesuatu yang tidak bisa aku lewatkan begitu saja.
"Air laut tampak tenang kurasa kami bisa melewatinya," Paman Berg sedang bicara.
"Mereka hanya menipu Berg, itulah yang membuat kapal-kapal tenggelam," kata Nyonya Lucy, "dalam beberapa hari langit akan berubah tapi dasar laut akan rusak lebih dulu, kita tidak bisa mengambil resiko itu."
Suara Paman Berg terdengar memohon dia berkata, "Rosi bisa aku perbaiki, kupikir kita punya beberapa hari, sebelum Flexi bertambah liar dan tak mungkin diikuti lagi, kita harus membawa anak itu pergi sebelum terlambat."
Nyonya Lucy berkata, "Terakhir kali kau menggunakan Flexi sebagai pemandu untuk melewati gugusan karang kalian bahkan hampir tidak selamat. Tidakkah kau lihat para burung Phoenix mulai tidak bisa dikendalikan, mereka tidak akan menuntun kalian keluar dari pulau, mereka hanya akan menyerang karena mengira kita musuh."
Paman Berg berkata, "Flexi tidak akan melakukannya, dia yang paling bisa menahan diri, kita bisa berhasil jika kita bisa pergi secepat mungkin."
Dari gerakan punggungnya aku bisa melihat Nyonya Lucy menghela nafas, Paman Berg terus memburunya.
"Nyonya berjanji bahwa dia disini hanya sebentar, dia hanya akan melihat kuburan kedua orang tuanya, mengenali jati dirinya sebagai keturunan Alexandria lalu pergi menjauh dari Kastil Bintang."
Dia? Siapa yang Paman Berg maksud dengan dia?
Nyonya Lucy meletakkan telapak tangannya di kaca.
"Sedikit perubahan rencana, kau tahu dalam perang hal itu biasa terjadi," seru Nyonya Lucy.
"Dia harus pergi!" seru Paman Berg, "tidak ada perubahan rencana, tidak untuk yang ini!"
"Tidak ada yang boleh pergi," kata Nyonya Lucy dengan suara tegas.
"Jangan mengingkari janjimu. Aku tidak pergi menjemputnya dari panti asuhan hanya untuk melibatkannya dalam bahaya," kata Paman Berg.
Nada suara Paman Berg mulai meninggi.
"Aku tahu itu, karena itu aku harus meminta maaf padamu," seru Nyonya Lucy.
"Dia masih anak-anak, dia tidak harus mengalami ini," kata Paman Berg, "kurasa Bella tidak akan setuju kau memperlakukan putrinya seperti ini."
Siapa yang dimaksud anak-anak, aku tidak melihat anak kecil lain lagi di Kastil Bintang selain aku.
Putri Bella! Mereka membicarakan aku.
"Dia tetaplah keturunan Alexandria, dia terikat perjanjian menjaga Kastil Bintang ini saat dibutuhkan, sama seperti anggota keluarga yang lainnya," kata Nenek Lucy, "keluarga Dorian juga akan datang kita butuh semua orang."
Siapa keluarga Dorian? Mike menarik rambutku agar aku cepat pergi dari sana tapi aku mengabaikan rengekannya.
Paman Berg berkata, "Keluarga Dorian hanya akan membuat keributan, Nyonya tidak bisa melibatkan anak-anak, Ronald bahkan masih sembilan tahun!"
"Mereka juga terikat perjanjian! apa kau tidak ingat apa yang terjadi pada Torc, mereka boleh pergi tapi harus kembali saat Kastil Bintang membutuhkan, dan kita membutuhkan semua bantuan Berg, bahkan Dorian dan anak-anaknya, termasuk juga dengan anak itu."
"Dia bahkan tidak tahu apa-apa tentang kastil ini, Bella membuatnya pergi untuk menghindari ini."
"Bella bukan pemimpin kastil ini, dia tidak memiliki kunci di lehernya, tidakkah cukup kau terbawa perasaanmu, kau mulai kehilangan arah Berg, keselamatan Kastil Bintang jauh lebih utama dari siapapun," seru Nyonya Lucy.
Paman Berg berkata, "Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini."
"Aku yang memutuskan dan aku punya rencana untuk Alesia."
Saat Nyonya Lucy akhirnya menyebut namaku, tubuhku bergetar, mereka benar-benar membicarakan aku.
"Rencana apa? jangan membuat kesalahan yang sama, Alesia bahkan tidak tahu kekuatan apa yang dia punya, kita tidak punya waktu untuk mengajarinya."
"Dia bisa bicara dengan hewan," kata Nyonya Lucy
"Tidak lebih dari dua kata," sahut Paman Berg.
"Oh kau akan terkejut bagaimana dia bisa bicara panjang lebar dengan kucingnya sekarang," seru Nyonya Lucy.
Bagaimana Nyonya Lucy tahu kalau kemampuanku berbicara dengan Mike sudah bertambah kuat, apa selama ini dia mengawasi aku diam-diam?
"Alesia bahkan bisa melakukannya di luar Kastil Bintang ribuan mil dari pulau Naira," kata Nenek Lucy lagi.
"Itu mungkin sebuah kebetulan, sebuah percikan yang jarang terjadi," jawab Paman Berg.
"Aku tidak pernah mendengar ada yang memiliki kekuatan Kastil Bintang sebanyak itu saat mereka berada di luar pulau Naira, hanya Alexandria kurasa yang pernah melakukannya, itu jelas bukan sebuah kebetulan."
Paman Berg berkata, "Apapun yang kau pikirkan, jangan lakukan itu pada cucu-cucumu."
"Apa kau sedang menentang aku, Berg?"
Paman Berg segera terdiam, tidak ada siapapun yang bisa menentang keinginan Nyonya Lucy. Perkataan pemegang kunci kastil adalah sebuah perintah tertinggi. Aku bisa melihat bahu Paman Berg menegang dan tangannya terkepal.
Nyonya Lucy berkata, "Aku akan menjadikan Alesia sebagai pemegang pedang, keturunan Rudolf akan mendukung anak Irian. Keturunan Rudolf akan bergerak jika itu mengenai balas dendam kematian Irian. Kita membutuhkan keturunan Rudolf lebih dari apapun."
Aku merasakan sesuatu yang panas mengalir di kepalaku, tanganku menegang meremas kusen pintu. Balas dendam kematian Ayahku? aku akan melakukan apapun untuk itu! Kilasan bayangan mimpi buruk yang baru saja aku alami terlintas kembali di mataku dan itu membuat tubuhku bergetar.
"Kau sudah gila," kata Paman Berg.
"Aku percaya Alesia bisa melakukan nya, kita bisa membantunya," seru Nyonya Lucy.
"Tidak, jika Alesia tidak menginginkannya. Pedang itu hanya akan memilih orang-orang yang menginginkannya," kata Paman Berg.
"Aku menginginkannya," kataku.
Aku mendapati diriku melangkah masuk ke dalam kamar kerja Nyonya Lucy.
Aku berkata, "Berikan pedangnya padaku."
Nyonya Lucy menoleh terkejut dengan kehadiranku. Paman Berg termangu menatapku, dia melihatku dengan tatapan yang mengatakan padaku: kebodohan apa yang sudah kau lakukan? anak kecil jangan membuat lelucon.
Nyonya Lucy dengan cepat kembali tenang seperti biasa.
"Kau seharusnya berada di kamarmu, Alesia," seru Nyonya Lucy.
"Aku tidak bisa tidur dan tersesat," seruku.
Aku mengucapkan kebohongan yang bodoh.
Paman Berg mendelik ke arah aku dan menekankan nada suaranya.
"Pergilah dari sini Alesia, kau tidak seharusnya mendengarkan ini semua."
Nyonya Lucy mengusap lengannya dia tampak berpikir lalu segera memutuskan.
Nyonya Lucy menatapku dan berkata, "Sepertinya kau tidak punya kerjaan untuk dilakukan? Bagaimana kalau besok kalian berdua pergi memancing di lembah gelap?"
Paman Berg menoleh cepat pada Nenek Lucy dengan tatapan tak percaya, dia sepertinya marah karena Nenek Lucy menyuruhku pergi memancing tapi kami akan memancing apa di lembah gelap?