"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Olahraga
Bulan berikutnya, sekolah mengadakan acara tahunan Hari Olahraga, di mana setiap kelas berlomba dalam berbagai cabang permainan sederhana seperti tarik tambang, estafet karung, dan lari kelereng. Kelas 7C tampak bersemangat, dengan Adit yang secara sukarela menjadi "manajer semangat" kelas meski tidak ada jabatan resmi seperti itu.
"Ayo dong, semangat! Kita harus menang tahun ini!" teriaknya berapi-api, mengomando teman sekelasnya untuk pemanasan sebelum lomba dimulai.
Raka, yang dikenal cukup gesit, didaftarkan mengikuti lomba lari estafet, sementara Naya dan Salsabila kebagian tim tarik tambang bersama beberapa teman perempuan lainnya.
"Aku belum pernah ikut tarik tambang seumur hidup," bisik Salsabila cemas kepada Naya sebelum lomba dimulai. "Jakarta nggak pernah ada acara kayak gini di sekolah lamaku."
"Tenang aja, gampang kok," hibur Naya sambil tersenyum. "Yang penting kompak, tarik bareng-bareng pas aba-abanya."
Lomba tarik tambang berlangsung seru, disertai sorak-sorai penonton dari kelas lain yang menyaksikan dari pinggir lapangan. Kelas 7C berhasil memenangkan babak pertama, namun kalah tipis di babak kedua melawan kelas 7A yang terkenal memiliki tim yang jauh lebih kuat secara fisik.
"Nggak apa-apa, seri aja udah bagus buat kita," hibur Naya kepada Salsabila yang tampak sedikit kecewa karena timnya kalah di babak penentu.
Sementara itu, di lintasan lari estafet, Raka berlari dengan kecepatan penuh, membawa tongkat estafet mendekati garis akhir dengan jarak yang cukup dekat dari pelari kelas lawan. Sorak-sorai teman sekelasnya menggema kencang, termasuk suara Naya dan Salsabila yang berteriak menyemangati dari pinggir lapangan.
"Ayo Raka! Ayo!" teriak Salsabila spontan, suaranya bahkan terdengar lebih kencang dari sorakan teman-teman lainnya.
Raka berhasil menyentuh garis akhir tepat sepersekian detik lebih cepat dari pelari lawan, membuat seluruh kelas 7C bersorak gembira merayakan kemenangan tersebut. Ia berjalan menuju pinggir lapangan dengan napas terengah-engah, disambut tepukan hangat dari teman-teman sekelasnya.
"Keren banget, Raka!" seru Salsabila, wajahnya berbinar penuh kekaguman yang tulus.
Raka tersenyum kikuk, merasakan pipinya memanas bukan hanya karena kelelahan berlari, namun juga karena caranya Salsabila menatapnya saat itu—tatapan yang membuat jantungnya berdegup dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Adit, yang berdiri tidak jauh dari situ, memperhatikan interaksi singkat itu dengan seksama, dan untuk sesaat, sebuah pemikiran melintas di benaknya—pemikiran yang membuatnya diam-diam lega, meski ia sendiri belum sepenuhnya memahami mengapa perasaan lega itu muncul begitu saja.
Sore harinya, setelah acara olahraga usai, keempat anak itu duduk kelelahan di bawah pohon beringin, berbagi air minum dan camilan yang tersisa dari perbekalan lomba tadi siang.
"Capek, tapi seru banget hari ini," gumam Naya, merebahkan diri di rumput dekat akar pohon.
"Iya, apalagi pas Raka lari tadi, keren banget," timpal Salsabila, masih tampak bersemangat mengulang momen kemenangan itu.
Adit melirik jahil ke arah Raka yang kembali menunduk salah tingkah. "Wah, ada yang jadi fans dadakan nih kayaknya."
"Adit!" protes Raka dan Salsabila hampir bersamaan, membuat Naya tertawa terbahak-bahak melihat kekompakan reaksi keduanya.
Di tengah tawa riang sore itu, tidak seorang pun dari mereka menyadari bahwa benih perasaan yang mulai tumbuh antara Raka dan Salsabila, meski masih sangat samar, akan menjadi salah satu ujian terberat bagi persahabatan mereka bertiga di masa depan—terutama mengingat perasaan yang selama ini dipendam diam-diam oleh Naya sendiri terhadap Raka, jauh sebelum Salsabila datang ke Ciandara.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan