"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 18
Hingga akhirnya Kirana berpikir keras bagaimana dirinya harus mengalihkan perhatian suaminya.
"Rena ... Sejak kapan kamu di sini?" sahut Kirana, wajahnya celingak-celinguk mencari sumber suara.
Rena mengerutkan keningnya. Bagaimana ini? Apa yang harus aku jawab? batinnya, seolah meminta bantuan pria yang berdiri di samping istrinya yang buta itu.
Arga hanya tersenyum tipis sebuah senyuman yang menakutkan.
"Bu Kirana! Maaf mengganggu. S-saya cuma ... memberikan sebuah berkas penting. Untuk Pak Arga," balas Rena, suaranya terbata-bata, penuh ketakutan.
Berkas penting? Wanita tidak tahu malu! Kalian berdua sungguh menjijikkan. Jadi selama ini ... Kalian berdua berbuat hal yang begitu menjijikkan ini, di saat aku buta?
Kirana sedikit memberikan tekanan pada wanita itu. "Berkas? Berkas apa? Apakah sepenting itu sampai malam-malam begini kamu rela datang ke sini?" tanyanya, tegas, tajam, tak memberi ruang untuk berbohong.
"I-itu ... Saya hanya —"
Arga memotong di sela-sela jawaban Rena. "Sayang ... Ada apa? Sepertinya kamu tidak seperti biasanya?"
"Maaf, Bu Kirana ... Pak Arga ... Saya pamit pulang," pamit Rena, nadanya lirih, hampir tak terdengar.
"Silakan kamu pulang. Hati-hati di jalan. Nanti kamu bisa minta sopir saya untuk mengantar kamu pulang," ucap Arga, tenang, seolah-olah tidak ada apa-apa di antara mereka.
Rena mendongak, matanya membelalak. "T-tidak usah, Pak! Terima kasih atas tawaran Bapak! Saya permisi."
Wanita itu pergi dengan langkah kaki cepat, meninggalkan rumah itu dengan pakaian yang masih berantakan.
Di dalam kamar, Kirana mencoba untuk tetap tenang, meski jantungnya berpacu seakan ingin meledak.
"Sayang! Kenapa denganmu?" tanya Arga sambil mengelus-elus rambut istrinya, lalu mengusap keringat dingin yang menetes di dahi wanita itu.
"Sayang ... Hiks ... Aku takut ...," jawab Kirana, suaranya tersekat, tubuhnya gemetar hebat.
Arga memeluk istrinya erat. "Katakan, apa yang membuatmu ketakutan seperti ini?"
Kirana memasang wajah ketakutan yang begitu nyata, seolah-olah itu bukan pura-pura. Tangannya secara halus meraba wajah suaminya, perlahan, penuh keraguan yang sengaja ia tampilkan.
"Sayang ... Aku takut ... Aku bermimpi melihat sesuatu yang mengerikan, mimpi itu sangat nyata ... Hiks ..." suara Kirana gemetar, seakan mimpi itu baru saja berakhir di depan matanya.
"Tidak usah dipikirkan. Itu hanya mimpi," balas Arga, lembut.
"Tapi ... Itu terasa nyata ... Aku benar-benar seperti ada di sana," ucap Kirana, suara yang terdengar putus asa.
"Tidak apa-apa. Itu hanya mimpi," ucap Arga, tenang dan begitu perhatian, seolah ia adalah suami terbaik di dunia.
Suaminya memapah Kirana pelan, lalu membantunya duduk di ranjang tempat tidur.
"Kamu tidur lagi saja. Aku sekarang ada di sini," ucapnya, terdengar tulus dan meyakinkan, seolah tidak ada kebohongan yang tersembunyi di balik kata-katanya.
Batin Kirana tertawa kecil, penuh rasa kecewa yang mendalam atas pengkhianatan suaminya.
Andai aku tidak bisa melihat ... Siapa yang tidak percaya dengan semua perkataanmu ini?!
Saat itu Kirana berada di pelukan suaminya. Sedangkan Arga, benar-benar fokus menatap bola mata istrinya sedari tadi, tak pernah lepas sedetik pun dari pandangannya, mencari sesuatu yang mungkin terlewat.
Kirana mengetahui bahwa suaminya masih mengira ia buta.
Sepertinya dia masih curiga? Aku, harus berhati-hati lagi.
Arga menepuk-nepuk pundak istrinya dengan lembut, namun di kepalanya, pikiran lain berputar cepat.
Tidak mungkin aku salah lihat? Jelas-jelas tadi aku merasa Kirana melakukan kontak mata denganku ...
Sekilas ia menoleh lagi, tatapannya mengeras.
Apakah kamu benar-benar belum bisa melihat? Wanita bodoh ini, sepertinya aku harus segera menyingkirkan wanita tidak berguna ini! batinnya, merasa cemas.
Kirana juga berpikir keras, otaknya bekerja secepat kilat. Apa yang harus ia lakukan sekarang untuk menghubungi polisi atau meminta bantuan kepada orang lain?
Aku harus membuatnya pergi dari sini. Agar aku bisa mencari di mana aku meletakkan ponselku.
Kirana meminta suaminya untuk mengambilkan air minum, suaranya yang lemah. "Sayang! Aku haus, tolong ambilkan aku air minum."
Arga berdiri perlahan. "Tunggu sebentar, aku ambil dulu," balas Arga, lalu berjalan pergi sambil tersenyum.
Tak ...
Tak ...
Tak ...
Langkah kaki suaminya yang berjalan keluar, menghilang perlahan, namun setiap bunyinya terasa begitu jelas di telinga Kirana.
Kirana yang kini bisa melihat, buru-buru menatap ke segala arah, matanya menyapu setiap sudut ruangan, mencari di mana ia meletakkan ponselnya.
Saat itu Arga berada di balik pintu, tidak benar-benar pergi. Dengan cepat Kirana berdiri, jantungnya berdetak kencang.
Arga memegang gagang pintu, jari-jarinya meremasnya dengan erat.
Krek ...
Suara berderit dari gagang pintu yang diputar ke bawah—suara yang menggetarkan hati Kirana.
Tepat saat itu, pandangan Kirana tertuju pada satu titik. Ponsel miliknya berada di atas meja rias, yang letaknya lumayan jauh dengan tempat tidur.
Itu dia! Akhirnya ketemu ... batinnya, lega bercampur bahagia.
Arga membuka pintu sedikit, lalu berhenti.
Ceklek.
Kirana merasa lega, namun rasa lega itu hanya sesaat. Ia segera berdiri, berharap suaminya tidak akan sadar bahwa ia sudah bisa melihat.
Kirana melangkah, berpura-pura buta meraba-raba udara, langkahnya ragu-ragu, seolah ia masih buta
Sekilas ia menoleh ke belakang, memperhatikan suaminya. Napasnya memburu dan tersengal-sengal, penuh tantangan yang berbahaya. Wanita itu berjalan mengendap-endap.
Tak ...
Tak ...
Tak ...
Suara langkah kaki yang nyaris tak terdengar. Kirana terus berjalan menuju meja rias.
Seketika, tiba-tiba saja Arga berhenti melangkah setelah membuka pintu sepenuhnya.
Ia tersenyum menyeringai — senyum yang dingin, penuh niat jahat, berbeda jauh dengan senyum lembut yang ia tunjukkan tadi. Lalu berbalik.
"Sayang ...," sahut pria itu, matanya menatap tajam ke arah istrinya yang sedang melangkah.
Tak!
Langkah kaki Kirana terhenti seketika, seolah kakinya terpaku ke lantai. Matanya terpejam untuk sesaat, ia menghela napas berat, berusaha menenangkan diri.
"Hah! Ada apa, sayang? Kenapa kamu memanggilku?" suaranya gemetar lirih.
Arga kembali berjalan menghampiri istrinya. Untuk sesaat ia berhenti berjalan, menatap wanita itu dari atas hingga bawah.
"Sayang! Di mana airnya? Aku haus." Wanita itu meraba ke arah yang salah, sengaja agar suaminya tetap percaya bahwa ia belum bisa melihat.
Sementara itu Arga mengambil kacamata miliknya terlebih dahulu, lalu memakainya. Ia tersenyum licik—amat sangat berbeda dengan senyum sebelumnya yang tampak tulus.
Tak!
Langkah kaki Arga berjalan mendekati Kirana yang berdiri diam, tangannya masih meraba udara.
Pria itu meraih tangan kanan istrinya, menggenggamnya erat—terlalu erat.
Gppp!
Jantung Kirana berdetak lebih kencang, penuh ketakutan yang nyata, tidak lagi bisa disembunyikan.
"Sayang! Apa ada yang salah?" tanya Kirana dengan suara lirih, hampir tak terdengar.
Pria itu tampak tenang—justru ketenangan inilah yang paling ditakuti oleh Kirana. Ia bertanya-tanya, mengapa suaminya begitu tenang sekarang, tidak seperti tadi.
"Sayang! Kenapa kamu diam saja?"
"Tidak ada!" balas Arga, singkat, padat, dan mengerikan.
Arga menatap istrinya dengan tatapan tajam dan licik, seolah ia sedang melihat mangsanya yang terperangkap. "Sayang, bisakah kamu ikut denganku sebentar?" tanya Arga.
Deg!
Kirana semakin takut, bulu kuduknya berdiri. Ia mencoba untuk menyembunyikan rasa takut itu, namun sorot matanya semakin memerah, napasnya mulai tidak beraturan. Di balik sorot matanya, ketakutan yang meluap-luap.
"Sayang ... Ikut ke mana?" tanya Kirana, suaranya bergetar.
Suaminya mendekatkan wajahnya ke telinga Kirana. Suara napas suaminya terdengar tenang, namun setiap hembusannya membuat kaki wanita itu gemetar hebat.
"Sayang ... Kamu ikut saja denganku ... Kamu akan tahu nanti ..." ucap suaminya dengan suara lirih, berbisik—bagaikan ancaman yang tak bisa ditolak.
Suara yang didengar oleh Kirana seperti sebuah bisikan dan ancaman sekaligus, membuat seluruh tubuhnya membeku.
Deg!
Arga tersenyum jahat.
Kali ini kamu akan ....
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,