Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 : Kematianmu berarti apa-apa
Pagi itu terasa tenang di tengah hiruk-pikuk kota. Langit cerah, jalanan ramai namun teratur. Blair membiarkan mobil kabrioletnya melaju dengan kecepatan sedang, menikmati udara segar yang menyapu wajahnya.
Untuk sesaat, pikirannya kosong.
Tidak ada sidang. Tidak ada suara jeritan. Tidak ada bayangan darah dari malam sebelumnya.
Ketenteraman itu terasa… ringan.
Tangannya yang memegang kemudi bergerak santai. Sekilas, matanya jatuh pada kuku-kukunya yang tajam alami, bersih, seolah tidak pernah digunakan untuk apa pun selain mengemudi.
Blair terdiam sejenak, lalu tanpa alasan jelas, memutar setir ke kanan, memilih jalur yang lebih sepi.
Angin menerbangkan rambut panjangnya, sesekali menyentuh pipinya. Blair menyipitkan mata saat pandangannya menangkap sesuatu di ujung jalan.
Sebuah jembatan tinggi.
Di bawahnya, terowongan jalan lain dipenuhi kendaraan yang melaju tanpa henti.
Dan di sana—
seorang wanita paruh baya berdiri tepat di batas jembatan. Langkahnya terlalu dekat dengan penyangga jembatan. Tubuhnya kaku. Tatapannya kosong, menembus ruang di bawah sana.
Jantung Blair berdegup keras.
Ia menginjak gas, lalu menginjak rem secara mendadak tak jauh dari lokasi itu. Pintu mobil terbuka kasar saat Blair turun dan bergegas mendekat.
“Apa yang kau lakukan?” suaranya tegas, nyaris membentak. “Kau ingin mati?”
Wanita itu tidak menoleh. Tidak bereaksi. Seolah Blair tidak pernah ada.
Perlahan tubuh wanita itu condong ke depan.
Blair tersentak. Semua kendali yang tadi ia jaga runtuh begitu saja. Ia berlari, menubruk pagar jembatan, dan tepat sebelum tubuh itu terjatuh sepenuhnya—
tangannya berhasil menangkap pergelangan tangan wanita itu.
Benturan keras membuat bahu Blair menghantam pagar. Rasa sakit menjalar hingga lengannya. Beban tubuh di ujung genggaman itu membuat napasnya tersentak.
“Sial—!”
Ia menggertakkan gigi, menahan berat tubuh wanita yang kini menggantung di antara jembatan dan jalanan di bawah. Angin berembus kencang, membawa suara klakson samar dari bawah sana.
“Apa yang kau pikirkan wanita tua?!” Blair membentak. “Membunuh dirimu sendiri dengan cara seperti ini?!”
Wanita itu akhirnya bergerak. Ia menggeleng pelan.
Tangannya… tidak membalas genggaman Blair. Tidak berusaha bertahan. Jari-jarinya justru menggantung lemas, seolah siap dilepaskan kapan saja.
Blair menegang.
“Berakhir seperti ini,” katanya tertahan, “tidak akan membuat kematianmu berarti apa-apa.”
Perlahan, wanita itu mengangkat wajahnya. Matanya merah, basah oleh air mata yang akhirnya jatuh tanpa suara.
“Tolong…” suaranya bergetar. “Lepaskan saja. Aku sudah tidak sanggup hidup.”
Dada Blair terasa sesak. Lengannya gemetar menahan beban itu. Seluruh tubuhnya bersandar pada pagar, namun tangannya tetap menggenggam kuat, bahkan ia sendiri tidak mengerti kenapa.
Kenapa ia tidak melepaskannya saja?
Genggaman wanita itu semakin melemah. Jari-jarinya perlahan terlepas dari tangan Blair.
“Tidak—!”
Blair tersentak saat pegangan itu hampir hilang.
Namun sebelum tubuh wanita itu benar-benar jatuh—
sebuah tangan lain muncul, mencengkeram pergelangan wanita itu dengan kuat.
“Bibi!”
Suara seorang pria terdengar berat dan tergesa.
Blair menoleh, terengah, saat melihat seorang pria berdiri di sampingnya, wajahnya tegang, satu tangan menahan wanita itu, tangan lainnya membantu Blair menarik tubuh itu kembali ke atas.
“Apa yang bibi lakukan?!” pria itu berkata keras, suaranya bergetar. “Kenapa sampai sejauh ini?!”
Blair terdiam, napasnya belum stabil.
Matanya tertuju pada wanita paruh baya itu yang kini menangis tersedu, akhirnya runtuh di antara dua orang yang menahannya dari kematian.