Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI SAMPING KAEL

MALAM HARI!!

BLOK D

Disini suasananya jauh lebih sunyi dibandingkan blok lainnya. Tidak ada suara percakapan dari para napi, tidak ada keributan, hanya suara samar langkah kaki dari kejauhan dan bunyi besi yang sesekali beradu.

Di dalam salah satu sel, Alesya berdiri sambil menatap Kael. Pria itu sudah berbaring di atas ranjang besi. Namun, matanya belum terpejam. Cowok itu menatap kearah Alesya.

Alesya menghela napas panjang.

“Aku tidur di mana?”

Tatapan gadis itu beralih pada satu-satunya ranjang di dalam sel. Ranjang itu sudah digunakan Kael, cowok itu hanya menatapnya tanpa menjawab.

“Kaelll…”

Alesya memanggilnya lagi, kali ini dengan nada sedikit merengek.

“Di sampingku.”

“Enggak muat...Sempit.”

Alesya melipat kedua tangannya di depan dada.

“Nanti kamu apa-apain aku gimana?”

Kael akhirnya mengangkat alis.

“Emang mau?”

Mata Alesya langsung membulat. Ia menatap Kael dengan ekspresi garang. Melihat perubahan wajah gadis itu, Kael justru terkekeh pelan.

“Bercanda.”

Ia kemudian sedikit menggeser tubuhnya ke samping, memberikan ruang di sebelahnya. Tangannya menepuk pelan permukaan ranjang besi itu.

“Sini.”

Mau tidak mau, Alesya berjalan mendekat. Ia naik ke atas ranjang, lalu membaringkan tubuhnya di samping Kael. Karena ukuran tubuh Kael yang jauh lebih besar, ruang yang tersedia memang terasa sempit.

Kael memiringkan tubuhnya menghadap Alesya. Salah satu lengannya ia jadikan bantalan untuk kepala gadis itu. Namun, beberapa detik kemudian, tangan Kael langsung meraih pinggang Alesya.

Alesya sontak terkejut.

“Tadi janji enggak diapa-apain.”

“Biar enggak jatuh.”

Alesya memutar bola matanya malas.

“Modus…”

Gumamannya membuat Kael hanya diam. Beberapa detik berlalu, Tidak ada lagi percakapan di antara mereka, Hanya keheningan. Sel Kael benar-benar berbeda dari sel nya bersama Reana. Di sini, kesunyian terasa jauh lebih pekat.

Alesya menatap Kael yang sudah memejamkan mata.

Namun, ia tahu pria itu belum tertidur.

“Kael…”

“Emm…”

Kael menjawab dengan deheman tanpa membuka mata.

“Aku panggil kamu Kael atau Jendral? Mana yang lebih bagus?”

“Terserah.”

Jawaban Kael terdengar sekenanya. Alesya kembali terdiam. Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali bersuara.

“Aku kangen Reana…”

Suaranya kali ini terdengar lebih lembut.

“Dia sendiri gimana, ya? Dia pasti ketakutan…”

“Dia baik-baik aja.”

Alesya langsung menoleh.

“Kamu bisa menjaminnya?”

“Tidak.”

“Ihh, Kael!”

Alesya memukul-mukul dada bidang Kael dengan kesal. Kemudian ia berbalik menghadap pria itu.

“Kapan aku bisa keluar dari sini? Aku mau bersama Reana.”

Kael membuka matanya, Namun, ia tidak langsung menjawab. Tatapannya justru menelusuri wajah Alesya. Gadis itu belum lama berada di sini, tetapi tubuhnya sudah terlihat jauh lebih kurus.

“Besok makan yang banyak.”

Alesya mengernyit.

“Hah?”

“Biar enggak kayak kerangka.”

“Baguslah, Tambah langsing.” jawab gadis itu

“Aku enggak suka.”

“Biarin.”

Kael kembali diam. Berdebat dengan Alesya memang tidak ada lawannya.

Pada akhirnya, ia yang memilih mengalah.

“Tidur.”

Kael kembali memejamkan matanya. Namun, baru beberapa detik berlalu, suara Alesya kembali terdengar.

“Kaell…”

Kali ini Kael tidak menjawab, Namun Alesya tahu pria itu masih mendengarkan.

“Kita bisa melarikan diri gak dari sini?”

Mata Kael kembali terbuka.

Ia terdiam sejenak.

“Tidak segampang itu.”

“Kenapa?”

Alesya menatapnya serius.

“Di drama-drama banyak, tuh. Para napi bisa kabur dari penjara.”

Kael mengangkat tangannya lalu menyentil pelan dahi Alesya.

“Au!”

Alesya langsung mengusap dahinya.

“Kau pikir penjara ini sama dengan yang ada di drama?”

Kael menatapnya datar.

“Walaupun dari luar kelihatannya kita bebas pergi ke mana saja, Namun tidak ada yang benar-benar berhasil keluar dari sini.”

Alesya menghela napas.

“Kenapa? Kau sudah tidak betah?”

“Manusia mana yang betah tinggal di penjara mematikan seperti ini..."

Alesya menatap langit-langit sel beberapa saat.

“Lagi pula aku ingin membalas perbuatan Laras dan Kevano kepadaku.”

Suaranya berubah lebih serius.

“Aku ingin membersihkan namaku.”

Ia mengepalkan tangannya kecil.

“Dan memberikan pelajaran yang setimpal kepada mereka.”

Kael tidak mengatakan apa pun.

Ia hanya diam menyimak setiap perkataan Alesya.

“Mereka menyulitkanmu selama lima tahun ini?”

“Emm. Tentu saja…”

Wajah Alesya terlihat kesal.

“Mereka itu iblis berwajah dua.”

Dari raut wajahnya, jelas sekali kemarahan itu masih tersimpan begitu dalam. Terutama ketika mengingat semua perlakuan ibu tiri dan kakak tirinya selama ini.

Kael tetap diam.

“Tidurlah.”

Tangannya menarik kepala Alesya perlahan, membawanya bersandar pada dada bidangnya.

“Biar aku yang memikirkan itu"

Alesya tidak membantah, Ia hanya menurut dan membiarkan kepalanya bersandar di dada Kael. Tangan Kael kemudian mengelus rambutnya perlahan.Alesya mendongak, Tatapan mereka kembali bertemu.

“Bagaimana kehidupanmu selama lima tahun ini?”

Kael diam, Ia tidak berniat menjawab. Beberapa detik kemudian, hanya satu kata yang keluar dari bibirnya.

“Panjang.”

Alesya menatapnya, seolah masih menunggu penjelasan. Namun Kael kembali memejamkan mata.

“Tidurlah sebelum aku yang menidurimu"

Ucapan itu membuat Alesya langsung memejamkan matanya. Untuk pertama kalinya malam itu mereka tidur bersama. Sementara Kael masih terjaga.

Tatapannya tetap tertuju pada wajah Alesya yang perlahan mulai tenang dalam tidurnya. Namun di balik wajah datarnya, pikirannya sudah mulai bekerja.

Tentang Laras.

Tentang Kevano.

Tentang nama Alesya yang harus dibersihkan. Dan tentang bagaimana caranya membawa gadis itu keluar dari tempat ini, tanpa di ketahui oleh pamannya.

Semua itu berputar seperti puzzle di kepala Kael. Terutama tentang mata-mata yang dikirim pamannya

—sampai sekarang, keberadaannya masih menjadi misteri. Namun, di antara semua itu, hanya satu hal yang paling penting baginya.

Keselamatan Alesya.

***

“Bagaimana keadaanmu...?” tanya Reana khawatir pada Alesya saat mereka berdua berada di tempat makan.

Alesya terdiam sejenak, lalu menatap sahabatnya.

“Kau sendiri bagaimana? Aku khawatir padamu karena kau sendirian. Sampai aku tidak bisa tertidur semalam...” ucap Alesya, membuat mata Reana perlahan berkaca-kaca.

“Aku juga khawatir padamu... Kudengar kau dipindahkan ke sel khusus. Kau pasti tidak bisa tidur, kan?”

Ekspresi Reana terlihat lucu di mata Alesya. Gadis itu hanya mengangguk kecil.

“Emmm... aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu,” lanjut Alesya, membuat Reana salah tingkah.

Namun beberapa saat Reana kembali membuka suara.

“Kau tahu...” Raut wajah gadis itu tiba-tiba berubah serius.

“Ku dengar tadi pagi... para sipir menemukan mayat Aldra di sel kosong di ujung timur.”

Alesya berhenti makan sejenak. Tatapannya langsung tertuju pada Reana.

“Kau serius...?”

“Emmm... Dia ditikam di lehernya"

"Sepertinya kejadiannya kemarin malam,” lanjut Reana dengan suara pelan.

Alesya hanya mengangguk-anggukkan kepala. Ada sedikit rasa lega di dalam dirinya saat mengetahui Aldra sudah mati. Setidaknya, tidak ada lagi yang akan mengganggu Reana.

Namun, tiba-tiba sebuah ompreng dilemparkan ke lantai. Suara dentingannya membuat seluruh napi dan sipir mengalihkan perhatian.

George.

Pria itu tampak berantakan, wajahnya dipenuhi amarah. Alex duduk di sampingnya tanpa melakukan apa pun, tetapi ekspresinya menunjukkan sesuatu yang berbeda—seolah menyimpan dendam dan kehilangan yang begitu dalam.

“Anjing!” umpat George murka.

Ia menelusuri setiap sudut tempat makan, seakan sedang mencari keberadaan seseorang. Namun, orang yang dicarinya sama sekali tidak terlihat. Akhirnya, ia berlalu pergi, diikuti Alex di belakangnya.

“Ada apa sama dia...?”

“Gila kali karena kematian Aldra.”

“Mereka bertiga kan cukup dekat...”

Desas-desus terdengar dari para napi yang duduk sedikit jauh dari mereka.

“Ga usah dipikirin lagi...” ucap Alesya tiba-tiba pada Reana.

“Mereka sudah dibuat kapok sama perbuatan mereka sendiri.”

Reana hanya mengangguk kecil, Lalu kembali kepada menyuapi makanan nya.

Namun yang masi menjadi misteri, siapakah yang sedang di cari oleh George dan Alex?

***

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!