Indonesia
NovelToon NovelToon
Déjà Visible

Déjà Visible

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horor / Tamat
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jibril Ibrahim

Maraknya berita rampok akhir-akhir ini mengakibatkan semua orang waswas. Sekarang ayah Alice menyimpan pistol yang telah diisi peluru di dalam kamarnya, dan... itu malah membuat keadaan semakin mengerikan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

"Biarkan aku pergi!" Alice berteriak dan berbalik menuju diskotek.

Spencer tertawa. "Kenapa buru-buru? Kau keluar untuk main, kan?"

Alice tidak menghiraukannya dan mundur beberapa langkah, sepatunya berdecit di lapangan berbatu itu.

Dua teman Spencer menghadang langkahnya.

Alice cepat-cepat bergeser ke kanan. Mereka juga ikut bergerak ke kanan. Alice berpindah ke kiri, mereka juga berpindah ke kiri.

Cowok-cowok itu saling tersenyum lebar, mereka bergerak ke kiri untuk menghalangi langkahnya lagi.

"Memangnya kenapa?" ejek Spencer. "Kau terlalu hebat buat kami?"

"Aku mau pergi sekarang," Alice berkata lambat-lambat, tegas, mengatakan setiap kata dengan jelas. Ia tak ingin mereka tahu bahwa ia ketakutan. Lututnya gementar dan suaranya agak bergetar.

"Biarkan dia pergi," cowok yang tadi didorong Spencer berkata dengan tenang.

"Jangan coba-coba mendikteku!" Spencer berteriak dan berbalik menghadap temannya itu. "Jangan berlagak sok mengatur!"

"Aku hanya mengatakan, biarkan dia pergi," jawab cowok itu bersikeras.

"Aku akan membiarkannya pergi setelah urusanku dengannya selesai," kata Spencer, suaranya berubah rendah dan penuh ancaman. Lalu dengan tanpa peringatan lagi, tahu-tahu ia sudah menerjang ke arah temannya itu, merenggut bahunya, kemudian keduanya jatuh ke lapangan berbatu, bergulingan, bergulat dengan seru, saling meneriaki dan memaki satu sama lain. Sementara yang lainnya bersorak-sorak sebagai penonton.

Alice ragu-ragu sejenak, lalu mulai mengambil langkah seribu melintasi tempat parkir itu menuju diskotek.

Baru beberapa langkah Alice berlari, cowok-cowok itu langsung menyadari bahwa ia melarikan diri.

"Hei... Kembali ke sini!"

Alice mengenali suara marah Spencer. Tapi ia tetap berlari. Dengan deretan mobil di kedua sisinya yang seolah tak ada ujungnya. Batu-batu berlontaran di bawah sepatu karetnya.

Mendengar mereka semakin dekat, Alice mencoba mempercepat larinya. Tapi ia terpeleset dan tersandung, hampir kehilangan keseimbangan. Cahaya lampu tidak menerangi tempat Alice berada sekarang. Dalam suasana yang mendadak gelap itu, ketakutan Alice semakin menjadi-jadi.

Mereka hampir menangkapku, ia menyadari. Apa yang akan mereka lakukan padaku?

"Hei, cewek! Kami cuma ingin senang-senang kok!" Salah satu dari cowok itu berseru. Yang lainnya tertawa terbahak-bahak. Tapi mereka semua masih mengejarnya.

Beberapa pasangan melihat mereka di tempat parkir. Tapi karena mereka tertawa-tawa, pasangan-pasangan itu mengira mereka sedang bercanda.

Pintu kaca ganda diskotek mulai terlihat. Alice menghela napas. Kepalanya berdenyut-denyut dan dadanya serasa mau meledak.

Akan amankah ia di dalam sana?

Ya, mereka takkan mengikutinya masuk.

"Hei, cewek! Kami takkan menyakitimu! Sungguh!"

Kenapa Spencer bersikap begitu aneh, begitu dingin, dan begitu mengerikan?

Seharian Alice telah menghabiskan waktu untuk membantunya, berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Spencer. Sekarang di sini Spencer malah bertingkah menjijikkan, benar-benar mirip binatang, seolah sama sekali tidak mengenal Alice.

Apa dia hanya mau pamer pada teman-temannya?

Dua pasangan keluar dari diskotek dan berdiri di depan pintu masuk, bercakap-cakap sambil tertawa-tawa.

"Tolong!" Alice mencoba memanggil mereka, tapi tenggorokannya serasa tercekik. Ia kehabisan napas hingga ia tak bisa bersuara.

"Tolong aku, tolong!" Ia mencoba lagi, suaranya berhasil keluar namun lirih sekali, lebih mirip erangan daripada teriakan.

Kedua pasangan tadi masih tertawa-tawa, tidak menoleh.

Alice melangkah ke tengah sorotan cahaya yang bersumber dari lampu merah, lampu itu berkedip-kedip dengan cepat, secepat degup jantungnya. Aku hampir sampai, batinnya. Kemudian ia menoleh, ternyata Spencer dan teman-temannya sudah tidak mengejarnya lagi.

Mereka sudah tidak kelihatan.

Bayang-bayang gelap menyelinap di lorong antara deretan mobil. Merekakah itu? Larikah mereka? Apakah mereka bersembunyi di sana, menunggu sampai ia kembali?

Kapan mereka berhenti mengejarnya? Dan ke mana mereka pergi?

Alice menudungkan tangan di atas matanya, untuk melindungi matanya dari lampu merah yang menyorot tajam dan membutakan.

Pintu diskotek membuka dan dentaman musik menyeruak kesunyian di luar, mengejutkan Alice.

Pintu menutup. Tempat parkir terasa dingin lagi sekarang.

Dengan masih menudungi matanya, Alice mengamat-amati deretan mobil itu. Ke mana Spencer dan teman-temannya pergi? Bagaimana cara mereka menghilang begitu cepat?

Hantukah mereka semua?

"Alice!"

Alice masih sibuk dengan pikirannya sendiri, berusaha menenangkan debar jantungnya sehingga tidak mendengar panggilan itu.

"Alice!"

Sebuah tangan menyentuh punggungnya.

Alice terlonjak. "Jangan!" Teriaknya seraya mundur menjauh.

"Alice, kau kenapa?" tanya Aaron tampak terkejut dan prihatin. Sekilas wajahnya terlihat merah, kemudian hijau, lalu merah kembali di bawah sorotan lampu disko.

"Aaron, tolong antarkan aku pulang," pinta Alice. Ia menggamit lengan Aaron yang tampak sangat kokoh dan terasa begitu nyata.

"Aku tak bisa menemukanmu tadi," Aaron berkata. "Aku tak tahu kau di luar."

"Sorry..." ungkap Alice lirih. Ia mendengar suara ribut, orang berkelahi, dari suatu tempat di deretan mobil terdekat. Apakah itu Spencer dan teman-temannya?

Aaron mengikuti arah pandangan Alice. "Apa itu?"

"Aku... Kupikir aku melihat sesuatu." Alice menjawab sekenanya.

"Aku tidak melihat apa-apa. Di sana gelap sekali. Beberapa lampunya mati."

Pegangan Alice di lengan Aaron semakin mengetat. Mereka berdua bersinar merah, kemudian hitam, merah lagi, hitam lagi, seolah-olah mereka berwujud kemudian menghilang seperti hantu.

"Kau mau pulang?"

"Ya, terimakasih."

"Alice, kau gemetaran."

"Aku cuma... Capek, mungkin." Alice tak mau mengatakan pada Aaron bahwa ia baru saja melihat Spencer di tempat parkir. Spencer dan teman-teman hantunya. Ia tahu jika ia memberitahu Aaron, mereka akan bertengkar lagi. Aaron akan cemas kemudian mengatakan mereka harus memberitahu orang tua Alice segera.

Alice tidak bisa menceritakan pengalamannya pada Aaron. Ia tahu hal itu hanya akan membuat Aaron bertambah yakin bahwa ia sudah kehilangan akal sehat dan otaknya sudah terganggu. Kemudian orangtuanya akan bertindak, dan hidupnya akan bertambah rumit.

"Sorry aku sudah mengecewakanmu," ungkapnya parau. "Aku mau pulang."

Aaron melingkarkan lengannya di pundak Alice kemudian membawanya ke mobil.

Alice berjalan dengan cepat, waspada terhadap bunyi atau tanda bahwa Spencer dan teman-temannya ada di sana, bersembunyi, mengintai dan menunggu.

Tapi mereka telah menghilang. Lenyap tanpa bekas.

Alice memasuki mobil dan duduk, kemudian memejamkan matanya. Namun meski matanya sudah tertutup, kilatan-kilatan cahaya merah masih saja melekat di pelupuk matanya.

Dengan bersemangat, Aaron mulai berceloteh mengungkapkan kekagumannya terhadap Underground Fort. Tentang betapa bagusnya tempat itu dan betapa hebat sound system-nya. Menurutnya, mereka harus sering-sering pergi ke sana, namun sayangnya tiket masuk ke sana terlalu mahal. Kelihatannya Aaron sudah melupakan fakta bahwa tadi mereka bertengkar dan Alice keluar dari diskotek.

Alice berusaha menjernihkan pikirannya yang kacau dan mengingat-ingat apa yang menjadi sumber pertengkaran mereka tadi.

Tentu saja, soal Spencer!

Barangkali Aaron berpikir jika ia bersikap acuh, urusan ini akan selesai dengan sendirinya.

Andai saja perkiraan Aaron itu benar...

Andai saja Spencer mau menyingkir...

1
Handoko
biar bagaimanapun, kita tidak akan bisa mencurangi kematian.
Handoko
karya yang singkat tapi menegangkan.

terima kasih banyak, author.
Handoko
ternyata rampok goshtroses adalah spencer. mungkin dia terbunuuh oleh alice saat sedang merampok rumah mr. morgan.
Handoko
spencer jatuh cinta pada alice morgan. mungkin disinilah awal bencananya.
Handoko
shannon ? 🤔
Handoko
sorotan lampu disko atau lampu merah ?
Handoko
hantu spencer
Handoko
mungkin alice mengalami depresi. atau cowok itu adalah hantu korban dari ketidakadilan mr. morgan dalam penegakan hukum.
Handoko
wah apakah pacarnya marie tidak marah kalau billy bercanda keterlaluan begitu ?
Handoko
kangen versi cowok itu berbeda, alice ... 😅😅
Handoko
sebaiknya cabang pohon itu dipangkas saja.
Handoko
faktanya memang begitu. lelah fisik dan pikiran.
Sty9
Seru!
Esther Nelwan
aduuuh k tamat😥
Esther Nelwan
ooooh aku br ngerti...
Esther Nelwan
,nah alice kgk inget ngebunuh...
Esther Nelwan
masih misteri tp aku kasih vote bwt author biar sll semangat...
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: terima kasih
total 1 replies
Esther Nelwan
aku msih nyimak ni...apakah mbilnya ada hantunya y
Esther Nelwan
aduuuh...
Esther Nelwan
aku suka klw genrenya d luar negri ni semangat thor
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Terima kasih atas apresiasinya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!