Indonesia
NovelToon NovelToon
Mr. Galak

Mr. Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Romansa / Tamat
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aidenateden

Arthawidya Kahiyang itu hanya seorang cewek tomboy kalem yang hobi main basket. Parasnya biasa saja tapi anehnya Atlanta kok mendadak mendekati Artha? padahal kan Atlanta ada cewek di Aussie.
Belum lagi Sean yang benci setengah mati pada Artha membuat Artha jadi bingung sendiri, salah Artha apa?
Sebenarnya Sean itu kenapa sih galak banget? Jangan-jangan salah makan obat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aidenateden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Typa Girl - Blackpink

Nathan menaruh kaleng coca cola di atas meja, ia mengambil stik PS dan duduk di sebelah Ilham, kali ini giliran dirinya bermain. Keduanya duduk diam fokus mengerakan jemari memencet tombol di stik PS. Suara dari pintu digeser terdengar, mereka berpaling sekilas, Sean masuk, cowok itu dari halaman belakang baru selesai menelepon.

“Lu jam berapa cabut?” tanya Ilham tanpa melihat Sean.

“Lu ngusir?” Sean berbaring disofa, jemarinya mengscroll explore instagram menonton beberapa video lucu. “Gue nginep disini”

“Lah? Terus fitting lu gimana?” tanya Ilham heran, Sean angkat bahu dan memejamkan mata sejenak sementara Nathan berpaling pada Ilham dengan pandangan penuh tanya. “Itu si Sean mau fitting jas buat acara makan malam bareng calon nyokapnya, minggu besok ya?”

“Oh....” Nathan bergumam pelan. Permainan berlanjut terus dan berakhir ketika Ilham kalah. Ilham melempar stik psnya ke atas sofa dengan ekspresi cemberut.

“Ah nggak benar nih stik PSnya” sungut Ilham lalu berdiri menuju kulkas. “Pada mau nutrisari nggak? Punya adek gue, mau gue tilep”

“Boleh, tapi esnya dikit aja” kata Sean.

“Gue juga mau” angguk Nathan. Ilham mengambil nutrisari dari atas kulkas lalu menghilang ke dapur. Suasana hening sampai Sean bangkit dari tidur dan meraih stik PS.

“Lu beneran nggak mau pergi?”

“Nggak. Gue nggak mau ketemu pacarnya bokap jadi gue males mau fitting. Lu pilih tim mana?”

Nathan memilih tim yang sama dan setelah itu keduanya dalam diam mengatur strategi tim. “Gue suka sama adik lu” kata Nathan membuat Sean berpaling bingung.

“Siapa?”

“Adik lu, calon adik tiri lu.”

Sean baru paham, jemarinya langsung berhenti menekan tombol stik PS. “Sejak kapan?”

“Entah, gue nggak tau. Tapi intinya gue suka sama calon adik tiri lu”

“Gue nggak larang lu suka sama Artha, tapi bisa nggak lu berhenti panggil Artha calon adik tiri?”

“Gue pengen gitu biar lu sadar Artha itu calon adik tiri lu. Buat gue hubungan lu berdua sekarang adalah hubungan paling nggak masuk akal”

“......”

Nathan melepas stik PSnya dan balas menatap Sean. Nathan terlihat tenang namun Sean justru mulai terpancing, eskpresi Sean berubah mengeras dan pandangannya terlihat sedikit tidak senang mendengar Nathan.

“Apa jangan-jangan lu dan Artha itu sebenrnya nggak ada apa-apa?”

“Bukan urusan lu. Tapi gue pengen lu tahu, gue suka ngasih batas untuk semua hal di dunia ini. Artha itu adalah batas gue, sedekat apapun gue sama lu dan Atlanta, sekalinya kalian ngelewatin batas, itu tandanya kalian semua ngajak ribut gue” kata Sean. Nathan tahu Sean kesal tapi ia hanya tersenyum dan malah lanjut mengambil stik PS.

Sean mendengus, bertengkar karena seorang cewek memang bukan gayanya, karena itu Sean memilih mengambil jaketnya dan melangkah pergi tanpa berkata apapun pada Nathan.

“Loh, loh, Sean kenapa?” Ilham muncul membawa nampan berisi tiga gelas nutrisari, jalannya pelan karena takut isi nampan jatuh. “Muka Sean kenapa gitu? Disuruh pulang?”

“Nggak. Sean emosi sama gue”

“Emosi sama lu? Emang lu apain?”

“Gue bilang gue lagi suka sama cewek, Sean kesal, cabut, the end”

“Cewek yang sama? atau? Lu kalo cerita yang bener, pernah ikut kelas story telling nggak sih?”

Nathan ketawa geli. “Gue bercanda, gue juga nggak tau Sean kenapa. Tuh lu lanjutin timnya Sean” kata Nathan dan selanjutnya mereka lanjut bermain tanpa ada seorangpun yang membahas Sean.

...----------------...

Sean duduk bersama Artha di bawah pohon mangga sekolah dekat lapangan futsal. Artha mengigit baksonya sembari menghapal kisi-kisi ulangan biologi besok, tampang Artha terlihat serius, sesekali ia memejamkan dan bergumam bak dukun sedang merapalkan mantra.

“Lu sama Nathan sedekat apa?” tanya Sean tiba-tiba, Artha mendongak.

“Teman”

“Teman kayak gimana?”

Kening Artha berkerut. “Ya kayak pertemanan pada umumnya. Sapa, salam, sopan. Tapi kalo lu butuh informasi lebih Nathan itu teman duduk gue di kelas dan teman basket juga.”

“Kalo Atlanta?”

“Teman basket. Kenapa lu nanya?”

“Penasaran”

“Penasaran sama Nathan Atlanta? Kan lu pada sahabatan, kenapa nggak-” Kalimat Artha terpotong karena Sean tiba-tiba menaruh tangannya dikedua pipi cewek itu dan menatapnya lekat-lekat. Sean sedang mencari apa yang menarik dari Artha sampai berhasil membuat kedua sahabatnya mendadak ingin mendeklarasikan perang.

“Lu kenapa sih?” Artha menepis tangan Sean dari pipinya. “Kalo meledak gimana?”

Sean ketawa, ia menopang dagu masih menatap Artha. Sean tidak menemukan apa yang ia cari, tapi bukannya memang begitu? Jika ditarik kebelakang Sean sendiri kan mulai tertarik pada Artha karena tingkah cewek itu. Apa jangan-jangan Atlanta dan Nathan juga berpikir seperti itu?

“Tha...”

“Iya?”

“Artha...”

“Ape? Lu kalo nggak ada kontribusi buat ulangan gue besok minimal diem, gue mau ngapal, kan malu kalo besok kertas jawaban gue kosong” dengus Artha kembali memejamkan mata menghapal.

“Lu pernah nggak sekali aja suka sama gue?”

Mata Artha terbuka menatap Sean serius dan setelah itu ia tertawa geli. “Udah gila” geleng Artha. “Gimana gue mau suka sama lu kalo awal-awal ketemu aja lu mau giling gue pake mobil?”

“Gue pernah bilang gitu?”

Mata Artha menyipit. “Jangan-jangan lu lupa lagi lu pernah maksa gue pacaran? Lu bahkan pernah nyium gue di-” Artha langsung diam, ia mengigit bibir bawahnya pelan dan jadi malu sendiri.

“Di gudang” sambung Sean melengkapi.

“Iya itu. Lu kenapa waktu itu...Emm, begitu?”

“Nyium lu? Lu mau kita ngebahas itu sekarang?” goda Sean. Artha langsung menggeleng menutup wajahnya, telinga Artha berubah kemerahan karena malu.

“Nggak usah, stop sampe disitu, kalo lu lanjut gue pergi” ancam Artha agak salah tingkah. Sean tertawa geli. “Lu rencana buat minggu besok gimana?” tanya Artha mengalihkan topik.

“Pertemuan kita? Gue mau nginap di Ilham, dari dua minggu sebelumnya. Lu gimana?”

“Hmm...belum kepikiran sih, tapi gue rencananya mau nolak ikut. Gue yakin nyokap nggak sekurang kerjaan itu nyeret gue kalo gue nggak mau, paling kita berantem”

“Kalo lu diusir gimana Tha?”

Artha ketawa. “Lu siap nanggung hidup gue kan? Lu kan kaya raya”

“Yang kaya bokap gue Tha”

“Ah, tapi masa lu nggak punya duit simpenan sih? Minimal lu taruh di brangkas buat jaga-jaga, kayak di film action gitu loh Sean”

“Mending lu belajar Tha, biar pinter dan bisa dapat kerja bagus, terus nanti lu yang nafkahin gue”

“Kita nikah dong?” kekeh Artha. “Lu kalo nikah sama gue mau pake adat apa? Gue sih masih konsisten mau pake adat Makassar. Tapi kalo lu mau pake adat Paris juga nggak papa sih. Eh, tapi entar belakang mobil nikahan kita malah diiket pake panci lagi.”

Sean ketawa. “Lu kayaknya udah siap banget mau nikah sama gue Tha?”

“Lah? Mending gue nikah sama lu kan dibanding jadi adik lu? Atau menurut lu pilihannya nggak ada yang enak?” balas Artha kalem. “Tapi Sean, seandainya lu mau ngelamar gue, lu nggak perlu repot-repot beli cincin. Lu cukup bangun rumah yang ada banyak jendela aja, biar kita nggak usah pake AC, lumayan hemat biaya, terus rumahnya juga kecil ya, kalo kegedean gue capek nyapu. Oh iya, sertifikat rumahnya harus atas nama gue, jadi kalo kita berantem lu gue usir.”

Sean nyengir menyentil kening Artha pelan. “Lu itu menarik Tha”

“Emang, makanya banyak yang mau temenan sama gue” balas Artha acuh tak acuh.

“Lebih menarik dari itu Tha”

“Kayak gimana? Lu mau puji gue? Ayo puji, kebetulan gue haus pujian” canda Artha. Sean mencubit pipi kiri Artha gemas. Tanpa sadar hati Sean perlahan menghangat dan terbuka membiarkan Artha leluasa masuk ke dalam situ.

...----------------...

Dugaan Artha terjadi, ia dan Aluna bertengkar. Dimulai dari Artha yang menolak mengenakan gaun pesanan Aluna dan terus berlanjut sampai Artha mengatakan ia tidak ingin ikut. Suasana di antara keduanya mendadak memanas, meskipun Aluna berusaha tetap pasang tampang setenang mungkin.

“Kamu nggak bisa berubah begitu aja Tha. Selama ini kamu diem aja kenapa kamu baru bilang sekarang ketika mama udah nyiapin semuanya? Kalo dadakan gini mama harus gimana?"

“Pokoknya aku nggak mau ma, titik, aku nggak mau ketemu Om Samuel sama si Gabriel itu. Aku nggak mau punya abang”

“Tha, dengerin mama-”

“Nggak mau, aku nggak mau dengerin mama.” Artha menutup kedua telinganya rapat-rapat, ia bernyanyi kencang tidak ingin mendengarkan Aluna. Kesabaran Aluna langsung tersedot habis.

“Artha!” bentak Aluna membuat Artha terkejut, ini pertama kalinya Aluna membentak Artha, seketika Artha diam. “Kamu jangan kayak anak kecil gitu, mama nggak suka. Dengerin mama Tha, mama udah susah payah ngurus pertemuan kita sama Om Samuel, mama bahkan pilih pertemuan kita di restoran yang kamu suka Tha”

“Di restoran steak yang aku dan papa suka kali maksud mama” koreksi Artha. Aluna menarik napas, ia baru akan berbicara lagi tapi sudah lebih dulu dipotong Artha. “Mama sendirian aja ketemu Om Samuel dan Gabriel, aku mau kencan sama Sean”

“Nggak boleh Tha, kamu nggak boleh kencan sama Sean”

“Loh kenapa? Mama mau kencan sama pacar mama, aku juga mau kencan sama pacar aku, salahnya dimana?” tanya Artha pura-pura bodoh.

“Pokoknya mama nggak ngebolehin kamu kencan sama Sean, mama juga nggak suka kamu pacaran sama Sean”

“Sean baik ma, Artha suka”

“Nggak bisa, mama nggak setuju”

“Kalo gitu aku juga nggak setuju mama tunangan sama Om Samuel” balas Artha telak, wajahnya terangkat tinggi tidak ingin mengalah dengan Aluna. “Kalo mama nggak setuju aku sama Sean, itu berarti mama juga nggak boleh sama Om Samuel” dengus Artha balik badan menuju kamar.

“Mulai hari ini mama larang kamu keluar Tha, kecuali ke sekolah, dan mama juga ngelarang kamu berhubungan lagi sama Sean” ujar Aluna keburu kesal sendiri dengan tingkah Artha.

“Egois” gumam Artha sebelum banting pintu dan masuk kamar, mendadak mood Artha berubah kacau sekali. Argh, sialan! batin Artha marah.

1
Silvia Suhartanti Prasetyo
koq ga up2 lagi ???
Eden
tiap hari minggu ya kak 😁
Silvia Suhartanti Prasetyo
kapan up.nya
Silvia Suhartanti Prasetyo
kak, koq up2 lagi
Eden: hidup emang gitu, maaf kalau bikin kamu kaget 🙏🏻
total 1 replies
Eden
tiap hari minggu ya 😁
Silvia Suhartanti Prasetyo
up kapan lagi
Mainah Inah
lucu juga si bocil
Kezia Keren
ahhhh kak, endingnya balom puasss, kak tolongg gamonnn😭😭😭
Eden: maaap 💔💔 ayuukk boleh dibaca cerita aku yg lain, kali2 aja bisa move gitu ehehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!