Boy, seorang siswa ganteng kelas XII yang menjadi Idola para gadis-gadis di sekolahnya. Kegagahan, ketampanan dan ketajiran Boy membuat para gadis berlomba ingin menjadi pacarnya. Bahkan tak jarang dari mereka sampai ribut. Tetapi hal ini tidak berlaku untuk Wika, gadis tomboy cantik siswi kelas X itu justru sangat membenci Boy. Jangankan menjadi kekasih Boy, memandangnya saja Wika ogah. Hal ini membuat Boy menjadi tertantang untuk menaklukkan hati Wika yang sekeras baja. Mau tahu kisah perjuangan Boy?? Silahkan disimak sampai selesai ya.....😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiwik Eka Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Perubahan Boy
Pagi ini sangatlah sejuk terasa. Terdengar alunan sayup-sayup mengaji dari suatu masjid semakin menambah tenang di hati. Sepagi ini Boy sudah bangun. Diambilnya air wudhu lalu menunaikan sholat Subuh. Boy benar-benar mau berubah dan memperbaiki hidupnya.
Boy selalu ingat satu kalimat dari gurunya.
"Jika kita menginginkan jodoh yang baik, maka persiapkanlah diri kita menjadi pribadi yang baik terlebìh dahulu. Jika kita menginginkan jodoh yang shalihah, maka persiapkanlah diri kita menjadi seorang yang shalih terlebih dahulu pula. Karena jodoh kita itu tidaklah jauh-jauh berbeda dengan kita. Jodoh kita itu adalah cerminan dari diri kita."
Kata-kata ini lah yang membuat Boy berusaha untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setelah selesai sholat Subuh, Boy segera mengambil Alqur'an dan mulai membacanya.
Ayat demi ayat dibacanya dengan seksama.
Sementara Arman dan Dani sudah menunggunya didepan pintu kamar Boy.
"Eh, kau dengar gak, itu yang lagi ngaji suara Boy kan?" Tanya Arman.
"Iya! Kau betul Man. Itu suara Boy. Bener-bener mau berubah dia agaknya Man!"
"Syukurlah kalau gitu. Aku ikut senang Man!"
"Kenapa begitu?"
"Karena kalau Boy jadi anak shalih, maka dia gak akan membuat banyak masalah pada siapapun lagi. Jadinya kan kita lebih mudah dan tak repot untuk menjaganya!"
"Kau bener juga Dan! Aku setuju!"
Tak lama kemudian pintu kamar Boy terbuka.
"Kalian sudah siap?" Tanya Boy.
"Iya bos. Kami menunggumu!" Jawab Arman.
Boy langsung berjalan menuruni tangga menuju lantai satu. Arman dan Dani mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan menuju keruang makan. Berbagai macam menu masakan sudah tersaji dengan rapi. Aroma lezat makanan begitu menggoda sehingga perutpun seketika ikut terasa keroncongan.
Disana juga sudah tampak mami dan papi Boy yang sudah menunggu mereka.
"Assalaamu'alaikum...." Sapa Boy.
"Wa'alaikumussalam...." Jawab papi dan mami Boy heran.
{Gak biasa-biasanya ni anak ucapkan salam! Apa yang membuatnya jadi berubah begini ya? Tapi baguslah, ini perubahan yang baik.} Mami bertanya-tanya dalam hatinya.
"Gimana sekolahmu Boy?" Tanya papi.
"Semua baik-baik aja pi..."
"Kau tak membuat masalah lagi kan?" Tanya mami.
"Gak dong mamiku sayaaangg....Boy sekarang sudah jadi anak yang baik kok mi.. Jadi papi dan mami gak perlu khawatir." Jawab Boy.
Mami lalu melihat kearah Arman dan Dani seolah minta penjelasan pada mereka.
"Iya, apa yang dikatakan Boy itu memang benar Nyonya." Kata Dani.
"Benar Nyonya, Boy sekarang sudah berubah. Lebih kalem dan alim." Tambah Arman sambil melirik Boy.
"Hemmmm......Baguslah kalau begitu!" Kata papi.
"Tapi awas aja kalau sampai mami denger kau buat masalah Boy! Bakal mami kirim keluar negeri saat itu juga!" Kata mami.
"Gak mami....Tenang aja...Boy janji mau jadi anak yang baik!" Jawab Boy sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda perjanjian.
"Baiklah! Ayo kita sarapan bersama!" Ajak papi.
Mereka akhirnya sarapan bersama dengan lahap. Tak banyak bicara. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Semua sibuk menikmati sarapan dengan pikirannya masing-masing.
Disaat semua sedang asyik makan, tiba-tiba datanglah seorang pelayan menghampiri.
"Maaf tuan, didepan ada nona Maya mencari den Boy."
"Maya itu siapa Boy? Pacarmu?!" Tanya mami.
"Bukan mi! Bukan!" Jawab Boy gugup.
"Dia itu teman satu sekolah Boy mi!"
Selama ini Boy memang tak pernah mengizinkan teman-teman ceweknya datang kerumah. Boy tak mau semua menjadi repot urusannya kalau sampai maminya tahu.
"Oh....gitu! Awas aja kalau mami tahu kau dekat-dekat dengan cewek yang gak bener!" Ancam mami.
"Iya mi, Boy tahu kok! Oia bik, tolong sampaikan pada Maya, sebentar lagi aku kesana!"
"Baik den!"
Setelah selesai sarapan, Boy, Arman dan Dani pun berpamitan pada papi dan mami nya Boy. Mereka harus segera berangkat kesekolah.
Boy dan kedua sahabatnya itu berjalan menuju ruang tamu. Dimana Maya sedang menunggunya disana.
"Boy, sudah mau berangkat?"
"Iya, ada apa nih pagi-pagi sudah sampai sini aja! Kan aku dah bilang jangan pernah menemuiku dirumah!"
"Aku kangen kamu Boy!"
"Widiiiiih....kan bisa bisa ketemu di sekolah May!" Arman ikut nimbrung.
"Tapi aku dah gak sabar pengen ketemu Boy!"
"Ayo kita berangkat! Kata Boy lalu berjalan keluar. Di halaman, mobil Sport nya Boy sudah siap menunggu.
"Aku ikut denganmu ya Boy! Kata Maya sambil bergelayut manja di lengan Boy.
"Jaga sikapmu May!" Bentak Arman.
"Iiih....kau kenapa sih Man? Kayak baru kenal aku aja!"
"Arman benar May, mulai sekarang tolong jaga sikapmu padaku!" Kata Boy.
"Heiii.....ada apa denganmu Boy? Kenapa tiba-tiba kau berubah begini?"
"Tak ada yang berubah May! Aku cuma ingin jadi lebih baik aja!"
"Lebih baik?! Dengan cara menjaga jarak dariku?!" Kata Maya mulai kesal.
"Maaf May, itu memang benar." Jawab Boy santai.
"Jadi kau anggap apa aku ini Boy?? Aku ini kan pacarmu!"
"Selama ini aku tak pernah menyatakan cinta padamu May! Jadi kita ini bukanlah pasangan kekasih."
"Oh....begitu! Apa karena kau sudah punya pacar yang baru Boy?"
"Gak ada! Yach....aku cuma mau memperbaiki diriku aja May. Kuharap kau bisa mengerti maksudku."
Memang benar selama ini Maya lah yang selalu mengejar-ngejar Boy. Bahkan Maya selama ini sudah menganggap kalau Boy itu adalah pacarnya. Padahal Boy seperti biasa hanya having fun aja.
Mereka kemudian masuk kedalam mobil Boy. Arman yang bertugas mengemudikan. Sementara Boy duduk disamping Arman. Kemudian Dani pun mempersilahkan Maya masuk dan otomatis duduk dibangku belakang bersama dengan Dani. Maya tak membawa mobil, karena tadi Maya dengan sengaja minta diantarkan oleh sopir pribadinya.
Didalam mobil, masih dengan hati yang kacau Maya tak bisa menahan amarahnya.
"Katakan jujur padaku Boy! Ada apa ini? Kenapa kau berubah?"
Tak ada jawaban. Boy lebih memilih fokus melihat kedepan.
"Dani! Jelaskan padaku ada apa ini?"
"Gak ada apa-apa May! Kan tadi Boy sudah menjelaskannya padamu."
"Huuuuh....kalian sama aja! Oke kalau itu maumu Boy! Tapi ingat, jika kau dekat dengan cewek lain, kau akan tahu akibatnya! Aku gak akan tinggal diam!" Ancam Maya dengan amarahnya.
Boy masih tetap diam. Boy tidak mau makin memperumit keadaan. Karena jika berdebat dengan Maya tak akan ada habisnya. Maya akan selalu menyerang sampai merasa menang!
Mobil mewah Boy melaju dengan cepat. Sehingga tak berapa lama tiba disekolah.
Semua mata tertuju pada mobil itu. Tak berapa lama pemilik dan penumpangnya keluar dari mobil. Mereka tampak sangat berkarismatik.
Maya dengan angkuhnya berjalan disamping Boy seolah-olah menunjukkan pada semua kalau Boy hanya miliknya. Sementara Boy berjalan dengan cold, mamakai kaca mata hitam mahalnya dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celananya membuat Boy semakin tampak sempurna sebagai seorang lelaki idaman para cewek.
Semua mata tertuju pada mereka. Seolah-olah ada artis papan atas yang lewat sehingga semua menghentikan segala aktifitasnya masing-masing cuma sekedar untuk menyaksikan Boy cs datang.
"Wah.....Boy ganteng banget!!" Seru Tari.
"Iya, bikin hatiku berbunga-bunga melihatnya!" Sahut Rita.
"Ih....sayang Boy sudah ada yang punya!"
"Hah? Emang siapa yang punya?"
"Kau tak lihat siapa cewek yang berjalan disampingnya itu?"
"Oh....si Maya itu. Emang dia pacarnya?"
"Bisa jadi. Tiap hari kan selalu Maya yang nempel sama Boy."
"Sayang ya, padahal kan cantikkan aku dari pada si Maya sombong itu!" Seru Rita.
"Ah....pede kali kau Ta!" Kata Tari yang membuat mereka tertawa bersama.
"Boy, anterin aku kekelas dong!" Pinta Maya.
"Memangnya kau tak berani jalan sendiri kekelasmu?"
"Aku malu jalan sndirian Boy!"
"Ya sudah! Man tolong anterin Maya kekelasnya ya! Aku sibuk!"
"Siap bos! Ayo May kuantarkan." Kata Arman.
"Halaaaah.....gak usahlah kalau kamu yang anterin! Gak level! Mending juga jalan sendiri! Huh!"
Kata Maya sambil manyun lalu pergi menuju kekelasnya.
Boy cs tak bisa menahan senyum melihat tingakah Maya.
"Niat hati mau kasih perhatian lebih, dengan jemput pagi-pagi kerumah. Apa lah daya malah di kacangin! Ha...ha...!" Kata Arman.
"Kasian juga Maya Boy!" Kata Dani.
"Itu namanya bukan jemput Man. Kalau dia jemput pastikan dia bawa mobil. Lha ini dia malah ikut kita, tu artinya dia yang cari tebengan, bukan jemput kali!"
Kata Boy yang membuat mereka tertawa bersama.
Bel sekolah pun berdering, tanda waktunya masuk kelas telah tiba. Semua siswa siswi memasuki kelasnya masing-masing.
* * * * *
Kira-kira apa yang akan dilakukan Maya ya? Mau tahu?
Simak terus kelanjutan ceritanya pada Bab selanjutnya ya!
Jangan lupa dukungan Like dan komennya ya Kakak. Agar Author semakin semangat untuk update di setiap harinya. Makasih...🙏🙏🙏