"Rani... maukah kau jadi pacarku?", kata Robby sambil menyodorkan setangkai bunga mawar merah.
"Kita belum lama saling kenal, kenapa kau tiba-tiba memintaku jadi pacarmu?", kata gadis itu sambil melipat kedua tangan di dada.
"Karena aku jatuh cinta padamu sejak pertama kita berkenalan".
"Maaf.. aku tidak mau".
Robby Malik Hadiwiguna tidak pantang menyerah, walaupun pernyataan cintanya ditolak berkali-kali oleh Maharani Paramita Ardijaya, dia yakin gadis itulah jodohnya.
Rani bukannya menutup mata atau tak peduli dengan Robby, tapi ada hati yang ia jaga agar tidak terluka karena pernyataan cinta pemuda itu. Siapakah dia? Lalu apakah Robby akan tetap berjuang atau menyerah dengan cintanya? Mari kita ikuti kisah Robby dan Rani.
Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata yang tentunya telah dibumbui dengan beberapa adegan yang menarik minat pembaca.
(Ini novel pertamaku, semoga pembaca senang dan mendukung karyaku.. trimakasih)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Cheisya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar bersama
"Kenapa pak?", aku memandang pak Anto dengan heran.
"Oh... Gak apa-apa non. Cuma saya kayaknya pernah liat anak SMA pake motor itu, helmnya juga model full face seperti itu. Sepertinya rumahnya itu gak jauh dari rumah non Rani".
"Iya pak, di ujung jalan sebelum masuk gang ke perumahan. Dia pernah datang ke rumah sekali".
"Oh, udah pernah datang ke rumah non? Apa dia anak SMA yang datang sore menjelang magrib itu non?".
"Yap. Betul. 100 untuk pak Anto. Hehehe", aku menjentikkan jari sambil terkekeh. Tak berapa lama kemudian sampailah kami di sekolah. Aku langsung turun dari mobil. Lalu Robby melewatiku dan motornya masuk ke parkiran.
"Nanti mau belajar bersama nggak?", saat aku berjalan menuju kelasku tau-tau dia sudah berada di sampingku.
"Belajar dimana?".
"Aku ama temen-temenku mau belajar di perpustakaan. Mau ikut?", biarlah aku ditolak kemarin, mungkin usahaku belum maksimal. Aku akan tetap mendekatinya, batin Robby.
"Coba nanti aku tanya Clara dulu ya?".
"Ya udah. Kalo mau, nanti langsung datang ke sana aja".
"Iya". Lalu kami pun berpisah dan masuk ke kelas masing-masing.
"Clara, nanti siang habis selesai pelajaran, sebelum pulang aku mungkin mau belajar di perpustakaan. Tadi pagi Robby ngajak belajar di sana. Tapi gimana ya? Aku mau ikut donor darah siang nanti, trus belajarnya enaknya ikut gak?".
"Robby ngajak belajar? Mau... Mau... Mau...", matanya berbinar-binar dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. "Kalo kamu mau ikut donor darah, nanti aku antar, tapi aku tinggal ya? Aku lebih milih belajar ama Robby di perpustakaan. Ato kalo gak mau aku tinggal, kamu bisa ikut donor darah di PMI terdekat, gimana?", lanjutnya.
"Yaaah... Kok aku ditinggal sih? Yaudah, aku milih belajar aja deh".
"Kok gak sekarang aja ke perpustakaan Ran? Gak sabar nih pingin cepet ketemu ama Robby", sambil duduk digerakkannya kaki dan tangannya seolah-olah sedang berlari.
"Heh! Yang bener aja. Kamu mau membolos di jam guru matematika yang terkenal killer itu mengajar? Kamu mau dihukum ya?", aku geleng-geleng kepala, heran Clara mendadak lupa ingatan bahwa pak Gozali yang sering dipanggil pak Godzilla oleh teman-temanku itu terkenal menjadi guru killer yang bisa memberikan hukuman berat kepada siswanya.
"Ah... Iya... Ya... Untung kamu ingatkan... Yaudah, habis pelajaran pak Gozali, kita langsung ke perpustakaan aja ya?", Clara mengedipkan satu matanya kepadaku.
"Hm", jawabku malas. Bukan malas dalam arti yang sebenarnya tapi aku benar-benar takut membolos di jam pelajaran pak Godzilla. Dan aku bukannya takut tidak bisa mengerjakan tugas hukuman dari beliau, hanya saja beliau akan meminta orangtua siswa datang dan menghadap kepala sekolah untuk mengingatkan perjanjian yang ditandatangani orangtua dan siswa di awal masuk sekolah yaitu kesadaran dan keseriusan siswa dalam belajar.
*
*
*
Teeet
Bel sekolah tanda berakhirnya seluruh pelajaran di hari ini telah berbunyi. Aku dan Clara langsung keluar kelas dan berjalan menuju ruang perpustakaan. Jarak antara ruang perpustakaan dengan kelasku lebih dekat dibandingkan jarak antara perpustakaan dengan kelas Robby, sehingga aku dan Clara sudah sampai duluan. Kami sedang mencari meja dan kursi yang nyaman untuk belajar bersama ketika mereka memasuki ruangan ini.
"Ran, itu Robby dan temen-temennya", bisiknya.
"Hai... Dah lama nunggu?", sapa Robby dengan suara pelan.
"Aah... Gak kok. Kami juga baru aja sampai", Clara menampakkan senyum terbaiknya.
"Kenalin, ini Ardi dan Nila. Kami temen sekelas", Robby memperkenalkan dua orang temannya. Kami pun bersalaman dan menyebutkan nama masing-masing. Lalu sesi belajar pun dimulai. Beberapa buku soal kami kerjakan bersama. Sebagian besar aku bisa mengerjakannya, tapi ada beberapa soal yang aku bingung memilih jawabannya. Dan saat aku tanyakan soal-soal itu pada Robby, dia memberikan penjelasan yang mudah aku pahami. Pembawaannya tenang, tutur bahasanya begitu lugas, tak ada kecanggungan padahal aku menolak pernyataan cintanya pastilah dia malu sekali. Bahkan dia memberikan beberapa contoh soal dan jawaban yang hampir mirip dengan yang aku tanyakan tadi. Hal itu membuatku makin paham. Saat giliran teman lain menanyakan soal yang mereka kesulitan mencari jawabannya, perhatianku malah beralih ke padanya karena suara nada dering Hpnya saat ada telepon masuk adalah lagu dari penyanyi favoritku.
Jika ada yang bilang ku lupa kau
Jangan kau dengar
Jika ada yang bilang ku tak setia
Jangan kau dengar
Banyak cinta yang datang mendekat
Ku menolak
Semua itu kar'na ku cinta kau
Jika ada yang bilang ku tak baik
Jangan kau dengar
Jika ada yang bilang ku berubah
Jangan kau dengar
Banyak cinta yang datang mendekat
Ku menolak
Semua itu kar'na ku cinta kau
Kau
Saat kau ingat aku, ku ingat kau
Saat kau rindu, aku juga rasa
Ku tahu, kau s'lalu ingin denganku
Kulakukan yang terbaik, yang bisa kulakukan
Tuhan yang tahu ku cinta kau
Jika kau tak percaya padaku
Sakitnya aku
Jika kau lebih dengar mereka
Sedih hatiku
Banyak cinta yang datang mendekat
Ku menolak
Semua itu kar'na ku cinta kau
Kau
Saat kau ingat aku, ku ingat kau
Saat kau rindu, aku juga rasa
Ku tahu, kau s'lalu ingin denganku
Kulakukan yang terbaik, yang bisa kulakukan
Tuhan yang tahu ku cinta kau
Saat kau ingat aku, ku ingat kau
Saat kau rindu, aku juga rasa
Ku tahu, kau s'lalu ingin denganku
Kau tahu, ku juga ingin denganmu
Ku tahu, kau s'lalu ingin denganku
Kulakukan yang terbaik, yang bisa kulakukan
Tuhan yang tahu ku cinta kau
Kau, mmm
"Halo, assalamu'alaikum bunda", rupanya bundanya menghubungi.
"Oh... Sekarang udah hampir jam lima sore ya?", dia seperti terkejut, lalu memandang kami satu per satu.
"Ya bunda, ni lagi belajar kelompok di perpustakaan sekolah, bentar lagi selesai. Nanti aku langsung pulang. Bunda mau dibeliin apa?".
"Ya bunda. Waalaikum salam", dia menutup panggilan itu lalu memandang kami. "Apakah belajarnya bisa dilanjut besok? Ato ada yang masih bingung dan butuh penjelasan lagi?", dia bertanya sambil merapikan bukunya.
"Gak kok. Dilanjut besok aja gak apa-apa", Clara juga ikut merapikan bukunya. "Kalo kamu gimana Ran? Mau lanjut besok belajarnya?", lanjutnya.
"Iya, besok lagi aja. Kamu ada acara ya?", tanyaku sambil menatap Robby.
"Adikku lagi gak enak badan, kalo bisa dilanjut besok aja belajarnya habis pulang sekolah seperti tadi, karena aku mau pulang sekarang. Gimana? Pada keberatan gak?".
"Kalo aku sih jelas gak keberatan, kan masih bisa dilanjut besok", lagi-lagi Clara yang menjawab. Sedangkan Ardi dan Nila menganggukkan kepala sambil membereskan buku mereka.
"Ok, besok kita lanjutin belajarnya. Sekarang udah sore, ayo kita pulang", Robby berdiri lalu merapikan kursinya.