Indonesia
NovelToon NovelToon
Senyum Di Balik Apron

Senyum Di Balik Apron

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Bullying di Tempat Kerja / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:16.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ningxi

Ciara Anastasya, perempuan berusia 27 tahun, merantau ke ibu kota, tanpa pengalaman berpacaran, beberapa pria mulai mendekatinya. Sedangkan dia hanya berfikir tentang kehidupannua sendiri. Dia hanya berharap bisa mengubah hidupnya di sini.

"Penantianku selama enam bulan tidak sia-sia," gumam Chandra Adinata, pria 33 tahun yang jatuh hati pada Cia saat pertemuan pertama mereka di bandara.

Kini, Chandra berjuang mendapatkan hati Cia, yang sangat sulit ditembus. Cia membatasi kehadiran pria dalam hidupnya karena sulit percaya akibat pengalaman buruk dengan pria-pria yang mendekatinya sebelumnya.

Akankah Chandra mampu menembus dinding hati Ciara yang tebal dan tak tersentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningxi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Ketahuan

Udara dingin dini hari menusuk kulit Cia. Jam menunjukkan pukul empat pagi. Kegelapan masih menyelimuti kamar kosnya yang sederhana, hanya diterangi cahaya remang lampu tidur bentuk bunga di kamarnya. Hembusan kipas angin yang sedingin es membuatnya terbangun. Ia hendak mematikannya, namun suara bisikan perempuan dari luar kamar menghentikannya. Suara itu terdengar samar, terhalang dinding tipis kamar kos.

"Siapa jam segini sudah berisik?" gumamnya, tangan meraih gorden usang yang menutupi jendela kecil. Ia mengintip dengan hati-hati. Cahaya tembakau menyala redup menerangi wajah seorang perempuan yang tengah asyik bertelepon sambil menghisap rokok. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya kusut. Asap rokok mengepul di udara dingin pagi.

"Siapa itu?" bisik Cia, jantungnya berdebar. Ia menunggu perempuan itu berbalik. Saat perempuan itu berbalik, mata Cia melebar sempurna. Bukan hanya karena ia mengenali perempuan itu, Sania, gadis misterius yang baru seminggu yang lalu pindah ke kos yang sama— tetapi juga karena ekspresi Sania yang terlihat sedang bersedih dan marah.

"Sa... Sania? Ngapain dia di sini? Dan kenapa dia terlihat begitu tertekan?" Cia terduduk di kasurnya yang sederhana, rasa penasaran dan sedikit ketakutan mulai menguasainya. Bau rokok masih tercium samar dari arah jendela.

Gosip tentang Cia makin menjadi-jadi. Hampir seminggu, gosip tentang dirinya ciuman dengan seorang pria di sebuah kafe tak kunjung mereda, bahkan semakin liar. Foto-foto editan yang memperlihatkan dirinya dengan Chandra, teman kuliahnya, beredar di grup WhatsApp kos.

"Bang, lihat!" Cia menunjukkan ponselnya pada Riko, kakaknya, di tengah jam istirahat kuliah. Matanya berkaca-kaca.

Riko, dengan wajah yang tampak lelah, mengambil ponsel Cia. Ia melihat foto Cia dan Chandra yang tampak mesra. Ia menatap Cia dengan malas.

"Pamer, ya?" tanyanya, suaranya terdengar sedikit jengah dengan kelakuan Cia.

"Bang, kamu tahu kan siapa yang ada di foto itu?" tanya Cia, suaranya bergetar.

"Kamu sama Chandra. Pamer, kan?" Riko terdengar kesal, karena mengira Cia pamer kebersamaannya dengan Chandra.

Pundak Cia merosot. Ia menatap Riko dengan mata berkaca-kaca. "Bukan, Bang. Ada gosip yang beredar di kos. Katanya aku ciuman sama cowok di sebuah kafe," suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Mata Riko melebar, kaget. "Fitnah macam apa itu? Sudah tahu siapa yang menyebarkan?"

Cia menggeleng, "Belum, Bang, tapi aku mencurigai seseorang," Wajahnya kini tampak lebih tegas, sebuah tekad kuat terlihat di matanya.

Satu alis Riko terangkat. "Siapa?"

Cia menegakkan badan, menatap Riko dengan serius, mencoba mengumpulkan keberanian.

"Sania, Bang. Aku baru tahu tadi pagi dia satu kos denganku." Ia menceritakan pertemuannya dengan Sania di pagi hari, menambahkan detail tentang Sania yang terlihat sedih dan sedang bertengkar melalui telepon.

Cia menatap Riko yang masih di sampingnya, kecemasan tergambar jelas di wajahnya. "Menurut Abang, aku harus gimana?"

Riko terdiam sejenak, mencoba memikirkan solusi terbaik. "Apakah kosmu punya grup chat pribadi? Takutnya mereka buat grup lain, tanpa kamu, untuk menyebarkan gosip itu. Kita perlu mengendalikan narasi. Dan yang terpenting, kita harus tahu siapa dalang di balik semua ini."

"Grup chat pribadi ada, Bang. Tapi grup chat yang lain aku kurang tahu. Biar aku coba tanya Adel deh," jawab Cia, suaranya sedikit lebih tenang sekarang. Wajahnya sudah terlihat lebih normal, menandakan perasaannya sedikit membaik.

Namun, kedua kakak beradik itu tak menyadari Bu Sila, atasan mereka yang terkenal kejam dan penuh dendam terhadap Cia, diam-diam memotret mereka dari kejauhan. Wajah Bu Sila, dengan ekspresi penuh kebencian, tampak jelas saat ia mengabadikan momen Cia dan Riko berbisik-bisik di ruang istirahat yang ramai. Ia menyimpan dendam lama pada Cia karena suatu hal pribadi.

Cia kembali bekerja setelah jam istirahat. Langkahnya masih sedikit gontai, namun ia berusaha terlihat profesional. Sekar, teman kerjanya yang ramah dan perhatian, memanggilnya. "Kak Cia, sini deh!"

Cia berjalan mendekat. "Ada apa, Kar?" tanyanya dengan penasaran.

Sekar menarik baju Cia agar lebih dekat, lalu berbisik pelan di telinga Cia. "Hati-hati, tadi aku lihat Bu Sila mengambil fotomu sama Mas Riko pas kalian istirahat," bisiknya, suara khawatir tersirat dalam nada bicaranya. Gadis polos itu memasang wajah serius yang terlihat menggemaskan.

Cia mengerutkan dahi. Bu Sila? Wanita itu memang selalu memperhatikannya dengan tatapan yang aneh dan sinis. "Terima kasih sudah memberi tahu info penting," bisik Cia, lalu beranjak melanjutkan pekerjaannya, sebuah firasat buruk mulai muncul di hatinya. Bu Sila sebagai atasannya, memiliki akses dan pengaruh yang lebih besar untuk menyebarkan gosip tersebut, terlebih lagi dengan dendam yang disimpannya.

Tak lama kemudian, Chandra, memanggilnya. Cia mendengus kesal. "Pada kenapa sih? Manggil semua," gerutunya, namun tetap melangkah ke arah bar tempat Chandra bekerja.

Cia berdiri di depan meja bar, menunggu Chandra mengatakan sesuatu. Namun, pria itu hanya tersenyum tipis, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Cia menatap wajah tampan chandra, "Ada apa, Mas?" tanyanya, suaranya terdengar sedikit tajam karena kesal.

Chandra menggeleng, menjawab pertanyaan cia dengan tenang, tanpa menghiraukan ekspresi kesal Cia. "Tidak, nanti saja saat pulang kerja. Lanjutkan urusanmu."

Cia mendengus, menghentakkan kakinya dengan kesal. Dia segera berbalik pergi meninggalkan bar untuk kembali ke tempat makanan

Chandra menatap kepergian Cia dengan senyum kecilnya. Pandangannya tak lepas dari Cia yang berjalan ke sana ke mari melayani pelanggan dengan ramah. Ada beberapa pelanggan yang meminta difoto sama Cia, dan Cia juga ramah menjawab beberapa pertanyaan anak kecil yang berlarian di restoran. Chandra kembali melanjutkan kegiatannya membuat kue, tetapi matanya sesekali mengawasi Cia.

Lina, teman kerja Chandra, mendekat dan berdiri di sampingnya. "Mas, cewekmu digoda pria tampan tuh," ucapnya, menunjuk ke arah Cia yang sedang berbincang dengan empat pria di sebuah meja. Salah satu pria itu terlihat tampan dan ramah.

Chandra langsung menghentikan kegiatannya. Pandangannya tajam menyapu restoran, mencari keberadaan Cia. Ia melihat Cia berdiri didekat meja yang diduduki empat pria, dan salah satu dari mereka menatap Cia dengan tatapan yang penuh minat. Mereka berbincang dengan ramah dan terlihat akrab. Amarah Chandra tertahan. "Lin, tolong panggil Gio sama Tika," pintanya, tangannya mengepal erat.

Lina segera beranjak setelah mendengar nada suara chandra yang menahan amarah. Setelah berjalan memutari area restoran untuk memanggil Gio dan Tika. Lina segera kembali ke dalam bar.

Tika dan Gio mendekat ke arah bar dengan heran. "Kenapa, Lin?" tanya Gio.

Lina hanya menunjuk Chandra yang sudah berjalan mendekati mereka. Wajah Chandra yang tidak ramah itu mengganggu mood Tika dan Gio.

"Kalian, tolong jangan biarkan Cia mengantar pesanan meja 18," ujar Chandra penuh peringatan. Gio dan Tika saling pandang, menyadari sesuatu yang sudah lama mereka curigai—kecemburuan Chandra yang terpendam. Namun, mereka juga curiga ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.

Tika mengangguk, "Siap, Paduka," jawabnya dengan jahil, menambahkan sedikit guyonan untuk meredakan suasana tegang. Gio hanya tersenyum geli melihat kecemburuan Chandra yang baru terlihat jelas selama beberapa tahun mereka bekerja bersama.

Tika mendekati Cia yang berdiri di batas dapur, menunggu makanan siap diantar. Cia terlihat sedikit lesu, namun tetap berusaha tegak dan tenang.

"Ci, tolong bersihkan meja di lantai dua ya? Kakak mau ke toilet dulu, makanan biar Sania yang nganter," ucapnya. Sania, yang berdiri di dekat mereka, menunjukkan ekspresi tidak senang yang jelas terlihat di wajahnya, bibirnya mengerucut dan matanya melotot ke arah Cia.

"Ah, baik Kak," jawab Cia dengan tenang, meskipun ia terlihat sedikit ragu. Ia bergegas naik ke lantai dua untuk membersihkan beberapa meja yang sudah ditinggalkan penghuninya. Langkahnya sedikit tergesa, menunjukkan ia ingin menyelesaikan tugasnya secepat mungkin.

Chandra, dari balik meja bar, menatap Cia yang pergi ke lantai dua dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Lina hanya mendengus geli menyaksikan kelakuan Chandra. Ia sudah terbiasa melihat Chandra bersikap seperti itu akhir-akhir ini.

Riko yang berdiri di depan bar setelah mengantar beberapa pesanan, hanya menatap Chandra dengan aneh. "Dia kenapa?" tanya Riko pada Lina, suaranya hampir berbisik.

"Dia cemburu sama Cia," jawab Lina setengah berbisik, mencoba menahan tawanya.

Riko mengangguk, karena ia juga menyaksikan Cia berbicara dengan ramah kepada beberapa pelanggan pria. Ia memperhatikan bagaimana Cia melayani pelanggan dengan senyum ramah dan penuh perhatian, bahkan ia membantu seorang anak kecil yang menumpahkan jusnya. Ia juga tahu bahwa salah satu pelanggan pria itu, yang sering makan di restoran dan selalu mengajak Cia mengobrol, memiliki niat yang tidak baik. Riko mengenali tatapan mata pria itu.

"Nggak akan ku biarin," gumam Riko lirih, suaranya penuh tekad. Ia melirik pria yang duduk di meja 18, yang sedang menatap ke lantai dua, tempat Cia berada. Tatapan pria itu penuh minat, dan Riko langsung merasa tidak suka.

Riko mendengus kesal. "Udah punya istri juga masih aja," lirihnya lagi, suaranya penuh dengan rasa jijik.

Lina yang mendengar bisikan Riko terlihat kaget, matanya membulat. "Serius Mas?" tanyanya, suaranya hampir tak terdengar.

Riko beralih menatap Lina, wajahnya masih menunjukkan kekesalan. "Dia teman SMA ku, yakali aku nggak tahu. Bahkan istrinya baru saja melahirkan," jawab Riko dengan wajah kesalnya, menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap perilaku pelanggan tersebut.

"Karena merekalah hidupku jadi sangat berantakan." batin riko.

Lina melirik Chandra yang sedang sibuk membuat kue, fokus dan tampak tenang. Ia menghela napas lega karena Chandra tidak mendengar pembicaraannya dengan Riko. Kalau tahu, pasti pria itu akan semakin menyala emosinya, dan mungkin akan membuat masalah. Lina tahu bahwa Chandra menyimpan perasaan yang lebih dari sekadar persahabatan kepada Cia, dan cemburu yang dirasakannya semakin menjadi-jadi.

Dengan amarah yang tertahan, Riko beranjak menghampiri teman SMA-nya, seorang pria yang terlihat urakan dan sombong, yang juga menjadi pelanggan saat itu. Pria itu, yang bernama Dimas, kembali memanggil Cia ke mejanya, dan adiknya itu menurut, terlihat ragu namun patuh.

Langkah Riko yang pasti berhenti di samping Cia, menciptakan aura yang langsung membuat Dimas dan teman-temannya terdiam sesaat. Riko menepuk pundak Cia pelan, suaranya tenang namun tegas. "Dek, kamu lanjutin kerjaanmu. Biar Abang yang handle di sini."

Cia menatap Riko dengan kaget, seakan baru menyadari situasi yang sebenarnya. "Ah, baik Bang. Terima kasih," ucapnya, suaranya sedikit gemetar. Ia segera berlalu, tangannya masih memegang nampan kosong, langkahnya sedikit terburu-buru.

Riko beralih menatap Dimas yang sekarang menatapnya dengan pandangan merendahkan, seolah-olah Riko adalah orang yang tidak penting. "Bangkrut usahamu, Dik?" Nada suara Dimas terdengar memuakkan di telinga Riko, menunjukkan kekesalan dan penghinaan.

"Tidak, aku hanya ingin menjaga adikku. Dari orang-orang sepertimu," jawab Riko dengan sinis dan tajam, tatapan matanya menusuk.

"Sudahlah, berikan saja adikmu padaku. Biar jadi istri keduaku," bisik Dimas, pandangannya berkilat nakal dan merendahkan, menunjukkan niatnya yang buruk.

Riko menahan emosinya sekuat tenaga, tangannya mengepal menahan keinginan untuk meninju wajah Dimas. "Sampai mati pun, aku tidak akan membiarkan adikku jatuh ke tangan seorang pria sepertimu," suara Riko bergetar menahan amarah yang membara dalam tubuhnya. Ia bisa merasakan urat di lehernya menegang.

"Dan lagi," Riko membungkuk, berbisik pelan di telinga Dimas, suaranya berat dan penuh ancaman. "Kalau kau mau sama adikku, lihat pria di dalam bar. Apakah dia tandinganmu?" Riko menyentak pundak Dimas pelan, sentuhan yang mengandung kekuatan dan peringatan. Senyumnya kini terlihat merendahkan Dimas, menunjukkan bahwa ia tidak takut.

Dimas, yang awalnya sombong, terlihat sedikit ragu saat ia menatap Chandra yang terlihat tenang di dalam bar, sedang membuat kue dengan gerakan yang terampil dan penuh konsentrasi.

"Halah, hanya seorang bartender," ucapnya meremehkan, namun suaranya sudah tidak sesombong sebelumnya.

Dengan wajah yang dipaksa tenang, Riko kembali berbisik. "Lihat baik-baik. Apa dia hanya seorang bartender biasa?" Ia menekankan kata "hanya" untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih dari apa yang terlihat.

Keempat pria di sana, termasuk Dimas, langsung terdiam setelah beberapa saat memperhatikan Chandra yang juga sedang menatap ke arah mereka dengan wajah tegas dan mata tajamnya. Chandra, yang awalnya terlihat tenang, kini memancarkan aura yang kuat dan mengintimidasi. Tatapannya tajam dan menusuk, menunjukkan bahwa ia tidak akan segan-segan untuk membela Cia.

Riko berlalu, kembali ke depan meja bar. Di sana, ia menatap Chandra yang juga tengah melihatnya dengan alis terangkat, seakan bertanya-tanya apa yang terjadi.

"Ada apa? Kenapa mereka melihatku?" tanya Chandra dengan penasaran, suaranya terdengar sedikit tegang.

Riko hanya menggeleng, mencoba meredakan suasana. "Mungkin mereka terpesona dengan wajah tampanmu, Bang," katanya sambil tersenyum lucu, mencoba untuk mencairkan suasana tegang. Ia menatap ekspresi Chandra yang kali ini terlihat polos dan sedikit bingung.

Setelah beberapa saat berfikir, Chandra menyadari ucapan Riko. "Tutup mulutmu, jangan membuatku geli," ujar Chandra dengan kesal, namun suaranya sedikit lebih tenang sekarang. Ia kembali menatap empat pria itu dengan wajah kesalnya, dan tatapannya semakin tajam menusuk, karena ia menganggap ucapan Riko itu serius, dan ia tidak suka dengan pria yang doyan pria.

...****************...

1
Wisnu Mahendra
chandra terlalu lemah jadi cowok, katanya pemilik restaurant, katanya suka sama cia, tapi gak ada sama sekali aksinya untuk membela cia
Difani Roni
ceritanya sangat menarik
Camila Llajaruna Cornejo
Sudah berapa lama nih thor? Aku rindu sama ceritanya
Ningxi
terima kasih
Miu miu
Aku sempet nggak percaya sama akhir ceritanya, tapi bener-bener bikin terkagum-kagum.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!