Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dikurung lagi
"Lepasin! Apa-apaan ini?! Lepas!"
Jeritan histeris Alexa memecah keheningan koridor lantai bawah. Dua orang pengawal berotot besar menyeret kedua tangannya tanpa belas kasihan. Langkah-langkah kaki mereka bergerak cepat menelusuri lorong sempit bernuansa cadas yang makin lama makin gelap dan berbau debu lembap.
"Kali ini salahku apa lagi, sih?!" cicit Alexa dengan suara parau bercampur ketakutan yang membakar tenggorokannya. "Aku nggak ngapa-ngapain! Aku cuma berdiri di sana! Kenapa aku diseret-seret lagi?!"
Namun, kedua pengawal itu bungkam bagaikan patung bernapas. Mereka mengabaikan setiap jeritan, kemarahan, dan remasan tangan Alexa yang berusaha melepaskan diri.
Di ujung lorong, sosok Raiden berdiri tegap dengan kemeja hitam yang baru digantinya. Pria itu menyaksikan dari kejauhan dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tatapan matanya kelam, dingin, dan datar sama sekali tidak mengabaikan atau menanggapi tatapan memohon dari Alexa.
Raiden membiarkan begitu saja para pengawal menyeret istrinya menuju sebuah pintu kayu tebal berangka besi di sudut paling terpencil dari bagian bawah mansion.
BAM!
KLIK! KLIK!
Pintu kayu tebal itu dihantamkan shut rapat dan dikunci ganda dari luar.
"Buka! Buka pintunya! Tolong!" jerit Alexa seraya memukul-mukul permukaan kayu yang keras hingga telapak tangannya memerah nyeri.
Tidak ada jawaban. Hanya suara derap langkah pengawal yang makin menjauh, meninggalkan Alexa sendirian di dalam gudang penyimpanan tua yang gelap gulita dan pengap. Hanya ada sedikit celah ventilasi di bagian atas yang menembus kehangatan cahaya remang-remang.
Keberanian Alexa yang tersisa runtuh seketika. Tubuhnya meluruh jatuh ke atas lantai semen yang dingin dan kotor. Bau debu, kayu lapuk, dan karat menyeruak tajam ke hidungnya.
"Aku mau pulang..." bisik Alexa parau.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah mendobrak pertahanannya. Isakan demi isakan lolos dari bibirnya yang bergetar. Rasa takut, lelah dianiaya secara mental, dituntut bernapas di antara para monster berdarah dingin, hingga kejenuhan atas hidup yang tak pasti ini membuncah menjadi tangisan pilu. Ia merengkuh kedua lututnya rapat-rapat ke dada, menyembunyikan wajahnya yang memerah dan basah oleh air mata di dalam kegelapan malam.
Berjam-jam Alexa menangis hingga dadanya terasa sesak dan tenggorokannya kering kerontang. Energi tubuhnya terkuras habis oleh gelombang emosi yang bertubi-tubi sejak pagi. Perlahan, tangisannya meredup menjadi helaan napas pendek dan teratur. Matanya yang sembap tak sanggup lagi terbuka. Di atas lantai semen yang keras dan dingin itu, Alexa akhirnya tertidur lelap karena kelelahan yang teramat sangat.
Sementara itu, di ruang kerja utama lantai dua yang megah dan dipenuhi aroma tembakau mahal...
Alexander berdiri di dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan halaman mansion yang kini telah bersih dari mayat-mayat klan musuh. Di belakangnya, Raiden duduk di balik meja kerja kayu jati, menuangkan dua sloki whisky berumur puluhan tahun ke dalam gelas kristal.
Alexander memutar tubuhnya, menatap putra tunggalnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Kau membiarkan wanita itu tetap hidup," ujar Alexander datar, memecah keheningan ruangan. Suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan analisis tajam. "Padahal tadi pagi, kau berpikir dia sudah mati dan matamu sampai berubah menjadi merah darah."
Raiden menyodorkan satu gelas kristal ke arah sang papa tanpa mengalihkan pandangannya dari cairan keemasan di dalam gelasnya sendiri. "Aku hanya menyelesaikan urusanku dengan klan musuh."
Alexander menerima gelas itu, menyunggingkan senyum miring yang penuh provokasi. "Apakah kau mulai jatuh cinta pada gadis biasa itu, Raiden?"
DEG.
Gerakan tangan Raiden yang hendak mengangkat gelasnya terhenti sepersekian detik di udara. Aura di sekitar meja kerja itu mendadak merosot dingin. Raiden mendongak, menatap papanya dengan iris mata hitam yang amat tajam dan membekukan.
"Jangan bicara omong kosong," pangkas Raiden dingin, suaranya serak dan datar tanpa riak emosi. "Cinta adalah kelemahan yang tidak pernah ada dalam kamus hidupku."
Raiden menyesap whisky-nya secara perlahan, lalu meletakkan gelas kristal itu kembali ke meja dengan dentingan halus.
"Gadis itu tidak lebih dari sekadar mainan baru yang menarik untuk mengisi kekosonganku," lanjut Raiden dengan nada suara yang teramat kejam dan berdarah dingin. "Ketika aku sudah bosan bermain-main dengannya... aku sendiri yang akan mencabut nyawanya dan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Tanpa perlu campur tangan siapapun."
Alexander tertawa pelan sebuah tawa rendah yang dingin dan puas mendengar jawaban yang mencerminkan keturunan Alteir sejati.
"Bagus. Ingat ucapanmu itu, Raiden," sahut Alexander sembari menghabiskan whisky di gelasnya dalam satu tegukan. Ia meletakkan gelas kosong itu di atas meja, lalu merapikan jas abu-abunya.
"Urusanku di sini sudah selesai. Ancaman klan musuh sudah kita ratakan, dan kekuasaanmu kembali mutlak," ujar Alexander sembari melangkah menuju pintu keluar. Ia menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu, menoleh ke arah Raiden.
"Aku akan kembali ke luar negeri malam ini juga. Jangan biarkan mainan kecilmu itu merusak kewaspadaanmu."
"Hati-hati di jalan, Papa," balas Raiden singkat tanpa beranjak dari kursinya.
Dengan satu anggukan kepala yang dingin, Alexander melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Raiden sendirian di dalam kegelapan ruang kerja yang hening.
Sinar matahari pagi merayap pelan menembus celah ventilasi tinggi gudang penyimpanan, menyapa kelopak mata Alexa yang sembap.
Gadis itu bergerak perlahan, merasakan seluruh persendian tubuhnya kaku dan pegal luar biasa akibat semalaman tidur di atas lantai semen yang dingin dan keras. Wajahnya pucat pasi, matanya bengkak bekas menangis, dan tubuhnya terasa teramat lemas.
KLIK.
Pintu gudang tua itu mendadak terbuka dari luar. Seorang pelayan berdiri di sana dengan wajah serba salah, menundukkan kepala dalam-dalam. "Nyonya Alexa... Tuan Raiden meminta Anda untuk turun ke ruang makan sekarang. Beliau... menunggu Anda untuk sarapan bersama."
Alexa menyapu sisa-sisa debu yang menempel di baju dan roknya dengan jemari yang gemetaran. Dengan sisa tenaga yang ada, ia melangkah gontai menyusuri koridor mansion menuju ruang makan utama.
Atmosfer ruang makan pagi ini terasa begitu asing. Pria tua berdarah dingin yang kemarin menodongkan ancaman mati sudah tidak ada—meninggalkan Raiden seorang diri yang duduk anggun di kursi utamanya. Pria itu tampak segar dan sempurna dalam balutan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke sikut. Pemandangan pembantaian berdarah kemarin seolah menguap begitu saja dari penampilannya.
Alexa duduk di kursi sejauh mungkin dari Raiden, menundukkan kepala sembari memegang sendoknya dengan tangan yang lemas. Rasa lapar yang melilit perutnya seolah sirna berganti dengan rasa lelah emosional yang teramat sangat.
Raiden memotong daging stik di piringnya dengan gerakan yang sangat tenang, rapi, dan dingin. Keheningan di antara mereka begitu mencekam, hanya dihiasi oleh denting halus pisau dan garpu porselen.
CTAK.
Raiden meletakkan pisaunya pelan. Tanpa menatap Alexa, pria itu menyapu bibirnya dengan serbet kain sebelum bersuara dengan nada yang datar dan tak tersentuh emosi.
"Habiskan sarapanmu," ujar Raiden rendah. "Setelah ini, kau bertugas membersihkan ruang bawah tanah lagi. Sisa-sisa eksekusi kemarin harus dibersihkan sampai tidak ada noda atau bau darah yang tersisa."
DEG.
Kalimat itu bagaikan pukulan keras tepat di dada Alexa. Sendok di tangannya terlepas, berdenting nyaring di atas piring.
'Ruang bawah tanah lagi?! Setelah kemarin hampir mati, setelah diseret dan dikurung semalaman di gudang pengap, sekarang disuruh nyikat darah mayat lagi?!' batin Alexa memekik frustrasi.
Rasa lelah yang sudah menumpuk di ambang batas membuat pertahanan diri Alexa yang penakut mendadak retak. Ia tidak bisa membayangkan harus kembali ke ruangan gelap berbau amis yang teramat mengerikan itu dalam kondisi tubuhnya yang selemas ini.
Dengan keberanian terakhir yang terkumpul dari keputusasaan, Alexa menggeser kursinya dan berdiri. Langkahnya yang agak sempoyongan bergerak mendekati sisi kursi utama tempat Raiden duduk.
Ia berhenti tepat di samping Raiden, meremas jemarinya yang dingin rapat-rapt di depan dada.
"T-Tuan... Raiden..." panggil Alexa, suaranya parau, kecil, dan bergetar hebat.
Raiden hanya meliriknya lewat sudut mata, tetap berada dalam sikap dingin dan tenangnya yang tak tersentuh.
"Tolong... aku mohon..." cicit Alexa dengan mata berkaca-kaca, menatap wajah tegas suaminya dengan pandangan memohon yang amat dalam. "Hari ini saja... izinkan aku libur? Badanku rasanya lemas sekali... kepalaku pusing dan tanganku gemetaran. Aku... aku nggak sanggup kalau harus ke ruang bawah tanah hari ini..."
Mata Alexa menyuarakan kejujuran dan rasa lelah yang teramat sangat. Ia benar-benar berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.
Raiden memutar tubuhnya sedikit ke arah Alexa. Iris mata hitam legamnya yang dingin menatap wajah pucat Alexa secara menyeluruh—memperhatikan mata sembapnya, bibirnya yang kering, dan tubuhnya yang kentara sekali sedang tak bertenaga.
Namun, tidak ada sedikit pun pendar belas kasihan di dalam manik kelam pria itu.
"Tidak ada libur," penolakan Raiden meluncur mulus, dingin, dan telak tanpa keraguan.
"T-tapi aku benar-benar sakit, Raiden—"
"Aku tidak menerima alasan," potong Raiden tegas, suaranya menggelegar rendah penuh intimidasi mutlak yang membekukan. "Selama kau masih bernapas dan berdiri di atas kedua kakimu, kau akan tetap menjalankan apa yang aku perintahkan. Jangan pernah membuang waktuku dengan rengekan tidak berguna seperti ini."
Raiden berdiri dari kursinya, merapikan lengan kemejanya sembari menatap Alexa yang terpaku dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
"Habiskan makananmu dalam lima belas menit," pangkas Raiden dingin sebelum berbalik melangkah pergi, "atau aku sendiri yang akan menyeretmu turun ke bawah."
ok...let's play 🤣🤣
Alexa swaaaag🤣🤣🤣🫣
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔
ketagihan kan kan 🙊🙄🙄