Indonesia
NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ELSA ATAU ANNA?

Jam pelajaran baru saja dimulai, setelah Bu Shinta mengenalkan lagi Dara pada teman-temannya. Sedangkan Sutami duduk berjaga di lobi depan, di ruang tunggu.

"Baiklah anak-anak, silakan baca dulu halaman lima puluh enam sampai lima puluh delapan, Ibu Guru mau ambil buku catatan ibu yang tertinggal di kantor ya."

"Siap, Bu!" jawab kompak anak-kelas 1B.

Disinilah hari pertama Dara dimulai. Awalnya cuma terdengar bisik-bisik dari beberapa temannya.

"Tuh Dara udah masuk lagi."

"Ibunya kan udah..."

"Sst! Jangan keras-keras, kata ibuku, dia yatim sekarang,"

"Apa maksudnya?"

"Kata Mamaku, Ibunya Dara meninggal karena menyelamatkan anak ceroboh itu!"

Lalu ada yang mulai berani. Riko, anak yang paling usil di kelas, berdiri di depan meja Dara, menyeringai menatap tak suka. "Awas loh, jangan ganggu Dara. Dia sekolah bawa ibu penyihirnya sekarang!" ledeknya.

Anak-anak lain ikut tertawa.

"Hahah... anak yatim bawa ibu tiri... pasti dia akan ketularan jahat kayak ibu tirinya!" sahut teman Riko yang lain.

Dara awalnya hanya diam. Tangannya mengepal di atas meja, menunduk, menatap bukunya. Tapi semakin ia diam, teman-temannya semakin mencerca dan mengejeknya.

'Penyihir, anak yatim, ibu tiri jahat.' Kata-kata itu terus diulang oleh teman-temannya sambil tertawa mengejek. Tawa mereka semakin kencang, hingga habis sudah kesabaran Dara.

Dengan mata merah dan napas memburu, Dara berdiri. Ia meraih penggaris 30cm dari dalam tasnya, lalu beranjak menghampiri satu persatu temannya.

BUK!

Penggaris itu menghantam lengan Riko.

"Aduh!!" Riko berteriak.

Tapi Dara tidak berhenti. Pukulan bertubi-tubi, ke meja, ke kursi, ke arah semua yang meledeknya, seolah sebagai pelampiasan dari rasa rindu dan luka yang tanpa sadar tertahan sejak kepergian ibu kandungnya. Luka yang tak ia pahami terpicu dan meledak tak terkendali.

Bagaimana anak seusia itu memahami kehilangan? Ia hanya tahu benci, dan marah lalu membalas.

"Diam! Jangan bilang aku yatim!!" teriak Dara sekencang yang ia bisa.

Riko terduduk di lantai, menangis kencang karena kesakitan, sedangkan anak-anak lain menjerit dan berlarian menghindari Dara.

Mendengar kegaduhan, Sutami yang masih berbincang dengan Bu Tuti bergegas bangkit dan berlari kecil ke kelas 1B. Bu Sinta yang keluar dari kantor pun mempercepat langkahnya, diikuti dua guru lainnya.

Beberapa anak tampak berlarian keluar dari kelas. Betapa terkejutnya Sutami saat melihat ke dalam kelas. Dara berdiri di tengah kelas, napasnya memburu, mata melotot, dan penggaris masih di tangannya. Di depannya, Riko menangis meraung memegangi lengannya yang memerah.

Tanpa pikir panjang Sutami berlari dan langsung memeluk tubuh mungil Dara dan merengkuhnya erat-erat. "Dara! Dara, cukup Sayang! Lepaskan! Lihat Ibu!" bisik Sutami di telinga Dara, suaranya gemetar tapi tegas.

Tubuh Dara masih bergetar hebat. Dadanya naik turun dan menatap tajam ke seisi kelas, tatapan penuh luka dan amarah. "Sst... Ibu di sini. Apa yang terjadi, kenapa Dara seperti ini? Lepaskan penggarisnya, pelan-pelan," rayu Sutami sambil mengelus punggung Dara. "Lihat, teman-teman Dara ketakutan semua."

Tes!

Air mata itu akhirnya jatuh mengenai punggung Sutami.

Klang!

Penggaris yang sejak tadi digenggam erat pun terjatuh.

Dara memeluk Sutami, menenggelamkan wajahnya di benteng yang tepat, lalu menangis sejadi-jadinya.

Bu Sinta sudah memeluk Riko dan menenangkannya. "Sst... Riko, tidak apa-apa. Ibu di sini."

"Teman-teman lain, ayo kita kembali duduk di meja masing-masing, ya." Bu Tuti menghampiri siswa lain yang sudah lebih tenang bersama dua guru lain.

Sutami mendongak dengan mata yang berkaca-kaca. "Bu, saya minta maaf. Boleh saya bawa Dara ke UKS dulu?"

Bu Sinta mengangguk cepat. "Silakan, Bu Sutami. Biar saya yang urus di sini dulu."

Sutami menggendong Dara keluar. Gadis kecil itu semakin dalam menyembunyikan wajahnya di bahu Sutami.

UKS pagi itu kosong dan sepi. Sutami duduk di bangku tunggu, masih dengan Dara di pelukannya. "Dara masih mau nangis?" tanyanya pelan, di jawab dengan anggukan dan isak yang perlahan mereda. "Baiklah, Dara boleh nangis, tapi sabil dengerin Ibu bicara ya." Sekali lagi Dara mengangguk.

Sutami menghela napas sangat dalam, bukan karena lelah dan marah, tapi sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri, dan mencari kata dan kalimat yang tepat agar anak kecil di pangkuannya bisa mudah mengerti. "Kamu hebat sudah berani datang ke sekolah hari ini."

Sutami mengusap kepala Dara, meski tangannya masih agak gemetar. "Ibu tidak tahu apa yang terjadi, Dara bisa cerita sama Ibu?"

Dara menegakkan badannya, mengusap wajahnya dari air mata. "Mereka jahat!" teriaknya diantara isak yang terdengar menyakitkan.

Sekali lagi Sutami membelai lembut kepala Dara, lalu merapikan rambut yang sebagian menutupi wajah Dara yang masih basah karena air mata. "Mereka menyakiti Dara?"

Tangis Dara kembali pecah, gadis itu tak sanggup menjawab pertanyaan itu, ia kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukan Sutami.

Sutami menghela napas lagi, "Baiklah-baiklah Ibu mengerti. Tapi Dara sudah membalas teman yang jahat itu kan? Ibu tidak akan marah, tapi Dara harus tahu... Yang Dara lakukan juga tidak baik. Memukul teman, itu... Tuhan tidak menyukainya."

"Tapi mereka mengatai aku anak yatim, Bu!" teriak Dara sebagai pembelaan.

Sutami mulai mengerti, ia melepaskan pelukan Dara kemudian mendudukkan gadis itu di dipan kecil, menarik kursi mendekat lalu duduk berhadapan Dengan Dara. "Di sini rasanya berdebar kencang, lalu buat napas rasanya sakit, ya?" tanya Sutami lembut menunjuk pelan ke ulu hati Dara.

Gadis kecil itu mengangguk. "Aku nggak suka mereka begitu, Bu." Pengakuan itu mengalir lebih tenang meski isakan masih terdengar memilukan.

"Ibu tidak tahu bagaimana marahnya Dara sama teman-teman. Benar, mereka itu jahat karena mengatakan hal seperti itu. Mereka jahat sekali ya?"

"Mereka jahat!"

"Tapi... memukul teman untuk membalas kejahatan yang dilakukan oleh teman, itu jahat tidak? Mereka juga terluka, mereka juga ketakutan sama seperti yang tadi Dara rasakan. Lalu... Apa bedanya Dara sama teman-teman yang jahat itu?"

Dara semakin tenang, tangisnya sudah mereda, hanya tersisa isak yang tersengal.

"Kemarin kita udah lihat film Frozen sama-sama kan? Dara ingat apa yang terjadi sama... siapa sih nama princes yang punya kekuatan super sihir salju itu?" Sutami tidak lupa, tapi ia perlu melihat seberapa besar Dara memperhatikan pembicaraan itu, jadi begitulah cara ia melibatkan dan memanipulasi emosi Dara agar bisa tenang dan merasa dilibatkan dalam percakapan.

"Namanya Elsa, Bu," sahut Dara dengan kalimat bernada sedikit manja, ada rasa menang karena merasa ingatannya lebih tajam, ada rasa senang karena merasa mendapat ruang. "Kalau adiknya namanya Anna."

"Nah, benar! Yang ibu ingat cuma Olaf, soalnya hidungnya lucu!" Sutami tertawa kecil, tanpa diduga, Dara pun tersenyum samar.

"Nah, Dara ingat... Apa yang terjadi sama Elsa waktu dia membiarkan amarah dan rasa ingin membalas menguasai hatinya? Dia jadi menciptakan monster salju yang sangat jahat kan? Yang justru bisa membahayakan adik dan teman-temannya Elsa?"

Isak Dara semakin mereda, menyisakan napas yang tersengal pelan.

"Jadi... Dara mau seperti Anna yang tetap lemah lembut dan berusaha menyelamatkan kota, atau jadi Elsa yang akhirnya justru jadi penjahat yang akan menghancurkan kota hanya karena rasa marah yang tidak dikendalikan?"

"Maafkan Dara, Bu." Ajaib, dengan sedikit perumpamaan dan kesabaran Sutami, gadis itu akhirnya mengerti.

Sutami tersenyum teduh, menggenggam telapak tangan gadis itu. "Baiklah, Dara sehebat Elsa kan, yang akhirnya mengakui kesalahan lalu mau minta maaf sama semua orang yang ia sakiti?"

Dara mengangguk disertai senyuman. "Tapi Ibu temenin Dara, ya?" pintanya jujur.

Brak!

"Dasar anak setan!"

Pintu UKS terbuka dengan keras, Sutami berdiri cepat, menoleh pada seseorang yang berdiri dengan wajah masam penuh amarah ke arahnya. Dara pun gemetar, memeluk erat lengan Sutami.

...****************...

Bersambung

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Tami,jgn sampai kau jadi stres 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ga bisalah,
rasain tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pengen ku lempar pk sendal tuh mulutnya 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
berpindah duduk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak aja, kamu hrs berusaha dari bawah
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kan salahmu sendiri, kenapa korupsi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan bikin gara" 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mau apalagi kamu 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara biasa makan cake 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sembarangan 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ga sakit tuh tenggorokan Bu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semua itu bukan salahmu Tami 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa ini jalan terbaik 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bicarakan dengan kepala dingin 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara dong 🤣
yosh—: 😮‍💨apesnya jadi author nggk ada yg dukung😁
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh jgn berantem diluar, malu sama tetangga 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!