Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAHAM MERAH_RAHASIA HITAM

Ruang rapat utama Perusahaan Blake dipenuhi suasana tegang.

Dinding kaca yang mengelilingi ruangan memperlihatkan gedung-gedung tinggi di luar sana, tetapi tidak ada seorang pun yang benar-benar menikmati pemandangan itu. Di atas meja panjang berwarna hitam, beberapa berkas laporan keuangan, grafik saham, dan tablet tersusun rapi.

Beberapa kolega bisnis duduk berhadapan satu sama lain dengan wajah serius.

Di ujung meja, Stevan membuka sebuah berkas laporan yang baru saja diberikan kepadanya.

“Penurunan saham kita sudah melewati batas yang bisa dianggap sebagai fluktuasi biasa,” ujar salah seorang pria berkacamata di seberang meja.

“Dalam beberapa hari terakhir, kepercayaan investor semakin menurun.”

Stevan mengangkat pandangannya.

“Seberapa besar dampaknya?”

Pria itu menarik napas sebelum menjawab.

“Cukup besar. Beberapa investor utama mulai menarik sebagian saham mereka. Kalau kondisi ini terus berlanjut, kita bukan hanya kehilangan nilai perusahaan, tapi juga bisa kehilangan kendali atas beberapa anak perusahaan.”

Suasana semakin berat.

Seorang wanita yang duduk di sampingnya ikut menyela.

“Masalahnya bukan hanya pemberitaan mengenai kasus pembunuhan itu. Nama keluarga Blake ikut terseret. Banyak pihak mulai mempertanyakan kestabilan kepemimpinan perusahaan.”

Stevan terdiam, Jarinya mengetuk meja perlahan. Ia tahu siapa yang sedang mereka maksud.

Alesya.

Nama itu tidak disebutkan secara langsung, tetapi semua orang di ruangan tersebut memahami kaitannya.

“Lalu apa saran kalian?” tanya Stevan.

“Untuk sementara, kita harus menghentikan ekspansi dan mempertahankan aset yang masih aman,” jawab salah satu kolega.

“Jangan mengambil keputusan besar sampai situasinya kembali stabil.”

Stevan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kalau kita hanya bertahan, saham kita akan terus jatuh.”

“Dan kalau kita mengambil langkah yang salah, perusahaan bisa jatuh lebih cepat.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Di sebelah Stevan, Kevano hanya diam.

Sejak rapat dimulai, pria itu hampir tidak mengatakan apa pun.

Rahangnya terlihat mengeras. Tatapannya lurus ke depan, tetapi jelas pikirannya tidak berada di dalam pembahasan tersebut. Tangannya mengepal perlahan di bawah meja.

Ia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa perusahaan itu tidak langsung berada di tangannya. William seharusnya menyerahkan perusahaan kepadanya. Setidaknya itulah yang selama ini diyakini Kevano.

Namun sebelum semuanya berpindah ke tangannya, William justru menunjuk Stevan untuk memegang kendali sementara.

Keputusan itu terus mengganggu pikirannya.

Kenapa harus dia?

Kevano melirik Stevan dari sudut matanya.

Pria itu kini duduk sebagai orang yang memiliki kewenangan terbesar di ruangan tersebut.

Sementara dirinya?

Hanya duduk di samping.

Seolah-olah tidak cukup dipercaya untuk memimpin perusahaan keluarganya sendiri. Kevano menarik napas panjang, berusaha menahan rasa kesal yang semakin memenuhi dadanya. Namun salah seorang kolega tiba-tiba berkata,

“Stevan, ada satu hal lagi.”

Stevan mengangkat wajah.

“Apa?”

“Kita mendapat informasi bahwa beberapa pemegang saham besar sedang berkomunikasi secara diam-diam dengan pihak luar.”

Kening Stevan berkerut.

“Pihak luar?”

Pria itu mengangguk.

“Kami belum tahu siapa mereka. Tapi kalau mereka berhasil membeli saham dalam jumlah besar saat harga sedang jatuh seperti sekarang…”

Ia berhenti sejenak.

“…mereka bisa mendapatkan posisi yang sangat kuat di dalam perusahaan.”

Tatapan semua orang berubah, Kevano yang sejak tadi diam perlahan mengangkat kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, ekspresi wajahnya berubah.

Bukan karena khawatir, Melainkan karena sebuah pikiran tiba-tiba muncul di kepalanya.

Sementara Stevan menatap laporan di hadapannya dengan serius, Kevano justru menatap kosong ke depan.

Jika ada pihak lain yang sedang berusaha mengambil keuntungan dari kehancuran Perusahaan Blake…

maka permainan ini jauh lebih besar daripada sekadar masalah saham.

Dan mungkin, ada seseorang yang sengaja membuat perusahaan itu jatuh.

***

RUANG WAKIL DIREKTUR

Kevano menatap grafik saham yang terpampang di layar besar di hadapan mereka. Angka-angka merah terus bermunculan. Tatapannya turun pada berkas di hadapannya.

Saham jatuh... investor mulai menarik diri... dan sekarang ada pihak luar yang mulai membeli saham. Sebuah pikiran perlahan muncul di kepalanya.

Mungkin keadaan buruk ini bukan sepenuhnya masalah.

Mungkin ini justru sebuah kesempatan.

Jika Stevan gagal mempertahankan perusahaan dalam keadaan seperti ini, maka semua orang akan melihat bahwa pria itu tidak mampu memimpin.

Dan ketika itu terjadi...

Siapa lagi yang akan mereka pilih selain aku?

Sudut bibir Kevano nyaris terangkat, tetapi segera ia tahan.

Ia tidak boleh terburu-buru, Untuk saat ini, biarkan Stevan memegang kendali. Biarkan pria itu menghadapi semua tekanan. Biarkan perusahaan semakin terpojok.

Karena semakin dalam Stevan jatuh...

semakin mudah bagi Kevano untuk mengambil tempatnya.

Kevano masih menatap grafik saham di layar ketika pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan.

Seorang wanita masuk dengan langkah santai.

Felicia.

Ia mengenakan pakaian yang cukup terbuka, sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang datang untuk membicarakan urusan perusahaan. Setelah menutup pintu di belakangnya, Felicia langsung berjalan mendekati Kevano.

Tanpa banyak bicara, ia duduk di atas pangkuan pria itu, Kevano hanya melirik sekilas.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Felicia pelan, wajahnya mendekat.

Kevano tidak langsung menjawab.

“Perusahaan.”

Felicia tersenyum tipis.

“Bukan tentang saham.”

Kevano menatapnya.

“Kau terlalu mengenalku.”

“Memang.”

Jari Felicia menyentuh kerah jas Kevano dengan casual, merapikannya dengan gerakan perlahan.

“Kau sedang memikirkan bagaimana caranya mengambil posisi Stevan, bukan?”

Tatapan Kevano berubah.

“Kau tahu terlalu banyak.”

Felicia terkekeh kecil.

“Aku pacarmu. Wajar kalau aku tahu.”

Kevano bersandar di kursinya.

“Stevan hanya sementara memegang perusahaan. Tapi kalau dia gagal, semuanya akan berubah.”

“Dan kau akan menjadi penggantinya.”

“Seharusnya memang begitu sejak awal.”

Felicia menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum.

“Kalau begitu, jangan biarkan dia berhasil.”

Kevano mengangkat alis.

“Apa maksudmu?”

Felicia tidak menjawab, Ia hanya mendekat dan berbisik,

“Kadang-kadang, sebuah kegagalan tidak perlu dibuat terlihat seperti kegagalan.”

Kevano terdiam.

Tatapannya menjadi lebih tajam.

“Felicia.”

“Hm?”

“Jangan bilang kau melakukan sesuatu.”

Felicia justru tersenyum.

“Kenapa? Kau takut?”

“Tidak.”

“Bagus.”

Felicia menyandarkan tubuhnya lebih dekat kepadanya.

“Karena ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada saham perusahaanmu.”

Kevano menatap wajahnya.

“Apa?”

“Video itu.”

Ekspresi Kevano seketika berubah. Felicia mengamati reaksinya dengan tenang.

“Video yang membuat Alesya masuk penjara?”

Kevano diam.

Felicia tersenyum tipis.

“Semua orang percaya gadis di dalam video itu adalah Alesya.”

“Karena wajahnya memang wajah Alesya.”

“Wajahnya,” ulang Felicia pelan.

“Namun tubuhnya aku"

Kevano menatapnya lekat, Felicia kemudian berkata,

“File aslinya masih ada padaku.”

“Dan tidak ada seorang pun yang tahu?”

“Tidak seorang pun.”

Senyum Felicia semakin jelas.

“Video yang beredar sudah diedit. Wajahku diganti menggunakan AI menjadi wajah Alesya.”

Kevano terdiam beberapa saat.

“Kalau file asli itu sampai keluar…”

“Semua akan berubah.”

Felicia menyentuh dagu Kevano, memaksanya kembali menatap dirinya.

“Karena orang-orang akhirnya akan tahu siapa yang sebenarnya berada di dalam video itu.”

Kevano menyipitkan mata.

“Kenapa kau masih menyimpannya?”

Felicia tersenyum misterius.

“Karena aku tahu suatu hari nanti file itu akan jauh lebih berharga daripada uang.”

“Untuk apa? untuk mengancam ku?”

Felicia mendekat.

“Untuk memastikan tidak ada seorang pun yang bisa mengkhianatiku.”

Kevano menatapnya beberapa detik sebelum menarik napas panjang. Felicia tersenyum puas melihat ekspresi pria itu. Kemudian ia mendekat dan mengecup bibir Kevano singkat.

Kevano membalasnya, tangannya menahan pinggang Felicia. Untuk beberapa saat, pembicaraan tentang perusahaan, saham, dan semua masalah di luar ruangan itu seakan menghilang.

Namun di atas meja, layar komputer masih menampilkan grafik saham Perusahaan Blake yang terus bergerak turun.

Dan di dalam tas Felicia...

tersimpan sebuah file yang mampu menghancurkan kebohongan yang selama ini dipercaya semua orang.

Ciuman mereka semakin liar, suara decapan dan lenguhan kecil mulai memenuhi ruangan wakil direktur itu.

"Lakukan seperti biasa kau lakukan"

Ucap Kevano setelah melepaskan tautan bibirnya pada Felicia. Kemudian gadis itu turun dari pangkuan Kevano, lalu berlutut di depan pria tersebut.

kemudian dengan lincah melepas ikat pinggang Kevano, Lalu mengeluarkan sesuatu yang mengeras di dalam sana.

Felicia memegang benda keramat itu, lalu mulai menaik turunkan tangannya. Kevano menyandarkan kepala nya di sandaran kursi nya. Menikmati setiap pergerakan Felicia di bawah sana.

Lalu setelah selesai dengan tangannya, Felicia membawa Penis Kevano kedalam mulut nya. Ia mulai mengulum secara perlahan. sesekali menjilatnya basah ujungnya.

dia mengulanginya beberapa kali, tindakan itu membuat ereksi Kevano menambah.

"Emggg..." terdengar lenguhan kecil dari mulut kevano.

Tangannya tidak tinggal diam. salah satu tangannya langsung menekan kepala Felicia membuat ereksinya masuk semakin dalam kemulut gadis itu. Felicia kesusahan karena ukurannya yang besar.

Kevano menegang, Namun sebelum benar-benar keluar ia langsung menarik Felicia. Lalu mendorong gadis tersebut ke meja di depannya. Felicia membelakangi nya. Dengan cepat dan terburu-buru, Kevano langsung menaikkan rok Felicia. Melepaskan daleman gadis tersebut, lalu langsung menanamkan punyanya di dalam Felicia.

"Ahhh...emmmm"

Desain Felicia lolos dari mulutnya, tangannya menopang posisi tubuh di atas meja. Kevano mulai menggerakkan bokongnya cepat, membuat Felicia kesusahan menyeimbangi gerakan cowok itu.

Kevano menekan tubuh Felicia ke meja, disertai goyangannya yang semakin cepat.

Plak...

Di tengah goyangannya, Kevano memukul kuat pantat Felicia yang sintal.

lalu Kemudian berpindah ke dada Felicia, ia meremasnya kuat. Felicia bahkan terhuyung huyung karena susah menyeimbangi gerakan Kevano.

"Pe... ahhh...emmm pelan... emm"

"Ahhhh... ohhhh"

"Kevano... ohhh"

Napas Kevano semakin berat. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menahan gelombang perasaan yang hampir meledak dalam dirinya. Tubuhnya menegang, sementara tanganya mencengkeram kuat pinggang Felicia.

Lalu sepekian menit, kedua nya sama-sama melepas puncak dari permainan mereka sendiri. Kevano jatuh di atas tubuh Felicia yang membelakangi nya. Nafas kedua nya sama memburu dengan detak jantung yang masih berdengup kencang.

Beberapa saat kemudian, ruangan itu kembali sunyi.

Kevano duduk bersandar di kursinya, merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Wajahnya kembali tenang, tetapi pikirannya masih dipenuhi berbagai hal.

Felicia berdiri di dekat meja, membenahi rambut dan pakaiannya sambil menatap pantulan dirinya pada cermin kecil yang selalu di bawanya.

“Jangan terlalu memikirkan Stevan,” ucap Felicia santai.

Kevano menatapnya, Namun tidak berniat menyauti.

“Karena orang seperti dia akan melakukan kesalahan ketika terlalu banyak tekanan.”

Felicia mengambil tasnya dari sofa, Kevano menyipitkan mata.

“Kau terdengar sangat yakin.”

“Aku hanya mengenal manusia.”

Ia kemudian membuka tasnya sebentar, lalu memasukkan cermin tadi kedalamnya. Ia menutup tas tersebut dan berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, Felicia berhenti dan menoleh.

“Kevano.”

“Apa?”

“Kalau kau benar-benar ingin mendapatkan perusahaan itu…”

Tatapannya berubah serius.

“…kau harus siap melakukan lebih dari sekadar menunggu Stevan gagal.”

Pintu kemudian tertutup, Kevano kembali menatap layar besar di hadapannya. Grafik saham Perusahaan Blake masih dipenuhi warna merah. Namun kali ini, sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.

***

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!