Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 28
Pagi di hari Minggu, dan itu berati sudah satu Minggu berlalu, Alensky hanya mengingat itu di kepalanya saat ini, dan sudah menjadi kebiasaan dia bangun dan hanya menggosok gigi begitu saja lalu keluar_
"Akh!" Teriaknya nyaring dan membuat telinga seseorang berdengung seketika.
"Apa yang kamu lakukan?!" Teriaknya lagi.
Tranaka yang juga terkejut lalu mengusap telinganya, masih berkutat di dapur minimalis dengan beberapa masakan yang sebagian sudah matang.
"Memangnya kamu melihat aku sedang apa?, masih bertanya" Tranaka lalu mendekat dan memberikan minuman coklat hangat.
Alensky mengedipkan matanya berkali-kali, memastikan ini sebuah kenyataan dan bukan mimpi di pagi hari.
"Minum, mumpung masih hangat" ucap Tranaka, lalu duduk di kursi makan, menunggu Alensky benar-benar tersadar dengan kenyataan.
Alensky lalu melakukan apa yang di perintahkan, coklat hangat kesukaannya tidak mungkin mampu untuk di tolak olehnya.
"Okey, kenapa kamu masih di Apartemen ku?" Tanya Alensky setelah duduk dengan nyaman di kursi makan, tepat di depan Tranaka yang masih menatapnya.
"Memangnya kenapa kalau aku disini, Oma memberikan akses kapanpun aku mau ke sini"
"Ini Apartemen ku, bukan milik Oma"
"Tapi Oma yang membelikannya, dan aku mendapat ijin nya"
"Ck, kau menyebalkan sekali setelah ngenal Oma" Alensky memicingkan mata dengan wajah sebalnya.
Tranaka tersenyum, membuka dan meletakkan celemek di tempat asalnya, kemudian duduk tepat di depan wanita yang semalam sudah sah menjadi istrinya, rasanya masih tidak percaya, batin Tranaka.
"Ayo kita sarapan"
Alensky hanya melihat ke arahnya sejenak, lalu kemudian pandangannya beralih ke meja makan yang sudah ada menu sarapan, seperti memindai sesuatu yang mencurigakan.
"Kenapa?" Tanya Tranaka.
"Masakan ini_??"
"Aman" Tranaka lalu mencicipi satu persatu, dan kemudian memperlihatkan ke Alensky jika dirinya tidak mati.
"Okey" ucap Alensky.
"Dasar!" Sahut Tranaka.
Makan berdua, sebenarnya Alensky merasa begitu asing dengan suasana saat ini, tapi dia tau mengusir Tranaka akan percuma, apalagi status barunya sebagai SUAMI.
"Ya Tuhan!" Alensky tiba-tiba saja bersuara.
"Ada apa?" Tranaka menghentikan makannya.
"Kau suamiku?"
"Menurut mu?" Sungguh konyol sekali pertanyaan Alensky, batin Tranaka.
"Rasanya aku belum siap" ucap Alensky selanjutnya.
"Aku rasa tidak, karena kau cukup cepat belajar melakukan ciuman yang begitu_"
"Diam_lanjut makan!" sahut Alensky yang merasa malu setengah mati jika mengingat dirinya begitu gila saat membalas ciuman Tranaka.
Ada tawa yang tiba-tiba dari Tranaka, namun hanya sebentar saja karena tatapan mata biru itu begitu serius memberikan peringatan.
Keduanya kini diam, menikmati makan pagi dengan pelan, Alensky cukup terkejut saat menyadari masakan Tranaka lumayan juga, laki-laki di depannya itu punya banyak kejutan rupanya.
Setelah selesai sarapan, Alensky membersihkan meja makan, tanpa di sadari keduanya kerjasama, dan Tranaka tersenyum saat melihat Alensky mulai berkeringat saat membersihkan piring dan tempat lainnya.
Di tengah kesibukan tangannya, Tranaka membawa tissue dan menyeka peluh yang menetes di wajah Alensky.
Terkejut sesaat, tapi tak mau matanya sampai perih jika keringatnya sendiri masuk kesana, mau tak mau menerima saja apa yang di lakukan oleh Tranaka.
"Sudah" ucap Tranaka.
"Thanks" balas Alensky.
Tranaka terdiam sesaat, dia mulai menyukai bau tubuh Alensky, harum rambutnya juga seperti menghipnotis nya, dan perlahan tangan Tranaka merayap di pinggangnya.
"Ehem, lepaskan tangan mu atau aku_"
"Apa?"
Sahut Tranaka yang sudah memeluk Alensky dari belakang, bahkan nafasnya mulai terasa di tengkuk nya, seketika Alensky melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya.
Byur
"ALENSKY!"
Tranaka seketika berteriak saat tubuhnya sudah basah kuyup saat ini.
Alensky tertawa, satu ember air sudah berhasil di tumpahkan tepat di tubuh Tranaka yang ada di belakangnya.
"Kau ini benar-benar keterlaluan!" Teriak Tranaka lagi.
"Itu hukuman yang pantas untuk mu!" Teriak Alensky lalu menutup pintu kamar dengan cepat sekali.
BRAK!
"Shit!"
Tranaka benar-benar kesal saat ini.
*
*
Terdengar suara ponsel yang berbunyi nyaring, Alensky menyambar barang pipih itu sdikit terburu-buru.
"Ada apa lagi?" Alensky sedikit kesal saat sarapan paginya terganggu.
"Aku tunggu di bawah, cepat nanti kita terlambat" jawaban seseorang yang membuat Alensky malas.
"Aku berangkat sendiri, kamu duluan saja"
"Alensky!"
"Apa?!"
"Cepat turun, atau aku yang naik dan menggendong mu keluar!"
"Aku masih sarapan, duluan saja Naka, menyebalkan!" Teriak Alensky dan ingin rasanya menggetok kepala laki-laki yang semakin bebas mengganggunya saat ini.
Terpaksa, Alensky turun dengan tergesa, hari ini sebenarnya dia malas untuk masuk kuliah, tapi sayang, ancaman Oma lebih mengerikan.
Belum sempat mendekati mobil Tranaka, tiba-tiba saja Draja berteriak.
"Alen, mau berangkat?!" Teriaknya.
Alensky seketika tersentak senang, dengan cepat berlari ke arah lain untuk menyambut kedatangan Draja.
"Eh_?"
"Ayo cabut!" seru Alensky.
Draja ikut saja, karena Alensky yang memerintahkannya ,tanpa melihat jika di lain sisi ada Tranaka yang mengawasi dengan sorot mata tajamnya.
"Loh, itu seperti mobil Tranaka?" Draja sekilas melihat tapi ragu akan kebenarannya.
"Bukan, ayo cepet" Alensky dengan senyum mengembang sudah ada di boncengan sepeda motor Draja.
Tranaka hanya menghela nafas saja, setidaknya Alensky sudah berangkat kuliah walau tidak bersamanya, dasar gadis nakal!, batinnya.
Berjalan menyusuri jalanan masuk ke dalam kampusnya, Draja dan Alensky berbincang membicarakan Murni.
"Menurut mu, bisa nggak kita bicara pada Murni, aku ingin mereka pindah dari rumah Meriya" ucap Alensky.
"Meriya?, maksud nya?" Draja terkejut karena memang belum tau kenyataannya
"Murni dan Ibunya bekerja di rumah keluarga Meriya, sudah lama dan mereka memperlakukan mereka seenaknya"
"Apa?!" Draja seolah masih tak percaya hingga menghentikan langkahnya.
"Iya" Alensky menatap dengan wajah serius nya.
"Ya Tuhan!, pantas saja, aku semakin ngeri kalau Murni masih ada di sana, apalagi dia mulai menempel padamu, lihat saja?!" Draja menunjuk dengan sorot matanya.
Alensky mengikuti arah tatapan Draja, dan di sana terlihat Tranaka tengah berjalan cepat setengah berlari menghampiri.
Alensky pun mengangguk, dia tau benar bagaimana Meriya mengejarnya dan hal itu pasti akan berdampak pada Meriya, apalagi kalau sampai tau Tranaka sudah menikahinya, bahaya!
"Untuk itu aku ingin Murni dan ibunya segera pergi dari sana, jangan lagi berhubungan dengan Meriya" ucap Alensky cepat lalu menarik tangan Draja untuk lari masuk ke kelasnya.
Seperti yang di perbincangkan, tak lama Meriya datang, dengan wajah dan riasan yang seolah ingin menunjukkan kelasnya, membosankan!, batin Alensky.
"Naka, aku ingin bicara" Meriya menghentikan langkah Tranaka tepat di depan pintu masuk kelasnya.
"Ada apa?" Tanya Tranaka.
"Aku tau siapa Alensky, dia bukan wanita baik-baik, berpindah-pindah tempat kuliah karena di keluarkan oleh pihak kampusnya"
"Tolong, ini masih pagi Meriya, jangan membuat dongeng anak-anak untuk kamu ceritakan, minggir lah"
"Aku serius, memangnya apa sih istimewanya dia, kamu baru saja mengenalnya, bisa saja dia itu wanita yang mau memanfaatkan mu saja"
Tranaka menatap Meriya, tidak berkata, tapi membuat Meriya tau jika laki-laki di depannya itu sedang tak ingin di ganggu.
Please, banyakin komen ya.. biar semangat Doble Up lagi nih, jangan lupa LIKE VOTE dan HADIAH nya.
jgn ada yg meninggalkan ya thor
lanjut...