Akibat suatu kesalahan yang tak pernah ia lakukan sama sekali, Fayre harus menjalankan hukuman selama hidupnya.
Seorang peri, dihukum turun ke bumi. Hidup selamanya di sana. Tapi belum cukup sampai di situ. Fayre tidak diijinkan hidup sebagai manusia. Melainkan sebagai seekor angsa hitam.
Masih belum cukup menderita hidupnya, karena Fayre harus hidup di sebuah hutan yang gelap dan menyeramkan. Ia tak diijinkan pergi dari sana.
Padahal, hukuman itu bisa hilang apabila ia bertemu seseorang yang bisa mencintainya dengan tulus. Lalu bagaimana cara Fayre bisa menemukan cinta sejatinya, jika ia dikurung seperti itu?
Sementara para penyihir sibuk membuat persiapan. Takut apabila Fayre lepas dari hukuman, ia akan membongkar sebuah rahasia besar. Yang bisa membahayakan keselamatan semua penyihir.
Bagaimana hukuman itu bisa terjadi? Lalu apakah Fayre bisa terlepas dari hukuman itu?
Mari simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ade eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Harmonis
Bab 20 | Makan Malam Harmonis
Tobias kembali ke Istana Blume, tempat tinggal ibunya Selir Meera, dengan pikiran kosong dan tak tentu arah. Raganya berada di sana, tapi pikirannya berada di tempat lain.
Tertinggal di Danau Kerr, di mana Fayre berada.
Pria itu berjalan gontai dan lemah begitu ia memasuki istana tersebut. Sang ibu langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat. “Putraku sudah kembali!”
“Bagaimana perjalananmu, Tobi? Ku dengar, kalian tidak berhasil bertemu dengan monster penunggu Danau Kerr!” Tobi, panggilan sayang Meera pada putra semata wayangnya.
Setiap yang terjadi di istana kerajaan, berita apapun yang ada pasti akan menyebar dengan sangat cepat. Seperti Meera yang bahkan jarang datang ke pertemuan, tapi dapat mengetahui situasi di dalam maupun luar istana.
Ibu dari Tobias itu mengajak di putranya duduk di pelataran istana yang tak semegah istana para selir lainnya.
Terdapat sepasang bangku taman di depan halaman hijau dengan barisan bunga-bunga mekar nan indah. Seperti namanya, Blume, istana itu meski sederhana, tapi tetap indah karena dipenuhi bunga-bunga.
Seorang pelayan membawakan teh untuk keduanya. “Terima kasih!” Meera menyambutnya dengan senyum ramah.
“Kembali kasih, Nyonya!” balas pelayan tersebut dengan senyum tak kalah ramah.
Meski terkucilkan dari istana yang kejam ini, Meera masih memiliki orang-orang tulus yang bersedia melayaninya. Tak peduli bagaimana Meera terus dihina dan dibenci, orang-orang yang melayani dirinya dan sang putra tak bergeming sedikit pun atas semua hal tersebut.
Hal itu sangat disyukuri Meera dan Tobias yang terkucilkan. Mereka pun sudah menganggap orang-orang di Istana Blume seperti keluarga mereka sendiri.
“Hah!” Tobias merosot di bangku taman yang ia tempati.
“Kenapa? Ada apa?” perhatian Meera terungkapkan sebagai seorang ibu. “Apa kau sangat lelah? Kalau begitu, kau mandi dan beristirahatlah. Ibu tidak akan bertanya lagi!”
“Hah! Perjalanan ini tidak membuat tubuhku lelah sama sekali, Ibu! Tapi otakku yang dibuat lelah, karena harus memikirkan banyak hal.” Pada posisi itu, Tobias menutup kedua matanya dengan salah satu lengan.
Sang ibu jadi penasaran dengan jawaban sang putra. Sepertinya ada hal menarik yang berhasil mengusik pikiran putranya itu.
Wanita dengan gaun hijau tosca dan rambut cokelat bergelombang yang terurai itu mengubah posisi jadi menghadap ke arah Tobias dengan ekspresi penuh harap.
Berharap akan mendapatkan informasi penting yang tak biasa.
“Jadi..., apa saja yang membuat otakmu jadi lelah? Coba ceritakan pada Ibu!”
Diturunkan Tobias lengan yang menutupi mata. Melirik pada sang ibu, lalu duduk tegak kembali. Teh hangat nan harus diseruputnya sebentar. Kemudian ia berdiri.
“Sebaiknya aku mandi dulu, barulah akan ku ceritakan pada Ibu!”
“Ck! Anak ini! Pandai sekali membuat ibunya mati penasaran!” Meera berdecak berpura-pura kesal.
“Ku rasa, Ibu tak akan sampai mati menahan rasa penasaran.” Tobias tertawa pelan.
Kening sang ibu diciumnya, lalu pria itu bicara sambil lalu. “Aku mandi dulu, ok! Sampai ketemu saat makan malam. Barulah, aku akan cerita semuanya pada Ibu.” Pemuda itu berjalan tanpa menoleh lagi sambil bersenandung.
“Lihat! Dia benar-benar pintar, kan, membuat ibunya mati penasaran!” Meera tertawa lucu sembari memandang punggung putranya yang semakin menjauh.
***
Pasangan ibu dan anak itu pun bertemu lagi ketika makan malam. Meera dan Tobias menikmati makan malam mereka dalam suasana hangat dan harmonis yang mendamaikan.
“Kau suka makanannya?”
“Aku suka apapun yang Ibu siapkan!”
“Jadi, kalau bukan Ibu yang menyiapkan, kau tidak suka?”
“Well, sepertinya aku suka makanan apapun. Ibu juga tahu, kan, putramu ini tidak pilih-pilih makanan!”
“Kau bukannya tidak pilih-pilih makanan, tapi pemakan segalanya!”
Ibu dan anak itu pun saling menyusul tawa di antara bunyi peralatan makan yang berdenting.
“Jika kau pemakan segalanya, maka harusnya kau punya kekuatan yang luar biasa. Lalu, kenapa kau bisa memiliki luka memar di wajahmu?” selidik Meera.
Setiap ibu selalu pada putra mereka. Padahal memar di wajah Tobias sudah hampir hilang. Tapi tetap saja Meera dapat melihatnya dengan jelas.
“Ibu juga tahu, kan, luka seperti ini sudah biasa dimiliki oleh seorang anak lelaki.” Tobias menanggapinya dengan bercanda.
“Jawab yang benar, Tobi!” Sang ibu memperingati dengan wajah serius dan mata yang sedikit melotot.
Hubungan keduanya adalah hubungan ibu dan anak yang paling harmonis di antara pasangan ibu dan anak yang lain di istana.
Baik itu Tobias atau pun Meera sendiri selalu menceritakan apapun. Tak ada yang mereka tutupi dari satu sama lain. Sebab, keduanya memang hanya memiliki satu sama lain.
Anggota keluarga kerajaan lainnya begitu memusuhi mereka. Jadi, mereka harus saling melindungi satu sama lain dengan menceritakan apapun yang mereka rasakan dan alami.
Meera dan Tobias hanya bisa mengandalkan satu sama lain dalam kehidupan kerajaan yang rumit dan kejam. Sebab bahkan raja sekalipun, yang katanya sangat menyayangi Meera, lebih banyak diam ketimbang turun tangan.
“Ini aku dapatkan-.”
Sebelum Tobias menjelaskan apapun, suara nyaring membarengi dirinya yang mendadak diguyur dari arah belakang.
“Nyonya-!”
Byur!
Seorang pelayan bernama Nancy berlari dan berseru dengan wajah panik. Sementara, Tobias meraup wajahnya yang basah kuyup karena telah diguyur oleh seseorang.
“Dasar anak kurang ajar! Sudah ku peringatkan berapa kali agar kau tak mengganggu anakku!” Ratu Ellisa meneriaki Tobias dengan wajah penuh emosi.
“Ya ampun!” Meera menutup mulutnya yang terkejut seraya berdiri. “Ambilkan handuk!” titahnya pada Nancy yang merasa tak enak hati.
Pelayan itu terlambat memberi tahu tuan yang mereka layani, bahwa mereka kedatangan tamu tak diundang. Yang selalu tak bersahabat dan lebih banyak mencari masalah dengan mereka.
Kedatangannya, selalu membawa dan mengundang masalah.
Tak sampai satu menit, Nancy sudah datang lagi dengan handuk kecil di tangan. Kemudian, langsung ia serahkan pada Meera yang sudah menanti.
“Terima kasih!” Segera ia hampiri putranya yang basah kuyup dari atas kepala sampai setengah badan.
Bahkan, makanannya pun jadi berkuah karena terkena siraman air.
Disekanya rambut, wajah dan pakaian Tobias yang basah dengan penuh perhatian. “Sebenarnya, apa salah putraku, Ratu?” Lalu bertanya dengan sopan.
“Kau tanya saja pada putramu yang tidak tahu diri itu, apa yang sudah dilakukannya pada putra kesayanganku!” teriak Ratu Ellisa marah.
Ia bahkan membuang muka, ketika Tobias tetap berwajah tenang dan hendak buka suara.
“Aku berkelahi dengan Calix, Bu!” jelas Tobias pada Meera.
“Oh-!” Meera hanya menanggapi dengan singkat seraya tersenyum. Ia pun terus menyeka rambut dan wajah putranya yang masih basah.
“Hanya ‘oh’ saja, katamu?! Bukankah seharusnya kau memarahi putramu karena telah berkelahi dengan putraku dan membuat wajah tampannya jadi memar-memar?!” Frustasinya Ratu Ellisa karena terlalu marah.
“Atau jika perlu, kau harus menghukumnya!” tambah wanita dengan mahkota indah di kepalanya.
“Kenapa aku harus menghukumnya? Memangnya, dia berbuat salah apa?” sahut Meera dengan tenang.
“Wah...! Kalian benar-benar membuat kesabaranku habis!” Dilepaskan Ratu Ellisa napas murkanya melalui mulut yang terbuka.
Gelas berisi air pun diangkatnya ke udara. Lalu, ia siramkan ke arah Meera. Selir yang sama tidak tahu dirinya dengan putranya.
Byur!
Bersambung...
semoga sampai tamat ya...jgn ditinggal...
semangat 💪