Indonesia
NovelToon NovelToon
Mine

Mine

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: fieksel259

She's my fiancé

Preview dari Perfect Bad Fiancé

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieksel259, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ring

Keesokan harinya...

Mobil Alvaro pergi meninggalkan rumah Bianca setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, hari ini mereka akan berbelanja untuk acara tunangan itu. "Kenapa sih hari-hari gue harus dipenuhi sama ketos gila kayak lo?" Gerutu Bianca dengan pandangan yang terus menatap keluar jendela.

Alvaro melirik pada Bianca, gadis itu mengenakan baju putih bergaris dengan jumpsuit denim. Pakaian sopan yang pertama kali Alvaro lihat, "Lo pikir gue mau apa hidup serumah sama lo?" Balas Alvaro dengan nada yang biasa ia gunakan jika beradu dengan Bianca.

"Mau kemana nih?" Mengalihkan pembicaraan. Tak ingin membuang membahas tentang takdir mereka itu.

"Beli baju buat acara"

Bianca menggelengkan kepalanya, "Gak perlu, baju gua banyak" Menjawab dengan datar. Bianca mengambil ponselnya dan memainkan beda pipih tersebut.

Alvaro melirik pada Bianca, "Berani lo pake baju ketat pas acara, habis lo di tangan gue" Ucapnya dengan tegas. Manusia macam Bianca tentu mengoleksi lebih banyak pakaian terbuka ketimbang pakaian sopan. Ia yakin jika gadis itu memiliki banyak koleksi tank top dari pada kaos.

"Suka hati gue lah" Menyahuti Alvaro dengan santai.

Mobil itu terus melaju kencang menembus angin agar mereka lebih cepat sampai dan tak membuang waktu. Di dalam mobil terjadi keheningan, tak satupun dari mereka yang memulai obrolan sebab satu kalimat saja terlontarkan maka akan terjadi perdebatan di antara mereka.

Butik...

Usai dengan baju, laki-laki itu menghampiri Bianca yang membaca sebuah majalah yang tersedia di dalam butik. Nampak serius dan terlihat lebih dewasa.saat perempuan itu diam tanpa harus mengatakan hal-hal yang membuat telinganya sakit.

Alvaro menjatuhkan dirinya di samping Bianca yang tak peduli dengan dirinya, "Pilih baju sana gih" Ucapnya seraya memainkan ponselnya.

"Udah gue bilang gak mau" Membalik halaman majalah itu dengan santai.

Alvaro yang memang pada dasarnya tak bisa mengontrol emosinya, kemudian berdecak kesal, bagaimana pun ia tak ingin acara itu gagal sebab dihadiri oleh anggota keluarga besarnya dan para kolega dari perusahaan kedua belah pihak.

"Berapa ukuran baju lo?" Tanya Alvaro dengan nada suara ketus.

Bianca melirik sekilas pada Alvaro yang menatapnya sinis, "Idih pengen apa lo nanya ukuran baju gue?" Menjawab dengan santai. Tak ada rasa segan pun dirinya pada seorang ketua OSIS dan juga ketua dari sebuah perkumpulan para anak-anak yang bertampang preman.

Alvaro menatap kesal pada Bianca yang menghiraukannya, "Cepetan" Desak Alvaro yang mulai gemas dengan perempuan itu. Bisa-bisa ia menarik baju yang dikenakan oleh Bianca hanya untuk melihat ukuran baju. Tapi sepertinya itu bukanlah ide yang bagus karena Bianca mengenakan baju kaos bukan dress.

Bianca memutar bola matanya malas, Alvaro akan tetap bersifat kekanakan seperti ini jika dirinya tak menurut. Bianca tergelitik di hatinya. Merasa jika ia lebih dewasa dari kakak kelasnya itu, "Gue pilih sendiri"

"Dari tadi kek" Gumam Alvaro lalu memainkan ponselnya dengan tenang.

Bianca mengarah pada deretan dress, "Jadi cowok ngomel aja kerjaannya. Dasar gabut, kok ada gitu makhluk modelan Alvaro?" Gumamnya mengomentari kelakuan Alvaro yang tak pernah berubah semenjak mereka saling kenal.

Tiga puluh menit berlalu begitu saja. Alvaro tetap setia di tempatnya berada dengan gerutuan yang mengisi waktunya menunggu seorang Bianca. Kenapa perempuan itu begitu lama sekali dalam urusan yang menyangkut penampilannya, dari mandi hingga memilih baju. Sungguh membuang waktu Alvaro. Ia sungguh berharap perempuan itu tak bisa mengunakan make up karena ia yakin jika kegiatan itu akan semakin lama jika dilakukan seorang Bianca.

"Udah nih, makan dulu ya" Kata Bianca yang baru datang. Ia menatap jenuh pada Alvaro yang memainkan ponselnya dengan begitu asik. Mungkin tak tahu saja dia jika dirinya diburuk-burukkan Alvaro selama waktu menunggu tadi.

Alvaro melirik pada Bianca lalu bangkit berdiri, "Lama banget" Perkataannya itu membuat Bianca memutar bola matanya malas.

Bianca memutar bola matanya malas, heran sendiri ia mengapa ia selalu saja mempersulit keadaan yang sebenarnya tak perlu dibesar-besarkan, "Ya suka hati gue lah. Makanya tadi gue udah bilang kalau gue gak mau baju tapi lo yang--" Mulut itu Alvaro bungkam karena ia tak berniat mendengar ocehan perempuan itu.

"Ck, berisik lo" Potong Alvaro yang enggan mendengar ocehan Bianca. Alvaro menatap pada arlojinya untuk memantau waktu yang telah mereka habiskan, "Ayo makan"

Bianca menepiskan tangan Alvaro dari wajahnya, "Gitu kek dari tadi, gue kan gak perlu buang-buang kuota ngomong" Bianca berjalan mendahului Alvaro menuju tempat mereka membayar pakaian yang mereka beli.

"Bodo Bi, bodo" Gumam Alvaro sambil menyusul Bianca.

Restoran Jepang menjadi tempat yang mereka pilih setelah banyak adu debat yang begitu panjang dan isinya hanya omong kosong. Mereka memilih untuk mengambil tempat di pojok karena disitu lumayan nyaman untuk mereka berdua.

Tak lama.kemudian, semangkuk ramen yang baru disajikan pada pemuda dan pemudi itu mengeluarkian kepulan asap dan juga aromanya yang begitu menyengat. Tanpa harus berbasa-basi Bianca maupun Alvaro menyantapnya tanpa ada yang memulai obrolan. Ini waktunya makan siang bukan waktunya membuka jam debat. Perut harus tetap diisi dengan begitu tenaga mereka dalam perdebatan bisa terisi.

"Habis ini kita beli cincin" Ucap Alvaro dengan tenangnya.

"Uhuk uhuk"

Tatapan itu menatap pada Bianca sesaat lalu mengambil minuman milik perempuan itu dan memberikannya, "Minum" Ucapnya datar.

Bianca meneguk minumannya lalu menghirup nafas dalam-dalam. "Makanya kalau makan itu--"

Tatapan tajam Bianca lempar pada Alvaro yang hendak berceramah lagi, "Berisik ah, makin kesini gue yakin kalau lo itu suka sama gue" Ucapnya lalu kembali melanjutkan aksi menyantap santapan itu.

Alvaro menatap aneh pada Bianca, terlalu narsis karena mengira seorang Alvaro Xaviero Danendra menyukai dirinya, "Idih pede lo setinggi langit" Komentar Alvaro, lalu ikut menyantap makanan itu sebelum ia mendingin.

. . .

Kini dua remaja itu tengah memilih cincin yang akan menjadi simbol jika mereka memiliki hubungan diyakini akan melanjut ke jenjang yang lebih serius, "Yang simpel aja, jangan berlebihan" Ucap Alvaro yang kini mengambil ponselnya yang baru saja membunyikan notifikasi chat.

"Gue juga tahu" Ucap Bianca. Ia melihat-lihat beberapa jenis cincin yang disodorkan pada mereka. Ketertarikannya jatuh pada sepasang cincin emas putih yang terlihat simpel.

"Ini gimana?" Tanya Bianca pada pada Alvaro yang masih fokus dengan ponselnya.

Alvaro berdehem sebentar lalu menganggukan kepalanya, "Ya udah yang itu aja" Berucap tanpaengalihkan pandangannya pada dari benda pipih itu.

"Dilihat dulu Alvaro"

Alvaro menatap pada Bianca, "Udah, kami ambil yang ini aja, Mba" Ucapnya dengan santai. Ia tak ingin berlama-lama di tempat ini, entah kenapa rasanya sang kaki ingin terus melangkah pergi. Mungkin rasa tak nyaman berada di dekat Bianca yang bernotabene

sebagai pembuat onar di sekolah.

"Langgeng terus ya Mas Mba" Pegawai toko itu memberikan cincin yang dibeli oleh Bianca dan Alvaro. Dengan memberikan doa bagi orang yang ia anggap sepasang kekasih.

Alvaro dan Bianca saling tatap, dalam pikiran mereka jangan sampai hal itu terjadi. Yang ada kehidipanerela.semakin parah dibandingkan sebelumnya. Akhirnya mereka hanya membalas ucapan yang terdengar seperti doa itu dengan senyuman.

Alvaro langsung menarik Bianca menjauh dari situ mereka akan pulang selepas ini. "Amit-amit gue hidup sama lo" Ucap Alvaro pada Bianca.

"Gue juga sama ogeb" Sahut gadis itu dengan nada suara ketus.

Langkah kaki terus mereka ambil, menjauhi tempat yang terbilang ramai itu dan menuju parkiran.

Ingin tahu kelanjutannya? Silakan baca "Perfect Bad Fiancé" pada platroom Author. Enjoy

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!