Seorang gadis yang berharap penuh akan cintanya yang terbalas oleh seorang pria idamannya. Hingga ia merelakan miliknya yang berharga untuk pria itu. Namun, impiannya menjadi pupus saat pria itu menghilang dari kehidupannya, untuk memilih wanita lain yang memiliki segalanya daripada dirinya untuk menjadi milik pria itu.
Tapi semesta mempertemukan gadis itu dengan sahabatnya. Sahabat lama yang telah jatuh cinta padanya. Bagaimana nasib gadis itu selanjutnya? Ikuti terus cerita ini jangan terlewatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayi Adenio Biantara
Liany masih belum sadarkan diri saat pingsan pasca melahirkan bayinya. Bian dengan setia selalu menjaga istrinya, sesekali dia mengelus wajah Liany dan mencium keningnya.
Wajah Bian terlihat cemas dan kuatir, melihat Liany yang belum sadar, setelah empat puluh menit dari pingsannya.
Dokter juga sering memeriksa Liany dan memberikan penjelasan ke Bian.
"Sabar ya pak, biasanya ada juga kejadian yang seperti ini, karena ibu Liany mengalami penurunan tekanan darah dan kelelahan, itu yang menyebabkan pingsan." ucap dokter menjelaskan.
Ia lebih tenang setelah mendengarkan penjelasan dokter.
Bian juga sudah menghubungi Raden dan Ratih serta Rafa untuk mengabarkan kalau Liany sudah melahirkan, mungkin saat ini mereka dalam perjalanan ke rumah sakit
Bian menunggu di luar ruangan, menunggu Liany siuman dengan tidak sabar.
"Bian!," panggil Ratih dan berlari mendekati Bian.
Bian menoleh dengan tersenyum nampak Raden, Ratih dan Rafa berjalan mendekatinya.
"Bagaimana keadaan Liany?"tanya Ratih dengan cemas.
"Masih belum sadar, kata dokter tekanan darahnya rendah dan kelelahan," gumam Bian pelan.
"Sabar ya Bian, kita bantu doa kalau tidak terjadi apa-apa dengan Liany," ucap Ratih dengan terisak.
Rafa melangkah mendekati Ratih dan memeluknya.
"Jangan sedih Liany kuat, tidak akan terjadi yang buruk dengannya," hibur Rafa menyemangati Ratih dan Bian sahabatnya.
"Iya betul kata Rafa, kita harus positif thinking, oh ya mana cicit kakek? Jenis kelamin apa? Kakek pengen melihatnya," tanya Raden lalu berjalan ke ruangan Liany.
Kemudian Raden membuka pintu ruang rawat inap Liany, mereka bertiga menyusul langkah Raden.
Saat mereka semua masuk ternyata Liany baru saja siuman dari pingsannya, ia hendak menanyakan keberadaan suaminya kepada suster yang menjaganya.
"Ratih," panggil Liany pelan, saat melihat Ratih, Liany kelihatan bahagia dengan kedatangan sahabatnya.
"Haii Lian, selamat ya untuk lahirnya si kecil", ucap Ratih mendekati dan memeluk Liany yang masih terbaring di blankar.
"Iya makasih Ratih," ucap Liany sendu.
"Selamat ya Lian, wah ada jagoan kecil sekarang ya," ucap Rafa tersenyum lebar menatap mata Bian.
"Mana jagoan kakek?" Ucap Raden tidak sabar.
"Sayang," panggil Bian dengan mendekati istrinya lalu menciumi wajah Liany.
"Hemm peluk," ucap Liany manja.
"Ya ampun sempat mesra-mesraan, padahal masih belum melihat bayi kalian," ucap Rafa lalu geleng-geleng kepala dan menepuk jidatnya sendiri.
"Memang pasangan bucin," celetuknya kembali.
Ratih dan Raden terkekeh melihat tingkah Rafa, Rafa selalu mengomentari sikap Bian.
Tidak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa keadaan Liany, sekalian membawa bayinya yang di ambil dari Inkubator untuk di berikan ke ibunya untuk disusui.
"Selamat ya nyonya anak anda laki-laki, tampan dan sehat." Ucap dokter seraya memberikan bayi yang sudah wangi dan bersih kepada Liany.
Liany menerima dengan tangan gemetar, tersenyum bahagia, serta menangis haru.
"Anak mama tampan sekali," lirih Liany dengan terisak-isak.
"Mana kakek mau gendong sebentar," ucap Raden sudah tidak sabar lalu melangkah mendekati Liany dan mengambil bayi itu dari pangkuan ibunya, lalu ia pun menggendongnya
"Ya ampun tampan sekali cicit kakek buyut, seakan tidak percaya saja punya cicit setampan ini," ucap Raden dengan meneteskan air mata, "kakek sudah lama menunggu saat-saat bahagia seperti sekarang, akhirnya terkabul," gumamnya sendu.
"Di beri nama siapa cicit kakek ini?" tanya Raden menoleh ke arah Bian.
"Adenio Biantara," jawab Bian seraya menatap wajah Liany.
"Wou keren nama anak kita, makasih sayang," seru Liany bahagia.
"Bagus namanya kakek suka, cocok nama itu untuk bayi kalian yang tampan, kakek bahagia sekali sudah bisa menggendong cicit," ucapnya sambil memberikan si kecil kepangkuan Liany kembali.
"Ponakanku tampan banget, aunty juga pengen gendong nih," celetuk Ratih lalu menggendongnya sebentar, lalu memberikan ke Liany lagi karena si kecil waktunya minum susu.
"Bi, selamat ya sudah punya jagoan kecil yang tampan," ucap Rafa dengan menepuk pundak Bian.
Bian menanggapi dengan tersenyum tipis, Liany yang melihat senyum suaminya jadi merasa bersalah menyelimuti hatinya.
"Maaf sayang," gumamnya lirih seraya menatap wajah suaminya.
"Ada apa sayang?" ucap Bian lalu mendekati istrinya.
Ratih pun yang melihat sikap Liany, lalu mengusap punggung sahabatnya.
"Jangan banyak berpikir, Lian. Baby mu sudah lahir, sekarang tidak ada alasan untuk bersedih," nasehat Ratih ke sahabatnya.
"Kak Rafa tolong nanti antar kakek Bian pulang duluan ya, kasihan kakek pasti capek jika disini terlalu lama, aku akan tetap di sini menemani Liany," pinta Ratih ke Rafa kekasihnya.
"Baiklah aku antar kakek duluan ya sayangku. Nanti aku balik lagi untuk menjemput kamu," ucap Rafa seraya memeluk Ratih dengan lembut. Ratih hanya mengangguk mengiyakan perkataan Rafa.
"Hati-hati, sayang," ucap Ratih.
Setelah memberikan ciuman untuk cicit tersayangnya, akhirnya Raden berpamitan pulang diantar oleh Rafa. Mereka pun meninggalkan ruangan Liany. Suasana di ruangan kembali hening.
"Ada apa denganmu, Bi?," Ucap Ratih memecah kesunyian, Liany terlihat sibuk melatih dirinya untuk menyusui bayinya.
"Tidak ada apa-apa Ratih," gumam Bian sibuk menata suasana hatinya sendiri. Antara bahagia dan sedih karena bayi yang di lahirkan istrinya bukanlah benihnya tapi benih lelaki lain, walau dia ingin menerima kenyataan yang ada tetap saja terbersit rasa sedih yang sulit diartikan.
"Jangan hiraukan perasaanku, aku juga bahagia dengan lahirnya si kecil di tengah rumah tanggaku, nanti siap-siap mama Lian aku buat melahirkan lagi," ucap Bian terkekeh sambil membelai si kecil yang lagi di susui Liany.
"Buru-buru amat, nunggu si kecil umur 2 tahun baru buat dedek lagi," sela Ratih.
Liany yang mendengar perkataan Bian hanya mencebik dan memutar bola matanya jengah melihat suaminya.
"Emang aku pabrik anak? Enak yang tinggal buat, aku yang melahirkan merasa sakit," celetuk Liany seraya menatap suaminya dengan tersenyum.
"Bukankah aku juga menemani dengan setia saat lahiran, jadi tidak masalah buat dedek yang banyak ya mommy," ucap Bian usil menggoda istrinya sambil mencubit gemas pipi istrinya.
"Huh dady mu kalau ada mau nya susah di ajak omong," sahut Liany sambil menenangkan bayi Adenio yang mulai rewel.
Bian menatap bayi Adenio seraya mengelus pipi kecilnya dengan tersenyum bahagia.
"Sayang, bukankah besok sudah waktunya pulang? Bersiap-siap nanti ada kejutan buat kamu sama anak kita?" ujar Bian sambil mengecupi puncak kepala istrinya.
"Hemm kejutan apa tuh?," tanya Liany dengan mengernyitkan dahinya seraya menatap suaminya yang selalu memperlakukan dirinya istimewa.
"Jadi iri dengan kalian hik hik, kapan aku bisa sebahagia kalian," ucap Ratih dengan senyumnya.
"Sabar nanti kak Rafa juga akan membahagiakanmu, kak Rafa juga sangat menyayangimu," ujar Liany memberi semangat.
"Iya semoga aku bisa bahagia seperti kalian," ucap Ratih berharap.
"Amin," sahut Lian dan Bian bersamaan lalu tersenyum menatap sahabat tercintanya.
***
Penasaran ga nih dengan kelanjutan ceritanya?! Ikuti terus yuk kisah Liany dengan Bian.
Jangan lupa untuk tinggalkan like dan comment ya! ❤️💕
laki2 gk tau diri...