Bukan cerita para Sultan, juga bukan cerita Cinderella. Hanya cerita sederhana tentang gadis desa bernama Wardah. Perjuangan hidupnya yang melalui berbagai rintangan dan kemalangan. Mampukah Wardah, si gadis desa yang lugu menjadi wanita yang kuat dan mandiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahadini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Welcome to Surabaya 2
Wardah mengamati jalan yang di laluinya. Gadis itu semakin dibuat takjub oleh lalu lalang kendaraan yang ramai. Beberapa mobil terlihat sangat istimewa dengan tampilan yang berkilau dan model yang tidak pernah dilihat oleh Wardah sebelumnya.
Belum lagi bangunan rumah, ruko dan beberapa gedung bertingkat yang menjulang tinggi. Derhatiannya dengan di desanya, tentu merupakan hal yang baru bagi Wardah.
Ada sebuah gedung yang menarik perhatiannya, gedung itu berbentuk seperti mata pena yang menghadap ke langit. Apakah yang ada di dalamnya? Apakah itu merupakan pabrik pembuat pena? Wardah mengerjapkan matanya saat kondektur berteriak " Graha pena... graha pena!!!...". Beberapa orang penumpang beranjak berdiri di dekat pintu keluar.
" Graha pena...." desisnya takjub saat bus berhenti menurunkan penumpang di halte depan gedung berbentuk mata pena itu. Sampai bus melaju kembali mata Wardah masih tertuju pada gedung itu. Wardah ingin masuk ke dalamnya dan membeli banyak pena untuk Tolibhin. Ayahnya itu mempunyai pena peninggalan dari kakeknya yang tersimpan rapi di atas almari dapur.
Ah, belum juga hari berganti, Wardah sudah merindukan Tolibhin dan Sajidah juga kedua adiknya, Fadil dan Laila. Sedang apa mereka sekarang? Apakah rencana Lek Sunar berjalan dengan lancar? Semoga semua orang yang di kasihinya dalam keadaan baik-baik saja.
Sementara itu di desa Raketan, kehebohan masih berlangsung. Pencarian Wardah di pimpin langsung oleh pak Inggih Djarot. Perangkat desa di sebar dengan membentuk kelompok di masing-masing dusun untuk melakukan pencarian. Jika sampai 2 x 24 jam Wardah tidak di temukan, maka pak Inggih Djarot bersama Tolibhin akan membuat laporan ke Polsek setempat.
Di pasar, tepatnya di warung Bude Warni, mbak Saroh yang memang di tugaskan Sunar untuk menyebarkan desas-desus bahwa hilangnya Wardah berkaitan dengan Samsul mulai menebarkan bisanya. Saat ramai pengunjung di waktu sarapan dan makan siang, ia akan bercerita mengenai hilangnya Wardah dan kejadian betapa murkanya Samsul saat Wardah menolak lamarannya, sebelum Wardah menghilang.
Karena diproses dari mulut ke mulut, dan otak manusia yang cenderung lebih mudah merekam kata-kata negatif. Di tambah lagi dengan penambahan kata pemanis dari masing-masing orang. Maka dari dua cerita mbak Saroh tadi, terangkum jadi satu dan menciptakan cerita yang lain lagi. Bahwa Wardah hilang kemungkinan di culik oleh Samsul karena cintanya di tolak.
Dan kecepatan berita dari mulut ke mulut ini, ternyata luar biasa. Meski di masa ini belum ada smartphone, sebelum Ashar berita ini sudah sampai ke telinga juragan Tosan yang berjarak satu desa dengan Raketan.
Tersulut lah amarahnya, ia merasa seakan-akan kini telunjuk semua orang kini mengarah kepadanya. Segera di panggilnya salah satu anak buahnya untuk mencari keberadaan Samsul dan menyeretnya pulang ke rumah.
Kembali lagi ke Wardah yang kini sudah tiba di terminal Joyoboyo. Sesuai saran dari Darmanto, gadis itu segera mencari tulisan " Wartel ". Ternyata ada beberapa wartel yang ada di tempat itu. Wardah memilih salah satu wartel yang paling dekat dengan tempatnya berdiri.
Wardah melangkahkan kakinya ke dalam tempat yang disebut " Wartel " itu. Ada seorang pegawai wanita duduk di meja yang di atasnya ada seperangkat komputer. Kemudian ada 10 bilik kecil masing-masing berisi 1 pesawat telepon yang terletak di atas meja kecil yang menempel di dinding dan 1 kursi plastik.
Gadis itu mengerjapkan matanya, kembali rasa takjub menguasai benaknya. Betapa banyak pesawat telepon di sana, sedangkan di desanya saja hanya ada 2 orang yang memilikinya. Sungguh jauh perbedaan antara desanya dan kota Surabaya ini. Meskipun berada dalam satu provinsi yang sama. Suatu kenyataan miris yang kini di sadarinya.
" Mbaknya mau telepon lokal, SLJJ atau SLI ?", suara pegawai penjaga wartel mengejutkan Wardah. Gadis itu menatap pegawai yang berwajah cantik dengan lipstik berwarna merah muda itu dengan bingung. Ia tidak mengerti apa yang di katakan oleh wanita itu.
Wanita penjaga wartel itu menatap Wardah sejenak, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. " Maaf mbak, coba saya lihat nomor yang mau di telepon ?", ucapnya dengan suara lebih pelan. Wardah segera merogoh saku depan celana baggynya kemudian menyerahkan lipatan kertas pada penjaga wartel.
Setelah membaca nomor telepon yang tertulis di kertas itu, penjaga wartel kemudian menarik tangan Wardah untuk masuk ke dalam bilik yang bertuliskan nomor 2. " Ini nomor telepon lokal mbak, alias dalam kota Surabaya. Kalau SLJJ itu telepon antar kota di Indonesia. Kalau SLI itu telepon ke luar negeri, mbak.", jelas wanita itu setelah Wardah duduk di kursi plastik.
Wardah menganggukkan kepala tanda memahami penjelasan singkat itu. " Silahkan mbaknya pencet nomor selain nomor 031 yang ada di depan ini, ya? monggo mbak...", jelas penjaga wartel lagi kemudian meninggalkan Wardah di bilik nomor 2, tanpa sempat Wardah mengucapkan terimakasih kasih.
Dengan hati-hati Wardah menekan tombol sesuai nomor yang di berikan Bude Warni. Dengan ragu pula ia menempelkan gagang telepon di telinganya, seperti yang pernah di lihatnya di televisi saat menonton sinetron Si Doel di rumah Putri.
Wardah mendengar suara " Tuut " yang berulang dengan jeda beberapa detik. Kemudian, " Hallo...? Ini dengan siapa dan ingin berbicara dengan siapa ya?...", suara bariton terdengar di seberang sana hampir membuat Wardah terjungkal dari kursi plastik yang didudukinya.
" I- iya, ha-hallo? Bisa berbicara dengan bude Sukemi? saya Wardah dari desa Raketan...", jawab Wardah gugup. " Ooo....iya, di tunggu sebentar ya, saya panggilkan dulu.", balas suara bariton tadi, kemudian hening tidak terdengar suara lagi.
Sudah hampir lima menit berlalu, masih belum terdengar suara lagi dari seberang sana. Tangan Wardah sudah berkeringat memegang gagang telepon. " Halo?...Halo? Ini Bude Kemi, War...War?", terdengar suara wanita yang mirip dengan suara Bude Warni di telinga Wardah.
" Halo?...Iya bude, ini Wardah. Sekarang saya di terminal Joyoboyo.", jawab Wardah dengan hati senang mendengar suara orang yang dikenalnya.
" Oo, di Joyoboyo...Sudah diam saja di situ, setelah ini aku jemput ke sana. Ini di Wartel sebelah mana?", tanya Bude Kemi.
Wardah terdiam sejenak, ia tidak tahu letak persisnya wartel ini di dalam terminal. " Ini masih di dalam terminal Bude, wartel Mentari namanya.", jawab Wardah kemudian saat mengingat nama wartel. " Ya sudah, jangan kemana-mana tunggulah di wartel itu saja, wartel Mentari ya?", perintah Bude Kemi. " Iya Bude, saya tunggu di sini.", jawab Wardah.
" Ya, hati-hati ya nak, jangan mau di ajak orang tak dikenal. Ini aku mau berangkat, assalamu'alaikum.", ucap Bude Kemi mengingatkan. " Iya Bude, wa'alaikumsalam." jawab Wardah kemudian meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya.
Wardah keluar dari bilik nomor 2 kemudian menuju ke meja penjaga wartel untuk melakukan pembayaran. " Mbak, apa boleh menunggu Bude saya di sini ?", tanya Wardah pada penjaga wartel setelah melakukan pembayaran. Wanita cantik itu mengangguk, " Silahkan mbak, nggak papa." jawabnya ramah.
" Mbaknya dari mana? Mau ke rumah saudara ya?", tanya penjaga wartel itu setelah Wardah duduk di kursi plastik di dekat mejanya. " Dari desa mbak, saya mau kerja ikut saudara." jawab Wardah.
" Oalah, sama mbak, saya juga dari desa. Ini wartel punya Paklek saya. Kenalkan, nama saya Wulan.", penjaga wartel bernama Wulan itu mengangsurkan tangannya. Wardah tersenyum dan menjabat tangan itu. " Saya Wardah, mbak.", balasnya sambil menjabat tangan Wulan.
Hampir sepuluh menit berlalu, namun Bude Kemi tak kunjung datang. Wardah yang melihat jam dinding di wartel yang menunjukan angka setengah lima sore jadi gelisah. Ia belum menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar. Wulan yang menyadari kegelisahan Wardah segera bertanya.
" Kenapa Wardah?", tanyanya pada Wardah dengan sebutan nama saja ketika tahu Wardah lebih muda tiga tahun darinya. " Anu mbak Wulan, kalau mau sholat di mana ya?", jawab Wardah dengan kikuk. " Oo, di sini saja, itu ada kamar kecil bisa buat shalat. Ada kamar mandi juga, kamu bawa mukena?", tunjuk Wulan pada pintu kecil dekat bilik nomor 10 yang tertutup sejak tadi.
aku pantengin selalu, Salam kenal 🙏
sehat selalu 🥰
Ditunggu bonchap nya ya teh, aaa.... aku seneng bgt sama ceritanya ❤️🥰