Anggita Dahniah yang berjuang menyelesaikan skripsi sembari menjalankan bisnis di pulau sebrang, sedangkan ibunya sendiri di kampung halaman. Kirana Larisa dan Meinizar Stefani yang merupakan sahabat terdekat ketika di pulau orang. Kulkas 7 pintu adalah sifat dosen pembimbing 2 Anggita yang membuatnya frustasi tidak karuan. Apakah Anggita dapat menyelesaikan skripsinya? apakah bara api atau emas permata yang ia capai? tidak ada yang bisa memprediksi kehidupan seseorang apalagi yang baru saja keluar dari kandang rumahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrani Yuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Perpustakaan
"Anggita." Tiba-tiba seorang wanita berkecamata bulat dengan rambut digerai sebatas bahu menyapaku lembut. Menepuk pundakku dengan pelan.
Aku mematung tuk berpikir, siapa beliau? Orang yang aku kenal kah? Itu yang terlintas dari benakku.
"Iya kan? Kamu Anggita Dahniah kan?" tanya wanita tersebut dan mengerutkan dahinya.
"I-Iya." Jawabku yang masih bingung.
"Ini aku, Jesika. Lo yang dulunya PBAK pake nama samaran bebek manyun kan?" tuturnya lagi sambil menyodorkan telapak tangan untuk bersalaman.
Aku menyahut tangan itu dan berusaha mengingat 'siapa dia' dari wajah ovalnya. Padahal aku tidak ingat saat PBAK dulu, yang ku tahu hanyalah mengerjakan apa yang diperintahkan oleh kakak tingkat atas.
"I-iya, ... mungkin, hehe," jawabku ragu.
"Ini aku, Jesika. Masa kamu lupa, sih! Dulu se-tim sama orang Rony juga. Iya kan, Ron?" Lanjutnya sambil menoleh kebelakang.
Pria itu masih sibuk memilih buku untuk dibaca, jarak antara rak dan tempat duduk hampir berdekatan. Dia tidak menoleh sedikitpun tentang pernyataan dari Jesika, tatapan dia hanya berlabuh pada susunan buku yang siap antri untuk diambil oleh pembaca.
Suasana perpustakaan yang mengeluarkan aroma lembaran kertas, ditambah manusia berlalu lalang disetiap lorong pada skat rak buku, yang membuatku semakin enggan untuk mengingat kenangan PBAK dulu.
"Oh, iya iya." Sahutku yang seakan mengingat hal itu. "Duduklah." Perintahku menawarkan kursi yang sejajar arahku.
Jesika menuruti hal itu, dan membuka percakapan "lo jurusan apa, Git? Lupa gue jurusan kuliah lo, soalnya udah lama juga tidak jumpa kan!"
"PMI." Singkatku sambil tersenyum.
"PMI? Palang Merah Indonesia?" timpalnya balik.
"Haha, bukan!" Jawabku sembari menutup mulut, karena tidak bisa menahan tawa saat jurusan kuliahku dikira organisasi ternama.
Jesika hanya terheran, pelipis mata kirinya meninggi seraya berpikir 'kenapa Anggita tertawa, apakah ada yang lucu'.
Aku berusaha menyadarkan diri, "bukan itu." Tapi, masih juga tidak bisa untuk menahan tawa sampai barisan gigiku terlihat separuh.
"Jadi apa?!" kesalnya.
Aku berdeham untuk menciptakan posisi yang nyaman, "bukan Palang Merah Indonesia, Jes. Tapi, Pengembangan Masyarakat Islam."
"Keagamaan Islam ya. Tapi, ... maaf nih, kulihat lo biasa aja, tidak seperti muslimah yang menutup semua tubuhnya. Lagian lo masih mau tuh pake celana," seketika dia melirik ke bawah meja. "Walau tidak ketat, sih! Tapi, tidak apa-apa juga keknya, lagian aurat lo masih tertutup. Jadi yaa, it's okey lah."
"Baru jumpa udah julid aja lo!" jawabku sewot.
Jesika melihatku diam, dan aku melihatnya heran. Tatapan itu tak bisa dihindari. Melihat wajah paniknya aku jadi ingin tertawa keras.
"Santai saja! Aku tidak makan orang juga kali! Wajahnya tolong dikondisikan," sinis, tapi agak ramah dari intonasi jawabanku.
"Sudah berubah lo, ya. Dulu adem ayem aja lo. Sempat juga di cepuin pas PBAK. Sekarang beda watak lo."
"Yaa, kita juga bisa berubah kali." Jawabku tanpa ragu. Padahal beberapa pekan ini sering ngedown perkara skripsi.
"Mantap juga, lo. Jadi teringat gue, dulu se-tim kita kena imbasnya gara-gara lo kelupaan bawa sayuran aneh gak jelas itu, apa ya namanya, ..." berpikir sejenak. "Kecipir, ya? Ha, iya! Kecipir." Tebakannya seakan memang benar akan hal itu.
"Lupa gue waktu itu." Jawabku cuek sambil menaruh pembatas buku di sela halaman.
"Lupa lo tuh, tolong dikondisikan juga. Dari dulu gak bisa dirubah, selalu ada aja yang kelupaan dihari PBAK. Yang sayurlah, papan namalah, atau peralatanlah, sampai heran gue. Hari PBAK selalu maju ke depan. Orang sampai bosan liat muka kita." Recehnya yang hampir mengganggu orang sekitar.
"Kalau masalah lupa,... ya naluri manusia kali! Tidak bisa kita pungkiri yang tidak bisa kita kendalikan. Itu juga sudah diluar batas kita. Ya wajarlah!" datarku.
"Betul juga kata lo," berhenti sejenak. "Sudah sampai mana kuliah, lo?"
"Mendaki gunung lewati lembah plus berbelok-belok hampir muter arah." Tuturku yang berusaha untuk tidak membahas skripsi.
"Widih! Asyik benar tuh kuliah, macam keliling pegunungan lalu ada desanya." Seru Jesika.
"Saking asyiknya, dia sudah kelelahan dan diam ditempat." Lirihku melihat jam tangan yang menuju angka dua.
"Hahaha, bisa aja lo. Nanti tanpa kabar udah sidang akhir aja, kan gak jelas banget." Puji Jesika yang melirikku saat melihat jam.
"Dah jumpa ini bukunya, yok!" Potong Rony menepuk pundak Jesika.
Tatapan mereka saling lempar satu sama lain. Dari tatapan lembut itu, seakan mereka saling menyayangi satu sama lain. Setelah itu Jesika melihatku dan diikuti juga oleh Rony.
"Loh?! Gita. Baru sadar gue. Lama tidak berjumpa." Dalih Rony sambil mengulurkan tangan.
Aku membalas uluran itu dengan menempelkan kedua telapak tangan dan tersenyum lebar.
Dia paham akan hal itu, karena dia juga termasuk orang yang menjaga perasaan wanita, dan itu aku melihatnya saat PBAK dulu yang memperlakukan wanita bagai ratu di kerajaan. Saat aku kelupaan membawa salah satu barang yang diharuskan, dia hanya tersenyum lepas dan tidak mempermasalahkan hal itu walaupun akan menerima hukumannya.
"Gimana kuliah, lo? Udah nyusun skripsi?" Tanya Rony tanpa basa-basi. Lalu duduk di sebelah Jesika.
Aku menatap Jesika yang lagi terdiam, dan dia menatapku balik menunggu jawaban atas skripsiku.
"Sudah dapat buku kan lo? Mending dibaca aja dulu bukunya," saranku mengalihkan topik pembicaraan. "Baru lihat aku, ada judul buku 'Sikap Bodo Amat' disini, boleh lihat sebentarkan!" Timpalku setelah melihat judul buku bersampul merah bata itu.
Jesika dan Rony menghelakan napas tidak karuan, seraya mereka paham makna alihan pembicaraanku.
"Hehe." Tawaku menyeringai.
Rony menyodorkan buku itu, dan aku meraihnya.
Sembari aku melihat isi buku itu, aku hanya mendengarkan mereka berbincang.
"Kamu belum makan, kan?" tanya Rony kepada Jesika. "Setelah ini kita ke kantin ya, kantin belakang, sekali sekali kesana, bolehkan?" pintanya.
"Hmm, oke deh."
"Kalian biasanya makan di kantin mana kalau tidak di kantin belakang?" Potongku sedikit ngegas.
"Kami hampir tidak pernah makan di kantin belakang, kalau makan selalu di luar kampus," jawab Rony.
"Oh," lirihku. "Ini, ku kembalikan." Lanjutku menyerahkan buku tersebut.
"Setelah makan kita jadi ke fakultas teknik, kan?"
Rony berpikir sejenak, lalu mengiyakan apa yang ditanyakan Jesika. "Pasti Arga sudah menunggu disana."
"Arga?" Aku terkejut setelah mendengar nama itu. Apakah memang Arga yang ku kenal.
"Iya, Arga Wijayanto," sahut Rony. "Teman dekatku dari SMA, dan dipertemukan kembali di kampus yang sama, 2 tahun terakhir, dan dia lagi sidang akhir hari ini. Akhirnya dia bisa menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 5 tahun." Jelas Rony dengan mata sedikit terharu.
Memang benar tu bocah! Dia tidak bilang semalam, seharusnya aku juga sudah paham dari sikap tidak jelasnya itu. Batinku berusaha untuk baik-baik saja.
"Oh." Singkatku menetralkan suasana.
"Kamu mengenalnya, Gita?"
Aku terdiam saat Jesika mempertanyakan hal itu. Bukannya aku tidak mahu menjawab, tapi aku malu karena teman bisnis seperti aku tidak tahu bahwa dia lagi berjuang di ujian akhir. Teman seperti apa aku ini! Eh ... Tepatnya bukan teman juga, tapi seperti adek angkatnya sendiri! Mahu letakkan di mana wajahku ini.
"Wah!" Rony menghela napas tidak percaya akan hal itu, seakan dia mengerti makna diamku. "Dunia terasa sempit, ya."
"Apa maksudnya, Ron?" heran Jesika. Dia tidak paham makna diamku dan helaan napas Rony.
Rony menggelengkan kepala, dan berkata "baiklah, kami makan dulu, ya." Lalu melihat jam tangan yang digunakannya.
Aku mengangguk pelan. Lalu tersenyum merekah pada Jesika yang masih terheran pada akhir pembicaraan tadi. Mereka beranjak pergi ketika Rony menggenggam tangan Jesika secara paksa, dan Jesika hampir terjatuh karena hal itu. Dia berusaha menyeimbangkan badan dan menoleh kebelakang untuk melambaikan tangan.
Lalu berkata, "sampai jumpa."
ada ya Dobing begitu,
baik bgt, ingatkan janji temu...
pak Pram, the best laahhh
Astaghfirulloh...
Anda kocak sekali, Git....
wah Gita anak Karo yaa.
salken deh dr anak Medan...
☺😆
udah di acc tuh....
GO... GO..... 💪
dobing pak. pramuda nih, senior Anggita dulu?? ketua panitia??
Author qu ini...
ceritanya...
Tertata dan tersuSun rapi..
jadi sprti baca skripsi aqu nya...
☺🥰
mampir ya thor qu....