Cinta itu tak selamanya manis seperti madu. Cinta juga dapat membuat seseorang gelap mata. Lupa kepada anak istri, dan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Karena sang madu, Rizal rela untuk kehilangan segalanya bahkan jika harus nyawa yang menjadi taruhannya.
Mempunyai hati yang lembut membuat Anita harus selalu mengalah dan tak pernah memiliki dendam. Perjalanan hidup yang begitu banyak menguras air mata dan kesabaran.Seorang wanita bergelar tulang rusuk yang merangkap sebagai tulang punggung. Ia harus menjadi Ayah, Ibu dan seorang teman untuk sang buah hati.
Apakah perjalanan cintanya akan berjalan mulus di suatu hari?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wida Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu di Siang Hari
Tetapi suara Rifki terus terdengar dan tak berhenti menangis. Tiba-tiba, Ibu menyadarkan ragaku yang masih diselimuti rasa kantuk.
"Nit, sadar Nak," ucap Ibu.
"Iya, Bu, aku sudah sadar," sahutku, "tetapi, Rifki tidak mau menyusu detak jantungnya tak terasa, tetapi anehnya tangisannya masih terdengar nyaring," jawabku sambil mengernyitkan kening.
"Weleh weleh Nak, kamu itu bukan hanya karena kegelapan tetapi rasa kantukmu tak bisa membedakan yang mana anakmu, hehehe," sahut Ibu sambil tertawa kecil dan menepuk-nepuk jidatnya.
"Maksud Ibu apa?"
Tring
Ibu menyalakan lampu senter ke arah bayi dipangkuanku. Alangkah terkejutnya aku, ternyata yang digendong dari tadi itu bukan seorang bayi melainkan boneka Dila yang bentuknya sama percis seperti seorang bayi. Ia memiliki dua tangan dan dua kaki. Boneka itu pun di bedong layaknya bayi manusia. Mungkin, Dila habis main dan tidak di rapihkan lagi jadi salah ambil deh, hehehe.
"Cepat beri ASI bayimu! yang kamu gendong dari tadi itu boneka milik Dila," sahut Ibu sambil menggeleng-gelengkan kepala karena tingkah konyolku.
"Heee hee … maaf Bu, Nita ngantuk banget soalnya." Aku terkekeh mengingat yang ku gendong dari tadi adalah sebuah boneka yang tak bernyawa. Jelas saja detak jantungnya tak terasa berdegub, dasar si aku.
Setelah Rifki kenyang ia pun tertidur pulas, akhirnya aku bisa tidur juga dengan nyaman. Rasa lelah membuat kami melupakan kegelapan, sehingga dapat tidur dwngan nyenyak.
***
Lima hari sudah kami hidup tanpa diterangi cahaya listrik. Banyak tetangga yang menengok dan memberikan selamat atas kelahiran bayiku. Beruntungnya aku tinggal di kampung ini karena meskipun warganya mayoritas bukan dari kalangan orang yang mampu, namun rasa solidaritas mereka sangat tinggi.
Ada yang memberikanku amplop berisi uang, baju bayi, sabun cuci, perlengkapan mandi, dan masih banyak yang lainnya. Adapula yang hanya menengok saja dan memohon maaf karena tidak mempunyai apapun untuk di bawa. Bagiku, kehadiran mereka yang sudi menjenguk saja sudah membuatku bahagia, berarti mereka masih peduli padaku. Rezeki itu bukan hanya uang atau barang saja, tetapi memiliki tetangga baik seperti mereka itu pun sebuah rezeki.
Hari ini Ibu pergi ke sawah. Akupun ketiduran, padahal kata Ibu wanita yang baru lahiran tidak boleh tidur siang. Nanti darah putih naik ke area mata dan ada kemungkinan menyebabkan kebutaan. Tetapi, lain halnya dengan Bu Bidan yang justru menyarankan agar aku tidur siang. Kata Bu Bidan, Wanita yang baru melahirkan itu cape dan butuh tenaga. Untuk itu, tidur siang lebih bagus bagi kesehatan. akhirnya aku pun ketiduran tanpa sepengetahuan Ibu.
"Assalamualaikum," ucap seseorang dari teras rumah.
"Wa'alaikum salam, eh Bu Bidan," sahutku.
"Teh Anita, sehat?" tanya Bu Bidan yang memang rajin mengontrol kesehatan pasiennya.
"Bu, kepala saya sakit sekali mata berkunang-kunang," keluhku, "saya juga tidak nafsu makan."
"Ini saya membawa vitamin, jangan lupa diminum ya, kalau Ibunya sakit, nanti bayinya juga bisa ikut sakit."
"Baik, Bu," balasku sambil meraih bungkusan berwarna putih.
"Ibu tidak bisa berlama-lama, soalnya ada yang mau lahiran," kata Bu Bidan.
"Baiklah Bu," ucapku, "saya tidak apa-apa,"
"Ib pamit ya, jangan lupa diminum obatnya!"
Bu Bidan pun segera pamit pulang setelah mendapat telepon dari pasiennya yang mau melahirkan.
Karena Ibu belum pulang, maka aku memaksakan diri untuk memasak da menyapu rumah meskipun dalam keadaan tidak enak badan. Ibu sebenarnya melarangku untuk tidak beres-beres dulu, apalagi pekerjaan yang berat-berat. Tetapi kasihan Ibu dan Ayah juga cape bekerja di sawah. Dila juga sudah minta makan.
hari mulai siang, saat aku melipat pakaian yang baru kering, tiba-tiba sebuah mobil avanza berwarna silver berhenti di depan rumah. kendaraan beroda empat itu sangat familiar bagiku. Siapakah yang hendak bertamu?
"Assalamualaikum," ucap salah seorang wanita berjilbab marun dan memakai setelan muslim yang senada.
"Wa'alaikum salam, eh Kak Marni, Ibu," lirihku.
Aku tidak menyangka akan siapa yang datang. Ternyata keluarga Bang Rizal bersama yang lainnya.
"Anita! huhu huhu."
Tangis Kak Marni dan Mama Mertua pecah saat melihat wajahku yang pucat pasi. Mereka merangkul dan menciumiku. Tengah sibuk dengan Mama Mertua dan Kak Marni, sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa ada sosok pria berkaos biru langit yang cocok untuk warna kulitnya yang lebih cerah dan memakai topi. Ia tengah memperhatikanku dengan rasa iba. Siapakah pria itu? batinku terus di dera pertanyaan.
"Kamu ikut lagi ke rumah mama ya!" Mama Mertua membujuku agar ikut lagi ketempat tinggal mereka.
"Iya, Rizal berpesan agar kamu pulang lagi," ucap Kak Marni menambahkan.
"Sekarang Rizal lagi bingung, karena Sari juga habis lahiran," kata Mama Mertua.
"Nita mau di sini saja Bu," aku menolak, "lagi pula bayinya baru seminggu belum kuat di ajak kemana-mana.
"Baiklah, tapi Ibu mohon jangan cerai sama Rizal, Ibu sayang banget sama kamu dari pada sama Sari," pinta Ibu sambil memegang tanganku erat.
Aku tak dapat menjawab petanyaan Ibu, karena menikah itu bukan hanya tentang cinta …, tetapi berjuang bersama. Dan itu tidak ada dalam pernikahan kami. Menikah itu bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga menyatukan dua keluarga.
Aku hanya terdiam. Mama Mertua mestinya faham semua sumber penderitaanku adalah karena perbuatan anaknya. Sekarang Sari sudah melahirkan. Anaknya berjenis kelamin laki-laki sama seperti bayiku. Rizal sangat sayang sama anak dari Sari itu, semua nampak pada foto yang di upload pada status sosial medianya. Aku selalu khusnudzon, bahwa kesabaran akan berbuah manis pada akhirnya. meskipun mereka tak tahu betapa sulitnya bertumpu pda satu kaki. Bahkan saat ini mereka tak tahu jika rumah kami baru saja terkena musibah sehingga malam atau pun siang sama saja, gelap.
Oee oee oee …
Bayiku menangis. Mereka menimang-nimang Rifki dengan penuh kasih sayang. Lalu mengambil fotonya untuk diabadikan. Berbeda dengan lelaki itu, ia hanya memperhatikan dari kejauhan.
Sosok lelaki berkaos biru itu masih terus menatapku. Tatapannya yang tak asing lagi membuatku terhenyak dari lamunan. Ya Allah, ternyata dia adalah Adnan! rupanya dia yang mengantar keluarga Bang Rizal untuk berkunjung menemuiku. Adnan memang tetangga mereka dan kebetulan ia bisa mengemudikan mobil. Jadi, adakalanya ia pun menerima orderan untuk mengantar jemput jika ada yang memerlukan.
Suasana rumah tampak ramai. Anak kecil berlarian kesana kemari. Dila juga sudah tak merasa asing dengan mereka ia pun ikut bermain dan bercanda. Alangkah senang hati anak itu bertemu dengan sanak saudara yang berasal dari tanah kelahirannya. Ia diperebutkan dan bergantian saling memeluk. Obat rindu antara mereka tak hanya cukup bertemunya antara mata dengan mata, ataupun suara lewat panggilan telepon. Kerinduan antara mereka dapat terobati dengan berinteraksi langsung.
"Mama, kata Uwa Marni Dede Rifki calon naik haji," ucap anak itu dengan polosnya.
"Aamin, semoga saja ya Nak," balasku sambil menyodorkan teh hangat dan beberapa kue kering yang ku beli dari warung sebelah.
Karena sudah waktunya makan siang, maka Ibu menyajikan semua hidangan seadanya. Jika memang tak berpunya, kita tak perlu sampai berhutang kesana kemari agar dihargai. Kun Anta itu yang selalu ibu bilang. Jadilah diri sendiri. Lebih baik dibenci menjadi diri sendiri dari pada disukai namun berpura-pura menjadi orang lain.
Ceo, mobil mewah, rumah bak istana..
Semangat tuk karya2 lainnya..
pelakor cmn bs ngabis2in duit aja. lagunya pakek skin care tpi akhlak minus