Keberadaan mu selalu menjadi pusat perhatian ku, bahkan dikejauhan dirimu terlihat jelas olehku. Aku tak berani berharap lebih, dirimu laksana cahaya terang sedangkan cahaya ku cukup redam. Aku mengagumimu dengan senang dan berdebar namun jika bukan diriku nantinya yang kau pilih aku tak masalah. Mengagumi saja sudah membuat ku bahagia bagaimana bisa aku mengharapkan lebih ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alley125, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 : Event
...“Reno ? Siapa dia ?”...
Tibalah hari acara ini yang akan dilaksanakan seminggu ke depan. Semalam setelah dari kampus sekitar jam 1 dini hari kami akhirnya tiba di kost Dila, kami menginap disitu karena di kost Dila lah yang sekiranya bisa menampung kami dan dekat dengan kampus. Acara pembukaannya dimulai jam 9, jadi kami harus selesai make up karena kami juga yang akan membuka acara. Jam 6 pagi kami menuju kampus, disanalah kami make up nya agar tidak sulit menuju gedung acaranya. Akan tetapi orang yang akan me-make up i kami datang terlambat karena alasan satu dan lain hal. Mulanya kami panik namun karena orang yang akan me-make up i menambah satu personil lagi akhirnya kami bisa tenang ditambah orang-orang tersebut sudah menjadi langganan bagi jurusan kami.
“Yang pertama nanti siapa ?” Tanya Kak April sembari kami menunggu.
“Fitri Kak.” Jawab kami kompak kecuali Fitri tentu saja.
“Iya Fit ?” Tanya Kak April pada Fitri.
“Iya Kak habis ngga ada yang mau lagi.” Ucap Fitri dengan wajah yang dibuat sedih.
“Hihh kita udah suit loh kemaren-kemaren.” Ucapku tak terima dengan akting Fitri.
“Hahahah. Oh iya lupa.” Jawab Fitri dengan wajah tanpa dosa. Membuat kami semua ingin mencubit pipinya.
Tak lama yang kami tunggu pun datang, akhirnya sesi make up dimulai namun ternyata tidak hanya satu orang yang me make up i namun 2 karena urutan selanjutnya harusnya Popy namun dia sedang ke toilet jadilah aku yang menggantikannya. Aku cukup terkejut dan menahan nafas sebentar. Bagaimana tidak yang me make up i ku adalah laki-laki dewasa mungkin usianya 25 an dan juga dia tampan dan putih layaknya Oppa-oppa korea membuat aku berdebar sementara di tambah jarak aku dan dirinya sangat lah deket, memang sih serasa tidak nyaman karena ini pertama kalinya aku sedekat ini dengan lawan jenis didepan umum pula namun jujur saja wajah tampannya mengalihkan dunia ku. Astagfirullah Jasmine. Heheheh.
Bagi orang-orang yang telah usai make up langsung di angsur untuk menata sunting dan memakai baju. Bagian paling menyakitkan adalah memakai sunting karena kepala ini seperti ditusuk-tusuk oleh jarum juga ketika memakai korset sungguh seperti diikat sulit bernapas. Namun hasilnya sangat memuaskan, entah lah kapan rasa sakit kepala akan menyerang karena memakai sunting ini. Setelah selesai semua penari bersiap, kami pun di antar untuk ke gedung yang akan digunakan. Sesampainya disana kami menunggu di pintu masuk masing-masing bagian yang telah kami atur ketika gladi kemaren. Sangat mendebarkan menunggu waktu kami akan tampil apalagi ketika melihat banyaknya tamu dan peserta yang hadir. Aku hanya berharap aku tidak jatuh saja. Aamiin.
Akhirnya kami pun tampil, mulanya terasa sangat mendebarkan dan jujur saja terus berdebar hingga kami keluar namun saat menari dihadapan banyak orang aku tidak terlalu memikirkan debaranku dan hanya fokus pada tarian ku dan tugas ku yang mendampingi pembawa tepak yaitu Fiza dan jujur saja karena aku rabun jadi wajah orang-orang tidak terlalu jelas. Hahahah.
Setelah selesai kami pun istirahat sejenak baru berfoto-foto dengan beberapa teman-teman kami dan juga senior-senior kami. Jujur saja aku sudah merasa lelah bukan karena menari tadi namun karena memakai sunting ini membuat kepala ku pusing dan juga aku sangat lapar. Aku tidak berani makan apapun tadinya karena aku takut akan sakit perut dan beginilah hasilnya aku akan kelaparan. Ditambah setelah usai berfoto kami tidak diizinkan langsung berganti pakaian karena kami harus ikut meramaikan seminar pembukaan ini yang telah mengundang tokoh hebat. Muka ku sudah tidak bisa diajak kompromi untuk tersenyum lagi namun tetap aku paksakan ketika ada yang menyapa. Beginilah jadinya bila sudah sakit kepala nyut-nyutan seperti ditusuk-tusuk jarum ditambah lapar.
Disaat aku tengah melamun tiba-tiba ada notif di ponsel ku, aku tidak sadar kalau tidak diberitahukan Rena.
“Jas itu ada pesan dari Reno.” Ucap Rena yang membuat aku terkejut. Yap Reno adalah nama kontak Bang Husein sekarang di ponsel ku yang ku ambil dari nama belakangnya Husein Rendraga yang ku tambahi huruf O agar tidak ada yang bisa menerka.
“Ehh siapa Reno ? Pacar Jasmine ?” Tanya Lili padaku.
“Bukan.” Jawab ku singkat sembari membuka pesan dari Bang Husein.
“Sakit ?” Isi pesannya. Gila ini dia perhatiin aku kah makanya bisa nanya begini.
“Cie Jasmine. Pasti yang gofood in kemaren kan ?” Tanya Rena lagi.
“Iya.” Ucapku lelah meng iya kan saja. Mereka tidak bosan apa ya membahas gofood-gofood terus.
“Cie berarti calon pacar nih kayaknya.” Ucap Lili yang hanya ku balas dengan berdehem.
“Iya. Sakit kepala karena sunting dan lapar juga.” Balas ku pada Bang Husein.
Tak lama Eja datang bersama Putri dan Nana membawa kue kotak dan memberikan pada kami. Kami hanya menerima saja soalnya memang sudah lapar dan haus. Apa itu perintah dari Bang Husein. Jahat bisa-bisanya dia baperin mulu.
“Kenapa tidak langsung dilepas ?” Balasan dari Bang Husein masuk kemudian.
“Mau nya tapi tidak boleh. Makasih untu makanannya.” Balas ku. Tapi apa balasan ku terlihat berlebihan ? Bagaimana bila ternyata bukan dia yang mengarahkan Eja dan yang lainnya untuk mengantarkan makanan pada kami ? Bodo amat deh paling nanti malu doang toh Cuma aku, Bang Husein, kedua malaikat kana kiri kami dan Allah saja yang tahu. Wkwkwk sedang berusaha menenangkan diri sendiri.
“Sama-sama. Jaga kesehatan.” Balasnya kemudian yang membuatku langsung mengatupkan bibir menahan senyuman. Ck curang banget makin dibuat jatuh.
Setelah seminarnya usai akhirnya kami pun diperbolehkan untuk mengganti baju dan menyusun perlengkapan tari kembali serta bebas mau menghapus make up nya atau tidak. Aku dan Popy memilih menghapus make up nya namun karena sulit menghapus dikampus karena ramai orang dan terlebih lagi baju yang harusnya kami pakai untuk nanti ada di kost Dila akhirnya kami pun ke kost Dila dan membersihkan make up disana.
Ketika selesai kami istirahat sejenak sebelum kembali kekampus, kami tidak dalam kepanitiaan yang agendanya hari ini jadi kami tidak terlalu perlu segera kekampus, dikampus pun nanti kami mungkin hanya berjalan-jalan saja. Setelah dirasa cukup beristirahat kami pun kembali kekampus.
Sore hari pun tiba, janji ku dan Kak Arni harusnya sore ini kami pergi mencari apa-apa yang diperlukan untuk bingkisan juri namun Kak Arni menyarankan malam saja karena ada beberapa hal yang harus dia urus di gedung acara ini. Aku menunggu duduk di sofa sembari melihat kakak-kakak senior yang berlatih untu tari kreasi walaupun itu masih ditampilkan nanti dihari penutupan. Aku juga membantu sebisaku bila Kak Arni memerlukan bantuan. Hingga akhirnya Kak Arni menyelesaikan urusannya dan kami pergi untuk mencari hal-hal yang diperlukan. Setelahnya Kak Arni mengantarku pulang, aku ingin membantu Kak Arni menyiapkan bingkisan untuk juri namun Kak Arni melarang karena kamarnya sungguh berantakan dan dia tidak nyaman memperlihatkan itu pada orang lain. Aku pun hanya bisa memberikan semangat dan maaf karena tidak bisa membantu padahal aku adalah anggotanya.