Hi, Guys!
Siap untuk baca kisahnya?
ig : meliiynn
“Dasar j****g!”
Kartala merasa seperti dunia ini runtuh di atasnya. Dia merasakan pukulan keras di hatinya, bukan hanya dari Ayahnya, tetapi dari semua yang telah ia alami selama ini. Tetapi di balik rasa sakit itu, ada api keberanian yang membara di dalam dirinya.
Kartala sering menjadi sasaran ejekan dan bully teman-temannya. Birendra Bhanu Yasha, seorang anak laki-laki dari keluarga kaya yang berpengaruh, adalah pemimpin Aderfia yang sering mengganggu Kartala.
Semakin hari penderitaan yang Kartala dapatkan semakin bertambah, seperti badai yang menyapu bersih semua kebahagiaan dalam dirinya. Kartala menjadi korban dari fitnahan yang selama ini menimpa dirinya
Siapa kah yang akan membela dan menyelamatkan Kartala dari semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meliyani_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi
Kartala dan Bhanu mempersiapkan diri untuk menghadapi pertemuan yang sulit dengan orang tua Kartala. Mereka berangkat menuju rumah Kartala, suasana hati Kartala dipenuhi dengan kegelisahan yang mendalam.
Selain kecemasan tentang pertemuan dengan orang tua yang tidak pernah peduli padanya, ada juga rasa ingin bertemu dengan kakaknya, Aisha, yang sudah lama tidak ia jumpai.
Rumah itu terlihat sepi dan suram, bagaikan refleksi dari hubungan keluarga yang retak. Ketika mereka tiba, Kartala menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.
Suara langkah kaki dari dalam mengindikasikan bahwa seseorang sedang mendekati pintu. Pintu terbuka perlahan, dan di ambang pintu, Hanum, ibu Kartala, muncul dengan ekspresi tegang.
"Apa yang kamu cari di sini?" tanya Hanum dengan suara yang kaku.
Kartala menelan ludah, tetapi ia memutuskan untuk tetap tegar. "Aku ingin bicara dengan kalian."
Hanum menatap Kartala dengan ekspresi datar. "Tentang apa, Kartala?"
Kartala menatap ayahnya dengan tatapan tajam. "Tala merindukan kalian, kenapa kalian membiarkan Tala pergi?"
Arya mengangkat alis dengan skeptis. "Ini urusan kami, bukan urusanmu. Kamu tidak perlu ikut campur."
Kartala merasa kesal dan terluka. "Kalian tidak pernah memperlakukan Tala seperti anak kalian sendiri. Tala hanyalah jaminan atas kesalahan-kesalahan Ayah!"
Hanum mencoba untuk menenangkan suasana. "Kartala, kami pikir ini adalah yang terbaik untukmu. Kami tidak punya pilihan lain."
Kartala merasa marah. "Kalian tidak peduli padaku! Kalian hanya peduli pada urusan kalian sendiri!"
Bhanu mencoba untuk menenangkan Kartala, tetapi kehadirannya hanya menambah ketegangan di ruangan itu.
"Tala ingin ketemu kak Aisha, bu. Boleh?", tanya Kartala dengan nada melemah.
"Dia tidak ada disini", jawab Hanum.
“Dia sudah pergi ke surabaya tiga hari lalu”.
Kartala merasa sangat sedih, hatinya hancur mendengar bahwa satu-satunya keluarga yang menyayanginya juga pergi meninggalkannya.
“Ayah, Ibu. Kenapa kalian tidak beri tahu Tala?”
“Sebaiknya kamu pergi dari rumah saya”, tegas Arya.
“Kartala punya hak di rumah ini”, Bhanu membuka suara.
Ia tak terima jika Kartala diperlakukan seperti sampah di depan matanya sendiri, Bhanu melihat Kartala saat ini sangat rapuh.
“Dia sekarang milik keluarga Yasha”, tutur Arya.
Setelah percakapan yang penuh emosi dan tegang, Kartala dan Bhanu meninggalkan rumah orang tua Kartala. Mereka duduk dalam diam di dalam mobil, memproses semua yang baru saja terjadi.
"Bhanu, aku merasa hancur," kata Kartala dengan suara gemetar.
Bhanu meraih tangan Kartala dengan lembut. "Kamu kuat, Tal. Aku di sini untukmu, apa pun yang terjadi."
Mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan perasaan yang campur aduk, tetapi dengan keyakinan bahwa mereka akan menghadapi masa depan bersama, tanpa bergantung pada keluarga yang tidak pernah memperhatikan mereka.
...****************...
Di apartemen, setelah beberapa hari berlalu dari pertemuan yang sulit itu, Kartala merasa sangat rindu dengan kakak perempuannya, Aisha. Mereka sudah tidak bertemu sejak Kartala pergi dari rumah, dan pikirannya dipenuhi dengan kerinduan akan saudaranya.
Kartala duduk di tepi jendela apartemennya, memandang keluar sambil menggenggam ponselnya. Dia ingin sekali menelepon Aisha, namun Kartala tidak memiliki nomor Aisha. Kecemasan dan ketakutan masih membayangi dirinya, tetapi keinginannya untuk memperbaiki hubungan dengan kakaknya lebih kuat.
"Bhanu," panggil Kartala dengan ragu. "Aku ingin bertemu dengan Aisha."
Bhanu yang sedang duduk di meja makan mengangkat kepalanya. "Aku bakal cari caranya, ok?"
Kartala mengangguk, merasakan kebingungan di dalam dirinya. Bhanu, ia membantu menenangkan dirinya, memeluknya dengan erat.
Bhanu tersenyum lembut. "Ada aku disini yang akan selalu jaga kamu, Tal. Maaf karena aku pernah bersikap bodoh sama kamu".
Bhanu benar-benar menyesali perbuatannya, ia tidak menyangka bahwa ternyata Kartala sangat rapuh, bukan hanya fisiknya tetapi mentalnya juga.
Bhanu bertekad dalam dirinya untuk membawa kebahagian untuk Kartala di hari-hari berikutnya.
“Aku mau nanya sama kamu”, ujar. Bhanu.
Kartala mendongak, berusaha memperhatikan omongan Bhanu.
“Kenapa Bara bisa tahu nomor kamu, hm?”, Bhanu tidak ingin membuat Kartala merasa di intrograsi, ia sangat bersikap hati-hati.
Kartala tidak langsung menjawab, ia perlua mengingatnya kembali.
“Setau aku yang tau nomor aku cuma kamu, kak Tika, Reza sama Sarah”
“Reza?”, tanya Bhanu memastikan.
“Iya, kenapa?”, Kartala bertanya balik.
“Menurut kamu Reza kenal gak sama Bara?”
“Kaya nya nggak, Bhanu. Dia kan bantu kamu buat nolongin aku waktu aku diculik sama Bara”
Bhanu hanya mengangguk, ia kembali memeluk Kartala. Berusaha untuk menetralkan segala sesuatu yang menghantui pikirannya.
Bhanu merasa akhir-akhir ini dia sangat kewalahan dalam menghadapi masalah, mulai dari Ardalota, Reza, orang tua Kartala dan yang terakhir Papanya sendiri.
Dia sampai melupakan beberapa pertemuan penting yang antara dirinya dengan Adi.
Tetapi di sisi lain, Bhanu juga merasa senang. Hatinya yang telah lama mati kini terasa hidup kembali.
Kartala, gadis itu dapat dengan mudah mengobrak-abrik hatinya.
Kartala mampu membuat Bhanu melupakan semua masalahnya ketika bersamanya.
“Pegel juga ya”, ujar Kartala.
Bhanu terkekeh, benar juga. Mereka sudah sangat lama berpelukan dengan posisi yang sama.
Bhanu melepaskan pelukannya, sekarang ia beralir mencubit pipi Kartala.
“Bhanu”
“Ya”
“Tetap kaya gini ya, jangan pernah marah lagi”, ucap Kartala dengan manja.
Bhanu tersenyum halus, ia mungusap kepala Kartala kemudian memandangi gadis itu dengan sangat lama.
Cup
“Aku udah gak bisa marah lagi sama kamu, tal”, ucap Bhanu.
“Masa?”, Ledek Kartala.
Bhanu tersenyum. “Iya, selama kamu gak ngecewain aku, selama itu juga aku gak akan bisa marah sama kamu”.
Kartala sedikit tertegun mengingat bahwa ada beberapa hal yang ia sembunyikan dari Bhanu.
“Tal, kamu udah berhasil masuk ke hidup aku. Jangan pergi ya”, pinta Bhanu.
Kartala mengangguk dengan lembut.
Jika saja ada buka diary nya di apartemen ini, mungkin sekarang Kartala sudah mencurahkan segala isi hatinya ke dalam buku itu.
Kartala tidak menyangka bahwa dirinya dan Bhanu bisa sedekat ini, mengingat kejadian beberapa bulan lalu membuat Kartala sedikit ragu.
5 iklan meluncur untukmu