Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Kejujuran di Atas Awan dan Kebenaran yang Menghantam
Logika dan perasaan kerap kali bertarung di medan yang sama tanpa mau saling mengalah. Raisha tahu betul siapa Aldo Otavian, seorang manipulator ulung dengan obsesi membengkok yang hanya bergairah saat mengejar wanita berpemilik.
Logikanya sudah membunyikan sirene tanda bahaya sejak hari pertama Aldo kembali menghujaninya dengan perhatian-perhatian manis.
Namun, benteng pertahanan paling kokoh sekalipun tetap bisa bergetar ketika dihantam gelombang yang sama bertubi-tubi.
Di balik tekad bulatnya untuk acuh, hati kecil Raisha tak mampu memungkiri kenyataan pahit bahwa perasaannya pada Aldo sudah terlanjur melangkah terlalu jauh. Rasa suka yang dulu tumbuh diam-diam kini telah membesar, bertransformasi menjadi benih cinta yang mengakar kuat.
Setiap kali cangkir kopi kesukaannya mampir di atas meja, setiap kali pasang mata cokelat gelap itu menatapnya hangat dari seberang ruangan, atau saat jemari Aldo dengan protektif menggeserkan botol minum di tengah rapat, ada desir halus di dada Raisha yang tak bisa dibohongi.
Hatinya mekar. Perasaan berbunga-bunga itu menyeruak tanpa permisi, membawa jiwanya melayang seolah sedang berada di atas awan. Raisha menikmati sensasi manis itu, tetapi di saat yang sama, dia juga diselimuti ketakutan yang teramat sangat.
Raisha sadar betul bahwa posisinya saat ini bagaikan berdiri di atas benang tipis di ketinggian. Perhatian Aldo yang ugal-ugalan ini hanyalah reaksi impulsif karena pria itu menduga Raisha sudah berpacaran lagi dengan Erick.
Begitu Aldo tahu fakta sebenarnya, bahwa Raisha masih melajang dan tidak terikat dalam hubungan kasih apa pun, perasaan manis yang memabukkan ini dipastikan bakal menukik tajam ke bawah.
Jatuh terhempas dari atas awan, membentur tanah dingin, dan menatap hatinya sendiri terberai menjadi kepingan yang tak berbentuk lagi.
Raisha tidak mau merasakan kepahitan mematikan itu untuk kedua kalinya.
Dengan tangan yang sedikit bergetar di atas layar ponsel, Raisha mengambil keputusan ekstrem untuk menyudahi ilusi ini sebelum semuanya terlambat. Dia mengetik sebuah pesan singkat yang padat, dingin, namun tegas:
'Temui aku di rooftop. Private.'
Di sudut ruang kerja lantai lima, terdengar nada denting lembut dari ponsel milik Aldo. Pria itu mematikan layar monitornya, meletakkan pulpen, lalu meraih ponsel yang tergeletak di samping cangkir kopinya.
Begitu membaca pesan dari Raisha, sebuah senyum miring yang sarat akan rasa percaya diri langsung mengukir bibirnya. Lesung pipi yang biasanya menjadi senjata penakluknya tampak makin jelas. Aldo menyandarkan punggungnya ke kursi empuk, memutar-mutar ponsel di jemarinya seraya menatap langit-langit kantor.
Akhirnya, batin Aldo penuh kemenangan.
Di dalam persepsi Aldo yang pongah, taktik dan tebar pesonanya selama sepekan terakhir telah membuahkan hasil sempurna. Dia yakin seratus persen bahwa Raisha sudah tidak sanggup lagi bermain jual mahal.
Di matanya, pesan mengajak bertemu secara privat di rooftop adalah bentuk penyerahan diri dari seorang wanita yang akhirnya luluh dan siap kembali ke dalam genggamannya, sekaligus memenangkan taruhan emosionalnya dari pria bermobil mewah yang dilihatnya di lantai dasar.
Aldo merapikan kemejanya, menyisir rambut dengan jemarinya, lalu melangkah menuju pintu tangga darurat menuju area rooftop dengan rasa bangga yang meluap.
Angin sore berhembus cukup kencang di area atap gedung lantai lima belas. Dari ketinggian itu, pemandangan lanskap Jakarta yang mulai diterangi lampu-lampu jalanan tampak begitu megah.
Raisha berdiri bersandar pada pagar pembatas besi, menatap lurus ke garis horizon yang memerah. Di tangan kanannya, ada satu tin kaleng minuman ringan dingin yang dibawa khusus untuk dirinya sendiri.
Dia tidak membawa cangkir kedua atau camilan ekstra untuk Aldo. Tempat ini bukan lagi tempat untuk berbagi kehangatan seperti malam berhujan waktu itu.
Suara berderit dari pintu besi rooftop memecah keheningan. Langkah kaki santai Aldo terdengar mendekat.
"Tumben ngajak ketemu di sini, Ra. Pakai bilang 'private' segala lagi," sapa Aldo dengan nada suara yang disengaja dibuat mengayomi dan menggoda. Pria itu menyunggingkan senyum terbaiknya, berjalan santai dengan kedua tangan terbenam di saku celana, berniat memotong jarak dan berdiri sangat dekat di samping Raisha.
Namun sebelum Aldo sempat mengikis jarak tersebut, Raisha langsung berbalik. Wajahnya begitu kaku. Tidak ada binar salah tingkah, tidak ada senyum malu-malu, dan tak ada sedikit pun kehangatan yang terpancar dari manik matanya.
Tanpa basa-basi atau memberi ruang bagi Aldo untuk memainkan retorika manisnya, Raisha langsung menghantam pria itu dengan kalimat tajam yang sudah disiapkannya.
"Yang kamu lihat di restoran Jepang lantai dasar tempo hari itu adalah mantan aku," ucap Raisha langsung ke intinya. Suaranya tidak keras, tetapi terdengar sangat lugas dan tidak menyisakan ruang untuk perdebatan.
Langkah kaki Aldo terhenti seketika. Senyum manis di wajahnya membeku.
Raisha menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap milik Aldo tanpa sedikit pun berkedip.
"Tapi aku tegaskan dari sekarang biar kamu tahu... bahwa aku dan mantanku itu nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kami nggak terikat dalam hubungan kasih atau komitmen apa pun."
Atmosfer di atas rooftop mendadak berubah menjadi kaku dan dingin, seolah aliran angin sore mendadak berhenti bertiup.
"Jadi," lanjut Raisha dengan tatapan mata yang kian menusuk tajam, merobohkan seluruh ilusi kemenangan yang baru saja dibangun Aldo di kepalanya, "
kamu nggak perlu terobsesi lagi padaku cuma karena kamu ngelihat aku bersama pria lain."
Aldo mematung di tempatnya berdiri. Kedua tangannya yang berada di dalam saku celana mengepal pelan. Rasa percaya diri, kebanggaan ego, dan skenario manis yang disusunnya sejak melangkah masuk ke rooftop ini seketika hancur berkeping-keping di udara.
Kata-kata Raisha barusan bukan sekadar penjelasan, melainkan sebuah telanjang bulat dari kebiasaan manipulatif dan kecenderungan psikologis terlarangnya. Aldo merasa ditelanjangi di depan wanita yang tadinya dia anggap sebagai mangsa mudah.
Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti mereka berdua. Hanya ada tatapan tajam Raisha yang terkunci lurus pada ekspresi Aldo yang mendadak mengeras kaku.
"Kupikir ucapanmu tentang aku di rooftop tempo hari hanya sekedar asumsimu aja, bakal hilang dengan aku yang terus mendekatimu, Ra. Tapi ternyata kamu memang tahu alasan ketertarikanku pada wanita karena suatu alasan." Aldo dengan suara yang mendadak dalam dan serak.
Nada menggodanya hilang total, berganti menjadi sebuah nada dingin yang memendam kepatuhan ego yang terancam.
Raisha tidak menjawab ucapan itu. Dia hanya menyunggingkan senyum tipis, senyuman yang penuh akan ketegasan bahwa permainannya telah usai. Raisha menundukkan pandangan sejenak, meneguk minuman dingin dari kalengnya, lalu melangkah melewati Aldo untuk menuju pintu keluar.
Namun, tepat saat bahu Raisha sejajar dengan bahu Aldo, pria itu bertindak di luar kendali logikanya sendiri.
Greb.
Cengkeraman tangan Aldo yang kuat dan hangat mendadak mengunci pergelangan tangan Raisha, menahannya untuk melangkah pergi.
Raisha menghentikan langkahnya, menoleh perlahan ke arah tangan Aldo yang meremas pergelangan tangannya cukup erat. Ketika Raisha kembali mendongak untuk menatap wajah pria itu, dia tertegun.
Senyum manis atau topeng hangat Aldo telah musnah sepenuhnya. Di hadapannya kini berdiri seorang Aldo dengan raut wajah yang mendingin kelam, rahang yang mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang, dan sepasang mata cokelat yang menatapnya dengan kilatan emosi yang sangat asing bukan lagi kilatan gairah mengejar cewek berpasangan, melainkan sebuah dominasi posesif yang membahayakan.
"Siapa yang bilang ini cuma soal pria itu, Ra?" bisik Aldo di dekat telinga Raisha dengan nada menekan yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Kamu pikir kamu bisa masuk ke dalam hidupku, bikin aku keilangan kendali kayak gini, terus jalan keluar gitu aja cuma karena kamu udah tahu rahasiaku?"
Cengkeraman Aldo di pergelangan tangan Raisha makin menguat, memangkas jarak di antara mereka hingga Raisha bisa merasakan deru napas pria itu yang memburu di udara dingin rooftop.