Sebuah Kisah tentang seorang yang telah di kutuk menjadi Tua sejak lahir. Dimana segala yang melekat dalam dirinya mengandung misteri di balik apa yang membuatnya berbeda...
Siapakah Doris Hart sebenarnya?
Kutukan, Sihir, dan Cinta selalu berkecimpung di dalam Kehidupannya....
Dapatkah Doris hidup dalam keadaan Tua Sejak Lahir?
Baca kisahnya dan ikuti kisahnya sampai season akhir nanti. karena Doris Hart Novel yang akan hadir dalam beberapa Season.
Tinggalkan jejak kalian yang telah membaca kisah ini, dengan cara dukung author melalui Vote, Follow, Like dan Komentar 🥰
update : 2 hari sekali
Happy Reading 💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febby Sadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aivrle
"Entahlah!, yang sampai kini masih aku ingat hanyalah namanya..." dia pejamkan kedua matanya, dan perlahan mengucapkan satu nama.
"Doris...." dan tiba-tiba bersamaan dengan melafalkan nama Doris,
"Aivrle!!!" suara yang tak asing baginya, memanggil namanya. Dia pun membuka mata, "Siapa yang memberi tahu ayah bahwa aku ada di sini?!" pekiknya dalam hati.
Aivrle pun cepat-cepat mengangkat kakinya dari dalam aliran air sungai dan berlari berlawanan dengan pohon-pohon yang seolah berlari menjauhinya juga. Pohon-pohon tinggi menjulang itupun seolah-olah bukanlah pohon, karena kecepatan Aivrle berlari, tapi bagaikan awan lebat yang memenuhi tempat itu. Karena begitu tingginya pohon itu.
Setelah berada tepat di depan ayahnya, tanpa menyisakan napas turun naiknya, dengan sedikit membungkukkan badan. Aivrle memberi hormat.
"Ada apa ayah memanggilku?" tanya Aivrle, setelah berdiri tegap. Dia tatap raut wajah ayahnya yang dari tadi hanya menyunggingkan senyum.
Sambil menatap Aivrle dari bawah sampai ujung rambut, ayahnya pun membuka mulut, "Ternyata kau benar-benar kembali...." ucapnya. Aivrle pun tersenyum, dan perlahan mengangguk.
"Aku juga tidak percaya ini akan terjadi." ucap Aivrle.
"Sekarang, kau bisa ceritakan kapan tepatnya kau terbebas dari sihir itu?" ucap ayahnya, sambil sedikit mengangkat alis.
Aivrle tersenyum, lalu membelakangi ayahnya. Dan perlahan dia mengangguk. "Kalau begitu coba kau ceritakan." pinta ayahnya.
Aivrle berjalan pelan dan mencoba merasakan suasana di saat pertama bertemu dengan Doris. Senyumnya pun mengiringi tiap kata yang kini di ucapkan nya.
"Waktu itu..." dan Aivrle pun menceritakan pertemuan pertama nya beberapa hari yang lalu, tepatnya di hutan Montroseis. Dan yang paling menjadi kenangan baginya, saat Doris berkata, "Berarti kamu ingin aku kau lupakan?" dan saat Doris marah-marah padanya, sedangkan setelah itu dia benar-benar meninggalkan Doris, dan satu kata terakhir yang terdengar jelas di telinganya, "Jangan pergi!!!" teriakan Doris saat dia meninggalkan nya.
Padahal seketika itu pula si gadis kecil yang hadir temani beberapa menit Doris di hutan Montroseis itu telah memendam rasa pada Doris tanpa sepengetahuan nya, rasa yang sering dikatakan cinta.
"Sejak saat itulah.... Doris, seseorang yang begitu tua telah membuat ku jatuh cinta.... " ucap Aivrle, menyudahi ceritanya.
Dan seketika itu pula, senyum ayahnya yang awalnya merekah pun langsung pudar, dan begitu terkejut dengan pernyataan terakhir anaknya.
"Apa?! kau jatuh cinta pada seorang yang sudah begitu tua?! dan siapa namanya?.... Doris?!" ucap ayahnya.
Sedangkan Aivrle, juga terkejut mendengar segala ucapan ayahnya, yang begitu terdengar menghinakan derajat seorang Doris. Dia pun langsung membalikkan badan menoleh pada ayahnya. Kedua matanya menatap tajam pada ayahnya.
"Wahai Raja Aqwe yang begitu terhormat!" ucap Aivrle, sedangkan ayahnya hanya membelalakkan mata, mendengar namanya disebut oleh anaknya sendiri. Karena baru kali ini namanya disebut oleh anaknya tanpa memanggil kata ayah.
Aivrle pun melanjutkan, "Wahai Raja Aqwe yang begitu terhormat! kau boleh semena-mena terhadap seluruh rakyat yang ada di bawah kuasamu!"
Aivrle berhenti sejenak, lalu melanjutkan. Dan kini suaranya sedikit terdengar bernada rendah. "Tapi jangan pernah sekali-kali...."
Dan seketika suaranya menjadi tinggi, "Kau menghina satu orang! apalagi berbuat semena-mena padanya!!!"
Dan terasa tercekat, Aivrle saat mengucapkan, "Doris...." tatapannya begitu tajam dan memancarkan sebuah cahaya amarahnya.
Sedangkan Raja Aqwe hanya mampu terdiam membelalakkan kedua mata di tempatnya berdiri. Dia tak pernah berbuah hal yang sampai membuat anaknya menatapnya tajam, apalagi berteriak di depannya. Dan saat itu juga Aivrle berlari menjauhinya, dengan kembalinya Aivrle pada wujud semula, maka segala kekuatannya pun ikut kembali. Dengan kecepatan Aivrle dalam berlari, dia pun dengan cepat menghilang dari pandangan mata Raja Aqwe.
Dan Raja Aqwe hanya terdiam kaku, membiarkan Aivrle menenangkan diri di tengah hutan Hasburg. Lalu Raja Aqwe pun melangkahkan kaku untuk kembali ke Istana. Memilih untuk menunggu kembalinya Aivrle.
...****************...
tinggal jejak di karyaku juga ya kak