Indonesia
NovelToon NovelToon
Ditolak Selama Lima Tahun

Ditolak Selama Lima Tahun

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Selama lima tahun, Vincent Huang tidak pernah berhenti mengejar Stella Mo.
Namun, Stella selalu menolaknya dan memilih menjaga jarak tanpa pernah menjelaskan alasannya.

Ketika rahasia masa lalu Stella akhirnya terungkap, Vincent harus menghadapi pilihan sulit. Tetap menggenggam tangan wanita yang dicintainya, atau menjauh setelah mengetahui luka yang selama ini Stella sembunyikan.

Apakah cinta Vincent cukup kuat untuk menerima seluruh masa lalu Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

“Sudahlah, kita sudah lama tidak berkumpul. Tidak perlu bertengkar karena masalah ini,” ucap Rico.

Robert masih menatap ke arah pintu dengan wajah kesal.

“Vincent, kenapa kau membelanya? Apa pentingnya wanita itu sampai kau mengancamku?”

Vincent meliriknya sekilas.

“Kau bisa menyentuh wanita mana pun.” Dia berhenti sejenak. “Tapi jangan pernah menyentuh Stella.”

Setelah mengucapkan itu, Vincent berbalik dan meninggalkan ruang karaoke.

Robert hanya bisa melongo.

“Apa dia sudah gila? Demi wanita itu dia berani mengancamku?”

Rico menghela napas.

“Robert, lebih baik jangan cari masalah dengan Stella maupun teman-temannya. Melihat sikap Vincent tadi, sepertinya dia mengenal Stella. Jangan sampai kau benar-benar membuatnya marah.”

***

Sebuah mobil mewah berwarna hitam melaju perlahan mengikuti mobil Stella.

Tak lama kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah gedung apartemen.

Kitty yang masih mabuk dan menangis dipapah oleh Stella dan Rinny.

“Aku ingin membunuh bajingan itu!” gerutu Kitty sambil terisak.

“Sudah, kita masuk dulu,” ujar Stella menenangkan sahabatnya.

Ketiganya berjalan memasuki lobi apartemen.

Dari seberang jalan, Vincent masih memandangi sosok Stella hingga menghilang di balik pintu.

Di dalam mobil, Willy yang duduk di kursi pengemudi akhirnya membuka suara.

“Tuan, Nona Mo sepertinya banyak berubah.”

Vincent tidak mengalihkan pandangannya.

“Bagaimana dia selama enam bulan ini?”

“Setelah Anda pergi ke luar negeri, Nona Mo semakin dikenal sebagai arsitek berbakat. Banyak perusahaan besar ingin bekerja sama dengannya.”

Willy menyerahkan sebuah map kepada Vincent.

“Dan ada satu hal lagi.”

Vincent membuka map itu.

“Proyek kantor pusat Vanguard International Group ternyata ditangani langsung oleh Nona Mo.”

Tatapan Vincent langsung berubah.

“Jadi... desain gedung Vanguard dibuat olehnya?”

“Benar, Tuan.”

Willy tersenyum.

“Semua rancangan yang Anda pilih beberapa hari lalu adalah hasil karya Nona Mo.”

Vincent menatap desain di tangannya cukup lama.

Sudut bibirnya perlahan terangkat.

“Sepertinya... kita akan segera bertemu lagi, Stella.”

“Tuan, kabar kepulangan Anda dan pertunangan dengan Nona Mu sudah tersebar. Saya tidak tahu apakah Nona Mo sudah melihat beritanya atau belum,” ujar Willy.

Vincent tersenyum hambar.

“Kalau dia melihatnya memang kenapa?” tanyanya. “Apa dia akan peduli?”

Vincent memandang keluar jendela.

“Tanpa aku, hidupnya tetap baik-baik saja.”

“Kalau begitu... apakah Anda masih akan mengejar Nona Mo?” tanya Willy hati-hati.

Vincent menggeleng pelan.

“Mengejarnya? Aku sudah melakukan segala cara selama lima tahun. Hasilnya tetap sama.”

Dia menarik napas panjang.

“Lagi pula, aku sudah bertunangan dengan Fanny Mu dan kami akan menikah akhir tahun ini.”

Tatapannya menjadi dingin.

“Mulai sekarang, aku akan fokus pada Fanny.”

Beberapa jam kemudian.

Stella kembali ke apartemennya.

Ia meletakkan tasnya di atas sofa, lalu melepas blazer yang dikenakannya.

Belum sempat beristirahat, ponselnya berdering.

Di layar tertulis satu nama.

Mother.

Tatapan Stella langsung berubah dingin.

“Hallo,” sahutnya datar.

“Stella...” suara ibunya terdengar lirih. “Sudah lama kita tidak bertemu. Mama dirawat di rumah sakit sejak seminggu yang lalu. Besok... bisakah kamu datang?”

“Aku sibuk.”

Jawaban Stella singkat.

“Aku tidak punya waktu.”

“Stella, Mama hanya ingin bertemu denganmu.”

Stella tertawa sinis.

“Ingin bertemu... atau ingin memanfaatkanku lagi?”

Suasana di seberang telepon mendadak hening.

“Jangan berpura-pura peduli di depanku.”

“Stella,” ucap ibunya pelan. “Kalau kamu tidak datang, adikmu akan mencarimu ke perusahaan. Dia sangat keras kepala.”

Ekspresi Stella langsung membeku.

“Dia bukan adikku.”

Tanpa menunggu jawaban, Stella langsung memutuskan panggilannya.

“Lussy... apa lagi yang kau inginkan dariku?” gumam Stella pelan.

“Suamimu dan anakmu sudah memberiku luka paling dalam.”

Stella memejamkan matanya sejenak sebelum menghela napas panjang.

Keesokan harinya.

Stella tiba di Rumah Sakit.

Meski enggan, ia tetap melangkah menuju ruang rawat ibunya.

Di saat yang sama, di koridor sisi lain, Vincent Huang berjalan bersama Willy usai mengunjungi seorang rekan bisnis yang dirawat di rumah sakit tersebut.

Langkah Vincent tiba-tiba terhenti.

Tatapannya tertuju pada sosok wanita yang sangat dikenalnya.

“Kenapa dia bisa di sini?” gumam Vincent.

Willy mengikuti arah pandang tuannya.

“Mungkin Nona Mo datang menjenguk teman atau kerabatnya.”

Vincent tidak menjawab.

Tatapannya tetap mengikuti Stella yang berjalan semakin jauh, seolah ingin mengetahui alasan sebenarnya wanita itu datang ke rumah sakit.

Stella tiba di depan ruang rawat ibunya. Setelah menarik napas pelan, ia mendorong pintu dan melangkah masuk.

“Stella... akhirnya kau datang. Mama tahu kau pasti datang,” ucap Lussy dengan mata berbinar.

“Ada apa memanggilku ke sini?” tanya Stella dingin.

“Stella, Mama tahu di hatimu masih ada Mama.”

Stella tersenyum sinis.

“Salah. Aku datang hanya ingin memastikan... kapan kau akan meninggal.”

Wajah Lussy langsung memucat.

“Stella... kenapa kau berkata seperti itu? Bagaimanapun juga, Mama yang mengandungmu selama sembilan bulan.”

“Lalu kenapa?” balas Stella tanpa ragu. “Kalau aku diberi pilihan, aku lebih memilih tidak pernah dilahirkan. Lussy Jiao, di mataku kau hanyalah seorang ibu yang gagal.”

Air mata Lussy mulai mengalir.

“Mama tahu kejadian itu membuatmu semakin membenci Mama. Tapi Mama akan menebus semuanya.”

“Menebus?”

Stella tertawa pelan.

“Dengan cara apa? Luka yang kau berikan tidak akan pernah sembuh. Sekalipun kau menebusnya dengan nyawamu, rasa sakit itu akan tetap ada.”

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka.

“Kak, kenapa harus bicara seperti itu kepada Mama?”

Seorang pemuda masuk dengan wajah cemas.

Stella meliriknya sekilas.

“Anak kesayanganmu sudah datang. Aku harus pergi.”

“Kak, sudah sepuluh tahun kamu tidak pulang. Kenapa tidak bisa bersikap lebih lembut? Apa Kakak tidak tahu Mama selalu merindukanmu?” ujar Jason.

“Merindukanku?” Stella tersenyum dingin.

“Yang dia rasakan bukan rindu, melainkan penyesalan. Dan aku ingin dia menyesal seumur hidupnya.”

Jason mengepalkan tangan.

“Sudah sepuluh tahun berlalu. Apa itu masih belum cukup membuat Mama menderita?”

“Belum.”

Tatapan Stella dipenuhi kebencian.

“Karena luka yang kutanggung akan kubawa sampai mati. Jason Xu, kau tidak berhak menghakimiku. Kau, Lussy, dan ayahmu... sama-sama menjijikkan.”

Tanpa menoleh lagi, Stella berbalik dan keluar dari ruang rawat.

Baru beberapa langkah di koridor, seorang dokter menghentikannya.

“Nona, Anda putri pasien, bukan? Kondisi jantung beliau semakin lemah. Pasien harus menjalani perawatan rutin dan tidak boleh mengalami tekanan emosional.”

Stella menatap dokter itu tanpa ekspresi.

“Maaf, Dokter. Saya bukan anaknya. Jadi, Anda tidak perlu menjelaskan kondisinya kepada saya.”

Setelah mengucapkan itu, Stella langsung pergi.

“Hei, Stella Mo!” seru Jason sambil mengejarnya. “Kau tidak bisa bersikap seperti ini!”

Di ujung koridor, Vincent Huang dan Willy menyaksikan semua kejadian itu.

“Sepertinya hubungan Nona Mo dengan keluarganya memang sangat buruk,” gumam Willy.

Vincent menggeleng pelan.

“Aku mengenal Stella. Dia wanita yang lembut. Dia sering menyumbang ke panti asuhan dan panti jompo tanpa diketahui siapa pun. Kalau sampai membenci keluarganya seperti ini... pasti ada sesuatu yang sangat besar telah terjadi.”

Vincent terdiam sejenak.

“Sepuluh tahun lalu... apa yang sebenarnya terjadi?”

Willy menatap tuannya.

“Bagaimana kalau saya menyelidikinya diam-diam?”

Tatapan Vincent berubah tajam.

“Cari tahu semuanya. Jangan sampai ada satu pun yang terlewat.”

1
Dian Fitriana
update kelanjutan mnjelang pernikahan ny thor
Dian Fitriana
terima y ...persatukan mereka y thor buat akhir ceritanya Stella dn Vincent bersatu dn bahagia
Kinara Widya
terimalah Stella...Vincent tulus mencintaimu
Kinara Widya
emang sdh d rencanakan sama Vincent sepertinya
Dian Fitriana
update
Maria Mariati
pasti stela mau menerima dirimu Vincent, hanya saja butuh waktu, karena trauma itu masih sakitt di hati stela
Kinara Widya
Frank yg perkosa stella
Dian Fitriana
double up thor...SDH lama nich nunggu up ny
Kinara Widya
lanjut...makin seru
Dian Fitriana
update
Kinara Widya
bagus kak
Kinara Widya
ada Vincent yg akan membantu Stella diam2..
Maria Mariati
yakin Steve lu, penasaran gimana nasib nya nantii, bodo
Dian Fitriana
double up donk thor
Dian Fitriana
update lg
Dian Fitriana
update
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
gilaaa steve manfaatin stella, ohh tidak bisa
Kinara Widya
apa yg akan d lakukan stella
Dian Fitriana
update
Dian Fitriana
kpn thor update ny
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!