Indonesia
NovelToon NovelToon
Tak Seindah Mawar

Tak Seindah Mawar

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Tamat
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Widyastutik

menjadi korban pemerkosaan oleh ayah kandungnya sendiri membuat Laras trauma pada laki-laki. dia sengaja melarikan diri dari Ayah kandungnya. dia dan adiknya berpura-pura menjadi pengamen jalanan. hingga satu keluarga memutuskan ingin mengadopsi mereka berdua.

tapi takdir akhirnya membuat Laras dan Joe adiknya harus kembali bertemu dengan Ayah kandungnya. karena keluarga angkatnya menjadi besan Ayah kandungnya sendiri.

" Menceritakan masa laluku seperti tengah menelanjangi diriku sendiri. Aku ingin hanya aku dan Allah yang tahu tentang apa yang terjadi di masa lalu, terlebih saat pelakunya sudah tidak mengingatnya lagi. " batin Laras.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Widyastutik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

marah

Makan malam telah selesai satu jam yang lalu. Keluarga itu tengah berkumpul di ruang keluarga saat Ruly masuk dengan wajah merah pertanda sedang marah. Lalu ikut bergabung dengan mereka, dengan gelisah dia mencoba menenangkan amarahnya.

Flashback ON

Drrrttt, , drrrrtttt,,,,

Ruly menatap ponselnya, ada desiran senang di hatinya saat melihat nama Prita di layar ponselnya. Tapi masih ragu untuk mengangkat panggilan itu. Dia masih takut untuk berbicara dengan Prita. Pasti ujung-ujungnya dia yang akan emosi bila membahas tentang papa Prita.

" Halo, Mas ? " sapa suara ayu di seberang sana saat Ruly memutuskan mengangkatnya.

" I,,iya. Ada apa, Prita. "

" To the point sekali sih Mas. Gak kangen sama aku ? "

" Kamu tau sikonku gimana sekarang ini, Prita. "

Prita terdiam.

" Apa kita bisa egois sekali ini aja, Mas ?"

" Maksud kamu ?"

" Aku sayang sama kami, Mas. Dan aku yakin perasaan kamu pun juga sama kan, Mas."

" Kamu tau betul tentang itu, Prita. Lalu apa maksud kamu? Egois ? Egois gimana?"

" Bisakah kita melanjutkan pertunangan kita, Mas ? Kita udah merencanakan ini sedari awal kita menjalin hubungan Mas. "

Ruly menghela nafas sejenak. " Iya aku tahu. "

" Karena itu Mas. Apa kita gak segera merealisasikan rencana kita itu ? "

" Prita, mengertilah posisiku. Aku masih khawatir dengan kondisi Laras. kamu tau sendiri trauma itu,, "

Kalimat Ruly menggantung. Dia kembali menghela nafas panjang. Yah,, ujung-ujungnya pasti akan membahas Laras dan Papa Prita.

" Aku tau tentang kondisi Laras Mas. Aku juga masih belum bisa memaafkan Papa sepenuhnya. "

" Kamu bisa ngomong seperti itu meski bukan kamu korbannya. Lalu gimana dengan Laras ,Prita. Aku gak sanggup lihat kesakitannya karena trauma itu. Aku mohon beri aku waktu lagi untuk berfikir. "

" Laras lagi,, Laras lagi,, Mas,, ini tentang kita. Kelanjutan tentang hubungan kita. Bukan hanya tentang Laras. "

" Iya aku sadar itu. Tapi aku juga gak mau munafik. Setiap melihat Om Pratama, rasanya aku ingin sekali menghajar ataupun sekedar menamparnya sebagai seorang Kakak Laras. "

Prita terdiam lama.

Membuat Ruly tersadar. Dia kelewatan kali ini. Inilah juga alasannya, Ruly tidak mau telpon apalagi bertemu dengan Prita. Pasti hanya akan emosi, apaalgi melihat kondisi Laras beberapa hari lalu.

" Maafkan aku Prita. Aku emosi. "

" Aku iri sama Laras, Mas. "

" Maksud kamu ?"

" Semua orang khawatir padanya. Kamu, Joe, Azka dan juga Mei. Semuanya sayang padanya. "

" Karena mereka semua saudaraku, Prita. "

" Tapi,, ini juga atas permintaan Laras, Mas."

" Laras ?"

Ruly mengepalkan tangannya. Yah,, dia memang sudah curiga kenapa Laras tak mau di ajak pulang. Majalah Bintang hanyalah alasannya saja.

" Laras memintaku untuk melanjutkan pertunangan kita yang sempet tertunda karena kejadian kemarin Mas. Bahkan Laras pun juga bilang akan memaafkan Papa. Kalau kita mau melanjutkan pertunangan kita."

" Laras bilang seperti itu ? Apa kamu yakin ?"

" Apa ?! Laras akhirnya mau memaafkan Papa, Prita."

" Papa,,, !!"

Tuuuutt... Tuuuuttt...

telpon di matikan Prita sepihak dari sana. Suara terakhir memang terdengar seperti Om Pratama.

" Larasss,,, apa sih yang ada di pikiran kamu. Aku aja masih gak bisa memaafkan Om Pratama. Kenapa kamu malah segampang itu memaafkannya. " seru Ruly marah seraya memukul setir mobil nenek Mei.

Flashback OFF

Setengah jam yang lalu, Papa Prita telpon. Dan

memberitahukan tentang rencana pertunangannya dengan Prita yang sempat tertunda. Yang menjadi permintaan Prita.

Yah,, atas permintaaan Laras tepatnya. Batin Ruly.

“ Kamu kenapa, Rul? Kenapa wajah kamu seseram itu..?” tanya Ibu melihat ekspresi Ruly yang tak juga berubah.

“ Kenapa kamu lakuin ini, Laras?? Ini yang kamu bilang urusan kamu yang belum selesai itu?!” serunya dengan menatap Laras tajam.

Ditatap seperti itu, Laras hanya bisa menunduk.

Sedang semuanya memandang keduanya bergantian, bingung dengan apa yang telah terjadi.

“ Jawab, Laras!! Kenapa kamu diam saja?!!” hardiknya yang membuat semuanya kaget.

“ Ruly...!!” seru Ibu mengingatkan untuk sabar.

" Sabar, Ruly. Kita bicara baik-baik. Minum dulu. " kata ibu sembari menyodorkan segelas air putih ke arah Ruly.

Ruly menghela nafas, mencoba membuang semua amarahnya. Dia meneguk air putih pemberian Ibunya sampai habis. terasa sedikit mendinginkan otaknya yang panas.

“ Ma... Maafkan aku..!” pinta Laras gugup karena kaget dengan kemarahan Ruly yang tak disangkanya.

“ Sekarang juga kamu jelasin pada mas. Kenapa kamu lakuin ini?” kata Ruly melunak namun masih juga tegas.

“ Ruly.. Laras... Sebenernya ada apa ini? Kenapa kalian jadi berseteru seperti ini? Jelaskan pada kami semua apa yang terjadi.” kata Ibu menenangkan.

Azka hanya mendekap Laras yang nampak gemetaran karena suara hardikan Ruly.

“ Setengah jam yang lalu, Papa Prita telpon Ruly, Bu..”

“ Apa?! Ada perlu apa?”

“ Om Pra... Papa Prita meminta kita untuk datang kerumahnya, membicarakan pertunangan Ruly dengan Prita yang sempat tertunda. Lusa kita diminta datang untuk meresmikannya.”

“ Lho.. Kenapa bisa seperti itu, mas?” tanya Azka tak mengerti.

“ Itu yang ingin mas ketahui dari Laras.”

“ Lalu apa hubungannya dengan mbak Laras, mas?” tanya Joe bingung.

“ Tadi Prita telpon mas, kalo dia dan Laras telah banyak bicara tentang pertunangan itu.”

 “ Mbak...??” panggil Joe meminta penjelasan.

Laras memandang wajah semua yang ada disana bergantian. Meminta pengertian mereka.

“ Aku.. aku gak mau lihat mas Ruly sedih lagi. Aku tahu selama ini mas hanya berpura-pura bisa menerima ini semua. Aku tahu mas berusaha menutupinya dari kami semua. Aku gak tahan melihatnya... aku sedih lihat mas yang gak seceria dulu.”

Ruly menghela nafas. Kemudian menunduk sejenak, tidak menyangka peraasaanya akan bisa tertebak oleh Laras.

“ Lalu apa yang telah kamu lakukan, nak? Apa kamu kerumah Prita?”

“ Gak mungkin, Bu. Aku... sampai saat ini masih belum bisa memaafkannya..”

“ Karena itu mas gak bisa melanjutkan pertunangan ini, Laras.” ujar Ruly lirih.

“ Justru karena itu, mas... aku bicara dengan mbak Prita.”

“ Maksud kamu apa, Ras?” kini Azka yang sedari tadi diam pun ikut bicara.

“ Aku ingin mas Ruly bahagia. Udah waktunya mas Ruly memikirkan diri mas sendiri. Dan aku gak mau menjadi penghalang kebahagiaan mas. Udah cukup rasanya Laras menerima kebaikan mas dan keluarga mas.. aku mohon mas. ”

“ Laras... Mengertilah.. Mas sayang sama kamu dan Joe. Mas gak mungkin bisa hidup berdampingan dengan orang yang justru punya andil besar dalam penderitaan kamu dan Joe meskipun itu hanya masa lalu kalian. ”

“ Aku ngerti mas pasti berfikir seperti itu. Mas .. tapi tolong sekali lagi, aku gak mau jadi penghalang kebahagiaan mas Ruly..”

Ruly terdiam, gak mampu bicara lagi. Antara kecewa dengan sikap Laras pun juga senang ada setitik harapan untuk bisa mendapatkan cintanya kembali.

“ Mas.. Aku akan berusaha untuk memaafkan dia kalo itu yang mas risaukan.”

“ Mbak...!!!” hardik Joe tak terima.

“ Laras.. kamu gak perlu seperti itu. Aku masih bisa melindungi keluargaku.”

“ Aku percaya mas bisa melakukannya. Tapi kalo mas masih juga gak mau melakukannya. Aku terpaksa pun harus pergi dari keluarga mas !”

“ Laras...?!!” seru Ibu dan Azka berbarengan.

Azka makin mendekap Laras seolah takut Laras benar-benar akan melakukannya.

“ Jangan, Ras...!” pintanya sedih.

“ Aku mohon, mas..!” pinta Laras memelas.

Ruly semakin hanyut dalam keharuan. Dia menunduk, menghela nafas berat terasa didadanya.

“ Mas.. Laras benar. Mas udah waktunya memikirkan diri mas sendiri. Aku tahu apa yang dikatakan Laras tadi emang benar. Aku pun juga bisa merasakannya, begitu pun dengan mbak Prita. Dia pun juga tersiksa dengan situasi ini. Lakukanlah, mas. ”

kini Azka yang mencoba membujuk Ruly yang tengah bimbang.

“ Ibu.. Apa yang harus aku lakukan?”

“ Ibu gak tahu harus bagaimana. Kenyataannya adik-adik kamu telah dewasa. Dan apa yang mereka ucapkan memang tak ada salahnya. Selama ini kamu selalu memikirkan kami, gak pernah punya waktu untuk memikirkan dirimu sendiri. Sekarang adik kamu dengan ikhlas membukakan jalan itu untuk kamu. Cobalah hargai pengorbanan adik-adik kamu, Rul. Temuilah orang tua Prita, katakan pada mereka kita akan datang besok malam.”

Mendengar petuah Ibu yang bijak, Laras dan Azka tak mampu lagi berkata. Mereka hanya menangis seraya memandang Ruly untuk segera mengambil keputusan.

" Joe. Gimana menurut kamu. Apa yang harus Mas lakuin ? "

Joe menatap Ruly dan Laras bergantian. Kemudian hanya menunduk. seolah tengah dilema.

Yah, Mas Ruly sudah banyak berkorban selama ini. Kasih sayang yang dia berikan padanya dan juga Laras. Tidak pernah pilih kasih. Apa yang di kasih ke Azka. Dia dan Laras pun juga akan memilikinya.

Joe mendongak saat ada tangan yang tengah menggenggamnya erat. Ada senyum getir milik Laras disana. laras hanya mengangguk mengiyakan.

" Aku terserah Mas aja. "

" Joe. kamu tau bukan jawaban seperti ittu yang ingin mas dengar. Gimanapun juga. Kamu pasti juga merasakan apa yang Mas rasakan sekarang. Meskipun Mas sadar. Mungkin apa yang aku rasakan gak lebih besar dari yang kamu rasakan. "

Joe kembali menunduk karena dilemanya seolah tertebak oleh mas Ruly.

" Udah waktuny Mas mikirin kebahagiaan Mas. Seperti yang Mas bilang dulu. Aku siap jadi pengganti Mas di rumah. Aku akan berusaha melindungi keluarga kita. " jawab Joe mantap.

Ruly segera memeluk Ibunya ketika dia mulai yakin dengan keputusan terbaik yang akan dia lakukan.

“ Baiklah, Bu... aku akan menemui mereka. Kita akan kesana besok malam.”

Spontan Azka dan Laras saling berpelukan senang. Joe pun ikut tersenyum bahagia.

" Semoga ini jalan yang terbaik untuk kita semua. "

Sedang di rumah Prita. Papa tak hentinya tersenyum saat mendengar Laras yang sudah mau memaafkannya. Prita melihatnya tak sampai hati untuk meralat apa yang di dengar Papanya tadi.

" Laras hanya bilang akan Pa,, bukan langsung memaafkan Papa. " gumamnya lirih.

" Ehm.. Kamu nhomong apa Prita. Papa gak dnegar. "

" Aku gak bilang apa-apa Pa. " jawab Prita asal.

" Baiklah kalau gitu. Papa mau kekamar. Mau bilang ke Mama tentang kabar ini. Sekalian bilang kalo keluarga Ruly akan makan malam bersama kita besok. "

Prita hanya tersenyum simpul sembari mengangguk.

" Maafkan aku. Laras. Aku gak sampai hati merusak kebahagiaan Papa. "

Prita merebahkan tubuhnya diaatas pembaringan. Air mata dnegan derasnya mengalir. Hingga membuat dia kecapekan dan tertidur.

1
Sugi Yanto
Buruk
Zaujatie: terima kasih 🙏
total 1 replies
Surya Hermawan
Luar biasa
Zaujatie
baguss. ikut nangis
sari. trg
Jadi ingin ikut nangis.
Zaujatie: alhamdulillah kalo emosinya sampe ke yang baca 😁. terima kasih Kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!