Ini adalah kisah balas dendam seorang kakak yang kehilangan adik perempuannya. Semuanya berawal dari kematian seorang gadis kecil berusia tujuh tahun yang bunuh diri karena depresi. Kematian gadis kecil itu menghancurkan hati keluarganya. Ibu dan ayahnya menyalahkan diri atas kematian putri bungsu mereka, sedangkan kakaknya diam-diam menyimpan kesedihan dan rasa penyesalan yang dalam jauh di lubuk hatinya. Emosi itu perlahan menuntun sang kakak menuju jalan kebencian tanpa dasar yang perlahan mengubahnya menjadi iblis.
Kisah ini dimulai setelah sang kakak mencapai usia tujuh belas tahun dan mulai merencanakan balas dendam mengerikan terhadap pelaku yang menyebabkan adiknya meninggal.
....
"This time I won't let you down, Feline."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hellionalex Ryn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Extra 1: Felice & Feline
Di Rumah Sakit.
Seorang wanita berbaring pucat di ranjang rumah sakit. Di sampingnya duduk seorang pria berjas yang menggendong dua bungkusan bayi di masing-masing lengannya.
"Mereka adalah anak yang sangat cantik, terima kasih, Sayang."
Wanita itu tersenyum ketika menerima kecupan lembut di dahinya. Kedua bungkusan bayi kecil itu diletakkan dengan lembut di samping ibu mereka.
Sang suami menatap sayang kedua anaknya sebelum berkata, "Sudahkah kamu memikirkan nama anak kita?"
Wanita itu tersenyum lembut dan berujar pelan, "Felice dan Feline. Kuharap mereka berdua akan tumbuh menjadi gadis yang ceria, bijaksana, selalu mendukung satu sama lain, menghormati kedua orang tuanya, dan hidup mereka selalu berjalan dengan mulus dan harmonis. Bagaimana?"
"Nama yang indah, harapan yang indah. Sayang, mereka pasti sangat menyukainya. Lihatlah, bayi kecil kita tersenyum," ungkap sang suami saat melihat kedua bayinya membuka mata dan tertawa dengan gigi yang masih ompong.
Pasangan ayah dan ibu itu tersenyum penuh kasih memeluk kehadiran anggota keluarga baru yang menambah kekosongan di keluarga mereka. Suasana hangat membingkai foto harmonis keluarga mereka.
......................
"Kakak~"
Seorang anak berusia tiga tahun berlari menghampiri anak lainnya sambil mengangkat buku bergambar di tangan kirinya. Sang kakak tersenyum menyambut lemparan adiknya dengan pandangan berbinar.
"Feline, Mama sama Papa kan sudah bilang jangan lari-lari!"
Feline menggosok wajahnya di bahu kakaknya dengan gembira dan berujar nakal, "Tapi Mama sama Papa kan ga ada di rumah."
Felice menanggapi adiknya dengan ekspresi cemberut dan menyentil dahi Feline.
"Nakal~"
Feline menutupi dahinya dengan senyuman lebar kemudian menarik kakaknya untuk duduk di karpet ruang tamu, sebelum meletakkan buku bergambar di pangkuan Felice.
"Kakak, Feline mau dengar cerita!"
Felice tersenyum geli dan mulai membuka halaman pertama.
"Suatu hari, hiduplah seorang peri musim semi di hutan..."
Di tengah ruang tamu yang luas, kedua gadis kecil itu berkumpul bersama dalam suasana polos yang menyentuh hati. Sinar matahari sore yang menembus jendela, menambah secercah kehangatan pada kedua peri mungil itu.
Tiba-tiba suara pintu terbuka menarik perhatian kedua gadis kecil itu dari buku. Mereka meninggalkan buku itu dan segera menuju pintu, terutama Feline. Gadis kecil itu dengan riang berlari ke pelukan ibunya. Di belakangnya, tampak Felice yang merenggut karena adiknya mengabaikan peringatannya untuk tidak berlarian.
Sebuah telapak tangan besar yang hangat bersarang di puncak kepala Felice. Ekspresi cemberut gadis kecil itu langsung melembut dan dia menatap ayahnya dengan tatapan berbinar.
"Kakak kecil kita menjaga adiknya dengan baik di rumah kan?"
Felice memegang tangan ayahnya yang membelai sayang rambutnya dan dengan senyuman cerah menjawab, "Tentu saja! Felice kan kakak yang baik!"
Pasangan ayah dan ibu itu terhibur dengan perilaku lucu putri kecil mereka.
......................
Seorang gadis kecil berusia 7 tahun mengenakan gaun merah muda bermotif bunga dengan gembira memakai tas beruang sambil menyenandungkan sebuah lagu. Feline berputar di depan cermin dan terkikik senang.
Hari ini keluarga mereka akan keluar untuk piknik. Jarang-jarang orang tua mereka bisa meluangkan waktu untuk membawa mereka keluar.
Feline berlari menuju kamar Felice dan menggedor-gedor pintu dengan keras, "Kakak! Papa sama Mama sudah mau pulang loh! Kakak sudah siap-siap?"
Pintu terbuka dari dalam dan memperlihatkan Felice yang masih memakai baju tidur. Sang kakak menatap adiknya dengan ekspresi mengantuk, "Feline, ini baru jam 9 pagi...Waktu perginya kan jam 11."
Feline mengerucutkan bibirnya dan masuk ke kamar kakaknya sambil bergumam, "Kakak ini benar-benar malas..."
Felice menatap sekilas adiknya yang bersemangat tinggi membongkar lemari pakaiannya sebelum kembali ke tempat tidur.
"Kakak kamu mau pakai gaun atau celana?"
Tidak ada jawaban. Feline berbalik dan melihat sang kakak kembali terkapar di tempat tidur.
"Kakak!"
"..."
Feline menghela nafas berlebihan seperti orang dewasa sebelum menggeleng-gelengkan kepalanya seperti yang suka dilakukan ayah mereka. Dia melanjutkan memilih pakaian untuk kakaknya, dalam hati Feline mengeluh dengan kemalasan Felice. Padahal ini kan momen yang langka... Kapan lagi mereka bisa membujuk orang tua mereka untuk keluar bersama.
Setelah memilih-milih di antara setumpuk pakaian, Feline mengeluarkan sebuah dress biru muda dengan pola kupu-kupu. Dia menyiapkan semua barang-barang Felice sebelum berlari ke kasur kakaknya.
Gadis kecil itu dengan cekatan memanjat ke atas kasur dan menarik kakaknya keluar dari mimpi dengan goyangan kencang.
"Kakak, ayo bangun. Aku sudah menyiapkan semua barang-barang kakak. Kakak tinggal mandi dan ganti pakaian saja!"
Felice akhirnya dibangunkan secara paksa dan didorong ke kamar mandi. Saat dia sudah selesai bersiap, Feline menariknya turun ke ruang tamu dengan antusias.
Mereka menunggu hingga akhirnya pukul 11 tiba.
"Mungkin Papa dan Mama lagi di perjalanan," ujar Feline berusaha meyakinkan. Ayah dan Ibu mereka adalah tipe orang yang tepat waktu. Jika mereka berjanji akan pulang jam 11, maka mereka akan tiba paling lama 10 menit sebelum waktu yang dijanjikan.
Dalam hati Felice sudah mulai ragu. Dibandingkan dengan Feline yang berharap lebih, dia sudah lama menyadari kalau orang tuanya mulai acuh tak acuh terhadap keluarga dan lebih mementingkan karir. Entah sejak kapan dimulai, tapi ada suatu malam dimana dia ingin ke dapur untuk cemilan dan melihat kedua orang tuanya berdebat dengan suara pelan di ruang tamu. Saat itu sudah jam 10 malam dan kedua orang tuanya terlihat baru pulang kerja.
Dari lantai atas, Felice mengintip kedua orang tuanya dan tidak bisa melihat suasana hangat dalam ingatannya. Dia tidak bisa mendengar percakapan mereka dan dia juga tidak ingin ketahuan menguping jadi Felice dengan sunyi menyelip kembali ke kamarnya. Keesokan paginya, Felice diam-diam mengamati kedua orang tuanya dan tidak mendapati suasana sengit seperti malam sebelumnya. Ibunya menyiapkan mereka sarapan dengan senyuman biasa dan ayahnya membaca koran dengan tenang, semuanya sama seperti biasanya. Keraguan yang ingin ditanyakan Felice berakhir ditelannya kembali.
Saat itu Felice akhirnya sadar kalau suasana harmonis di keluarga mereka sudah tidak sehangat dulu. Meskipun ibu dan ayah mereka terlihat rukun dan selalu menyayangi mereka, tetapi waktu yang dihabiskan di rumah semakin berkurang dengan dalih pekerjaan.
11.05...
11.14...
11.22...
Ekspresi ceria Feline semakin lama semakin redup, semangat tinggi sebelumnya perlahan padam. Felice yakin kalau orang tua mereka pasti tidak bisa pulang dan piknik mereka akan dibatalkan. Dia menatap wajah Feline yang semakin buruk dan dengan pelan menghibur adiknya, "Mungkin Papa dan Mama terjebak macet di tengah jalan, jam-jam sekarang kan jalanan sangat macet."
Kata-kata itu mendapatkan senyuman tidak yakin dari Feline, "Mungkin..."
Telepon rumah yang berdering keras langsung menarik perhatian kedua gadis kecil itu.
Feline mengangkat telepon itu, "Halo..."
"Halo Feline, ini Papa. Maaf Sayang, Papa dan Mama tidak bisa pulang sekarang. Pekerjaan Papa belum selesai di kantor dan Mama juga tiba-tiba ada kedatangan pasien darurat. Jadi untuk hari ini pikniknya batal dulu ya, Sayang. Nanti kapan-kapan kalau Papa sama Mama tidak sibuk, kami pasti akan mengajak kalian pergi piknik."
Ekspresi Feline berubah seketika. Kekecewaan yang jelas, terlihat di wajah kecilnya. Matanya perlahan mulai memerah, tetapi Feline menahan perasaan sedihnya dan dengan suara ceria dia berseru, "Oh! Gitu ya... Ga papa, Pa. Yang penting Papa sama Mama jangan terlalu lelah ya."
Setelah telepon dimatikan, air mata yang ditahannya akhirnya jatuh. Felice yang melihat adiknya menangis langsung menjadi panik. Dia menghapus air mata adiknya dengan kedua tangan kecilnya dan membujuk, "Jangan sedih Feline. Tidak apa-apa, lain kali kita baru pergi piknik bersama ya. Jangan menangis lagi, nanti wajah Feline jadi jelek loh!"
Feline memeluk kakaknya dengan erat dan tangisannya semakin keras. Kedua gadis kecil itu mempertahankan posisi berpelukan selama beberapa waktu hingga Feline akhirnya lebih tenang. Dia melepas pelukannya dan menggosok matanya, "Maaf Kak, baju Kakak jadi basah. Aku hanya sedih karena teman-teman lain di sekolah sering jalan-jalan dengan keluarga mereka, tapi Papa sama Mama selalu sibuk dan pulang sampai malam. Dulu kita selalu jalan-jalan bersama, tetapi sekarang tidak lagi. Teman-temanku bilang Papa dan Mama tidak terlalu sayang sama kita lagi!"
Felice membeku. Ternyata Feline cukup peka...
"Feline, kamu cerita ke teman-teman kamu soal Papa dan Mama?"
"Aku hanya menceritakannya pada beberapa teman."
Felice menatap mata Feline yang masih bengkak dan menuntun adiknya ke kamarnya. Setelah sampai di kamarnya, Felice membongkar lemarinya dan mengeluarkan dua buku diary berwarna baby blue dan baby pink. Dia menyerahkan diary berwarna baby pink pada Feline dan tersenyum, "Masih ingat sama buku ini?"
Feline mengambil diary itu dan mengarahkan tatapan heran pada kakaknya, "Kak, ini kan hadiah ulang tahun Mama dan Papa saat kami berusia 5 tahun. Kok diary nya bisa sama Kakak?"
"Waktu itu kamu yang menyimpannya di tempatku dan kemudian melupakannya."
Felice menarik adiknya untuk duduk di kasur sebelum membuka buku diary nya sendiri yang di dalamnya terselip foto-foto keluarga mereka dan catatan tentang peristiwa-peristiwa bahagia. Dia mengeluarkan foto-foto itu dan memperlihatkannya pada Feline.
"Feline, coba kamu lihat semua kenangan ini. Kamu tahu siapa yang mencetak dan menghiasnya? Ini Mama."
"Mungkin Papa dan Mama sekarang tidak terlalu memperhatikan kita karena sibuk, tapi mereka pastinya menyayangi kita. Mereka selalu ada bersama kita di semua momen-momen bahagia kita. Papa selalu sibuk dengan pekerjaan di kantor, tapi Papa terkadang sempat membelikan kita cemilan dan mengantar kita pulang dari sekolah. Mama juga selalu sibuk dengan pasien-pasiennya dan harus pergi bekerja pagi-pagi, tapi Mama selalu sempat membuatkan kita sarapan yang enak."
"Jadi Feline, jangan pernah berpikir kalau Mama sama Papa tidak menyayangi kita lagi."
Feline kembali menangis, tetapi kali ini dia menangis dengan senyuman.
"Kakak benar! Papa dan Mama selalu mencintai kita! Mereka bekerja kan juga untuk kita, jadi aku seharusnya tidak menyalahkan mereka."
Sang kakak mengangguk dan membelai kepala adiknya. Karena tidak jadi pergi, mereka berganti pakaian dan menonton televisi. Tidak lama kemudian, bel berbunyi dan yang datang ternyata asisten ayah mereka yang mengirimkan sekotak kue dengan senyuman.
Perasaan sedih Feline yang tersisa benar-benar terhapus dengan sekotak kue yang dipesan atas nama ayah dan ibu mereka.
Kakak benar, Mama dan Papa memang selalu menyayangi kita.
......................
Dua orang gadis kecil sedang duduk manis di bawah pohon besar di suatu taman yang penuh dengan hamparan bunga.
"Kakak, menurutmu apakah Mama sama Papa masih mengingat kalau hari ini adalah hari ulang tahun kita?"
"Feline..."
"Aku tahu mereka sibuk. Tapi...mereka tidak mengucapkan selamat ulang tahun pada kita tadi pagi. Papa dan Mama juga kelihatan lelah, tapi tetap saja..."
Felice menatap adiknya yang merajuk. Dia berdiri dan sebelum pergi, dia mengingatkan Feline untuk tidak kemana-mana.
Feline menatap bingung dengan kepergian kakaknya, tapi dia tetap patuh di tempatnya seperti yang disuruh.
Tidak lama kemudian, Felice kembali dengan dua permen kapas besar. Melihat keberadaan dua bola besar seperti awan di tangan kakaknya, mata Feline langsung berbinar terang.
Gulali!
"Terima kasih, Kak!" ujar Feline sebelum mencium pipi kakaknya dan mengambil satu tangkai permen kapas dengan bahagia.
Felice puas ketika melihat ekspresi cemberut adiknya pergi. Dia akan memastikan matahari kecilnya selalu tersenyum cerah tanpa beban.
......................
Suara rintikan hujan dan teriakan yang berseling menembus telinganya dan secara paksa menggetarkan otaknya. Saat ini dia berdiri di tengah kerumupan dengan gaun hitam dan payung hitam. Semua yang ada di sini semuanya sama sepertinya, berpakaian hitam.
Mengapa...
Bisikan-bisikan yang masuk ke telinganya memperkuat fakta yang sedang dihadapinya sekarang.
Mengapa...
Di depannya ada batu nisan dengan foto Feline yang tersenyum.
Mengapa... Bagaimana bisa?
Jelas-jelas matahari kecilnya sedang bersekolah. Jadi mengapa sekarang semua orang mengatakan kalau adiknya ada di depannya? Mengapa orang tuanya yang selalu tenang dan sibuk dengan pekerjaan sekarang saling menjerit histeris seperti kerasukan? Ini sangat tidak sopan, Papa dan Mama selalu membenci tindakan tidak sopan seperti itu di depan umum, jadi mengapa mereka melakukannya sekarang?
"Anak itu benar-benar malang. Padahal usianya baru sepuluh tahun."
Anak? Siapa yang mereka sebut?
"Keluarga ini juga sangat kasihan. Kedua orang tua gadis kecil itu pasti merasa sangat sedih sampai bertengkar histeris seperti itu."
"Heh...Kalau dipikir-pikir, keluarga mereka juga bermasalah. Kudengar gadis kecil itu bunuh diri karena depresi. Masa anak usia sepuluh tahun bisa depresi? Kalau pun memang depresi, masa orang tuanya ga bisa melihat tanda-tanda kalau anaknya sedang bermasalah? Jelas-jelas mereka sebagai orang tua tidak becus menjaga anak."
Apa? Apa-apaan ini. Kenapa semua orang terus terang menjelek-jelekkan Papa dan Mama? Sangat tidak sopan! Terlebih lagi siapa yang mereka sebut depresi?
"Hush....Jangan sembarangan bicara."
"Tapi kata-katanya ga salah juga. Kudengar ibu gadis itu seorang psikiater, masa ga bisa melihat kalau anaknya sedang depresi?"
Felice membeku. Kilasan ingatan yang dialaminya beberapa hari ini kembali diputar di benaknya.
Feline...
"Daripada membahas apakah orang tuanya becus menjaga anak atau tidak, bukankah menurut kalian gadis kecil itu sedikit menakutkan? Kata keponakanku hubungan kakak beradik itu sangat dekat, tapi coba kalian lihat gadis itu. Jangankan menangis, dia bahkan tidak terlihat sedih sama sekali seolah-olah yang di depannya itu bukan makam adiknya."
"Iya ya, ayah dan ibu mereka menangis histeris sekali, tapi gadis itu sama sekali tidak ada reaksi seperti boneka."
"Ih...ngeri...Jangan lihat lagi ah! Bagusan kita pulang saja. Suasana keluarga mereka membuatku tidak nyaman."
Feline... Matahari kecil Kakak...
Batu nisan di depannya memaksanya untuk mengingat kembali kalau Feline sudah meninggal dan sekarang tubuhnya berada di bawah tanah.
Bagaimana bisa...
Depresi... dibully...sekolah... Maaf Pak, Bu, putri Anda... jatuh... bunuh diri...
Mati...
Potongan-potongan informasi menggulung kepala Felice. Berbarengan dengan teriakan histeris orang tuanya, hati Felice disayat-sayat dengan kenyataan kalau adiknya sudah meninggal.
Dibully
Di ujung pikirannya, benih kecurigaan dan kebencian perlahan ditanam. Tidak ada yang menyadari kalau gadis kecil di antara kerumunan ini mulai menumbuhkan iblis yang menyiram benih kebenciannya.
di tunggu up dates nya..
hubungan guru murid ini apa ya?
pelajaran apa yg di dapat mc?
knp mc ke amerika?
itu obat2an apa? mc sakit apa?
something missing out here 🤔
masak Feline menargetkan Felice?