Luna tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan Alkins membawanya pada sebuah rasa yang yang tak pernah pernah ia rasakan sebelumnya.
kehidupannya yang biasa-biasa saja kini berubah bewarna namun satu hal yang tidak pernah dimengerti oleh Luna yaitu perubahan sikap Alkins jika itu menyangkut masa lalu pria itu.
Akankah Luna mengetahui rahasia besar Alkins?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arik Tri Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Menjadi wanita berkelas untuk membalas
Kami tiba di sebuah gedung apartemen yang terletak tak jauh dari pusat kota. Apartemen yang tidak terlal mewah tapi tidak terlalu sederhana. Aku melihat gedung tersebut sebelum mengambil ponsel Alkins yang diletakkan di Dashboard mobil.
Aku memberi dia sebuah pesan bahwa Alkins segera berkunjung dan tidak lama kemudian wanita itu membalasnya. Aku tersenyum kecut saat melihat tidak ada riwayat pesan di sana. Alkins sudah menghapus riwayat pesannya dngan Hana. Alkins bermain sangat rapi.
Kami menaiki lift bersama tanpa suara. Alkins terlihat sangat tertekan sementara aku mencoba untuk bersikap tenang dan elegan.
Sesampai di unitnya, aku memencet bel tidak ada sahutan dari dalam. Kami menunggu beberapa menit sampai aku melihat ke arah Alkins. Pria itu menghela napas sebelum tangannya terulur untuk menekan pin unit tersebut.
Aku tersenyum sarkatis, Alkins mengetahui pin unit Hana. Itu berarti dia sering datang ke sini. Betapa bodohnya diriku selama ini dibohongi oleh Alkins.
Alkins masuk terlebih dulu disusul aku di belakangnya. Aku melihat setiap sudut apartemen itu. Tidak terlalu luas jika dibandingkan apartemen yang aku huni bersama Alkins.
“Alkins, aku buatkan kopi.”
Suara Hana langsung menyambut kami. Wanita itu sedang berada di dapur sepertinya dia tidak mengetahui keberadaanku. Aku melihatnya masih menggunakan handuk kimono. Sepertinya dia baru saja selesai mandi dan bersiap menyambut Alkins.
Aku melihatnya wara-wiri ke sana ke mari tanpa melihat kami sampai pada akhirnya ia terkejut melihatku bersama Alkins. Hana langsung membeku di tempatnya. Wanita itu menatap Alkins sebelum matanya jatuh padaku.
Dia terkesiap kaget. Aku menyaksikannya itu terjadi. Punggungnya terenyak ke lemari es di belakangnya dan dia menatapku tanpa suara.
Aku langsung melangkah untuk menikmati setiap sudut apartemen tersebut sebelum aku duduk di ruang tamu. Aku melihat Hana masuk ke dalam kamarnya, sementara Alkins duduk di sebelahku.
Tak lama kemudian Hana keluar dengan menggunakan baju yang terlihat pantas.
“Apakah kamu ingin minum?” Tanya Hana.
Aku tersenyum dan berkata, “Tidak usah. Duduklah.”
Dia duduk di seberang kami. Aku melihatnya dia sama sekali tidak terintimidasi denganku. Wanita itu selalu mendongak dan menatap Alkins.
“Hana, apa hubunganmu dengan suamiku?”
Aku siap untuk mendengar ucapannya namun sepertinya dia tidak berani menjawab karena dia selalu melihat ke arah Alkins. Aku langsung melihat ke arah Alkins.
“Apa hubungan kalian? Kamu saja yang menjawab,” ucapku pada Alkins. “Aku siap mendengarkan jawaban kalian.”
Hana menghela napas, dia melihat Alkins sekilas sebelum melihatku.
“Kami saling mencintai,” ucapnya dengan percaya diri.
Aku langsung menatap Alkins. Tidak ada penyangkalan dari Alkins yang berarti pria itu membenarkannya.
“Kamu tahu dia sudah beristri?”
“Ya.”
“Kamu tetap menyukainya?” Tanyaku namun dia terdiam.
“Baiklah aku akan mengganti pertanyaanku, kamu pasti sudah mendapatkan hadiah darinya. Bolehkah aku tahu hadiah apa yang diberikannya padamu?”
Hana menjawab dengan lantang dan percaya diri seolah dirinya yang menang atas Alkins. “Tas, sepatu, bunga dan mobil.”
Aku mengangkat wajah dan menatapnya, tidak yakin apakah pendengaran ku benar. “Mobil?”
Hana mengangguk
“Pria ini terlihat sangat dingin dan tidak banyak bicara namun dia sangat perhatian. Kamu sudah pasti lebih mengetahuinya dibanding diriku. Kamu bisa tinggal bersamanya.”
Aku tidak perlu melihat reaksi Alkins terhadapku. Aku terus melihat Hana. Melihat wanita itu, sejenak aku berpikir apakah keputusanku benar. Jika aku merelakan Alkins pergi apakah aku dikatakan menang dari wanita ini atau malah sebaliknya. Aku menjadi wanita kalah yang menyedihkan.
Aku menarik napas panjang dan sudah bertekad. “Aku akan mengajukan surat cerai secepatnya. Salahkan bicara dan buatlah rencana hidup kalian.”
Aku langsung menyambar tasku yang berada di samping dan segera bangkit dan berjalan cepat. Aku sudah sampai di lift dan rupanya Alkins menyusulku. Ia terlihat panik, ia tak sempat menyusulku ke dalam lift karena pintu lift sudah tertutup.
Saat aku keluar dari gedung apartemen itu, terlihat sebuah taksi. Aku langsung menaiki taksi tersebut.
“Jalan, pak.”
Taksi tersebut jalan, dari kaca spion aku melihat bahwa Alkins sedang mengejarku. Aku tidak peduli dengannya. Aku sudah tidak peduli. Aku mengerjap cepat, menahan air mata kemarahan karena sikap Alkins, air mata sakit hati karena sikap Alkins dan air mata kesedihan karena pilihan egois yang kuputuskan untuk diri sendiri.
...…...
Aku langsung memasukkan semua baju-bajuku ke koper. Aku harus pindah dari sini agar kewarasanku terjadi. Aku terlonjak kaget saat pintu kamarku dibuka dengan paksa. Tanpa melihatnya aku sudah tahu pelakunya.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” Tanya Alkins mengamati sedang melipat baju-bajuku.
Aku tidak menjawabnya dan terlalu malas menjawabnya.
“Aku tidak mau bercerai denganmu.”
Alkins mendesah dan segera menarik tanganku. Jemarinya menaut jemariku. “Luna,” panggilnya. “Aku menyesal.”
Aku menatap Alkins, “Untuk apa?”
Aku tidak tahu mengapa aku berpura-pria tidak tahu apa yang dia bicarakan. Karena aku tahu pasti dia bicara tentang apa.
“Untuk semuanya. Ketika Hana bicara bahwa kami saling mencintai, aku menyesal tidak menyangkalnya. Aku kebingungan, aku terlalu takut kehilanganmu.”
Alkins menghela napas panjang sambil berdiri, lalu mondar-mandir di ruang tamu. Aku tetap duduk di tepi ranjang, memperhatikan Alkins yang sedang menghimpun pikirannya. Akhirnya dia berhenti dan duduk di sampingku. Dia memeluk bahuku dan mendekapku di dadanya.
“Aku tidak mau kehilanganmu. Aku tahu aku salah, tolong maafkan aku kali ini. Luna, aku tidak mau berpisah denganmu. Aku mohon.”
Aku bisa merasakan bahwa tubuhnya bergetar. Aku payah, seharusnya aku mendorongnya menjauh tapi nyatanya aku ingin membalas memeluk Alkins dan memberinya satu kesempatan lagi.
Aku membohongi Alkins dan aku membohongi diriku sendiri.
“Sikap berengsekmu membuat hidup kita rumit jika terus bersama. Situasinya semakin berat untuk salah satu dari kita. Kita akhiri hubungan ini selamanya.”
“Aku tidak mau. Kita bisa melewatinya.”
“Aku tidak mau harapan palsu di masa depan. Terutama di lubuk hatimu, kamu menyisakan bagian satu wanita lain di dalamnya.”
Sikap tubuh Alkins tiba-tiba berubah kaku. “Hatiku cuma untukmu. Aku tidak menyisakkan bagian terpenting untuk wanita lain.”
“Lalu Hana?”
“Itu hanya kesalahan.”
“Tidak,” aku menyahut cepat-cepat.
“Itu bukan kesalahan. Kamu melakukannya dengan sadar jadi itu bukan kesalahan.”
“Luna…maafkan aku…”
...…....
Aku berdiri di depan jendela sambil melihat pandangan gedung-gedung pencakar langit di malam hari. Lampu berkilau dengan indah. Sebelah tanganku memegang ponsel. Aku sedang menelepon Sandy dan bertukar keluh kesahku.
“Untuk siapa kamu bercerai? Jika kamu bercerai wanita itu malah diuntungkan.”
“Aku mengambil langkah persis seperti dirimu.”
“Masalah kita tidak sama meski terlihat sama. Aku memilih bercerai karena Samuel sudah tidak mencintaiku dan memilih selingkuhannya sementara dalam kasusmu, Alkins masih mencintaimu dan tidak ingin berpisah denganmu.”
“Jadi haruskah aku bertahan?”
“Bertahan adalah kemenangan.”
“Kepercayaanku sudah hancur.”
Aku langsung membalikkan badanku saat suara bel apartemen berbunyi.
“Aku akan tutup teleponnya dulu. Sepertinya ada tamu.”
“Ya.”
Saat aku baru saja memutus sambungan telepon, pintu apartemen terbuka menampilkan Alkins bersama Hana. Wanita itu berani masuk ke dalam rumahku.