Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengembara Abadi Rute Sang Penulis

Pengembara Abadi Rute Sang Penulis

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Menjadi NPC / Akademi Sihir / Dunia Lain / Elf / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kagi11th

Park Hae Ji, seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Korea, tahu betul bagaimana cara menulis akhir cerita. Tapi dia tidak pernah menyangka akan menjadi tokoh cerita dalam sebuah dunia.

Pertemuannya yang tidak terduga dengan roh pohon di taman kota Seoul seketika mengubah nasibnya. Jiwanya terlempar jauh, merasuki tubuh Elf muda yang sakit-sakitan, dan yang paling parah—hendak dijual sebagai budak di dunia fantasi yang kejam.

Berbekal pengalamannya sebagai penulis pemula dan koleksi puluhan cerita kesukaanya yang pernah dia baca, Park Hae Ji harus berjuang untuk bertahan hidup. Namun, keinginan untuk pulang ke dunia asalnya seketika terbentur tembok tebal. Dunia yang sedang dia tempati tengah menuju kepada kehancurannya.

[Syarat pengaktifan keterampilan khusus telah terpenuhi

[Hak mengubah isi cerita dunia secara acak telah didapatkan!]

[Co Author, apakah anda ingin menggunakannya?]

[Terima/Tolak]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kagi11th, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan di Balik Senyuman

“Ya aku bisa lho, lagipula jiwa kita sudah terikat! Aku merasakan setiap kebencian kecil yang kau sembunyikan di balik senyummu itu!” Tawa kecil yang dingin menghiasi bibir Elise.

Dunia mentalku runtuh mendengarnya. Kontrak Jiwa, Transparansi Mental, dan hal yang mungkin belum kuketahui.

Dari situasi ini aku tahu. Dia mungkin tidak hanya menguras kekuatanku saja, dia mencuri satu-satunya hal yang tersisa padaku. Privasiku Sendiri. Setiap rencana yang baru kubangun, setiap langkah hati-hati yang kupikirkan untuk menemukan kelemahan Elise, kini terbuka di hadapannya.

Apa aku pasrah saja?

Tiga hari untuk Noel dan Lena melarikan diri dari kota ini. Perhitunganku dengan jelas memegang kata kata itu. Aku yakin, para elf bukanlah ras yang seperti manusia. Jadi kuharap mereka sampai disana.

Lebih dari itu, situasiku sangat buruk. Aku bahkan tidak punya privasi pikiran satu detik pun. Kurasa apa yang kupikirkan saat ini juga Elise dengan baik mendengarkan semuanya.

Aku harus membalikkan dominasi ini bagaimanapun caranya. Jika aku mencoba memikirkan rencana, dia akan tahu. Jika aku mencoba memikirkan Noel, dia akan tahu di mana mencarinya.

Aku segera memutus semua pemikiran yang terkait dengan Noel, Lena, atau Kapten Lyra. Aku harus menciptakan kekosongan mental. Aku memaksakan pikiran pada hal-hal yang tidak penting—seperti jumlah ubin di lantai, komposisi makanan di nampan, atau rumus fisika yang paling rumit.

Ini sulit!

“Kau mau bermain teka-teki, Sayang? Menarik. Tapi aku lebih suka kau memikirkan diriku. Pikirkan betapa nyamannya pelukanku semalam.” Suara Elise berdesir, penuh kepuasan.

“Kamu mendengarnya ya?”

“Tentu saja, Elf, Noel, Lena bahkan membalikan dominasi. Sayang, kau harus tahu bahwa itu semua percuma tahu!” Elise tersenyum riang. Wajahnya menunjukkan sebuah kepuasan lain dengan menghancurkan pikiranku.

“Menyerahlah dan jadilah milikku selamanya.”

Aku merasakan resonansi paksa itu lagi. Emosi yang seharusnya menjadi milikku—rasa jijik, kemarahan, keputusasaan—kini diputarbalikkan menjadi rasa tenang yang menjijikkan oleh Kontrak Jiwa.

“Aku... hanya ingin memikirkan bagaimana aku bisa melayanimu lebih baik, Countess,” kataku, memaksakan nada suara yang patuh.

Elise tersenyum, tidak terganggu. “Layanan terbaikmu adalah kepatuhan total, Hae Ji. Tapi karena kau ingin menyulitkan, kita akan bermain. Kau tetaplah di sisiku. Kita akan menghabiskan hari ini di Ruang Baca. Kau bisa membacakan sajak-sajak lama untukku.”

“Baiklah....”

Seperti katanya, sepanjang hari ini kami menghabiskan seluruh hari di Ruang Baca yang mewah. Kulihat sebelumnya Kael menjaga di pintu, tak bergerak. Kurasa dia sudah menargetkan diriku.

Aku terperangkap dalam lingkaran neraka miliknya. Tubuhku secara fisik patuh aku memangkunya, memeluknya, lalu membelai rambutnya seperti yang dia inginkan. Terakhir dalam posisi duduk memangkunya, aku membaca sajak-sajak kuno vampir dengan suara merdu yang dia inginkan.

Sementara itu, di dalam jiwaku, aku memulai pertarungan lainya.

Aku tidak bisa memikirkan perlawanan. Itu terlalu eksplisit. Jadi, aku harus menyerang Kontrak Jiwa itu sendiri dengan cara yang tidak dapat ia sadari.

Aku menggunakan informasi yang sebelumnya dia berikan kepadaku.

Hukum Dunia mengatakan Ras yang lebih tinggi membuahi ras yang lebih rendah. Naga di atas Elf, Elf di atas Demon.

Obsesi Elise saat ini yang kuketahui adalah Dia ingin menciptakan garis keturunan baru melalui Warisan Naga Air-ku.

Aku berasumsi bahwa kelemahan Kontrak Jiwa terletak pada ikatan spiritual dua insan itu, bukan hanya fisik. Ia dapat dipengaruhi oleh keyakinan yang lebih kuat.

Aku mulai memfokuskan pikiranku pada identitas sejatiku—bukan Hae Ji si sebagai manusia di dunia sebelumnya, bukan Hae Ji si Elf yang ditawan oleh penjual budak, tapi Hae Ji sebagai Telur Naga yang Terlantar, pewaris ras tertinggi dunia ini.

Aku membiarkan pengetahuan tentang Warisan Naga Air mengalir, bukan sebagai fakta, melainkan sebagai keyakinan mutlak. Meski aku tak mengetahui bagaimana kekuatan naga itu ku keluarkan tali satu hal yang aku tahu. Darah mereka ada pada tubuh ini.

Aku adalah Naga. Aku adalah ras tertinggi.

Aku terus membaca sajak-sajak itu dengan suara patuh, tetapi di dalam jiwaku, aku membangun gunung kehendak. Kontrak Jiwa Elise dirancang untuk mengikat Elf yang rendah hati, bukan Naga yang arogan. Keyakinan itu adalah racun bagi Kontrak Jiwa-nya.

Aku merasakan sedikit kerutan di dahi Elise.

“Sajak itu begitu indah, Hae Ji. Tapi pikiranku terganggu. Ada resonansi aneh dari jiwamu. Ada semacam... kesombongan? Kau merasa lebih hebat dariku?” Suaranya terdengar penasaran, bukan curiga.

“Sajak-sajak kuno memang membuatku merasa... kuat, sayang. Aku suka membayangkan diriku sekuat mereka,” jawabku, senyum patuhku tidak goyah.

“Sayang, akhirnya kamu memanggilku begitu.”

Bagus. Dia menganggapnya sebagai efek samping dari kepatuhanku. Kulihat juga dia tidak menanggapi pikiranku lagi kali ini.

Akhirnya satu ruang privasi untukku.

Aku meningkatkan fokus. Aku membiarkan Warisan Naga Air walaupun hanya cerita mitos yang ku ketahui di dunia sebelumnya menjadi fondasi jiwaku.

Kontrak Jiwa didirikan atas premis Elise yang Dominan, Hae Ji Tunduk dibuatnya. Jika premis keyakinan itu goyah—jika Kontrak Jiwa percaya bahwa Hae Ji adalah ras yang lebih tinggi—maka dominasi Elise akan melemah.

Entah kenapa aku sedikit bersyukur memasuki jurusan kuliahku dulu.

Malam kembali tiba. Sama seperti sebelumnya, Elise menuntut keintiman seperti malam sebelumnya.

Malam Ini adalah bagian terberat, selain aku sadar membiarkan tubuhku patuh total jatuh pada keinginannya, jiwaku juga dipaksa melawan dengan kerasa dominasi yang ditujukan padaku. Setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap tindakan keintiman yang ia lakukan denganku, mengirimkan gelombang resonansi melalui Kontrak Jiwa.

Elise mencari kepuasan dan dominasi. Dia ingin aku merasakannya bersamanya. Aku membiarkan tubuhku bergerak seperti yang dia inginkan. Namun, jiwaku kini terpisah. Aku tidak lagi memikirkan kembali apakah jalan ini salah, yang kupikirkan saat ini adalah bagaimana air bisa membelah segalanya.

Air yang tak terikat, selalu mengalir, dan menyamakan bentuknya dengan wadahnya. Naga Air, keturunan Naga Air yang membelah segalanya.

Itulah aku!

Saat dia mencoba memaksakan perasaannya ke dalam jiwaku, aku membalasnya dengan gambaran mental Air yang mengalir di sekitar batu, tidak terikat olehnya. Rasa jijik dan kemarahan yang seharusnya kurasakan kini berubah menjadi kehendak dingin yang murni. Meskipun tubuhku saat ini melakukan hal yang dia inginkan, pikiranku kini telah sepenuhnya menjadi milikku.

Elise mendesis, bukan karena senang, melainkan karena frustrasi. Aku merasakannya begitu karena jiwa kami saling bertaut.

Mengapa kau begitu dingin, Sayangku? Aku merasakan jiwamu patuh, tapi rasamu seperti es. Kau menyembunyikan sesuatu dariku

Elise merengek dalam benakku dan dalam keadaan memelukku, satu tanganya membelai pipiku. Kegiatan malam ini terhenti seketika. Aku tersenyum lembut dan membelai dia agar ia tidak curiga.

Aku tidak merespon secara mental, hanya membiarkan kehendak Naga Air yang kubayangkan mengalir tulus.

Dia mengubah taktik, mencoba menggunakan paksaan Aura. Dia mencoba mengirimkan gelombang dominasi yang tajam melalui Kontrak Jiwa.

Ketika gelombang itu mencapai inti jiwaku, aku tidak menghindar. Sebaliknya, aku menggunakan keyakinanku pada Warisan Naga yang ada di darahku sebagai ras tertinggi untuk mengubah sifat gelombang itu. Energi itu, yang seharusnya menghancurkanku, kini berputar di dalam simpul Kontrak Jiwa.

Krek.

Aku merasakan celah kecil. Kontrak Jiwa Elise mulai bergetar. Elise tersentak, mencengkeram memelukku kuat. Dia tidak mengerti. Energi Vampir-nya berbalik, membuatnya pusing. Dia melihat ke wajahku, mencari jawaban, tetapi dia hanya melihat senyum lembut yang patuh dari Oblivion.

“Kau baik-baik saja, sayang?” tanyaku, suaraku lembut.

Dia menggeleng. “Kepalaku sakit. Ada... gesekan dalam Kontrak. Aku tidak tahu mengapa. Aku ingin tidur sekarang....”

Dia tertidur karena kelelahan, sementara aku tetap terjaga. Aku berhasil. Kontrak itu goyah. Meskipun aku sangat ingin melepaskan pelukanya ini, nyatanya aku tidak akan bisa.

Pagi tiba, dengan beeat yang sama seperti malam sebelumnya. Hari hari setelah aku menawarkan diri menggantikan Lena tidak pernah kurasakan sebaik hari ini.

Aku harus menyelesaikan ini sebelum Elise bangun sepenuhnya.

Aku memejamkan mata, memfokuskan energi yang kini berputar dalam Kontrak Jiwa. Aku tidak lagi peduli pada Oblivion yang mengontrol tubuhku. Aku hanya peduli pada simpul spiritual yang terikat. Entah kenapa sejak Elise memberiku ramuan itu perlahan, aku mulai mengerti kekuatan apa yang sebenarnya dia paksa minum padaku.

Sedikitnya aku teringat pada sebuah novel terkenal dari China yang pernah kubaca. Dalam novel itu menggagas konsep meminum ramuan untuk memiliki kekuatan spiritual.

Kurasa ramuan Oblivion milik Elise juga adalah salah satunya di dunia ini—Hipotesisku berkata dikian.

Sekarang adalah waktu yang tepat.

Aku mengirimkan gelombang kehendak terakhir. Aku menggunakan semua kemarahan, kebencian, dan tekadku untuk melindungi Noel dan Lena, dan aku menyalurkannya melalui keyakinan mutlak.

Aku adalah Naga. Aku adalah tuanmu.

Energi di dalam simpul Kontrak Jiwa berbalik sepenuhnya. Aliran yang seharusnya menuju Elise kini mengalir deras menuju ku.

BOOM.

Bukan suara keras, melainkan ledakan spiritual yang mengguncang jiwa kami berdua.

Aku merasakan lonjakan energi murni Vampir yang luar biasa memasuki diriku. Rasa sakit menusuk dadaku.

Apa mungkin ini efek pembaruan Kontrak Jiwa itu kami!

Elise terbangun seketika karana sakit yang kami rasakan ini. Dia mulai menjerit kuat, Bukan jeritan mental yang teredam, melainkan jeritan fisik yang menusuk seisi riangan. Dia terbangun, berguling di ranjang kami sambil memegangi kepalanya, sedikitnya darah mulai keluar di matanya.

Aku bangkit, tubuhku yang tadinya patuh kini sepenuhnya berada di bawah kendaliku. Oblivion hilang. Rasa jijik dan kemarahan yang murni mengalir kembali.

Kael berlari masuk, pedangnya terhunus. Dia melihat Elise yang menggeliat di kasur di sampingku. Aku yang berada di sampingnya mengelus lembut kepalanya. Rasa sakit yang kami rasakan mulai mereda seketika, mataku kini bersinar dengan Aura yang intens lebih dari sebelumnya. Hal yang aku lakukan dengan energi batu ini adalah menatap tajam Kael yang menghunuskan pedang di sana.

“Berhenti disana, atau anak dari tuanmu akan merasakan sakit yang lebih dari itu!”

Aku menatap Kael dengan tatapan dingin, lalu ke Elise yang kesakitan.

“Kontraknya sudah berbalik,” kataku. “Aku adalah tuan barunya.”

Sekarang, kau akan mengatakan padaku apa yang aku ingin tahu. Mengapa kau terobsesi denganku? Dan apa rahasia busuk yang kau sembunyikan serta setiap rencanamu!

Aku menggunakan Kontrak Jiwa yang telah kudominasi untuk memaksa kebenaran dari jiwanya.

1
Adrian Koto
lah pindah ke isekai bukannya jadi hero malah jadi budak 😅
SHAIDDY STHEFANÍA AGUIRRE
Tidak hanya cerita, tetapi juga pengalaman hidup. 🤗
Mita: terimakasih komentar nya dukung saya terus ya dengan terus membawanya
total 1 replies
Kenneth
Kok susah sih thor update, udah nungguin banget nih 😒
Mita: terimakasih telah mengirimkan komentar pertama untuk karyaku ini, dukung terus dengan membaca sampai tamat ya

juga jangan lupa komen biar aku lebih semangat updatnya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!