Seorang gadis remaja bernama Capella Starheart, baru saja pindah dari kota bawah ke kota layang Star Colossus bersama satu keluarga kecilnya.
Gadis itu merasa tidak akan ada banyak yang berubah di sana.
Memulai kehidupan baru di sebuah perumahan bernama Harmonia, menjalin ikatan baru dengan tetangga dan juga di lingkungan sekolah barunya.
Hidup berdampingan dengan Para Monster dan Kelompok Pahlawan dijuluki The Masquerades sudah biasa di zaman penuh teknologi maju sekarang ini.
Tapi yang jadi pertanyaan adalah... Ada tujuan apa Ibunya membawanya ke atas sana?
(Science Fantasy Ini Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Part 4)
[BAB 4: Hantu Itu Tidak Nyata!]
Jelas tidak asing lagi! Dia si perempuan berhoodie yang waktu di pintu depan akademi tadi pagi.
Perempuan itu membeku seperti hewan yang ketahuan_ tangan berhenti di tengah pekerjaan memanipulasi panel listrik yang sudah terbuka dan mengeluarkan sedikit percikan-percikan.
Hanya mulutnya yang terlihat dari balik kerudung, bibir tipisnya mengeras menjadi garis lurus saat dia menoleh cepat karena sorotan senter Capella.
"Hei!!" Capella berteriak pelan, saat perempuan itu tiba-tiba berbalik dengan gerakan gesit.
Mata Capella menangkap bayangan tubuh si perempuan misterius itu menyelip memutari benda-benda disekitarnya sebelum melesat ke arah yang baru saja dimasuki Capella.
Tanpa berpikir, Capella mengejar, senternya mengoyak-koyak kegelapan yang menelan sosok itu.
Di atas tangga sana... Kaki si perempuan itu tersandung sendiri dengan kaki lainnya yang membuatnya langsung terjatuh ke depan dengan keras, tapi dia cepat-cepat bangkit lagi dan lanjut berlari.
Tapi sudah terlambat baginya. Karena Capella yang langsung nekad melompat naik dari dua tangga terakhir itu sudah dekat dengannya.
Belum jauh lanjut berlari... Dari belakang, Capella berhasil meraih pergelangan tangan perempuan itu yang hampir sepenuhnya tertutupi panjang lengan hoodienya_ tapi sentuhan langsung dengan jarinya bisa jelas terasa. Itu... dingin?!
Sebelum sempat menggenggam lebih erat, perempuan berhoodie hitam itu berputar dengan gerakan memutar yang tidak bisa ditebak.
Dorongan kuat menghantam bahu Capella, membuatnya tersungkur ke lantai lorong yang dingin. Senter Bu Flora tergelincir dari genggamannya, berputar-putar sebelum berhenti beberapa meter jauhnya, cahayanya memantulkan bayangan perempuan itu yang anehnya kali ini dia tidak kabur.
Sebaliknya, dia berdiri dengan pose seperti siap tempur_ kedua kakinya terbuka lebar, tangan terkepal kuat di samping tubuh. Hoodie hitamnya lebih mengembang seperti sayap saat dia perlahan melangkah maju.
Capella merangkak mundur_ tangan kanan dan kirinya merayap cepat di lantai seperti kadal sementara jantungnya mulai berdegup kencang.
"Hey... Apa yang kamu...," Capella berbisik, suaranya pecah oleh rasa panik yang mulai menjalar. Perempuan itu tidak menjawab_ hanya terus mendekat dengan langkah-langkah terukur.
Saat dia melangkah masuk ke lingkaran cahaya senter yang masih berada tergeletak di sisi dekat dinding lorong, Capella, baru menyadari betapa aneh penampilannya; kulit setengah wajah bawahnya yang telihat di balik tutupan kerudung hoodie itu tampak begitu pucat.
Begitu juga tampilan dari sepanjang paha sampai betisnya.
Perempuan misterius itu tiba-tiba berhenti mendekat, tubuhnya gemetar seperti mesin yang over tenaga atau kelebihan voltase.
Capella menyaksikan dengan mulut terbuka saat kain hoodie hitam di punggungnya mulai meregang, menonjol aneh sebelum akhirnya robek dengan suara kain tercabik. Dari baliknya, sepasang sayap hampir transparan seperti serangga raksasa mekar perlahan_ membentang lebar dengan struktur kristal yang memantulkan cahaya senter dalam pola-pola geometri aneh sebelum mulai bergetar mengepak semakin cepat.
Flut Flut Flut Flut...
"Tidak...," Capella menjulurkan tangan, tapi perempuan itu sudah terangkat dari lantai, kedua sepatu boot hitam yang dikenakannya menggantung tanpa beban.
Sayap-sayapnya yang seperti kaca tipis beresonansi dengan frekuensi tinggi, memancarkan dengung elektrik.
Sosok itu melesat begitu cepat_ tangan kanannya mencengkeram kuat leher Capella tanpa ragu dan membuatnya terangkat dari lantai. Kaki Capella menggelantung liar, sepatu sekolahnya menendang-nendang udara sebelum akhirnya menghantam perut perempuan itu dengan tendangan keras.
Mereka berdua sama-sama terjatuh dengan keras.
Capella mendengus kesakitan, tapi perempuan berkerudung itu malah mengeluarkan suara erangan aneh yang sulit dijelaskan seperti apa.
Belum sampai disitu... dia kembali berusaha melukainya.
Merangkak cepat ke atas tubuh Capella yang belum sempat bangun, mulutnya terbuka lebar saat dia menjerit seperti Banshee.
Suara jeritannya sungguh mememkikan telinga.
Capella juga berusaha menahan tangannya yang kini kurus berusaha mencakar_ bahkan itu bukan tangan manusia normal. Tapi seperti kerangka logam yang ramping.
BUAK! BRAAKS!
Capella kembali menendangnya kuat-kuat sampai perempuan aneh itu terpental sampai tubuhnya membentur langit-langit lorong yang dipenuhi pipa dan kabel-kabel kusut.
Seluruh tubuhnya langsung tersetrum hebat sampai memercik percikan dan juga mulai terbakar di sebagian tubuhnya.
Dia menjerit kesakitan... Atau mungkin marah!
Dia menyangkut di atas sana. Jadi Capella mengambil kesempatannya untuk kabur.
Matanya menangkap keberadaan senter yang tergeletak sebelum tubuhnya berguling cepat dan langsung meraih senter Bu Flora yang masih memancarkan cahaya.
Dia bangkit dengan gerakan terburu-buru dan berlari menjauh. Dari jarak yang mungkin sudah cukup jauh tapi belum begitu jauh... Sosok itu baru saja jatuh terbebas dari langit-langit lorong yang telah memanggangnya luar dalam.
Napas Capella pendek-pendek saat ia kembali melintasi arah yang sama waktu tiba di tempat dengan yang entah apa tadi. Senternya sesekali mengarah ke belakang untuk memastikan si tadi tidak mengejar.
Capella mulia berpikir kalau dia bukanlah perempuan... bukan murid Venom... juga bukan manusia.
Di tempat lain...
Dari suatu tempat di tengah lorong yang sama gelapnya dengan lampu merah berkedip di atas... Suzi, melangkah buru-buru dengan kedua bahu saling menyempit kesal.
Robin mengikuti tidak jauh di belakangnya. "Emangnya mereka pikir bisa gitu saja dapat bonus nilai dari bantu Bu Flora?!" Suzi menggerutu dengan wajah masam, menginjak lantai dengan sepatu hak tinggi yang berderit kesal. Robin hanya mendengus setuju.
"Enak saja! Aku akan tunjukan kalau aku lebih pantas mendapatkannya!" Sambungnya. Senter di tangannya yang menggunakan batu baterai menyorot lurus-lurus kedepan.
Tiba-tiba... cahaya senter lain menusuk dari ujung lorong. Capella muncul seperti hantu, wajahnya pucat dan napasnya terengah-engah.
"Akhirnya... Di situ kau rupanya! Kembalilah ke kelas dasar anak baru!!" Desak Suzi. Tapi Capella tidak meresponnya dan malah terus berlari melewati mereka berdua dengan kecepatan penuh.
Hanya sempat menjerit satu kata sambil lalu... "LARIIIII!!"
"HEY! APA KAU DENGAR APA KATAKU TADI?!" teriak Suzi.
Suzi dan Robin memutar arah ke arah belakang_ arah Capella terus berlari sebelum menghilang ke tikungan.
Mereka saling memandang sesaat_ Robin mengangkat alisnya, Suzi menyipitkan mata keheranan. "Dia kenapa sih?!"
Cahaya senter Capella sudah menghilang di ditikungan sana.
Suzi dan Robin masih memandang lurus-lurus ke arah Capella menjauh, sebelum kemudian... suara dengungan mekanik yang semakin keras membuat mereka berbalik serempak, tapi perlahan.
Sosok Perempuan berhoodie hitam itu melayang beberapa senti di atas lantai, sayap-sayapnya bergetar dengan frekuensi yang membuat gendang telinga terasa tertusuk-tusuk banyak jarum kecil.
Dari pengelihatan mereka berdua, Kulit wajahnya sudah mengelupas di balik kain kerudung hoodienya yang sudah dalam keadaan terkoyak bekas terbakar_ memperlihatkan isian logam.
Mulutnya yang rusak sebagian terbuka lebar mengeluarkan suara statis yang memekakkan telinga.
Mereka berdua sama-sama mendongak ke atas_ mulut menganga lebar dengan mata melotot yang gemetar.
Tidak ada teriakan terdengar tapi Capella tetap menjauh tanpa mau berbalik. Entah apa yang terjadi di belakang sana tapi Capella hanya berusaha menyelamatkan nyawanya dari sosok tadi.
...----------------...
Capella berbelok tajam.
Tubuhnya seakan tertarik sendiri ke dalam ruang lab sebelumnya yang terbakar setengah hancur.
Menahan napas saat pintu bergeser cepat dengan suara derit yang terdistrosi.
Sinar merah darurat dari lorong menyusup melalui celah-celah pintu yang tidak tertutup sempurna, melukis garis-garis darah di lantai berdebu.
Dia berputar dan langsung menjatuhkan diri di balik sisi samping dari meja depan kelas, punggungnya menempel pada bahan metal meja yang agak sudah menghitam di sebagian.
Manekin peragaan biologi manusia yang setengah bekas terbakar menjulang seperti penjaga neraka di atasnya.
"Senternya!" bisik suara kecil di kepalanya, dan Capella baru menyadari betapa bodohnya dirinya masih menggenggam erat senter Bu Flora yang memancarkan cahaya terang seperti mercusuar di kegelapan. Jarinya gemetar menekan tombol dengan gerakan panik.
Tapi cahaya itu padam tepat saat dengungan mekanik di luar lorong mencapai puncaknya.
Capella menekan telapak tangan ke mulutnya, merasakan debu dan bau hangus yang menempel di kulitnya. Bau itu bercampur dengan aroma aneh yang tidak seharusnya menjadi ciri aroma ruang lab.
Dari balik bayangan bentuk patung peragaan yang terpantul pada dinding di depannya, dia melihat bayangan bergerak melewati pintu lab_ sayap-sayap kristalnya memantulkan cahaya merah darurat dalam pecahan-pecahan cahaya seperti pisau.
"Tidak... Tidak.mungkin... Hantu itu tidak ada!" bisikan di benaknya.
Bayangan itu berhenti. Capella bisa mendengar suara kepakan sayapnya lebih melambat sebelum terdengar suara pijakan pada lantai. Pecahan kaca di sana menciptakan suara KRRTAK! yang membuatnya merinding.
Capella menyadari situasinya benar-benar buruk.
Sosok yang baru memijakan kakinya itu sedang memeriksa di balik sana. Gadis itu menekuk tubuh lebih kecil lagi, saat terdengar suara daun pintu yang terdorong pelan... Maksudnya begitu pelan.
Kedipan lampu merah dari lorong di luar menyorot lebih luas di dalam. Satu tangan metalik kurus seperti kerangka menyentuh di tepi sela ambang pintu yang terbuka.
…
…
…
Sebelum mulai membaca... Ini Novel tema Science Fantasy Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya. Jadi bagi yang mau penuh konflik atau temanya benar-bener Dark berarti nggak cocok ya! 😄 Karena Ini lebih ke School, Campur Drama Di Sekolah, Rumah, Lebih Santai lah pokoknya. Tapi perlahan konflik permasalahan utamanya mungkin makin naik dan jelas menuju akhir! So.. Happy Reading! 😍
semua masih berisi narasi, semoga di next chapter semua menjadi lebih aktif 👍👍👍
tetap semangat Thor, saya suka tema fantasi 🔥