"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 21
Gagang pintu berbahan kuningan itu berputar dengan suara deritan yang terdengar seperti jeritan tertahan di telinga Kirana.
Dalam kepanikan yang luar biasa, Kirana melepaskan gagang telepon rumah itu hingga jatuh membentur meja kayu jati dengan suara benturan yang cukup keras.
Ia tidak memiliki cukup waktu untuk meletakkannya kembali ke tempat semula dengan sempurna. Dengan gerakan refleks, Kirana menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai berkarpet, bersimpuh sambil meraba-raba kaki meja dengan tangan gemetar.
Ceklek.
Pintu terbuka lebar. Hening sesaat. Udara di dalam ruangan itu terasa membeku seketika.
"Apa yang sedang kamu lakukan di lantai ruang kerjaku, Sayang?"
Suara bariton Arga menggema, mengalun dengan ketenangan yang mematikan. Pria itu berdiri di ambang pintu, menatap istrinya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
Kirana mendongakkan kepalanya dengan cepat, membelalakkan matanya yang sengaja dikosongkan.
"Sayang! Bukankah... bukankah kamu sudah berangkat ke kantor? Aku mendengar suara mesin mobilmu menjauh dari pekarangan rumah!" seru Kirana dengan napas yang memburu, meraba-raba udara di sekitarnya seolah mencari perlindungan.
Arga melangkah masuk secara perlahan.
Tak...
Tak...
Tak...
Setiap langkah kakinya terdengar seperti detak jarum jam yang menghitung mundur sisa usia Kirana.
"Aku memang menyuruh sopir pribadi kita untuk membawa mobil itu ke bengkel terlebih dahulu, Sayang. Aku memutuskan untuk menunda perjalananku karena aku merasa tidak tenang meninggalkanmu sendirian," ucap Arga dengan nada yang sangat lembut, terlalu lembut hingga terasa seperti desir bisa ular.
Pria itu berjongkok di hadapan Kirana, jemarinya yang dingin menyentuh dagu sang istri, memaksanya menengadah.
"Namun yang menjadi pertanyaanku sekarang adalah... apa yang sedang kamu cari di dalam ruangan ini, Sayang? Dan suara benturan apa yang baru saja kudengar sebelum aku membuka pintu?"
"Aku... aku tersesat, Sayang! Aku mendengar suara pintu utama dikunci dari luar. Kepanikanku memuncak! Aku merasa seperti sedang dikurung hidup-hidup. Aku meraba-raba dinding mencari jalan keluar, hingga akhirnya aku tersandung dan masuk ke dalam ruangan ini," isak Kirana, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya yang pucat.
"Aku tersandung kabel atau semacamnya di bawah meja ini, lalu ada benda yang terjatuh. Aku tidak tahu benda apa itu, Arga. Aku benar-benar ketakutan!"
Arga menatap lekat-lekat kedua bola mata istrinya, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke atas meja kerja. Matanya menangkap gagang telepon yang tergeletak sembarangan di samping mesinnya.
Pria itu berdiri, meraih gagang telepon tersebut, dan menempelkannya ke telinganya.
Hening. Panggilan itu sudah terputus. Tasya rupanya cukup pintar untuk segera menutup sambungan ketika mendengar keributan.
"Gagang telepon rumahku terlepas dari tempatnya, Sayang," bisik Arga. Ia meletakkan kembali gagang itu dengan gerakan perlahan. "Apakah kamu baru saja mencoba menelepon seseorang dengan matamu yang buta ini, Kirana?"
"Menelepon seseorang?! Kepada siapa aku harus menelepon, Arga?! Aku bahkan tidak bisa melihat deretan angka pada mesin telepon itu! Aku mengatakannya kepadamu, aku tersandung dan menjatuhkan sesuatu! Mengapa kau selalu mencari-cari kesalahanku?!" teriak Kirana, memukul-mukul lantai dengan kedua tangannya, memerankan sosok wanita cacat yang sedang mengalami gangguan saraf akibat tekanan.
Arga kembali berjongkok. Kali ini, ia merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Tangan pria itu mengelus rambut panjang Kirana dengan penuh kasih sayang, namun bibirnya berbisik tepat di telinga sang istri dengan nada yang membekukan aliran darah.
"Sst... Tenanglah, Istriku yang malang. Aku tidak menuduhmu. Aku hanya merasa sangat kasihan melihat kondisi mu yang semakin hari semakin memburuk."
"Kejiwaanku tidak memburuk, Arga! Aku hanya merasa ketakutan karena kau meninggalkanku dalam keadaan terkunci!" bantah Kirana, mencoba melepaskan diri dari pelukan itu.
Arga justru mempererat pelukannya, tidak membiarkan Kirana bergerak sedikit pun.
"Kau harus mulai menerima kenyataan, Sayang. Dokter Alibie pernah memperingatkan hal ini kepadaku. Beliau mengatakan bahwa kebutaan mendadak sering kali memicu gangguan skizofrenia ringan. Kau mulai menciptakan ilusi-ilusi di dalam kepalamu. Kau mendengar langkah kaki yang tidak nyata, kau mencium aroma parfum yang tidak ada, dan kau memimpikan pembunuhan yang sama sekali tidak pernah terjadi."
Kirana tersentak. Pernyataan Arga menembus tepat ke titik terlemah psikologisnya. Arga tidak sedang memarahinya; pria manipulatif ini sedang berusaha meyakinkan Kirana bahwa ia telah kehilangan kewarasannya.
"Aku tidak gila, Arga! Semua yang aku rasakan itu nyata!"
"Tidak ada satu pun orang gila di dunia ini yang bersedia mengakui kegilaannya, Sayang," bisik Arga dengan tawa yang tertahan di tenggorokan. "Apakah kau tahu? Pagi ini aku mendapatkan sebuah pesan dari Bi Titin dan putranya, Kacul."
Deg!
Jantung Kirana seakan berhenti berdetak. Ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri genangan darah mereka di gudang bawah tanah semalam.
"P-pesan? Pesan apa maksudmu, Sayang?" tanya Kirana dengan suara yang nyaris menghilang tertelan ketakutan.
"Mereka mengirimkan pesan bahwa mereka telah tiba di kampung halaman dengan selamat. Mereka bahkan berterima kasih kepadaku karena telah memberikan uang saku yang lebih dari cukup. Kacul mengatakan bahwa ia tidak jadi kembali ke rumah ini semalam karena ia sudah mendapatkan pekerjaan baru di kampungnya."
"I-itu tidak mungkin... Kacul ada di sini semalam... Kau sendiri yang mengatakannya kepadaku, Arga!" sangkal Kirana, tubuhnya mulai bergetar hebat.
Arga melepaskan pelukannya, menangkup kedua pipi istrinya dengan tangannya yang besar.
"Kapan aku pernah mengatakan hal seperti itu kepadamu, Sayang? Aku tidak pernah menyebut nama Kacul semalam. Kamu sendiri yang tiba-tiba berteriak ketakutan dan menanyakan keberadaannya saat kita sedang bersiap untuk tidur."
Kirana terdiam kaku. Memutar balikan fakta yang dilakukan Arga begitu halus dan mematikan. Jika Kirana tidak memiliki mental yang sekuat baja, ia pasti sudah meragukan ingatannya sendiri saat ini. Arga sedang mengikis akal sehatnya secara perlahan-lahan.
"Kau berbohong, Arga... Kau membawaku ke gudang itu semalam..." bisik Kirana, membiarkan air matanya terus mengalir deras.
"Gudang? Ya Tuhan, Sayang. Kita tidak pernah keluar dari kamar semalam. Kamu tertidur lelap setelah aku memberikan obat penenang dari Dokter Alibie. Lihatlah betapa kacaunya pikiranmu saat ini."
Sambil terus menatap wajah istrinya yang terlihat hancur, Arga merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah benda dan meraih telapak tangan kanan Kirana, lalu meletakkan benda tersebut tepat di atas telapak tangan sang istri.
"Raba-lah benda ini, Sayang. Mungkin ini akan membantumu menenangkan pikiranmu."
Kirana mengerutkan kening. Jemarinya secara refleks meraba benda asing di telapak tangannya. Benda itu terbuat dari plastik yang patah di bagian tengahnya, dengan bingkai yang menahan serpihan kaca retak. Di ujung bingkai tersebut, ujung jari Kirana menyentuh sesuatu yang berkerak. Kering. Dan berbau anyir yang sangat samar.
Itu adalah kacamata milik Kacul yang patah. Kacamata yang sama yang ia lihat tergeletak di samping genangan darah semalam.
"B-benda apa ini, Sayang? Rasanya seperti... sebuah bingkai plastik yang patah? Dan... permukaannya terasa sangat kotor dan berkerak," ucap Kirana dengan napas yang mulai tidak beraturan. Ia harus berjuang setengah mati untuk menahan rasa mual dan jeritan histeris yang tertahan di kerongkongannya.
"Itu hanyalah sampah yang tidak sengaja kutemukan di taman belakang pagi ini," jawab Arga dengan nada yang sangat ringan, berbanding terbalik dengan kekejaman yang sedang ia lakukan. "Hanya sebuah barang rongsokan. Namun benda ini terasa nyata, bukan? Sama nyatanya dengan fakta bahwa Kacul dan Bi Titin saat ini sedang bersenang-senang di kampung halaman mereka."
Arga mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga Kirana.
"Benda ini nyata. Tubuhku yang sedang memelukmu ini nyata. Tetapi semua mimpi buruk mu, semua ketakutanmu tentang pembunuhan, dan semua pikiran buruk tentangku dan Rena... itu semua hanyalah ilusi dari otakmu yang sedang sakit, Istriku."
Arga mengambil kembali kacamata patah berlumuran darah kering itu dari tangan istrinya dan memasukkannya kembali ke dalam sakunya. Ia kemudian berdiri dengan tegak, merapikan letak dasinya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku akan meminta Dokter Alibie untuk menambah dosis obat penenang mu, nanti malam. Kau benar-benar membutuhkannya, Sayang." Arga melangkah menuju pintu. "Sekarang, kembalilah ke kamarmu. Aku akan memanggilkan taksi untuk berangkat ke kantor. Dan kali ini, pintu ruang kerja ini akan aku kunci dari luar. Jangan pernah mencoba untuk berkeliaran di dalam rumah tanpa pengawasanku lagi."
"Arga... Kumohon, jangan tinggalkan aku sendirian dengan pikiran-pikiran ini..." ratap Kirana, menjulurkan tangannya ke udara seakan memohon belas kasihan.
"Ini semua demi kebaikanmu, Sayang. Sampai jumpa malam nanti."
Ceklek.
Pintu ruang kerja itu ditutup rapat. Suara putaran kunci dari arah luar terdengar dua kali dengan sangat jelas.
Langkah kaki Arga terdengar semakin menjauh, menuruni anak tangga, hingga akhirnya menghilang sepenuhnya di balik suara deru pintu utama yang kembali dikunci rapat.
Di dalam ruang kerja yang kini benar-benar terisolasi itu, tangisan histeris Kirana seketika berhenti. Air matanya mengering. Ekspresi wajahnya yang semula penuh dengan keputusasaan dan kebingungan, perlahan-lahan berubah menjadi seringai dingin yang menakutkan.
Ia mengangkat telapak tangannya yang baru saja dipaksa memegang kacamata berdarah milik Kacul. Bau anyir itu masih menempel di sana.
Kirana berdiri dengan tegap. Matanya menatap tajam ke arah pintu kayu yang terkunci di hadapannya.
'Kamu adalah iblis yang sesungguhnya, Arga. Kamu mencoba merusak hidupku dengan kebohongan-kebohongan manismu. Tetapi kau lupa satu hal... aku tidak lagi buta.'
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,