Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NERAKA PRIBADI
Alesya berhenti di depan sel Reana
Block_C
Ia belum diperbolehkan kembali ke selnya sendiri. Namun gadis itu hanya bisa meyakinkan reana kalo dia baik-baik saja di selnya.
“Aku baik-baik saja. Kael memperlakukanku dengan baik,” ujar Alesya, mencoba meyakinkan sahabatnya.
“Kau tidak masalah sendirian?” lanjut Alesya kembali kepada sahabatnya itu.
Reana menatapnya ragu. Alesya tahu gadis itu belum sepenuhnya berani jika tinggal sendirian. Meskipun keadaan terasa sedikit lebih tenang setelah Aldra tidak lagi ada, bukan berarti para sipir tidak ada kemungkinan mengganggunya. Terlebih malam ini jauh terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
“Aku baik-baik aja. Kalau ada yang datang, aku tinggal membantingnya ke lantai... seperti yang kau ajarkan.”
Reana mengatakannya dengan penuh keyakinan.
Alesya hanya terkekeh gemas melihat tingkahnya.
“Tidak lama lagi aku akan kembali. Berhati-hatilah.”
Reana mengangguk pelan.
Alesya kemudian berbalik dan meninggalkan sel tersebut, melangkah menuju selnya yang berada di ujung koridor.
Reana hanya mampu menatap kepergiannya dengan berat.
Malam semakin larut. Udara dingin yang menyelimuti Block_C membuat bulu kuduknya berdiri. Entah kenapa perasaan nya tidak enak malam ini. Reana menarik napas, lalu hendak memasuki selnya.
Namun baru saja tangannya menyentuh jeruji—
“Perlu kutemani, cantik?”
Suara itu membuat tubuh Reana seketika menegang, Perlahan ia menoleh.
George berdiri tidak jauh di belakangnya.
“Come with me, You’ll love how this ends tonight.”
***
Di sisi lain, Darren melangkah perlahan menuju selnya.
*BLOK A - 180*
Begitu pintu besi terbuka, langkahnya terhenti.
Reana.
Gadis itu terduduk di lantai selnya. Mata sembab, rambut berantakan. Tanda-tanda jelas ia diseret paksa ke sini. Dan di atas ranjangnya, George duduk santai sambil memainkan pisau lipat di tangan.
Wajah Darren tetap datar, Sedatar es, Tidak ada satu otot pun di wajahnya yang bergerak. Tidak ada yang tahu apa yang sedang ia pikirkan.
"Welcome to hell, Darren,"
ucap George sambil tersenyum miring.
Darren tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya. Tatapannya turun, memeriksa kondisi Reana dari ujung rambut sampai kaki. Baru setelah beberapa detik, pandangannya naik lagi, menatap lurus ke mata George.
"Apa ini?"
Suaranya datar, Dingin, Seolah mengabaikan Reana yang ada di lantai.
"Kalau kau mau tidur dengan wanita itu, jangan di ranjangku..."
George mengetuk-ngetukkan pisau ke kasur.
"Bikin kotor saja." Lanjut Darren lagi
Kata-kata itu menghantam Reana. Dadanya sesak, Ia menahan tangis sekuat tenaga. Ia pikir dulu Darren menyelamatkannya karena peduli. Ternyata... ia salah.
"Jangan pura-pura bodoh di depanku!"
bentak George.
Dengan kasar ia berjongkok dan menjambak rambut Reana. Kuat, Hingga kepala gadis itu terangkat paksa. Rasanya seperti kulit kepalanya mau terlepas.
"Aaaargh..."
Reana mengerang tertahan.
Pisau itu lalu ditempelkan ke leher Reana. Ujungnya yang runcing menggores kulit putihnya, meninggalkan garis merah tipis dan setitik darah. Perih, Apalagi bercampur dengan keringat dingin di lehernya.
"Kalau kau tidak menyerahkan nyawamu, maka jalang ini yang mati malam ini," desis George.
Reana semakin terisak, Tubuhnya gemetar. Wajah Darren sedikit berubah. Garis rahangnya mengeras.
"Aku tidak punya masalah denganmu," katanya datar.
"Aku memang tidak, Tapi Aldra punya," George tertawa kecil.
"Aku di sini untuk menuntaskan semua dendam Aldra padamu. Dan aku berjanji... akan mencincang tubuhmu dan melemparkannya ke anjing."
"Kalau kau berpikir aku orang yang membunuhnya, kau salah orang," jawab Darren.
"Jangan bersilat denganku! Hanya kaulah musuhnya! Hanya kaulah yang paling membencinya!"
napas George memburu. Cengkeramannya di rambut Reana semakin kuat.
"Aaa..."
Reana memegangi kepalanya, air mata jatuh tanpa suara.
Darren tetap diam. Ia tahu, satu gerakan salah bisa membuat Reana semakin menderita. Awalnya ia tampak tenang, Namun tangisan Reana menghancurkan pertahanan nya.
"Lalu, apa maumu?" tanya Darren akhirnya.
George menjentikkan jarinya.
Pintu sel terbuka lagi. Alex masuk bersama beberapa anak buahnya. Masing-masing membawa senjata. Cukup untuk menghabisi satu orang.
"Aku mau kau tidak melakukan apa-apa saat mereka menghajarmu," kata George.
"Tidak... jangan... kumohon. Kalau kau mau, bunuh aku saja! Jangan sakiti dia!"
Reana memohon, suaranya pecah.
George mengabaikannya.
"Tapi lepaskan dulu jambakanmu, Itu menyakitinya,"
ucap Darren kembali berusaha tenang.
George akhirnya melepas.
"Hajar dia."
Detik berikutnya neraka benar-benar dimulai.
Darren tidak melawan. Ia hanya diam saat pukulan pertama mendarat di rahangnya. Tendangan kedua membuatnya terhuyung dan ambruk ke lantai sel yang dingin.
Tapi mereka tidak berhenti.
Tubuh Darren dihajar membabi buta. Pukulan, tendangan, hantaman benda tumpul. Darah mulai mengucur dari pelipis, bibir, dan sudut tubuhnya. Napasnya tersengal. Matanya yang mulai kabur, masih sempat bertemu dengan mata Reana yang sudah sembab karena menangis.
"Kumohon hentikan! Hentikan!" teriak Reana histeris.
"Kalau kau mau, tiduri aku saja! Aku masih perawan! Kumohon!"
"Jangan sakiti dia..." lirih Reana merasakan sesak yang teramat pada dadanya. Melihat Darren dipukuli demi dirinya, membuat hatinya menjerit.
"Berhenti," perintah George.
Darren terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Tubuhnya meringkuk di lantai.
George lalu mencengkeram dagu Reana. Menelusuri wajahnya sampai ke ujung kaki dengan tatapan menjijikkan.
"Tubuhmu lumayan juga..." senyumnya sinis.
"Akan kupakai Bersama anak buahku."
Tawa jahat memenuhi sel.
George mengangkat tubuh Reana dan melemparkannya ke ranjang.
"Bagaimana kalau kita lakukan di depan kekasihmu?"
bisiknya sambil melirik Darren yang masih tergeletak.
"Pasti menyenangkan, kan?"
Dengan sekali tarikan, baju Reana sobek. Tinggal menyisakan bra hitam dan dada nya yang hampir menyembul keluar. Reana menjerit, berusaha memeluk dirinya sendiri.
George menjilat bibirnya, melihat bagaimana mulus dan indahnya panyudara yang hampir menyembul itu. George hendak menunduk Namun_
BRUK!
Kepala George ditarik dari belakang dan dibanting keras ke lantai.
Darren.
Gerakannya secepat bayangan. Begitu cepat hingga anak buah George tidak sempat bereaksi.
Reana langsung bangkit dan memeluk lututnya, gemetar. Darren menatapnya, Tanpa sepatah kata ia melepas baju tahanannya dan menyampirkannya ke tubuh Reana.
Wajahnya hancur. Luka di mana-mana. Darah menetes dari dagu.
"Tutup matamu. Jangan lihat ke depan,"
bisiknya pelan.
Reana menurut. Air matanya tetap jatuh, Suasana berubah. Tawa tadi lenyap, Wajah George membeku. Dari sombong, kini pucat, Padahal Darren sudah babak belur. Tapi ia masih berdiri.
"Sudah kubilang... jangan menyentuhnya,"
suara Darren rendah. Tapi setiap kata terasa seperti pisau. Wajahnya kini benar-benar menyeramkan.
"Habisi dia!"
teriak George, suaranya pecah, Menggema di seluruh ruangan. Dan perintah itu adalah kesalahan terakhirnya.
Malam itu, di dalam BLOK A - 180, Darren tidak lagi menjadi tahanan.
Ia menjadi algojo.
Satu per satu, anak buah George tumbang. Tidak ada yang selamat. Darah mengotori dinding, lantai, bahkan langit-langit. Jeritan mereka menggema lalu padam.
Dengan tangan kosong, dengan pisau yang tadi milik George, Darren menghabisi mereka semua. Cara yang kejam. Cara yang tidak akan pernah dilupakan siapa pun yang mendengarnya.
Ketika semuanya selesai, yang tersisa hanyalah keheningan. Dan Darren, berdiri di tengah genangan darah, dengan napas berat, menatap ke arah Reana yang masih menutup mata. George dan Bawahannya, semua nya tewas mengenaskan tidak tersisa di tangan Darren.
***