Menikah bukanlah tujuanku.
Olivia Xavier Surendra , gadis cantik dan periang ini harus menelan pil pahit Pernikahan Paksa Dengan CEO Tampan yang bahkan baru pertamakali ditemuinya.
Pertemuan itu terus menyeretnya kedalam kehidupan CEO yang bahkan tidak memiliki nuansa cerah. Sifat CEO yang sangat tidak bisa di tebak itu , sungguh membuat gadis seperti Olivia menjadi jengkel.
Semenjak pernikahan mereka , Olivia terus saja bertengkar dengan CEO itu. Akankah bukit cinta tumbuh di antara mereka , melalu pertengkaran itu? Terlebih lagi , kuatnya misteri masa lalu yang selalu membuat gadis pemberani seperti Olivia penasaran. Ia bahkan mengorek kembali kehidupan suaminya. Akankah takdir akan membiarkan Olivia mengungkap kebenaran? Ataukah dirinya yang akan hancur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Di depan pondok , Gilbert dan Olivia sedang menunggu Christian berganti pakaian. Olivia yang masih penasaran berkeliling pondok , disana ternyata ada beberapa rumah lagi dan tempat mereka menginap kemarin adalah yang paling ujung. ''Emm pak , sambil menunggu suami saya bersiap. Bisa antar saya menuju jalan hutan?'' Tanya Olivia saat ibu Rita sudah masuk kedalam pondok. ''Kenapa kamu ingin kesana nak?'' Tanya balik pak Bambang.
''Sepertinya mobil kami terjebak disitu juga , hehe.....Saya hanya penasaran.'' Ucap gadis itu sambil terkekeh. ''Bapak tidak bisa antar nak , lagian kalau ibu tau dia pasti akan seperti kemarin. Maaf ya nak , tapi kalau kamu ingin cari sendiri maka nanti di jalan ini kamu lurus aja setelah satu kilo ada pertigaan dan belok kanan nah disana jalannya.'' Jelas pak Bambang , Olivia mengangguk mengerti.
''Otak udang!!'' Panggil Christian yang menuruni tangga. Olivia yang mendengar itu langsung menghampiri suami dan asisten. ''Wah , wah , melihat kamu udah bisa ngatai orang sepertinya kamu udah sehat ya?'' Ledek Olivia sambil berjalan mendekat. Christian hanya menatap Olivia lama sambil diam. Entah mengapa semenit saja tidak melihatnya membuat dirinya merindukan gadis itu.
''Baiklah pak , terima kasih karena sudah membiarkan kami menginap. Ini ada beberapa hadiah untuk ibu dan bapak , mohon diterima ya.'' Ujar Olivia memberikan sebuah bingkisan. ''Iya ampun , terima kasih ya nak.'' Ujar pak Bambang. ''Semoga hubungan kalian semakin erat dan punya anak yang banyak ya?'' Doa ibu Rita yang membuat Olivia tersenyum kaku. ''Terima kasih Bu , kalau begitu kami pamit.'' Ujar Christian yang terlihat senang , entah setan apa yang merasukinya.
Mereka kini sudah berada di dalam mobil yang tadi di bawa Gilbert. Pagi-pagi sekali , Christian mengirim pesan kepada Gilbert agar datang karena hujan yang sudah reda jadi sinyal sudah bagus. ''Asisten Gilbert , apa mobil yang kemarin hancur sudah di derek?'' Tanya Olivia , ia ingin sekali menyusuri jalan hutan yang bapak Bambang sebutkan. ''Sudah nona , apa ada masalah?'' Tanya Gilbert , Olivia hanya menatap lesu. ''Tidak apa , aku hanya bertanya.''
''Otak udang , kenapa kemarin saat Stella datang kamu bersikap seperti istri sungguhan? Bukankah kita menikah karna terpaksa? Kenapa kamu sangat marah? Apa jangan-jangan kamu jatuh cinta padaku?'' Tanya Christian penuh harap. Olivia menoleh lalu menaikan satu alisnya. ''Aku seperti itu karna kamu suamiku , lagian dimana-mana istri gak boleh kalah sama pelakor apa lagi mantan pacar suami. Jadi aku harus menegakkan ajaran itu , jangan berfikir yang aneh-aneh.'' Ucap Olivia mengalihkan pandangannya.
''Kalau begitu , aku ingin bertemu Stella dan mengajaknya tinggal dirumah saja.'' Mendengar itu Olivia mendelik kesal. ''Enak aja , gak! Kamu pikir aku akan membiarkan itu terjadi.'' Ujar Olivia kesal. ''Jika kamu melarang ku seperti ini maka kamu cemburu dan itu tandanya kamu suka aku.'' Goda Christian sambil mengedipkan sebelah matanya.
''Aa...itu , bukan gitu maksudnya. Lagian kamu kenapa masih memikirkan masa lalu , sedangkan aku aja udah melupakan kekasihku dulu demi pernikahan ini. Kamu harus bisa membedakan mana yang sekarang dan mana yang dulu.'' Kata gadis itu , Christian menyandarkan punggungnya. ''Andai saja aku bisa melakukannya maka aku akan memutuskan hubungan itu saat dia datang. Aku sudah berjanji pada ayahnya sebelum beliau meninggal.'' Kata sendu Christian sambil menatap jendela.
''Hah! Ingat suamiku , ini adalah saran dariku." Olivia menangkup kedua pipi Christian lalu menatap dalam matanya. "Jika hatimu bimbang antara dia atau aku , maka kamu akan menyakiti keduanya. Janji itu tidak akan berguna kala hati berkata lain. Tanya hatimu dan tentukan siapa pilihanmu. Agar aku juga bisa melanjutkan hidupku jika kamu tidak memilihku. Aku tidak ingin bergantung seperti ini , aku ingin sebuah kepastian. Pikirkan itu baik-baik.'' Ujar Olivia lalu kembali pada posisi awalnya.
Olivia merogoh ponselnya dan ada pesan dari seseorang. ''Asisten Gilbert bisa turunkan saja aku didepan sana.'' Christian menatap Olivia dengan tatapan intens. ''Mau kemana? Kenapa tidak pulang?'' Tanya Christian , Olivia menoleh. ''Mau ketemu temen , stop disini saja.'' Gilbert menghentikan mobilnya. ''Bukankah Charlotte itu temanmu , dia pasti ada dirumah.'' Ujar Christian lagi. Olivia tersenyum , ''Dia sahabatku , aku ingin bertemu teman yang lain. Jangan sering berubah begini sikapmu tuan Christian Adley Richards. Nanti aku bisa salah paham.'' Ujar Olivia terkekeh , Christian memegang lengan Olivia agar tidak keluar mobil.
''Laki-laki atau perempuan?'' Tanyanya sekali lagi. Olivia yang gemas tidak menyadari perbuatannya. Ia mendekat ke arah suaminya lalu...
Cup.
Olivia mengecup bibir Christian sebentar lalu tersenyum. ''Perempuan...Aku tunggu jawaban pastimu.'' Ujar Olivia lalu keluar dari mobil. Christian masih diam membeku melihat tingkah istrinya itu. ''Ada apa dengan jantungku , ah tidak. Aku akan pulang untuk istirahat. Ada yang aneh denganku , aku butuh dokter. Ah tidak aku butuh istirahat , tidak , tidak , aku tidak tau....'' Gumam Christian yang bingung. Gilbert hanya tersenyum sembari menggeleng.
Sesampainya di mension , Gilbert dan Christian turun dari mobil. Saat akan menyusul tuannya ke dalam , mata Gilbert tertuju pada gadis yang sedang termenung di bangku taman. Senyum terukur kala melihat wajah gadis itu. Gilbert menghampiri gadis itu yang tidak lain adalah Charlotte. ''Sedang apa?'' Tanya Gilbert sembari duduk di sebelah Charlotte.
''Duduk , bukankah sudah kamu lihat sendiri. Kenapa nanya?'' Ketus Charlotte hendak berdiri , Gilbert menarik tangan gadis itu dan membuatnya terduduk kembali. ''Kamu masih marah? Kamu salah paham , yang membuat bibir nona Olivia seperti itu suaminya , bukan aku. Kalau aku melakukan itu mungkin sudah di penggal.'' Jelas Christian menatap yakin , Charlotte melirik dengan wajah serius. ''Yakin? Tidak bohong?'' Tanya Charlotte memastikan.
''Yakin , jadi jangan cuek lagi ya?'' Rayu pria itu sambil menarik pinggang Charlotte agar lebih dekat dengannya. Dekat seperti ini membuat Gilbert sangat senang. Charlotte merasa kalau jantungnya berdegup cepat dari biasanya , ia bahkan reflek mendorong Gilbert agar menjauh. ''Kenapa? Takut? Lain kali makannya nonton drama ya , biar gak kaku.'' Celetuk Gilbert bercanda , Charlotte mengangguk serius.
''Dimana istri Om galak? Aku gak mau nanti di kira merebut suami orang , nanti aku aduin ke istrinya om galak karena udah cium aku beberapa kali.'' Kata gadis itu dengan wajah serius. Gilbert terlihat termenung dan menunduk. ''Andai dia masih hidup maka mungkin kami sudah bahagia?'' Ujar Gilbert menatap padang rumput dengan pikiran yang jauh. ''Oh udah tiada ya om? Maaf Charlotte tidak tau , jadi kasihan sama Tyaga.'' Ucap gadis itu dengan sendu. ''Kenapa Tyaga? Lalu aku?'' Tanya Gilbert tajam.
Charlotte terkekeh. ''Om udah tua kan bisa jaga diri sedangkan Tyaga masih kecil jadi kasihan. Patas saja kalau aku dekap dia selalu senang.'' Gilbert menatap tidak suka. ''Kenapa hanya dia? Aku juga suka kalau di dekap kamu. Ayo sekarang gantian dekap aku.'' Ujar Gilbert memaksa. ''Kakak!!'' Panggil Tyaga yang datang tanpa baju dan masih memakai celana.
Tyaga menghampiri Gilbert dan Charlotte yang masih duduk. ''Ya ampun sayang , kenapa gak pakai baju? panas loh ini , pakai baju dulu sana.'' Titah Charlotte yang memegang pundak Tyaga , Gilbert menyandar pada kursi taman. ''Hehehe , kakak ayo mandi denganku. Aku sudah siapkan baknya." Ajak Tyaga dengan senang , Charlotte tersenyum lalu mengangguk. Berbeda dengan raut wajah Gilbert yang sudah memerah. "Tidak! Tyaga! Kamu mandi sendiri! Jangan manja!!" Sentak Gilbert yang membuat Tyaga hampiri menangis.
Charlotte mendekap Tyaga lalu menatap tajam pada Gilbert. "Kamu kenapa sih? Kenapa marah karna hal sepele? Minta maaf pada putraku sekarang juga!!" Bentak Charlotte pada Gilbert , Tyaga mendengar kata putra membuat anak itu memeluk erat. "Putra? Sejak kapan dia putramu?" Tanya Gilbert heran. "Sejak tadi , dia sekarang putraku. Cepat minta maaf atau jangan pernah bertemu denganku lagi." Ancam Charlotte yang tidak main-main.
Gilbert mau tidak mau harus meminta maaf , ini adalah kali pertama dirinya meminta maaf pada Tyaga. Meski waktu yang telah ia sia-siakan untuk mengacuhkan anaknya , tidak pernah sekalipun dia minta maaf. Tapi sekarang karna Seorang gadis polos ia harus mengungkapkan kata maaf. ''Maafkan papa Tyaga , papa salah.'' Ujar Gilbert pelan masih bisa di dengar oleh Charlotte dan Tyaga. Ini adalah sejarah untuk Gilbert karna mengucapkan kata maaf untuk putranya.
Charlotte menoleh pada Tyaga. ''Mau memaafkan papa? Jangan merasa terpaksa untuk memaafkannya , jika tidak mau maka papa tidak akan muncul di hadapan kita.'' Kata Charlotte yang membuat Gilbert mendelik kesal. ''Lalu apa fungsi diriku meminta maaf jika keputusannya yang akan menentukan.'' Gumam Gilbert yang masih di dengar oleh Charlotte.
''Aku maafkan pa , lain kali jangan sering marah-marah.'' Ujar Tyaga tersenyum. ''Baikkah jika itu keputusanmu , dengar tuan Gilbert yang terhormat. Karna kamu selalu membentak putraku maka aku umumkan kalau dia sekarang putraku jadi!! Jika sampai kamu membuat putraku sedih dan membentaknya maka kamu tidak akan bisa melihatku dan Tyaga lagi.'' Ujar Charlotte serius. Gilbert hanya terdiam tidak percaya , ia harus mengikuti ucapan gadis ini untuk melihatnya setiap waktu.
''Hah! Iya , iya , terserah kalian." Ujar Gilbert mengalah. "Ayo kita mandi , nanti badanmu panas." Ujar Charlotte sambil berdiri , Gilbert langsung kalang kabut dan menghalangi jalan keduanya. "Jangan , biar aku saja yang memandikan Tyaga. Biar papa yang ikut mandi denganmu ya?" Rayu Gilbert agar Tyaga tidak mandi dengan gadisnya. "Hmm , okey ayo pa." Ucap Tyaga sambil menarik tangan papanya dengan senang hati menuju mension belakang.
"Ingat jangan memarahinya atau membuatnya sedih." Ujar Charlotte yang hanya di angguki oleh Gilbert sambil berlalu.
Dari kejauhan ada seoarang gadis yang terlihat tersenyum menatap kejadian barusan. Orang itu tidak lain adalah Olivia. Gadis itu menghampiri sahabatnya yang duduk kembali. "Charlotte!!" Panggil Olivia sambil duduk di sebelahnya.
"Kamu sudah pulang dari sana? Bagaimana hasilnya?" Tanya Charlotte dengan serius. Olivia terlihat marah menatap langit. "Benar dugaanku , ternyata ada sesuatu didalamnya." Kata Olivia yang membuat Charlotte menutup mulutnya dengan tangan karna syok. "Apa yang harus kita lakukan? Apa kita beritahu yang lain?" Tanya Charlotte , Olivia menggeleng cepat dan menatap sahabatnya itu intens. "Kita harus cari tau lebih dalam , karna sepertinya tidak dilakukan oleh satu orang melainkan banyak orang." Ujar Olivia memberitahu , Charlotte mengangguk paham.
Bersambung.....
...****************...