Namanya adalah Disma, Disma yang dari kecil mempunyai mimpi untuk menjadi pesepakbola profesional itupun harus melalui kisah pilu serta banyak lika-liku dalam perjalanannya meraih mimpi. Mulai dari ibunya yang bersikeras untuk melarangnya dalam sepakbola hingga perjalanannya ke ibu kota untuk ikut akademi sepakbola karena tawaran seorang pelatih yang tertarik melihatnya ketika melakoni laga turnamen antar sekolah.
Dan bagaimana-kah kisah Disma yang penuh lika-liku ini? apakah dia akan berhasil mewujudkan mimpinya atau hanya akan terus bermimpi untuk menjadi pesepakbola profesional.
TERUS ikuti kisah-nya dalam buku yang berjudul (MERAIH MIMPI) ini. Salam hangat untuk para pembaca, semoga hari-hari kalian terus bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjampong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Ibu Siti Melarang Disma Bermain Bola
*Alasan Ibu Siti Melarang Disma Bermain Bola*
Keluarga merupakan fondasi terkuat dari keberadaan seseorang. Namun, terkadang perjalanannya juga tidak selalu mudah. Masalah seperti pertengkaran, ketidaksepakatan, kecemburuan bahkan kekerasan bisa saja terjadi didalam sebuah keluarga. Begitupun yang terjadi dikeluarga ibu Siti, masalah demi masalah pun terjadi sehingga menghadirkan konflik antar Darma dan Ikbal. Pertengkaran yang terjadi di meja makan itupun seketika terhenti ketika ibu Siti berkata:
“Hentikan..!” Ucap ibu Siti.
“Kalian pikir… ibu mau seperti ini.? Darma, apa kamu pikir ibu melakukan itu kepada adik kamu tanpa alasan.?” Lanjutnya.
“Iya alasannya apa bu.?” Ujar Darma yang masih terbawa suasana.
“Kamu gak bakalan ngerti Darma.!” Sahut ibu Siti dengan nada tinggi dan kemudian Darma pun berkata:
“Ahh..! Udahlah bu.” Ujarnya sontak berdiri lalu pergi meninggalkan tempat itu.
“Darma..! Darma!” Teriak Ikbal menyuruh Darma berhenti namun Darma tak menghiraukannya.
“Udah bal.” Ucap ibu Siti menahan Ikbal agar tidak menimbulkan keributan lagi dengan Darma.
Menghadapi masalah keluarga dan tak bisa memperbaikinya adalah hal yang paling menyakitkan yang bisa dihadapi seseorang dalam hidupnya, dan begitulah yang dirasakan oleh ibu Siti saat ini. Ia pada saat itupun begitu merasa betul-betul bersalah kepada Darma. Sehingga, pada malam itu Darma yang sedang menyendiri diluar rumah pun dihampiri oleh sang ibu.
“Darma.” Ucap ibu Siti dan Darma pun hanya menoleh tanpa menjawab sama-sekali.
“Kamu ingat ayah kamu nak.?” Lanjut ibu Siti yang duduk bersampingan dengan Darma.
Darma pun seketika melirik sang ibu ketika ibunya itu mulai membuka obrolan pembahasan tentang ayahnya. Dan sepertinya pada saat itu ibu Siti terlihat begitu sedih ketika mulai membicarakan Almarhum suaminya.
“Dulu… ayah kamu adalah pemain bola hebat yang dimiliki oleh kampung kita ini, dan orang-orang sangat membanggakannya. Dan dulu pada saat kamu masih kecil.. setiap kali ada pertandingan kamu pasti selalu dibawa ke lapangan untuk menyaksikan dia bermain bola.” Lanjut ibu Siti dan membuat Darma pun hanya teridam serius mendengar kisah itu dari sang ibu.
“Pada waktu itu… ibu juga sering melarangnya untuk bermain bola. Karena pada waktu itu ibu masih mengandung adek kamu, tapi… ayah kamu gak pernah mau mendengar larangan ibu. Dia tetap saja pergi bermain bola meskipun ibu selalu melarangnya. Dan pada suatu masa, saat itu sedang ada turnamen antar desa, dan ayah kamu yang membela desa kita pun bermain pada waktu itu. Tapi…” Lanjut ibu Siti yang terus menceritakan kisah sang suami dan terlihat mata ibu Stii pun mulai berkaca-kaca pada saat membahas suaminya itu.
“Tapi… ketika ayah kamu mengikuti pertandinga itu. Tiba-tiba suatu kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi. Ayah kamu mengalami serangan jantung pada saat itu juga dan memang waktu itu ayah kamu sudah tidak bisa tertolongkan lagi.” Ujarnya dengan air mata yang terus mentes karena mengingat sang suami.
Tentunya Darma yang mendengar hal itupun, kini ia sudah mengerti tentang alasan ibunya melarang sang adik untuk bermain bola. Sesungguhnya, ibu Siti takut jika apa yang terjadi kepada suaminya itu juga terjadi kepada Disma jika membiarkan Disma untuk terus bermain bola. Karena ketakutannya itulah sehingga ia bersikeras untuk tidak membiarkan sang anak terjun di dunia sepakbola.
“Ibu takut hal yang serupa akan terjadi kepada adik kamu nak… Makanya selama ini ibu selalu melarang adik kamu itu bermain bola, karena ibu takut akan hal itu.” Ujarnya kepada Darma.
“Bu… maafin Darma ya bu, Darma udah lancang berkata seperti tadi ke ibu.. maafin Darma bu.” Ucap Darma meminta maaf kepada sang ibu setelah mendengar penjelasan ibunya itu barusan.
Tentunya Darma memang tidak mengetahui cerita dibalik alasan ibunya melarang sang adik untuk bermain bola. Karena pada saat kejadian di masa itu, dirinya masihlah kecil dan kini sudah tidak mengingat kejadian itu lagi.
“Iya nak… ibu juga minta maaf ya, karena selama ini ibu gak pernah cerita ke kamu tentang alasan ibu melarang adik kamu bermain bola.” Ujar sang ibu lagi.
Setiap kehidupan pasti ada masalah, dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Namun, apakah hari ini kita tetap berkutat di dalam masalah itu, atau memilih untuk mencari sebuah jalan untuk keluar dari masalah tersebut. Dan ibu siti yang tidak ingin larut dalam masalahnya itupun mencoba mencari jalan keluar. Sehingga, iapun memberanikan diri untuk menceritakan hal itu kepada anaknya yaitu Darma. Walaupun hal itu belum ia ceritakan kepada Disma, tapi setidaknya ia sudah mulai berani untuk mencoba secara perlahan dan bertahap.
“Bu… ayo bu kita ceritakan ini kepada Disma, ibu gak boleh terus menutupi alasan ibu ini, ibu harus ceritakan kepada Disma.” Ucap Darma setelah drama mellow yang terjadi tadi.
“Tapi…” Ujar ibu Siti yang masih ragu-ragu.
“Percaya sama Darma bu, Disma pasti bisa terima kok.. dan mau sampai kapan ibu tutupi ini? ibu gak boleh terus menerus tutupi ini dari Disma, sudah saatnya ibu ceritakan semuanya ke dia… Kesian Disma bu, dia pasti sangat terpukul karena ibu belum menceritakan alasan ibu melarangnya bermain bola.” Ujar Darma yamg terus berusaha meyakinkan sang ibu untuk menceritakan hal itu kepada Disma.
Ibu Siti yang terus diyakinkan oleh Darma itupun mulai tersentuh. Dan iapun memberanikan diri untuk menceritakan hal itu kepada Disma dan dengan cepat ibu Siti dan Darma pun menuju ke kamar Disma.
“Tok tok tok.” Suara pintu yang diketok oleh Darma.
“Dek… Disma, buka pintunya dek” Ucapnya dibalik pintu menyuruh Disma untuk membukan pintu untuknya.
“Disma… buka pintunya Disma.” Lanjutnya terus mengetok pintu itu. Namun, Darma yang terus menerus memanggil adeknya itupun tak ada balasan atau tanggapan sama sekali dari sang adik.
“Tok tok tok”
“Buka pintunya dek.” Suara ketokan semakin keras dan suara Darma pun semakin kencang memanggil Disma untuk membuka kan pintu untuknya.
“Kok adek kamu gak nyahut sama sekali ya,?” Ucap ibu Siti yang terlihat mulai khawatir.
“Mungkin dia tidur bu.” Jawab Darma.
“Coba sini ibu yang ketokin pintunya.” Ujar ibu Siti lalu mengetok pintu itu.
“Nak buka pintunya nak.”
“Disma… buka pintu nya nak, ada yang ingin ibu omongin ke kamu.” Lanjutnya terus mencoba untuk membujuk Disma agar mau membuka kan pintu untuknya.
Namu tetap saja nihil, Disma tak juga kunjung membuka kan pintu itu kepada ibu dan kakaknya. Sehingga, ibu Siti yang semakin cemas itupun menyuruh Darma untuk menobrak pintu tersebut.
“Gimana dong ini… adek kamu kok gak menjawab sama sekali ya.?” Ujar ibu Siti penuh kecemasan.
“Mending kamu dobrak ajah deh pintunya nak.” Lanjut ibu Siti menyuruh Darma melakukan itu.
*BERSAMBUNG*