Indonesia
NovelToon NovelToon
Backstreet

Backstreet

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Terlarang / Romansa / Ibu Tiri
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zesca Viee

Mempunyai suami yang jauh lebih tua dan mertua yang terlalu menuntut, membuat Liliana Mustika Rani terpaksa diam-diam menjalin hubungan dengan anak tiri, yang usianya hampir sebaya dengannya.

Namun ketika Liliana dinyatakan hamil, suami dan anak tirinya sama-sama bungkam, sementara semua mempertanyakan, anak siapa yang sebenarnya ada dalam rahim Liliana?

______

🌹 Follow ig : Anggraeni._li
fb : Zesca Viee

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zesca Viee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belalai Gajah

"Kau tidak akan bisa merebut Lili dariku, Ansel," desis Ethan.

Ansel hanya menyeringai lalu kembali fokus menekuri pekerjaannya. Lebih tepatnya pekerjaan ayahnya. Ia ingin mengembalikan semuanya ke tangan Ethan, tetapi saat melihat raut wajah dan penampilan ayahnya yang sangat kacau, Ansel mengurungkan niatnya. Ia lebih memilih untuk memperbaiki laporan keuangan perusahaan Dharmendra Group.

Sebenarnya, sejak dari ia tahu Ethan mengkhianati ibunya, ia sudah begitu membencinya. Dan saat ini pun juga, ketika melihat Ethan menikmati tubuh Liliana di depan matanya. Ingin rasanya ia memukul ayahnya itu sekeras-kerasnya, tetapi dirinya kalah posisi dan status. Ia harus menyadari, Ethan mempunyai hak penuh atas diri Liliana, karena ia suaminya. Memikirkan hal itu, Ansel seketika menghentikan pekerjaannya, lalu naik ke lantai dua, menuju kamarnya. Mungkin rasa penat dan pusingnya bisa berangsur hilang dengan berbaring dan tidur.

Sementara itu Sam baru saja masuk ke kamar Liliana bersama dua orang maid, ketika tiba-tiba Liliana beranjak bangun lalu mencoba untuk berlari keluar dari kamar. Beruntung kedua maid yang datang bersama Sam sigap menangkap dan memegangi lengannya.

"Nyonya masih lemah, lebih baik Anda berbaring saja," ucap Sam. "Sambil menunggu dokter datang memeriksa kondisi Anda."

"Aku mau pergi dari rumah ini, tolong aku Pak Sam," lirih Liliana dengan wajah sedih.

"Tenanglah. Anda tidak akan bisa pergi dalam kondisi kacau dan tidak sehat," jawab Sam menenangkan.

Liliana terdiam berpikir. Dalam kekalutannya ia masih bisa menerima alasan yang diutarakan oleh Sam padanya.

Tak berapa lama, datang seorang maid dengan membawa minuman hangat untuk Liliana, di belakangnya Dokter Emil melangkah dengan tergesa.

"Saya berusaha datang secepat mungkin," ucapnya sembari memperhatikan Liliana dengan prihatin. "Saya mohon Anda berbaring dengan rileks, Nyonya, ijinkan saya memeriksa kondisi Anda."

Liliana patuh. Ia lalu membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya dengan pikiran yang masih kacau. Dalam benaknya saat itu hanyalah bayangan wajah Ansel yang sedang marah dan kecewa padanya. Bagaimana pun juga, Ansel berhak marah setelah mengetahui hal itu. Diam-diam Liliana menangis.

Sam mengajak yang lain untuk keluar dari kamar itu. Ia yakin Dokter Emil bisa mengatasi kondisi Liliana dengan sangat baik, meskipun agak sedikit canggung, karena baru dua kali bertemu Liliana.

"Menangislah kalau Anda bisa lebih lega setelahnya," ucap Dokter Emil sembari memeriksa kondisi Liliana. "Maaf, permisi," imbuhnya sembari meletakkan ujung stetoskop ke bagian tubuh Liliana.

"Apa yang Anda rasakan sekarang, Nyonya?"

Liliana menelan ludah kasar. Sulit baginya untuk bicara, setelah menahan luapan emosi dalam hatinya. "Sedih," jawabnya singkat.

Dokter Emil melongo. Bukan itu maksud pertanyaannya, tetapi ia lalu menghela napas, mencoba untuk menjadi pendengar yang baik bagi Liliana. "Ada yang mau Anda ceritakan? Meskipun mungkin saya tidak bisa banyak membantu, tetapi saya bisa menjadi pendengar yang baik, Nyonya. Rahasia pun terjamin," tandasnya.

Liliana berdeham pelan. "Tidak ada," jawab Liliana. "Tetapi saya ada pertanyaan."

"Tanyakan saja, silakan."

"Apakah para pria ketika marah dan cemburu selalu tidak mau mendengar penjelasan pasangannya?"

Dokter Emil tertegun. Sempat terlintas dalam benaknya jika Liliana sedang mempunyai masalah besar dengan Ethan. "Tidak hanya pria, para wanita juga ada yang seperti itu," jawabnya lugas. "Itu wajar, karena setiap masalahnya membesar, ego seseorang akan selalu dikedepankan bersama dengan emosi yang harus diluapkan. Jadi, saat itulah kenapa seseorang tidak mau mendengar penjelasan apapun, karena baginya semua pasti omong kosong," jelasnya.

Liliana terdiam berpikir. Mungkin saat ini Ansel masih emosi, jadi dia belum bisa menjelaskan apa permasalahan yang sebenarnya. "Anda benar, Dokter."

Dokter Emil tersenyum dan mengangguk. "Saya belajar dari pengalaman hidup saya sendiri," ucapnya. Liliana tersenyum dipaksakan.

"Apa ada yang terasa sakit, Nyonya?"

Liliana menggeleng ragu. Sebenarnya saat ini ia merasakan sakit yang luar biasa di bagian inti tubuhnya, karena Ethan telah menghujam nya dengan paksa dan tenaga yang luar biasa, seolah sedang melampiaskan kemarahan. Tetapi masa iya hal itu bakal ia ungkapkan di depan dokter pria ini? Liliana tidak bisa melakukannya. Mungkin besok atau lusa ia akan pergi memeriksakannya ke dokter spesialis yang sesuai.

"Ya sudah kalau memang tidak ada yang dikeluhkan lagi. Anda hanya perlu istirahat, jangan terlalu banyak pikiran," ucap Dokter Emil sembari tersenyum ramah. "Kalau ada masalah yang ingin Anda ceritakan pada saya, jangan sungkan untuk hubungi saya," pesannya.

"Apa Dokter juga seorang psikolog?" tanya Liliana.

Dokter Emil tertawa. "Bukan. Tetapi banyak juga yang konseling sama saya, yaah ..., meskipun saya belum pernah menikah, setidaknya saya bisa menjadi pendengar dan pemberi masukan yang baik," ucapnya malu-malu. Liliana hanya tersenyum tipis menanggapinya.

Melihat Liliana yang tidak banyak bicara lagi, akhirnya Dokter Emil pun segera berpamitan. Ia lalu melangkah keluar dari kamar Liliana dengan langkah ringan, karena tidak ada masalah yang berarti dalam diri wanita itu.

"Bagaimana kondisinya, Dokter?"

Dokter Emil nyaris meloncat saat tiba-tiba Ansel keluar dari balik tembok dan bertanya padanya. "Ah, ehm, Nyonya Ethan baik-baik saja. Beliau hanya mengalami depresi dan membutuhkan banyak istirahat," jawabnya sembari menatap lekat Ansel. Ia sengaja menyebut Liliana dengan Nyonya Ethan, karena ingin membuktikan dugaannya atas diri Ansel.

Benar saja, raut wajah Ansel seketika memerah saat mendengar sebutan untuk Liliana. Lagi-lagi ia tertampar kenyataan bahwa sebenarnya Liliana adalah ibu tirinya. "Boleh dijenguk?" tanyanya. Tiba-tiba saja ia merasa bersalah setelah begitu emosi pada Liliana.

"Silakan. Tapi apa Anda tidak perlu ijin dulu dari ayah Anda?"

Ansel mencebik. "Dia tidak pernah mencintainya," desisnya kesal.

Dokter Emil tersenyum penuh arti. Sepertinya dugaannya memang benar. Tetapi ia tidak berani untuk bertanya lebih lanjut, karena menyadari dirinya hanyalah seorang dokter keluarga, bukan keluarga yang sesungguhnya.

"Baiklah, Tuan Ansel, saya pamit dulu. Masih banyak yang harus saya lakukan di luar," pamit Dokter Emil.

"Terima kasih," ucap Ansel tulus. Dokter Emil hanya mengangguk, lalu setelah itu ia menemui Sam yang berdiri agak jauh dari kamar, karena tahu Ansel berada di sana.

Ansel berdeham pelan sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam, menemui Liliana. Ia masih harus mengatur jantungnya yang berdetak begitu kencang, dan memilih kata-kata yang pantas untuk ia ucapkan pada Liliana. Sejujurnya ia begitu tersiksa jika harus bermusuhan dengan Liliana, lebih sakit dari rasa cemburu yang kini menggerogoti hatinya.

Hingga akhirnya ia pun mengembuskan napas panjang berkali-kali lalu melangkah dengan pasti, masuk ke dalam kamar Liliana.

"A-Ansel?" Liliana terperanjat. Tadinya ia ingin bertemu Ansel untuk menjelaskan semuanya, tetapi saat menyadari tubuhnya telah ternoda oleh Ethan, ia pun menjadi malu dan merasa tidak pantas.

"Bagaimana kondisimu?" tanya Ansel kaku.

"Seperti yang kau lihat," jawab Liliana sembari tertunduk malu.

Ansel duduk di samping ranjang dan menatap wajah Liliana yang pucat pasi. "Maafkan aku," ucapnya setelah berhasil menghancurkan egonya.

"Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf, bukan kamu."

Ansel tersenyum lembut. "Sudahlah. Kamu tidak bersalah dan jangan lagi membahas tentang hal ini, oke?" pinta Ansel dengan wajah sendu.

Liliana mengangguk setuju. "Tubuhku terasa sakit semua, apa kamu mau mengantarku ke dokter, besok?" tanyanya ragu.

"Tadi kau tidak bilang ke Dokter Emil?" tanya Ansel keheranan.

Liliana meringis malu. "Yang sakit bagian inti tubuhku, masa aku harus bilang ke Dokter Emil?"

"Oh, tidak jangan! Baiklah, besok aku akan mengantarmu," sanggup Ansel. "Apa terlalu sakit?"

Liliana mengangguk lalu menangis. "Hatiku juga sakit," lirihnya.

Ansel mengusap kasar wajahnya. Ia paling tidak bisa jika melihat Liliana menangis seperti itu. Ia tahu, mungkin Liliana masih shock dengan kejadian itu.

"Hatimu di sebelah mana letaknya?" tanya Ansel ambigu.

"Di sini," jawab Liyana sembari menunjuk ke ulu hatinya.

"Kemarilah, biar aku obati."

"Dengan apa?"

Tanpa banyak bicara Ansel langsung saja menciumi ulu hati Liliana dengan gemas. Liliana menggelinjang kegelian.

"Hentikan, kau malah membuatnya ngilu," protes Liliana.

"Baiklah, aku akan lakukan dengan pelan."

Sontak Liliana tertawa perlahan. Hilang sudah kesedihannya karena ulah Ansel. "Apa kau hanya ingin mengobati hatiku?"

"Tentu saja tidak. bagian mana lagi yang sakit?"

"Di bawah sana, aku sudah memberitahumu," jawab Liliana.

Sontak kedua mata Ansel terbelalak lebar. "Kalau bagian itu harus disembuhkan dengan belalai gajah!" serunya cepat sembari tersenyum penuh arti.

1
Sery
rebutan wanita..sini banyak
Sery
bapak n anak berbagi
Sery
biarkan saja Ethan tidak pulang2
shery fiana
makanya, suruh pergi kok
shery fiana
ancem aja tuh mak lampir
shery fiana
kamila sm etham sm2 kaya bocil
shery fiana
pasti anak ansel
shery fiana
wkkkw hottt
shery fiana
hamidun?
shery fiana
hahaaha memalukan. udah gitu mau jual lili. dasar laki ga modal
shery fiana
lho kok maruk? ngerti maruk? serakahh
shery fiana
kakek, bukan anak wkwkwk
shery fiana
pergi aja lili. lingkungan itu toxic. biar ansel yg nyari kamu
shery fiana
nah dah dpt lampu hijau
Sery
nggak suka dulu, sekarang suka..malah suka na..na ni 🤣
Sery
orang mabok nggak bisa lu tendang lili..kapok lu..
Sery
semua kacau, gara-gara tua Bangka tuh
Sery
salah paham bagaimana..jgn ngeles Sam
Ratu Wr
ansel cemburu yaaaa
Ratu Wr
waduhhh anak sama bapak sama-sama menikmati dalam waktu berdekatan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!