Indonesia
NovelToon NovelToon
Like Father, Like Daughter.

Like Father, Like Daughter.

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Action
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: A Veil Asvara

#Dark Romance, Obsesi

Di tengah kota yang dilanda kerusuhan dan hukum tak lagi berfungsi, Kirania hidup dalam dunia yang penuh ancaman. Sebagai seorang remaja ceria, ia tak pernah menyangka bahwa kehidupannya akan berubah drastis ketika menjadi target seorang pria obsesif yang siap melakukan apa saja untuk memilikinya.

Ayahnya, Albert, seorang pria dingin dengan masa lalu kelam, adalah satu-satunya pelindung Kirania. Dalam dunia yang dipenuhi kekerasan dan tipu muslihat, Albert harus menggali kembali insting mematikannya demi melindungi putrinya. Namun, di balik perlindungannya, tersembunyi rahasia yang mengancam keharmonisan hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Veil Asvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Kirania menyeringai setan saat mendapati sang papa bercosplay menjadi pangeran tidur. Sejak semalam hingga hari sudah menjelang sore, Albert tidak kunjung bangun.

Berkali-kali dia mencoba membangunkan pria itu, namun tidak ada hasilnya. Dia memanfaatkan momen ini untuk balas dendam.

"Papa, kau sungguh tampan. Seandainya aku bukan putrimu." Ucap Kirania dramatis memuji ketampanan sang papa yang masih tertidur pulas.

Gadis itu menatap wajah sang papa dengan lekat, tidak ada jerawat maupun komedo yang membuatnya mendengus iri.

"Dia tidak akan bangun dalam waktu singkat, kan?" Tanyanya entah pada siapa.

"Dia tertidur pulas. Mungkin dia berada di alam bawah sadarnya dan kemungkinan akan sadar masih lama." Ujar Ganymede menganalisis.

"Hohoho~ Bagaimana jika kita bermain sedikit? Aku masih dendam dengan pria ini." Gerutunya pelan sambil tersenyum miring.

"Hohoho~ Ide bagus. Aku juga ingin sekali menjahili bocah ini."

Dan Ellios mengintip sang adik yang berada di dalam kamar Albert hanya bisa menatap sang ayah yang masih tidur dengan prihatin sekaligus geli.

"Jangan lupa jika Ganymede itu sangat usil. Dia tidak tahan untuk tidak usil dalam sehari." Celetuk Aulolis tiba-tiba.

"Aku jadi penasaran dengan tingkah mereka."

⚛️⚛️⚛️⚛️

"Ngghh..." Albert melenguh, tubuhnya terasa berat. Dahi yang mengernyit seketika, seolah ada ketidaknyamanan yang menyelimuti tubuhnya. Dingin, basah, dan lembap, tetapi entah mengapa perasaan itu seperti kesemutan yang menjalar perlahan. Itulah sensasi pertama yang dia rasakan saat terbangun dari tidur panjangnya.

Dengan perlahan, dia membuka mata, dan cahaya dari kamarnya yang masih menyala menandakan bahwa sudah cukup siang. Albert segera mencoba bangkit untuk duduk, namun sebelah tangannya terasa aneh, seperti ada beban berat yang membuatnya tidak bisa bergerak dengan bebas.

Dia menoleh, dan mendapati Kirania dan Ellios tertidur di sebelahnya, keduanya masih dalam posisi duduk yang canggung. Apakah mereka menunggunya semalam? Sebuah senyum tipis mengembang di bibir Albert, menyadari betapa mereka sangat memperhatikannya, meski dengan cara yang aneh.

'Pluk!'

Sebuah benda terlepas dari wajahnya dan jatuh ke pangkuannya. Albert memandang benda itu sejenak dengan bingung, lalu mengambilnya. Sebuah sheet mask. Dia menatap benda itu, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Tanpa sepenuhnya sadar, dia menoleh dan melihat produk skincare milik Kirania yang tergeletak begitu saja di atas nakas miliknya. Rasanya, sepertinya mereka berdua ada di sini semalam, mungkin mengerjai atau... mengaplikasikan skin care padanya?

Albert, yang merasa sedikit terkejut, memutuskan untuk memeriksa ponselnya. Jam menunjukkan pukul 03:00 pagi. Masih terlalu dini untuk benar-benar bangun. Namun, rasa penasaran mendorongnya untuk melihat galeri ponselnya. Setelah memeriksanya, ternyata tidak ada hal yang mencurigakan. Kecurigaannya tidak terbukti.

Segera, Albert dengan hati-hati membaringkan kedua anaknya yang sudah beranjak remaja di ranjangnya. Melihat posisi tidur mereka yang tampak tidak nyaman membuat hatinya sedikit kasihan. Apalagi, mereka telah bersedia menunggunya dengan sabar sepanjang malam. Perlahan, dia membenarkan posisi tidur mereka agar lebih nyaman, tanpa membangunkan mereka.

Setelah selesai memindahkan mereka dengan hati-hati, Albert memutuskan untuk menuju kamar mandi dan mencuci muka, membersihkan sisa masker yang menempel di wajahnya. Handuk kecil yang ia gunakan untuk mengelap wajahnya membuat kulitnya terasa lebih segar. Saat memandang dirinya di cermin, dia melihat refleksi yang sedikit lebih segar dibandingkan terakhir kali ia ingat. Seketika, niatnya untuk mengajak kedua anaknya bersenang-senang sebagai ungkapan terima kasih muncul di benaknya.

Albert kembali berbaring di sebelah Kirania yang masih tertidur dengan lelap. Dia berbaring dalam keheningan, mencoba untuk tidur, namun matahari yang mulai menyinari jendela dan suara detak jam dinding membuatnya terjaga lebih lama. Tak ada rasa kantuk yang datang. Perlahan, dia duduk, dan sekali lagi ia meraih ponsel kedua anaknya.

Albert tahu bahwa ini adalah pelanggaran privasi, namun kekhawatirannya lebih besar. Banyak kejahatan yang mengintai remaja di kota ini akhir-akhir ini. Dia harus memastikan kedua anaknya tidak terjerumus dalam hal yang bisa membahayakan mereka. Dengan hati-hati, ia mulai memeriksa ponsel Kirania terlebih dahulu.

Ternyata, Kirania menggunakan sistem keamanan sidik jari. Albert merasa sedikit lega saat akhirnya berhasil membuka ponselnya. Ia langsung mengecek akun media sosial dan percakapan di aplikasi WhatsApp. Tidak ada yang aneh, selain beberapa obrolan grup di kelasnya yang isinya sebagian besar tentang rencana konyol untuk mengerjai guru baru mereka. Ada sedikit kekacauan dalam percakapan mereka, tetapi tidak ada yang mengkhawatirkan.

Setelah merasa puas, Albert melanjutkan membuka galeri ponsel Kirania. Beberapa foto dirinya bersama Kirania, Ellios, dan teman-teman lainnya. Namun, matanya membelalak saat tidak sengaja menemukan sebuah folder tersembunyi di galeri itu. Dengan sedikit ragu, ia membuka folder tersebut.

Dan di sana, di dalam folder yang sangat pribadi, terdapat foto dirinya dengan berbagai filter wajah dan ekspresi konyol dari Kirania dan Ellios. Albert merasa kesal, geli, namun ada sedikit rasa malu yang menghampirinya. Tidak bisa dipungkiri, dia merasa sedikit cemas melihat tingkah laku anaknya yang sepertinya sangat menikmati momen konyol tersebut.

Albert menatap wajah cantik Kirania yang tertidur lelap di sebelahnya. Meskipun putrinya itu terlihat begitu damai dalam tiduran, Albert merasa wajah itu tiba-tiba menjengkelkan. Wajah yang tak bisa dia tebak apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya.

Setelah memeriksa ponsel Kirania, Albert merasa sudah cukup. Dia memutuskan untuk membersihkan seluruh rumah sebentar. Hari ini adalah hari libur untuk kedua anaknya, dan setelah semua kejadian ini, Albert bertekad untuk melatih mereka sebagai bentuk balas dendam. Setelah semua kekesalan ini, ada waktu yang tepat untuk mengajari mereka beberapa hal. Tetapi dia tahu, permainan ini belum berakhir.

⚛️⚛️⚛️⚛️

Kirania celingukan mencari keberadaan sang papa tampannya. Sementara Ellios telah pergi mengerjakan tugas di rumah salah satu temannya sejak tiga puluh menit lalu.

Setelah berkeliling rumah sekitar tiga puluh menit, dia menemukan orang yang dicarinya ternyata berada di minibar yang terletak di dekat dapur. Kirania menyeringai dan berjalan kearah Albert dengan langkah ringan tanpa suara seperti kucing.

'Grep'

Sebuah tangan mungil memeluk perut Albert dari belakang, membuat pria yang sibuk meracik minuman itu terlonjak kaget dengan tubuh sedikit gemetar. Namun saat mengenali pemilik tangan itu, Albert menghembuskan nafas lega.

"Ada apa, Kucing? Kau mengagetkanku."

Kirania yang sedang menyembunyikan wajah cantiknya di punggung sang papa melepaskan pelukannya dan berdiri di sebelah pria yang kini meliriknya dengan tajam.

Kirania memamerkan cengirannya. Dia tau jika pria disebelahnya memiliki trauma dengan perempuan, kecuali dengan dirinya.

"Hehe... Maaf, Pa."

Albert meletakkan beberapa botol minuman ke tempatnya semula dan segera menatap putrinya dengan sedikit hangat.

"Papaku yang tampan paripurna~" Kirania mulai melancarkan jurusnya untuk meminta tolong dengan pria itu. Albert yang mengerti hanya bisa menaikkan sebelah alisnya. Entah apalagi permintaan gadis ini.

"Hm?"

"Papa hari ini sibuk tidak?" Tanya Kirania malu-malu.

"Tidak." Albert segera keluar dari mini bar dan menuju halaman belakang dengan Kirania yang mengekor di belakangnya.

"Papa mau jadi sugar daddy aku, nggak?"

Albert spontan menghentikan langkahnya dan menatap Kirania dengan ketus. "Bukannya aku sudah memberikanmu uang bulanan setiap bulan dan lainnya?"

"Itu kan lain. Tapi ini beda, loh." Ucapnya dengan nada memelas dan mata yang tampak berkaca-kaca. Ugh! Tatapan menyebalkan itu!

"Katakan." Perintahnya tegas, berusaha melawan tatapan yang entah mengapa memaksanya menuruti perkataan putrinya.

Kirania tersenyum senang dan mengutarakan keinginannya.

"Karena si botol sambal sedang keluar mendadak, bisakah Papa mengantarkan ku ke suatu tempat? Aku malas pergi seorang diri. Bagaimana jika putrimu yang cantik ini di culik orang?" Celotehnya dengan nada memohon dan menatap pria itu penuh harap.

"Kau mau pergi keluar denganku?" Tanya Albert memastikan yang di balas dengan anggukan semangat dari Kirania.

Albert menyeringai tipis. Kenapa tidak sekalian pergi latihan berdua dengan putrinya?

"Tentu saja. Setelahnya kita latihan. Jadi cepat bersiap." Perintah Albert tegas.

"Oke, Pa."

⚛️⚛️⚛️⚛️

Beberapa pejalan kaki yang sedang lewat tidak bisa menahan pandangan mereka terhadap pasangan ayah-anak yang sedang berjalan dengan penuh percaya diri itu. Mereka menatap dengan takjub, beberapa bahkan tidak bisa menahan diri untuk berseru kecil, hampir seperti terpesona oleh aura yang mereka pancarkan. Ada yang bahkan memekik histeris karena tak menyangka bisa melihat sosok yang begitu memukau di jalanan. Namun, Albert dan Kirania tetap berjalan tanpa menghiraukan tatapan orang-orang di sekitar mereka, seakan dunia ini hanya milik mereka berdua.

Pasangan ayah-anak itu mengenakan pakaian serupa, yang membuat mereka tampak seperti dua sosok yang tak bisa dipisahkan. Celana cargo hitam dan tangtop berleher tinggi abu-abu yang dipadukan dengan cardigan berhoodie hitam, memberi kesan kasual namun penuh gaya. Selop tangan setengah jari berwarna hitam yang dilengkapi rantai kecil di sekitar jari mereka menambah kesan urban yang kuat. Bibir mereka dihiasi tindik hoop hitam yang semakin menegaskan kehadiran mereka.

Telinga mereka mengenakan anting yang serasi, model bajoran di telinga kiri dengan batu amethyst ungu yang berkilau, dan anting stud hitam di telinga kanan, menambah kesan misterius yang terpancar dari wajah mereka. Kirania dengan rambutnya yang diikat ekor kuda, dihiasi jepit rambut pemberian Albert, tampak semakin cantik dan imut, meskipun keanggunan itu diselubungi oleh aura pemberontakan.

Albert, dengan samurai yang tergantung rapi di balik jaketnya, berjalan dengan langkah mantap, sementara Kirania membawa pisau lipat kecil dan kipas besi kesayangannya yang tersembunyi dengan rapi di balik jaket. Meskipun penampilan mereka terkesan seperti berandalan yang siap menghadapi apapun, ada sesuatu yang sangat memikat dari cara mereka berjalan, sebuah pesona yang begitu kuat dan sulit untuk diabaikan.

Orang-orang yang ada di sekitar mereka seolah terhipnotis oleh energi yang mereka pancarkan. Setiap gerakan, setiap langkah, seakan memiliki kekuatan yang mampu menarik perhatian. Begitu sempurna, begitu kuat, hingga siapapun yang melihat mereka tak bisa menahan rasa kagum yang muncul begitu saja.

Namun, bagi Albert dan Kirania, dunia luar hanyalah latar belakang dari perjalanan mereka. Mereka tidak peduli dengan pandangan orang lain, karena mereka tahu, selama mereka bersama, tidak ada yang perlu ditakutkan.

"Ceritanya kau berkencan dengan ayahmu sendiri?" tanya Albert, suara setengah menggoda saat mereka memasuki taman yang terletak di pinggir sungai. Keduanya mencari tempat yang agak terpencil dan duduk di sana, menikmati ketenangan.

"Hehe~ Bukankah wajahmu tidak cocok memiliki anak seusiaku? Mereka selalu mengira Papa itu kakakku," sahut Kirania dengan tawa kecil, tampak menikmati keusilannya.

"Dasar!" Albert menoyor kepala putrinya pelan, membuat Kirania mendecak kesal.

"Hentikan, Pa. Nanti kepalaku bisa lepas," protes Kirania dengan ekspresi sebal, meski suaranya masih terdengar penuh canda.

"Jangan khawatir, aku akan mengubur kepalamu dan menggantinya dengan kepala bebek," jawab Albert santai, matanya yang tajam tetap tidak lepas dari Kirania.

Mereka saling tatap dengan intens, mata mereka beradu tajam seperti dua laser yang saling berkonfrontasi, menciptakan percikan energi di udara di sekitar mereka. Dalam momen itu, Kirania tampak seperti seekor kucing hitam galak yang menantang panther hitam yang ganas, dengan latar belakang gunung meletus dan sambaran petir yang menghiasi sekelilingnya.

'Tak'

Albert dengan cepat menyentil dahi Kirania, membuat gadis itu meringis kesakitan, meski ia berusaha menahan rasa nyeri. "Jangan menggeram seperti kucing yang ikannya direbut. Dasar kucing!"

"Aish! Kenapa aku punya papa yang menyebalkan begini sih!" Kirania mencak-mencak kesal, meskipun senyum kecil tetap tersungging di bibirnya.

Albert tak bisa menahan diri dan menarik pipi Kirania dengan gemas sebelum memiting lehernya, membuat gadis itu menggeliat. Kirania, yang tidak bisa diam begitu saja, refleks menyikut perut sang papa dengan keras.

'Dukh'

Albert melepaskan pitingannya dan mengedarkan pandangannya ke sekitar mereka, seakan mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatian. "Kau lapar?"

"Ah~ Papa tampanku memang perhatian banget~" Kirania kembali mengalihkan perhatian dengan suara manja, membuat rasa jengkel dan kesal yang semula ada pada dirinya seketika menguap begitu saja.

Albert memutar bola matanya malas. "Kau memang nggak ada habisnya, ya?" pikirnya dalam hati, sambil menatap aliran sungai yang mengalir deras di depan mereka. Menyeburkan gadis ini ke dalam sungai... tidak termasuk kekerasan, kan? pikirnya sambil tersenyum kecil.

---

1
jejes879397
seruuuuu
jejes879397
halo aku mampir, di tunggu kelanjutannya di novel sebelah ya😉😉
RS
dasar murid murid GK ada akhlak🤣😂
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Sribundanya Gifran
lanjut lagi thor💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut lagi thor
Rama Fitria Sari
hallo, salam kenal. Like dan komen sudah mendarat ya. Harap mampir kembali di karya terbaru ku "Jika masih berjodoh" Dan "Akankah kita berpisah" Mari saling mendukung terima kasih
Author Asvara: salken jg kak.
total 1 replies
Randa kencana
ceritanya sangat menarik
za ros
the best👍👍
Sribundanya Gifran
lanjyt thor
Sribundanya Gifran
lanjut lagi thor
Sribundanya Gifran
lanjut lagi thor💪💪💪💪🙏
Riani Simatupang
cerita nya bgus banget,,semangat terus kak...😍😍😍😍😍
RS
ceritanya seru dan keren,,walau blm banyak yg baca semangatt thorr
Author Asvara: makasi udah mampir.
total 1 replies
RS
lanjuttttt
RS
lanjutttt Thor lagi seru tegang tegangnya
RS
ahh Leona sama emng kerennnn
RS
gaskeun Thor
RS
hajarrrrrrrrrr
RS
semangat terussssss thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!