Indonesia
NovelToon NovelToon
Imam Untuk Syifa

Imam Untuk Syifa

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Cinta Seiring Waktu / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daya Hikari

Assyifa Amalia Rizqi, seorang gadis dengan akhlaknya yang baik. Seorang gadis yang dikagumi banyak kalangan karena kepribadiannya yang mengagumkan.

Namun, ia bukan gadis yang beruntung soal percintaan. Ia adalah gadis yang diam-diam menyukai seseorang dan mendoakannya rutin di sepertiga malam agar berjodoh dengan sang pujaan hati. Tapi tak disangka, Syifa ternyata juga diam-diam disukai oleh kakak sahabatnya sejak lama, yang usahanya juga seperti Syifa dengan melangitkan doa agar dijodohkan dengan Syifa. Tiba-tiba pula, seorang laki-laki datang dan dianggap anak oleh orangtuanya sendiri, yang membuat Syifa juga terpaksa menjadi adik dadakan untuk pria ini.

Bagaimana kisah cinta Syifa yang mengagumi sosok Iqbal, dicintai oleh Angga, dan didekatkan dengan Ali oleh orangtuanya?
Siapakah sosok imam yang pantas untuk Syifa? Atau yang layak Syifa dapatkan?
Siapapun itu, Syifa hanya seorang gadis biasa yang menginginkan cinta yang melimpahinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daya Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IUS BAB 22

Tak lama, mereka tiba di tempat makan. Tempat ini bahkan sangat ramai untuk dibilang sebagai restoran mewah yang memiliki ruangan vip. Mungkin karena bertepatan dengan jam makan siang? Atau karena memang kualitas makanannya yang enak. Atau bahkan sesederhana Ali tak ingin makan berdua saja di tempat sepi dengan Syifa. Takut di kira kencan. Apalagi jika seseorang dari sekolah tahu dan melihat mereka. Ali memang sengaja memilih tempat yang agak jauh dari lingkungan sekolah.

"Mau bungkus aja, Kak? Kayaknya kita kehabisan tempat, deh. Penuh tau," usul Syifa.

"Nggak penuh, kok. Banyak sebenarnya yang sudah selesai makan, tapi memilih masih nongkrong. Kita bisa menempati tempat mereka. Tidak akan ada yang menegur, kok. Ini hak kita juga sebagai pelanggan. Iya kan?"

"Iya kak bener." Setuju aja dah, pikir Syifa.

Tak ada obrolan antara Syifa dan Ali saat makan. Benar-benar hening. Pertama, karena suasana sekitar terlalu berisik di jam makan siang seperti ini. Kedua, makanan yang mereka santap begitu nikmat, sampai tak memikirkan apapun selain kenikmatannya disaat itu. Ketiga, keduanya menghindari pembicaraan karena takut tak dengar dan terlibat dalam situasi seperti orang yang sedang kencan. Cuma itu.

"Kamu mau ke mana lagi setelah ini? Mau ke mall?" Setelah makan, mereka langsung kembali ke mobil. Agar orang-orang yang mengantri bisa mendapatkan tempat duduk mereka.

"Aaa, nggak usah, Kak. Syifa mau pulang aja. Nggak usah repot-repot," tolak Syifa halus. Aslinya, Syifa lelah jika diajak berkeliling mall, karena tadi malam, ia sudah diajak ke mall bersama keluarga Sasha.

"Kamu masih berhutang cerita. Katanya abis makan bakalan cerita. Gimana tuh?" tagih Ali.

Hampir saja lupa. Kemudian Syifa menepuk jidatnya dan meminta maaf pada Ali.

"Ya udah, pulang aja. Ntar Syifa ceritain di mobil," usul Syifa.

"Mau saya carikan tempat cerita yang bagus?"

"Nggak mau. Paling Kakak nanti bawa Syifa ke tempat yang rame kayak tadi. Mana bisa cerita kalau gitu. Mending pulang aja, di ruang tamu kita ngobrol. Atau, kalau Kak Ali nggak mau seruangan di tempat tertutup dengan Syifa, kita bisa bicara di teras depan."

"Iya, ini memang tempat yang ramai. Tapi kamu masih bisa cerita, kok."

"Ya udah. Ayo. Mari kita lihat, kemana mobil kita akan berlayar."

"Haha. Kapal kali yang berlayar. Kok mobil?"

Syifa menyadari sesuatu. Daripada seperti kakak dan adik, mereka lebih condong terlihat sebagai sepasang kekasih.

Tawa Ali pada candaan receh Syifa membuat Syifa terpana. Senyumnya sangat singkat, tapi mampu membuat Syifa menahan nafas beberapa detik. Apalagi, ternyata setelahnya Ali refleks memegang kepala Syifa kegemasan. Ali sendiri tak menyadari hal itu terjadi. Buktinya, ia langsung mengalihkan topik pembicaraan untuk membahas bagaimana restoran yang mereka datangi tadi secara natural. Sementara itu, Syifa berusaha fokus dengan alur pembicaraan di kala ia masih tak mengerti sifat manis Ali barusan. Manis? Entah kenapa Syifa berpikiran ini sangat manis.

**

"Jadi, kita sudah sampai. Ayo, cari tempat."

"Taman? Kita ngobrol di taman, Kak?"

"Iya. Emang kenapa? Banyak tempat duduknya kan. Dan lagi, banyak juga tempat meneduhnya."

Ide Ali tidak buruk. Hanya saja tak bisa disangka. Kalau hanya bertujuan untuk cerita, di rumah saja juga bisa. Kenapa jauh-jauh ke taman? Mereka juga punya taman kecil di rumah. Itu pikir Syifa.

"Nggak apa-apa, Kak. Ya udah, ayo." Syifa berusaha mengikuti alur. Niat Ali sudah sangat baik.

"Sebentar, ya. Saya ke sana dulu. Kamu duluan aja cari tempat. Di dekat lapangan badminton biasanya banyak kursi. Nanti saya nyusul. Maaf ya," ucap Ali. Syifa hanya menyetujui tanpa tapi. Toh mau dijawab pun Ali langsung pergi meninggalkannya. Yang bisa ia lakukan hanya melakukan sesuai dengan dititahkan Ali.

Syifa memilih kursi taman yang teduh, yang letaknya berada di tengah-tengah. Sehingga orang-orang bisa melihat mereka dengan jelas. Melihat dari karakter Ali yang tak suka jika berduaan dengan yang bukan mahram di tempat yang tersembunyi, maka kursi ditengah-tengah ini adalah pilihan terbaik.

Syifa tak berfikiran kalau taman ini ternyata memiliki penghijauan yang menyegarkan mata, yang selanjutnya juga menyegarkan pikiran. Berbeda dengan taman rumahnya, jauh berbeda. Kini Syifa sedikit mengerti kenapa Ali membawanya ke sini.

"Maaf menunggu lama. Saya membeli beberapa snack untuk kamu. Ada gulali dan lolipop juga, nih," sapa Ali yang langsung mengetahui letak duduk Syifa.

Syifa tertawa. "Yang bener aja, Kak. Kenapa juga beli gulali dan lolipop? Emang Syifa anak kecil?"

"Kamu nggak suka, ya? Ya udah kalau gitu, saya kasih ke anak kecil lain aja ntar kalau ketemu," ucap Ali kurang semangat.

"Eeh, bukan begitu, Kak. Maksudnya Syifa, tuh, bukan buat nolak, kok. Syifa nggak expect aja kalo Kak Ali bakal beli itu juga. Boleh Syifa tau alasannya?"

"Saya pikir, makanan manis bisa membuat kamu tetap dalam mood yang stabil saat bercerita nanti. Saya juga melihat, seorang wanita diberikan gulali dari yang saya lihat mungkin pacarnya, dan wanita itu menunjukkan wajah yang sangat bahagia. Kalau lolipop, saya ingat dulu pernah kkn dan menemukan anak kecil yang wajahnya langsung sumringah saat menerima lolipop. Intinya, saya ingin membuat kamu bahagia hari ini, Syifa. Maaf ya kalau berlebihan," jelas Ali.

Hah? Apa itu tadi? Seketika wajah Syifa memerah. Bukan hanya sikapnya yang manis, ucapan Ali juga tak kalah manisnya.

Syifa berusaha menetralkan perasaan campur aduk yang dominan adalah perasaan senang. Kemudian, ia tersenyum pada Ali.

"Terimakasih banyak, Kak. Syifa seneng banget. Kakak udah cukup banget buat Syifa bahagia hari ini. Syifa bersyukur punya kakak kayak Kak Ali," balas Syifa. Tentu saja ia sudah berpikir jernih terlebih dahulu atas sikap Ali padanya. Ali hanya bersikap layaknya seorang kakak yang menyayangi adiknya, tidak lebih.

"Alhamdulillah..., saya lega dengernya. Saya ingin menebus kesalahan saya waktu itu. Berdebat dengan kamu waktu itu menyadarkan saya betapa kurangnya saya sebagai seorang kakak. Saya ingin benar-benar menjadi kakak yang ideal bagi kamu. Jadi, mohon kerjasamanya, ya, Syifa. Kasih tau saya kalau saya salah. Kasih tau saya soal bagaimana kamu ingin diperlakukan."

Ali benar-benar menebus kesalahannya waktu itu. Jika saat itu lidahnya kelu untuk mengatakan hal lain pendamping permintaan maafnya, kali ini ia akan perbaiki. Ia tunjukkan dengan sikapnya bahwa dia ingin benar-benar menjadi seorang kakak bagi Syifa lewat tindakan yang ia pikir semua kakak di seluruh dunia lakukan untuk adiknya. Mungkin ini tidak cukup. Tapi ia yakin, jika ia konsisten, usahanya akan membuahkan hasil. Kali ini ia juga harus berhati-hati dengan perasaan Syifa yang terlibat besar di sini.

Sementara itu, Syifa agak kecewa, perhatian yang ia dapatkan barusan tidak lebih dari sekedar kasih sayang keluarga biasa. Tapi ia mengapresiasi usaha Ali yang benar-benar totalitas menebus kesalahannya. Syifa bahkan sekarang lula sudah pernah dibuat sekesal itu oleh makhluk bernama Ali ini. Benar-benar, hari ini Ali manis sekali sikapnya. Dan Ali berhasil, sukses besar membuat Syifa memaafkan soal perdebatan mereka waktu itu.

**

1
Nurlistia Mukti
aku suka ceritanya
Keyozzx
Yang Mau baca Karya Saya Langsung Aja Soal Yang Masih Sepi Bantuin Ramein Gitu haha
( Transmigrasi gadis Imut)/CoolGuy/
Dynamit
kalau teman aku sih suka curi pandang
Dynamit
rohis : rohani islami
btw aku dulu anak rohis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!