Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Regantara merapikan posisi kancing jasnya yang sedikit miring.
"Aku ada rapat, diam lah di sini." ucapnya singkat, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Zara menghela napas panjang, sambil merenggangkan jemarinya yang sempat terkepal erat selama menahan tekanan aura Regantara.
Ia berjalan mendekati sofa kulit di sudut ruangan, memandangi berkas hitam di meja.
Satu menit, dua menit... hingga sepuluh menit berlalu..
Drrrt... Drrrt...
Ponsel di dalam tas Zara bergetar singkat, satu notifikasi pesan masuk.
Tante Kirana
Zara, karena kamu masih baru jadi tante akan mengirimkan lokasi tempat perkumpulan The Sapphire Club sore nanti untuk membahas acara tahunan.
Di bawah pesan singkat itu, ada sebuah tautan pin lokasi di sebuah restoran privat bernuansa klasik Eropa di kawasan elit.
Zara terdiam sebentar.
Roselin dan Selene pasti akan hadir di sana.
Zara mengetik balasan singkat.
"Terima kasih, Tante. Zara akan datang tepat waktu."
Zara melangkah keluar.
Di ujung lorong dekat lift eksekutif, Alaric tampak berdiri tegap sambil memeriksa beberapa dokumen di iPad miliknya.
Melihat kehadiran Zara, Alaric langsung menundukkan kepalanya secara hormat.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
Zara berhenti sebentar untuk membetulkan letak tas tangannya di siku.
"Tolong titipkan pesan pada Regantara, aku keluar sebentar."
Alaric sedikit menaikkan alisnya, tatapannya refleks tertuju pada memar samar di pipi kiri Zara.
"Apakah Nyonya butuh pengawalan ketat atau pengemudi pribadi?"
"Tidak perlu, aku hanya ada urusan sebentar dengan The Sapphire Club. Cukup sampaikan saja pesanku padanya. Terima kasih Alaric."
Tanpa menunggu jawaban dari tangan kanan suaminya itu, Zara membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam lift khusus yang sudah terbuka.
Alaric memperhatikan pintu lift yang perlahan tertutup rapat. Jari tangannya menyentuh layar iPad, lalu menekan tombol panggilan internal menuju ruang rapat utama.
"Tuan, Nyonya baru saja pergi. Beliau menuju lokasi pertemuan The Sapphire Club."
Di seberang telepon, hening sejenak sebelum akhirnya suara bariton Regantara terdengar.
"Kirim dua mobil pengawal untuk memantau dari jauh, biarkan dia bermain-main sebentar dengan para wanita itu. Tapi jika ada satu saja tangan yang berani menyentuhnya lagi, kau tahu apa yang harus di lakukan."
"Baik, Tuan."
Mesin sedan hitam itu membelah jalanan ibu kota, hari ini Zara sengaja mengemudi sendiri agar lebih leluasa.
Ia mengikuti GPS yang mengarah ke pelataran privat berkonsep Victorian di kawasan elit, pikiran Zara berputar cepat.
Di dalam sana, Selene dan Roselin pasti sudah menunggunya, siap menyemburkan racun mereka seperti biasa.
Begitu mobilnya terparkir di tempat khusus, Kirana sudah berdiri menyambutnya di depan pintu.
"Zara, ayo masuk." kata tante Kirana dengan senyum hangat.
Kirana langsung menghampiri dan menggandeng lengan Zara dengan akrab.
Ini adalah kali kedua Zara menginjakkan kaki di The Sapphire Club setelah perkenalan resminya waktu itu.
"Terima kasih sudah menunggu, Tante Kirana."
Mereka melangkah melewati lorong berkarpet tebal menuju lounge utama.
Aroma teh Earl Grey dan parfum bermerek memenuhi udara, dengan gelak tawa yang terdengar elegan.
Begitu pintu ganda di depan sana dibuka penuh, riuh bisik-bisik di ruangan seketika surut.
Di meja utama, Selene duduk di samping Roselin.
Wajah Selene yang biasanya dipenuhi keangkuhan kini tampak kaku.
Saat Zara melangkah anggun dengan perhiasan berlian yang berkilau di lehernya, dada Selene terasa terbakar.
"Sialan!" umpat Selene dalam hati, ia meremas cangkir porselen di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Rasa penyesalan yang membakar langsung memenuhi dada Selene kembali.
Jika saja dulu ia tidak menolak perjodohan dengan Regantara Benedict, jika saja saat itu ia tidak terpengaruh oleh rumor kejam dan dinginnya reputasi pria itu, seharusnya perhiasan itu, posisi terhormat itu, dan seluruh kemewahan Benedict berada di tubuhnya, bukan milik Zara.
"Lihat perhiasannya, Zara... anggun sekali. Bukankah itu koleksi maison langka yang hanya bisa dipesan khusus oleh keluarga Benedict?" bisik salah satu anggota klub di meja sebelah, dan hal itu semakin menyiram bensin ke dalam kobaran api cemburu Selene.
Roselin yang duduk di samping Selene menyentuh paha putrinya di bawah meja, ia memberi isyarat agar Selene tetap mengontrol ekspresi wajahnya. Namun, tatapan Selene tetap menusuk tajam saat melihat Zara duduk dengan sangat tenang di samping Kirana.
"Koleksi yang sangat indah, Zara." sapa Roselin akhirnya, wanita itu memaksakan senyum paling manis yang dipenuhi racun. "Tapi bukankah agak terburu-buru mengenakan kemewahan seperti itu, sementara perusahaan ayahmu sendiri baru saja mengalami badai besar pagi ini?"
Suasana di meja utama seketika hening.
Semua mata kini tertuju pada Zara, menantikan bagaimana reaksi sang Nyonya Benedict atas pancingan frontal dari ibu tirinya.
Zara tersenyum tipis.
"Ini hanya hadiah dari suami, tidak mungkin kan kalau saya menolaknya begitu saja?"
Suara Zara mengalun tenang, begitu jernih ditengah keheningan itu.
Ia memperbaiki posisi duduknya, sambil menyilangkan kaki dengan anggun.
"Lagipula, masalah finansial Adhitama Corp adalah urusan manajemen perusahaan." lanjut Zara, sambil menatap lurus ke dalam mata Roselin dan Selene tanpa sedikit pun gentar.
"Regantara sangat paham bagaimana cara memisahkan urusan bisnis dengan kewajibannya memanjakan istri. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk ikut menanggung beban yang diciptakan oleh kecerobohan orang lain kan."
Kalimat itu bagai tamparan tak kasatmata untuk dua wanita di sana.
Beberapa wanita senior di sekeliling meja saling berbisik pelan, menahan senyum di balik kipas dan cangkir teh mereka.
Muka Roselin mendadak merah padam.
"Zara! Bagaimana bisa kamu bicarakan ayahmu sendiri seperti—"
"Roselin." potong Kirana halus. "Kita berkumpul sore ini untuk membahas agenda tahunan Club, bukan untuk menginterogasi anggota baru. Mari kita menjaga martabat acara ini."
Selene menyentakkan cangkir tehnya hingga berdentang keras di atas piring porselen.
"Tante Kirana! Bagaimana bisa Tante membela wanita yang jelas-jelas memanfaatkan nama besar Benedict untuk menginjak keluarganya sendiri?"
"Memanfaatkan?" Zara terkekeh pelan, kekehan dingin yang terdengar amat mirip dengan suaminya.
"Selene, jika kamu berada di posisiku, kamu akan paham. Tapi sayangnya... kamu bahkan tidak pernah mendapat kesempatan untuk merasakannya, bukan?"
Dada Selene naik turun menahan amarah yang hampir meledak, sementara Zara tetap duduk tenang, menikmati riak emosi saudari tirinya itu.
"Selene, Zara istri Regantara. Kata memanfaatkan itu memang terdengar tidak baik, tapi tidak ada yang salah jika seorang istri memanfaatkan kekuasaan dan nama besar suaminya. Bukankah itu memang haknya?"
Kirana menanggapi dengan dingin, wanita itu melipat tangannya di atas meja. Tatapannya pada Selene begitu tajam, hingga memotong keberanian gadis itu.
"Di lingkaran ini, seorang wanita yang pandai menggunakan posisi suaminya adalah wanita yang cerdas. Jadi, kurangi nada bicaramu di mejaku, Selene."
Selene tertohok hebat. Bibirnya memucat, dengan tangan yang mengepal erat di bawah taplak meja hingga kuku-kukunya memutih.
Roselin yang menyadari situasi makin tidak menguntungkan langsung menarik pelan lengan Selene, menahan putrinya agar tidak kembali berbuat konyol.
"Maafkan Selene, Kirana. Dia hanya terlalu emosional melihat kondisi ayahnya hari ini. Kamu benar, posisi Zara sebagai Nyonya Benedict memang sudah selayaknya dihormati." ucap Roselin sambil memaksakan senyum ramah yang tampak begitu kaku di wajahnya.
Zara hanya menyesap tehnya dengan santai.
Senyum tipis mengembang di bibirnya saat melihat dua wanita yang dulu menyiksanya kini terpojok.