Indonesia
NovelToon NovelToon
Janji Sahabat

Janji Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Persahabatan
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Keke Ganteng

"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Waktu untuk Pulih

Selama tiga hari berikutnya, Naya diizinkan dokter untuk beristirahat penuh di rumah sebelum kembali masuk sekolah. Setiap sore, secara bergantian, Raka, Adit, dan Salsabila menyempatkan diri berkunjung, membawakan catatan pelajaran yang tertinggal serta camilan ringan buatan Bu Sulastri yang selalu antusias menitipkan sesuatu setiap kali anaknya berkunjung ke rumah Naya.

"Ini titipan Ibu, katanya biar cepet pulih," kata Raka, menyerahkan sekotak puding buatan tangan Bu Sulastri.

Naya tersenyum menerima kotak itu, merasakan kehangatan yang selalu ia dapatkan dari keluarga Raka sejak awal mengenal mereka. "Bilang makasih banyak ya ke Tante."

Sore itu, Raka tinggal lebih lama dari biasanya, membantu Naya memahami materi matematika yang tertinggal selama tiga hari absen. Suasana canggung yang belakangan sering muncul di antara mereka perlahan mencair kembali seiring keakraban yang sudah lama terjalin.

"Makasih ya, udah nemenin terus," kata Naya pelan, menatap Raka yang sedang serius menjelaskan rumus di buku catatannya.

Raka mendongak, tersenyum tulus. "Ya iyalah, kamu sahabatku. Lagian, aku juga—" Ia terdiam sejenak, seolah hendak mengucapkan sesuatu yang lebih dari sekadar kalimat biasa, namun akhirnya memilih menahan diri. "—aku juga khawatir banget waktu denger kamu pingsan."

Naya menatapnya lama, jantungnya berdebar mendengar nada suara Raka yang terdengar berbeda dari biasanya, namun ia memilih untuk tidak membaca terlalu jauh dari kata-kata itu, takut berharap terlalu banyak.

Sebelum pulang, Raka sempat membantu merapikan buku-buku catatan yang berserakan di meja, sesekali bercanda ringan tentang guru-guru yang akan mereka temui lagi setelah kenaikan kelas nanti. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menatap Naya yang masih duduk di ranjang dengan selimut menutupi kakinya.

"Besok aku ke sini lagi, ya. Bawa catatan IPS juga," katanya, tersenyum sebelum akhirnya benar-benar melangkah pulang.

Naya mengangguk, membalas lambaian tangan Raka dari jendela kamarnya, dan begitu sosok sahabatnya itu menghilang di ujung jalan, ia menghela napas panjang, menekan wajahnya ke bantal sambil menahan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

Di lain waktu, Adit yang berkunjung sendirian membawa gitar kecilnya, mencoba menghibur Naya dengan lagu-lagu sederhana yang ia mainkan asal-asalan namun cukup untuk membuat Naya tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak insiden pingsan itu.

"Kamu ini, main gitar apa nyiksa kuping," ledek Naya, tertawa mendengar nada yang sedikit fals dari petikan Adit.

"Yang penting niatnya, dong," balas Adit sambil tertawa, meski di dalam hatinya ada perasaan lega tersendiri melihat sahabatnya kembali tersenyum lepas seperti biasa.

Di sela tawa itu, Adit memberanikan diri bertanya sesuatu yang sudah lama ingin ia tanyakan. "Naya, soal yang waktu itu... yang kamu certain ke aku di bawah pohon beringin. Kamu masih ngerasa gitu, ke Raka?"

Senyum Naya memudar sedikit, digantikan raut wajah yang lebih serius. "Aku... aku juga nggak tau, Dit. Kadang ngerasa iya, kadang aku coba yakinin diri sendiri kalau itu cuma perasaan sesaat aja."

Adit mengangguk pelan, menyimpan kembali perasaannya sendiri jauh di dalam hati, memilih untuk terus menjadi pendengar yang baik bagi sahabat yang ia sayangi, meski itu berarti harus terus memendam apa yang sebenarnya ia rasakan.

"Apa pun itu," katanya akhirnya, "aku cuma pengen kamu bahagia. Nggak peduli gimana caranya."

Kata-kata itu terdengar sederhana, namun menyimpan pengorbanan yang jauh lebih besar dari yang bisa Naya bayangkan saat itu.

Setelah Adit pamit pulang, Naya duduk sendirian di kamarnya, menatap gitar kecil yang sengaja ditinggalkan Adit untuk dipinjamkan sementara waktu. Ia memetik senar-senarnya asal, teringat tawa lepas yang baru saja ia rasakan, dan untuk sesaat, ia merasa bersyukur memiliki sahabat sebaik Adit—sahabat yang selalu berusaha membuatnya bahagia meski harus mengorbankan perasaannya sendiri, meski Naya sendiri belum sepenuhnya menyadari besarnya pengorbanan itu.

1
Dini
jangan lupa mampir juga di karya ku
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Keke Ganteng: ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!