Riri seorang wanita yang gila belajar. Berawal dari ambisinya untuk kuliah di ibukota, mengharuskannya untuk menikah dengan seorang pria tampan bermuka dua.
Pasangan muda yang terkadang bersikap pasif dan belum mengerti tentang cinta, bagaimana keseruan cerita rumah tangga mereka?
Musim ke dua
Hubungan Angga dan Riri kembali di uji, kesalahpahaman akibat kurangnya komunikasi semakin memperkeruh situasi. Pak Agus yang menjabat sebagai rektor kampus, dulunya memendam rasa pada ibunya Riri, ia pun ingin menjodohkan Hans putranya pada Riri.
Munculnya wanita perfect dalam segala hal, yang tidak lain adalah presiden mahasiswa yang sebelumnya mengikuti program studi banding dengan kampus lain. apa tujuannya mendekati mereka?
Musim ke 2 update tiap hari Minggu 1-2 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chan Aki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Dia
Bab ini murni hanya fiksi belaka, harap pembaca bijak dan tidak menyalahkan pihak manapun.
Malam pun tiba jam menunjukkan pukul 21:00 WIB, Riri berada di dalam kamar seorang diri tengah sibuk mengerjakan laporan praktikum yang tadi siang ditugaskan Asdos(Asisten Dosen). Hal itu menjadi kebiasaan Riri semenjak ia duduk di sekolah dasar, setiap tugas yang di berikan oleh gurunya selalu ia kerjakan di malam hari, atau paling tidak keesokan malamnya.
Pernah sekali ia lupa mengerjakan tugas yang diberikan, karena kematian ibunya yang begitu mendadak, membuat Riri sempat jatuh sakit selama seminggu. Ia yang kala itu masih berumur 12 tahun dan duduk di kelas 6 sekolah dasar, dihukum guru yang terkenal killer.
Sepuluh pukulan dengan rol kayu yang berukuran cukup besar ia terima di kedua tangannya. Sepulang sekolah ia hanya bisa menahan air matanya dan menyembunyikan tangannya yang merah, agar sang ayah yang juga masih merasa sedih tidak mengkhawatirkan dirinya.
Namun keesokan harinya sang guru killer itu menemuinya dan mengelus kepala Riri sambil menyemangatinya, dengan alasan sudah menghukumnya terlalu keras.
Pengalaman yang tidak bisa ia lupakan hingga ia menginjak dewasa. Bahkan ketika ia lupa mengerjakan tugas di malam harinya, terkadang membuatnya bermimpi buruk, dan rasa takut akan tugas yang tidak selesai menghantui harinya.
Kembali pada kesibukannya jam menunjukkan pukul 22:00 malam, Riri yang masih asyik dengan tugasnya tidak mengetahui kalau hpnya bergetar berulang kali.
Sementara Angga yang sedang duduk di sofa, menemani ibunya menonton TV, juga tidak melihat hpnya bergetar berulang kali yang di letak dengan posisi terbalik di atas meja di depannya.
Ibunya sadar kalau HP anaknya bergetar di atas meja. Ia mengambil remot TV yang sedang menampilkan berbagai konten iklan dan mengecilkan volume suaranya. Tujuan ibunya mengajak Angga berbicara yaitu untuk mengalihkan putranya dari hpnya.
"Nak, istrimu masih mengerjakan tugas?" tanya ibunya.
"Iya Ma masih, paling gak dia berhenti sebelum tengah malam," ucap Angga.
"Apa? Tengah malam? Kamu gak bantuin dia gitu?" tanya ibunya lagi, sambil meletakkan remot TV di atas meja.
"Emangnya Angga bisa bantu apa, yang ada malah di kira gangguin nantinya. Riri kalau lagi serius belajar gak peduli sama sekitar, dunia terasa miliknya sendiri," ucap Angga.
"Iya juga ya, kamu nemenin Mama aja deh."
Angga sedikit mengangguk kepalanya, "iya Ma," sahutnya.
"Mama bersyukur kamu bisa dapat istri yang rajin, pintar, dan cantik lagi. Mama harap kalian bisa saling menjaga satu sama lain hingga kalian tua," ucap Mamanya penuh harap.
Angga tersenyum mendengar perkataan sang ibu. "Iya... Mama gak usah khawatir, Angga pasti jagain Riri," sahutnya.
"Kamu ingat gak, ketika umur 5 tahun, kamu memberikan julukan pada Riri yang buat Mama tertawa karena tingkah mu yang menggemaskan."
"Julukan? Pada Riri?" tanya Angga penasaran. Ia mulai antusias dengan topik pembicaraan mereka.
"Saat itu ada seorang ibu yang salah menuduh mu, sudah mendorong anaknya hingga jatuh, dan karena kesal, Riri yang tidak jauh dari sana, berjalan mendatanginya lalu mendorong pelan anak itu hingga terjatuh lagi."
"Masa iya, Angga gak ingat Ma," jawabnya gak percaya.
"Iya…coba kamu ingat-ingat lagi. Mama mau kamu ingat sendiri julukan itu,"
"I-itu kan 15 tahun yang lalu Ma, wajar kalau Angga lupa."
"Kan kamu sendiri yang ngasi julukan itu, pasti nanti ingat lagi kalau kamu sering di dekat Riri."
"Yah Mama curang... cerita tapi ujung-ujungnya ngasi misteri," jawab Angga kecewa.
Ibunya tertawa mendengar jawaban putranya. "Haha misteri... kamu ini bisa aja."