"Alina Ariesta kamu bukan adik kandungku!"
perkataan itu mampu mengubah takdir dan segala-galanya dalam kehidupan Alina Ariesta Wirawan. Seorang gadis yang baru berusia sembilan belas tahun itu,harus merelakan hal yang paling berharga dalam hidupnya kepada pria yang disebutnya selama ini adalah abangnya,kakak sulungnya yang selalu melindungi dirinya selama ini.
Kenyataan pahit malam itu mengubahnya, hingga apa yang sudah mereka perbuat akhirnya terbongkar sudah di hadapan kedua orang tuanya.
"Alina Ariesta, apa kasih sayang Papa dan Mama padamu kurang, apa kami membeda-bedakan kalian dalam kasih sayang kami?" tanya Pak Wirawan.
"Alina Ariesta, Mama mohon tinggalkan Fadhlan untuk selamanya karena, kakakmu harus menikah dengan perempuan lain, Mama mohon pergilah dari sini,"
Jedar....
Alina Ariesta sangat terpukul mendengar fakta itu, jika setelah dirinya diketahui hamil, dia malah diusir dari rumah itu.
"Ya Allah... aku harus pergi kemana?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
"Jadi Mama minta kamu pertimbangkan dengan baik-baik perkataanku ini, Ingat batas waktumu sebelum kedatangan keluarga Pak Devan dengan anaknya,"
Bu Atikah Aminah segera meninggalkan putranya itu yang semakin menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang tak bisa berbuat apa-apa menghadapi kelicikan mamanya itu.
Fadlan menatap tajam ke arah mamanya itu," berarti sebelum kedatangan putraku Rayanza ke sini, Mama sudah mengetahui jika dia adalah darah dagingku sendiri, tapi kenapa Mama menyembunyikan berita besar ini dariku,apa ini tujuannya mama untuk menjadikan alat jika sewaktu-waktu aku tidak memenuhi keinginannya Mama untuk mengancamku, iya kan!" Teriaknya Fadlan yang seandainya bisa berdiri dari atas kursi rodanya pasti sekarang sudah menggenggam erat tangan mamanya itu.
Bu Atikah Aminah berbicara tepat di depan telinganya Fadlan anak sulungnya itu, "Kamu sudah paham dengan tujuan mama, jadi kamu tidak punya pilihan lain lagi, selain mengikuti semua perintahku jika tidak Alina Ariesta dan putramu yang bernama Rayanza Aiman Ibrahmi akan mati ditanganku!" Ancamnya Bu Atikah Aminah dengan senyuman liciknya itu.
Fadhlan sama sekali tidak memiliki pilihan selain menuruti semua perintahnya perempuan yang disapa mama itu. Padahal apa yang dikatakan oleh Bu Atikah Aminah belum tentu menjadi kenyataan karena, kekuasaan kelurga besar Alvin bukan lah keluarga kacang-kacangan yang dengan mudahnya diintervensi atau pun diintimidasi.
Identitas Alina Ariesta Amar Alvin ketahuan oleh Pak Arsyad Hakim Wirawan karena, asistennya cukup bisa diandalkan dan jago di bidang IT. Firman Fahlevi memiliki banyak jaringan yang bisa dia percaya termasuk dirinya sendiri. Berbeda halnya dengan anak buahnya Atikah Aminah, yang sampai detik ini belum mengetahui perkembangan terakhir dari Alina Ariesta Amar Alvin yang sudah menjabat sebagai wakil presiden direktur.
"Baiklah saya akan penuhi semua keinginan Mama asalkan anak dan istriku aman dan tidak pernah Mama sakiti secuil kuku pun," ucapnya Fadlan Ibrahmi Nabhan yang sudah putus asa dengan keadaannya sendiri yang tidak berdaya menghadapi keegoisan mamanya itu.
"Ini barulah putraku yang selalu menjadi kebanggaanku, kamu bersiaplah karena keluarganya Alona Asmirandah akan datang,"
Bu Atikah Aminah berjalan ke arah pintu," Aliza Benazir!" Teriaknya.
Aliza Benazeer gadis keturunanTimur Tengah itu yang memang sejak tadi tidak pergi terlalu jauh dari kamarnya Fadlan atas perintah Bu Atikah Aminah. Ia segera berjalan cepat setelah namanya dipanggil oleh Nyonya besar rumah itu.
"Iya Nyonya Besar,"
"Tolong bantu Tuan Muda untuk bersiap karena, malam ini Tuan Muda Fadlan akan bertunangan dengan putri tunggalnya Pak Devan Wijayanto."
"Baik Nyonya," ucapnya Aliza yang segera menjalankan perintah yang diembannya itu.
Fadlan tidak punya pilihan lain yang bisa Ia lakukan dengan kondisi dan keadaannya yang kesulitan itu.
"Aliza aku seperti ingin pergi dari penjara ini,tapi bagaimana caranya aku bisa pergi sejauh mungkin dengan kakiku yang cacat," keluhnya Fadlan yang duduk di atas kursi rodanya.
"Bersabarlah Tuan Muda, insya Allah… suatu saat nanti akan ada jalan keluar yang terbaik untuk permasalahan yang Anda hadapi, jangan menyerah, jangan berputus asa tetaplah berusaha dan perbanyak berdoa kepada Allah SWT Tuan Muda, aku yakin akan ada hikmah dan jalan keluar yang terbaik untuk Tuan," ujarnya Alyza yang memberikan motivasi, semangat dan dorongan untuk pria yang sudah ia anggap sahabatnya itu.
Pak Arsyad Hakim yang sedang meeting dengan beberapa klien bisnisnya dari Qatar segera menghentikannya sesaat karena, kedatangan Firman Fahlevi ditengah-tengah mereka.
"Maaf untuk sementara pertemuan kita hari ini cukup sampai di sini dulu, insya Allah… esok baru kita sambung kembali," tutur pak Arsyad Hakim yang merasa tidak enak dengan hal tersebut.
"Tidak apa-apa kok Pak Arsyad, lagian kami juga masih akan menetap beberapa hari di Jakarta jadi santai saja," pungkas Pak Ahmed Ali Samir.
"Syukur Alhamdulillah, terima kasih atas pengertiannya, assalamualaikum," ucapnya Pak Arsyad Hakim sambil memeluk tubuh Pak Ahmed.
Pak Arsyad segera berjalan cepat ke arah mobilnya," jelaskan padaku ulah apa lagi yang diperbuat perempuan itu, setelah mengusir anak menantu dan kedua cucuku Aprillia Sherlyana Yuswandari dengan kedua putrinya itu?" Pak Arsyad segera masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Firman Fahlevi Wirawan.
"Supir jalan!" Pintanya Firman.
"Sepertinya hal ini sangat urgen sampai-sampai kau menggangu meeting berhargaku,"
"Tante akan mengadakan pertunangan Abang Fadlan dengan putri dari Pak Devan malam ini yang bernama Alona Asmirandah, berita penting kedua adalah Alina Ariesta Amar Alvin dengan putranya sudah berangkat ke luar negeri dan informasi yang aku dapatkan jika mereka selamanya akan menetap di Seoul Korea Selatan atas permintaan dari cucunya Paman," ungkap Firman dengan secara detail sesuai berita yang berhasil ia dapatkan.
"Apa sebenarnya yang terjadi padanya,kenapa ia sangat menentang hubungan Alina Ariesta putriku dengan putranya sendiri, ya Allah… semakin lama semakin aku merasa istriku itu semakin egois dan jahat saja perubahannya sungguh membuatku tidak mengerti seolah dia adalah dua orang yang berbeda," keluhnya Pak Arsyad Hakim.
"Kita mengejar kepergian Tuan kecil Rayanza atau ke rumah saja?" Tanyanya Firman.
"Sepertinya mengejar Alina Ariesta untuk mencegah kepergiannya akan percuma saja ujungnya berakhir sia-sia kita balik ke rumah," pintanya Pak Arsyad sambil memijit pelipisnya itu saking pusingnya menghadapi sikap dan perilaku dari istrinya itu.
"Mang Udin kita ke rumah besar,"
Mang Udin melihat ke arah Firman keponakan sekaligus asisten pribadinya kepercayaan dari Pak Arsyad," siap Tuan,"
Mobil itu melaju dengan kecepatan yang cukup, semua persiapan hanya dalam dua hari sudah hampir 95 % selesai persiapan acara pertunangan itu. Pak Arsyad berjalan ke arah dalam rumahnya itu dan melihat kesibukan beberapa orang yang berlalu-lalang dengan pekerjaan dan kesibukannya masing-masing.
Firman melihat Fadhlan yang duduk di atas kursi rodanya dengan didorong oleh seorang perawat yang berpakaian pink shof itu ke arah kedatangan keduanya. Fadlan segera memerintahkan kepada Aliza untuk segera mendorong sekuat kursi roda ke arah kedatangan Papanya.
"Saya Papa pasti sudah mengetahui rencananya Mama dan datang untuk menggagalkan rencana pertunanganku, ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, aku tidak ingin nyawa dan keselamatan anakku menjadi taruhannya," batinnya Fadhlan.
"Aliza tolong cepat antar aku ke tempat kedatangannya Papa,"
Aliza segera menjalankan perintah dari Fadlan tanpa berkomentar sedikitpun," kasian banget dengan kehidupan Tuan Muda Fadlan, apakah kehidupan orang sultan seperti ini, harus selalu mengalah demi ambisi dari kedua orang tua, untungnya saya hanya terlahir dari pensiunan ASN saja," gumam Aliza.
"Papa!" Jeritnya Fadlan.
Pak Arsyad Hakim segera berputar arah setelah mendengar suara teriakan dari anak sulungnya itu.
"Papa perlu bicara padamu Nak, Firman bantu Aliza untuk mendorong kursi rodanya ke dalam ruangan kerjaku, kamu Aliza tetap ikuti kami dan kamu berjaga di depan pintu ruangan pribadiku,"
Firman segera mengambil alih gagang kursi rodanya Fadlan hingga kedua tangannya menyentuh punggung tangannya Aliza yang baru saja berniat untuk menarik tangannya dari tempat tersebut.
"Maaf saya tidak sengaja," imbuh Firman dengan memperlihatkan senyuman ramahnya itu.
"Tidak apa-apa kok Pak,"
Mereka kemudian meninggalkan lokasi area ruangan tamu itu. Pak Arsyad duduk di atas kursi kebesarannya sambil menatap intens ke arah putra kebanggaannya itu.
"Putraku jelaskan padaku apa sebenarnya yang terjadi di rumah ini?" Tanyanya Pak Arsyad dengan selidik.
"Saya akan bertunangan dengan Alona Pa malam ini, Alhamdulillah semua persiapannya sudah mama atur sedemikian rupa baiknya hingga saya cukup lega dengan semua itu," terangnya Fadlan yang berusaha sebisa mungkin untuk menutupi kenyataan yang ada demi anaknya dan Alina Ariesta.
"Jangan membodohi Papa Nak, papa yakin semua ini terjadi karena campur tangannya Mama kan? Kalau begitu kenyataannya katakan yang sejujurnya pada papa maka Papa akan berusaha untuk membantumu,"
"Saya jelaskan kepada Papa jika, semua ini memang atas usulan dan ide Mama, tapi setelah beberapa hari saya mengenal Alona kami cocok dan memutuskan untuk membina hubungan yang lebih serius, aku tidak mungkin harus hidup terus-menerus menunggu kepulangan Alina Ariesta ke rumah kita Papa, aku juga ingin seperti Fatur Arafat yang memiliki keluarga yang lengkap dan utuh dan aku bersyukur karena ada perempuan yang rela menerima kondisiku yang lumpuh seperti ini, apa Papa tidak menginginkan aku juga bahagia?" Tanyanya Fadlan yang berusaha untuk memperlihatkan aktingnya supaya terlihat lebih natural dan alami itu.
Pak Arsyad Hakim tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah mendengar perkataan dari mulut anak pertamanya itu.
"Baiklah karena ini adalah murni keinginan kamu sendiri,maka papa akan merestui niat baikmu, Papa hanya bisa berdoa dan berharap kalian berdua akan bahagia hingga maut memisahkan pernikahan kalian berdua," ucap Pak Arsyad.
"Alhamdulillah, Papa bisa percaya dan yakin dengan apa yang sudah aku jelaskan padanya semoga kedepannya lebih lancar dan mudah, Alina Ariesta apapun Abang akan lakukan demi keselamatan kalian berdua, karena kalian adalah nyawaku dan sumber kehidupanku," Fadlan membatin.
sementara alina anak angkat mereka berdua..
sangat sah mereke berdua menikah