Warning!!!
Kisah ini hanya fiktif belaka, kisah ini tidak bermaksud untuk menyalahkan agama, atau menyinggung agama manapun, jika ada kesalahan mohon maaf🙏🙏
"Apakah mencintai seseorang itu salah?" - Key.
"Mencintai seseorang memang tak salah. Hanya saja, mencintai seseorang yang jelas-jelas tidak mungkin bersama itulah yang salah. Apalagi kita tau, diantara kita memiliki iman yang berbeda." - Rembulan.
Bagaimanakah kisahnya ...
Mentahan cover from : pinterest
NB : Kisah ini hanya fiktif/fiksi belaka, jika ada kesamaan dalam nama, alur, tempat, itu tidak disengaja 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anowmuri3__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 22
"Ngomongin apa sih, kok lama banget?" tanya Key, setelah Rembulan ada di hadapannya.
"Kepo," jawab Rembulan, ia pun berlalu untuk masuk kedalam mobil Key, tanpa menunggu sang pemilik mobil untuk menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil.
"Lah. Nyebelin, tapi sayang," ucap Key, melihat gadis yang dicintainya masuk kedalam mobilnya tanpa ia suruh.
Key pun ikut masuk kedalam mobil. Dan ia pun mulai menjalankan mesin mobilnya, dan mobil itu pun pergi meninggalkan parkiran rumah sakit.
"Apa kamu mau sholat dulu?" tanya Key, sesekali ia melihat ke arah Rembulan, lalu ia kembali fokus ke depan.
"Iya," jawab Rembulan.
"Baiklah." Key pun melajukkan mobilnya ke masjid.
Tak lama mobil pun sampai di sebuah masjid yang terkenal di kota itu.
"Aku masuk kedalam dulu," ucap Rembulan.
"Iya, aku tunggu disini," ujar Key.
Setelah itu Rembulan pun turun dari mobil Key dan melangkah menuju masjid.
Sementara Key, ia lebih memilih menunggu di dalam mobil daripada di luar, karena ia malas jika harus memakai masker untuk menutupi wajahnya yang tampan itu.
Selang beberapa menit, Rembulan pun tiba di sana, ia pun kemudian masuk kedalam mobil Key.
"Mau cari tempat untuk berbuka puasa?" tanya Key.
"Memangnya kamu tidak capek?" Bukannya menjawab pertanyaan Key, Rembulan malah balik bertanya.
"Tidak," jawab Key, karena memang ia tak merasa capek, jika menyangkut Rembulan.
"Bener?"
"Iya."
"Huh. Baiklah," ucap Rembulan kemudian.
"Gitu dong." Key pun mulai melajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mau makan di restoran mana?" tanya Key lagi, saat ini mobil mereka tengah melaju di jalan raya, dengan mobil yang lainnya.
"Terserah," jawabnya.
"Jangan terserah dong! Kan aku bingung," ucap Key, seraya melirik ke arah Rembulan yang sudah menatapnya dengan kesal.
"Oke-oke, aku akan pilih restoran nya. Tapi, jangan ngelihatin aku kaya gitu dong," ujar Key.
"Ya habisnya kamu nyebelin." Setelah mengatakan itu, Rembulan pun memalingkan wajahnya ke arah jendela, ia lebih memilih melihat jalanan di luar jendela.
"Iya-iya maaf," ucap Key dengan pelan.
"Huffstt. Aku yang seharusnya minta maaf, sorry," ujar Rembulan, ia pun menatap ke arah Key, sehingga pandangan mata mereka bertemu, kebetulan saat ini mereka tengah berada di lampu merah.
Namun pandangan mereka hanya sampai sedetik saja, karena Rembulan langsung memutuskan untuk kembali fokus ke depan.
Begitu pun dengan Key, tak lama lampu pun kembali berwarna hijau, dan Key pun langsung melajukkan mobilnya ke restoran.
Tak lama, mereka pun sampai di salah satu restoran yang ada di kota tersebut.
Setelah memarkirkan mobilnya, keduanya pun turun dari mobil dan berjalan menuju kedalam restoran.
Di dalam, Key mengajak Rembulan untuk makan di ruang VIP, karena mereka bisa leluasa untuk makan, tanpa harus merasa was-was jika ada fans Key.
Setelah berada di ruang VIP, yang diantar oleh pelayan, mereka pun langsung memesan makanan untuk buka puasa, untuk Rembulan.
Jadi selagi menunggu maknanya datang, dan menunggu adzan Maghrib, Rembulan memilih melihat ke arah luar dari jendela restoran itu.
Karena posisi duduk mereka berada di dekat jendela, sehingga mereka bisa melihat gedung-gedung tinggi dan juga jalan yang banyak di tempati oleh kendaraan.
Baik kendaraan roda dua maupun roda empat.
Sementara Key, ia diam-diam memotret Rembulan.
"Cantik," gumamnya, tanpa bisa di dengar oleh siapapun, melihat foto Rembulan yang ia ambil itu di handphone-nya.
Setelah menunggu beberapa menit, pesanan mereka pun sampai.
"Terima kasih," ucap Rembulan, setelah makanan yang ia pesan sudah tersaji di atas meja.
"Sama-sama nona. Selamat menikmati, nona, tuan," ujar pelayan itu, pelayan itu pun pergi.
Tak lama suara adzan Maghrib pun berkumandang.
"Alhamdulillah," ucap Rembulan, ia pun mulai berbuka puasa dengan meminum air putih terlebih dahulu, setelah itu memakan satu buah kurma, yang ia bawa di dalam tasnya.
"Aku ijin untuk sholat dulu, tak apa?" tanya Rembulan pada Key, setelah selesai memakan kurma.
"Silahkan, aku akan menunggu disini," jawab Key.
"Baik. Jika kamu ingin langsung makan, makan saja, tanpa harus menunggu ku," ucap Rembulan sebelum ia beranjak dari tempatnya.
"Aku menunggu mu saja, tidak enak jika harus makan sendiri," ujar Key.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi." Rembulan pun beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan itu, serat pergi ke ruangan yang bisa di pakai untuk beribadah.
Karena di restoran itu kebetulan menyediakan tempat untuk sholat bagi orang muslim.
Sementara Key, ia lebih menunggu Rembulan dengan memainkan game yang ada di handphone-nya.
Selang beberapa menit, Rembulan pun kembali ke ruangan yang dimana Key tengah menunggu nya.
"Maaf lama," ucapnya setelah duduk kembali di kursinya.
"Tak apa."
Mereka berdua pun mulai memakan makanan mereka.
Disela-sela mereka makan, Rembulan diam-diam memperhatikan Key.
Ia mulai berfikir, tak seharusnya ia terlalu dekat dengan Key.
"Key, ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Rembulan, setelah mereka selesai makan.
"Mau bicara apa? Katakan saja," jelasnya.
"Em ... begini, bagaimana kalau kita ... jangan sering bertemu," ucap Rembulan.
Mendengar hal itu seketika wajah Key menjadi dingin dan datar. "Kenapa?" tanyanya.
"Tidak pa-pa. Hanya saja, tidak baik jika kita saling bertemu, apalagi sering jalan berdua," jawab Rembulan.
Tak ada jawaban lagi dari mulut aktor tampan itu, hanya ada suara helaan nafas saja lah yang terdengar.
"Sebaiknya kita pergi," ucap Key, setelah cukup lama diam.
Dan Rembulan pun hanya mengikuti Key, yang sudah beranjak lebih dulu, dan berjalan lebih dulu.
Di dalam mobil, tidak ada yang mulai berbicara, hanya keheningan yang menyapa keduanya.
Rembulan yang berfikir, apakah dirinya salah meminta Key untuk tidak sering bersama.
Bukan hanya Rembulan saja yang sedang berfikir, tapi juga Key, yang berfikir tentang ucapan Rembulan tadi.
Tentang mengenai dirinya untuk tidak sering bersama dengan Rembulan, yang selama ini sering ia lakukan.
Tak ada salah dari ucapan Rembulan, hanya saja hatinya merasa kecewa lantaran ia tidak akan pernah bisa bertemu Rembulan, sesering yang ia lakukan.
Dan dapat di pastikan ia akan merindukan dokter cantik itu.
"Tolong hentikan mobilnya, biar aku turun disini saja," pinta Rembulan.
"Kenapa?" tanya Key, ia justru tidak menggubris permintaan dari Rembulan itu, ia masih saja menjalankan mobilnya.
"Tidak pa-pa, aku bisa naik taksi," jawabnya.
"Tidak perlu, biar aku antar kamu sampai apartemen," ujar Key, dan Key pun terus melajukkan mobilnya. Sementara Rembulan, ia hanya bisa pasrah.
Tak lama, mereka pun sampai di gedung apartemen tempat Rembulan tinggal.
"Terima kasih," ucap Rembulan pada Key.
"Hm, sama-sama," balas Key.
"Yasudah kalau begitu aku turun, assalamu'alaikum," ucap Rembulan.
Tak ada sahutan, Rembulan pun turun dari mobil Key.
"Wa'alaikum salam," balas Key dengan pelan, setelah pintu mobil tertutup.
Setelah melihat Rembulan masuk kedalam gedung apartemen, Key pun kembali melajukkan mobilnya ke apartemen miliknya.
Karena hari ini mood nya hancur, jadi ia lebih memilih untuk pulang ke apartemennya daripada pulang ke mansion.
Key butuh waktu sendiri untuk mengembalikan moodnya agar kembali baik.
...***...
...Marhaban ya Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa✨...
Mohon maaf lahir batin ya🙏