Lavina baru mengetahui jika kakaknya, Helena akan bertunangan dengan pria yang ia sukai sejak 7 tahun lalu.
Pertunangan itu dilakukan karena perjanjian kerjasama antara keluarga Albert dan Alexander.
Di malam pertunangan, Lavina berencana untuk menjebak pria dari keluarga Alexander tersebut agar batal bertunangan dengan kakaknya, Helena.
Tapi, semua rencana yang dibuatnya gagal dan justru berbalik menyerangnya. Dalam satu malam, hidup Lavina hancur, ia juga terjebak dalam rencana orang lain yang belum ia ketahui siapa dalangnya dan terpaksa menikah dengan anak kedua keluarga Alexander yang lumpuh dan hanya mampu menjalani kehidupannya di kursi roda.
Tak terima dengan pernikahannya yang tiba-tiba dan memiliki suami yang cacat, Lavina membuat kontrak perjanjian dengan Cendric untuk berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsihe98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu Yang Berharga
Hari sudah makin petang, acara pembukaan bisnis baru Aaron juga sudah selesai diadakan dan sekarang para tamu tengah menikmati jamuan yang disediakan.
Setelah selesai dengan tugasnya untuk mengabadikan beberapa momen penting yang dipinta Aaron. Sekarang waktunya Lavina beristirahat dan juga menikmati acara tersebut meskipun sebenarnya ia tak nyaman berada berlama-lama di sana di tambah kakinya terasa pegal karena menggenakan high heels yang cukup tinggi pilihan Peter sebelumnya.
Sebelumnya Aaron meminta hasil foto yang berhasil di potret Lavina langsung di serahkan pada sekretarisnya agar Lavina tidak perlu repot-repot harus mengedit dan mengirimnya, katanya tugas Lavina sudah cukup untuk membantunya mengambil momen penting tersebut dan sisanya akan ia serahkan pada sekretarisnya.
Lavina tentu tidak keberatan, lagi pula menurutnya itu lebih baik agar dirinya tidak harus direpotkan lagi mengurus sisanya. Lavina juga sudah mengecek semua hasilnya saat hasil jepretannya di salin ke dalam laptop sekretarisnya tersebut dan menurutnya semuanya sudah cukup memuaskan. Namun tetap saja dia masih butuh pendapat Aaron nanti soal hasil jepretannya.
Dan sekarang, setelah tugasnya selesai. Lavina memilih duduk sendirian menghindari percakapan dengan orang-orang yang tak di kenalnya. Ia masih mencari keberadaan Peter untuk mengembalikan kamera milik pria itu dan juga ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongannya hari ini.
Tapi, sudah hampir dua puluh menit Lavina duduk sendirian, ia tidak melihat sosok Peter di hadapannya. Bahkan saat Alexander dan Amber yang sudah datang sejak tadi berbincang bersama Aaron. Sosok Peter seolah menghilang.
“Siapa yang sedang kau cari?” tanya Cedric tiba-tiba sudah berada di sampingnya bersama Luke.
Melihat kehadiran Cedric dan Luke yang kini menghampirinya membuat wajah Lavina berubah menjadi tatapan sebal dan kesal. Terutama pada Luke yang membuatnya kesal tadi pagi karena menawarkannya untuk mengantarnya pergi namun tidak memberitahu ke mana supir tersebut akan mengantarnya.
“Aku tidak tahu jika hubunganmu dengan Peter sedekat itu,” ujar Cedric.
“Bukan urusanmu,” jawab Lavina cuek.
Lavina masih menaruh rasa kecewa pada Cedric karena tak memberitahu tentang acara pembukaan bisnis Aaron yang diadakan hari ini dan pria itu juga sama sekali tak membantunya disaat Lavina membutuhkannya.
Ia masih bersyukur karena bisa bertemu Peter tadi dan pria itulah yang pada akhirnya kembali membantunya. Sedangkan Cedric sama sekali tak peduli dengan kepanikan istrinya.
Tak ingin berdebat dengan Cedric saat di tempat acara, Lavina memutuskan untuk pergi mengambil minuman agar bisa menghindari Cedric. Seperti lebih baik jika dia menahan sebentar rasa kesalnya sekarang karena acara saat ini belum usai.
Lavina sudah mendekati meja yang penuh dengan gelas yang diletakan di sana. Tapi tanpa di sadari karena dia berdiri tidak begitu seimbang ditambah sepatu high heelsnya yang tak nyaman. Lavina merasa seseorang baru saja mendorong lengannya hingga ia terjatuh dan masuk ke dalam kolam renang yang berada di pinggirnya tersebut yang membuat orang-orang terkejut melihatnya.
Lavina terkejut saat dirinya sudah basah kuyup masuk ke dalam kolam renang yang cukup besar tersebut di tambah ia juga merasa malu saat ini karena semua tamu yang datang sudah menatap ke arahnya yang membuatnya ragu untuk keluar dari kolam saat ini.
Sampai akhirnya Lavina tidak sadar jika ada orang lain dari arah samping kirinya yang dengan cepat loncat ke kolam renang tersebut dan langsung menarik pinggangnya dan menolongnya naik ke atas di bantu beberapa pelayan di sana yang menarik tangan mereka.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya yang membuat Lavina ingin menangis namun harus ditahannya karena tengah diperhatikan banyak orang.
“Aku tidak apa-apa,kak. Terima kasih,” ujar Lavina menatapnya dengan tatapan tak percaya jika ia kembali mendapat pertolongan dari orang yang sama, Peter.
Pria yang sejak tadi Lavina cari keberadaannya tiba-tiba saja loncat dari arah samping Lavina setelah melihatnya basah kuyup di dalam sana dan dengan cepat menolongnya setelah Lavina menjadi tontonan para tamu undangan yang hanya melihatnya dan bahkan ada yang menertawakannya tanpa membantunya.
Tak lama Aaron bersama Catherine langsung datang menghampiri mereka dengan tatapan panik dan khawatir melihat keduanya yang basah kuyup saat ini. Begitu juga Alexander dan Amber yang baru saja datang dan terkejut melihat keduanya.
“Are you okay?” tanya Catherine memberikan handuk pada Lavina juga menatap Peter khawatir.
“Aku baik-baik aja, tadi aku kurang berhati-hati hingga akhirnya terjatuh ke kolam,” jelas Lavina merasa tak enak pada Catherine setelah Peter menolongnya.
“Ya aku tahu dan sudah bilang pada Papah untuk tidak meletakan meja tersebut dekat dengan kolam.” Catherine menatap Aaron.
“Bawa mereka berdua ke dalam untuk mengganti pakaian agar tidak kedinginan,” ujar Aaron.
Catherine mengangguk dan membantu Lavina berdiri dan Peter yang sama basah kuyup telah dibantu pelayan lainnya. Lavina benar-benar merasa tak enak karena telah membuat malu keluarga Alexander apalagi pria itu datang dan melihatnya yang justru membuat masalah datang.
Di sisi lain, Cedric hanya bisa diam melihat kejadian tersebut tanpa bisa melakukan apapun. Di saat Lavina terjatuh ke kolam ia sempat melihatnya dan meminta Luke untuk menyelamatkan Lavina namun ternyata Peter sudah lebih dulu datang dan turun ke kolam untuk menolongnya.
Sebenarnya apa yang sedang direncanakan Peter hingga dia bisa sampai seberani itu untuk menolong Lavina yang sudah jelas adalah adik iparnya. Sekarang, setelah kejadian tersebut beberapa tamu sudah berbisik-bisik membicarakan mereka dan juga tindakan Peter tadi.
...***...
Catherine sudah meminta pelayan untuk membawakannya pakaian lain yang langsung diberikannya pada Lavina. Wanita itu terlihat khawatir padanya dan sampai menunggunya selesai mengganti pakaiannya dan juga membantu Lavina mengeringkan rambutnya.
“Aku bisa melakukannya sendiri,” tolak Lavina saat Catherine membantunya.
“Tidak apa, aku ingin membantumu.”
Lavina merasa tak enak karena Catherine begitu baik padanya dan bahkan membantunya. Wanita itu akan bertunangan dengan Peter dalam waktu dekat ini dan seharusnya dia lebih khawatir dan membantu Peter.
“Aku tidak tahu kalau kalian begitu dekat.” Kata Catherine tiba-tiba.
Dengan Peter maksudnya? Ah sudah pasti wanita tersebut akan curiga padanya setelah Peter menyelamatkannya tadi.
“Tidak, kamu jangan salah paham. Aku dan kak Peter tidak sedekat itu. Mungkin dia menyelematkanku tadi karena tak mau membuatku bertambah malu,” jelas Lavina menatap Catherine dari cermin.
Catherine hanya mengulas senyuman yang hanya bisa Lavina lihat dari cermin saat ini karena wanita itu masih membantunya mengeringkan rambutnya.
“Ya aku tahu, tenanglah aku tidak berpikiran macam-macam. Lagi pula aku rasa tindakannya sangat wajar karena, maaf—Cedric tidak mungkin bisa menyelamatkanmu.” Catherine menatap Lavina dengan wajah merasa tak enak membicarakan soal Cedric.
Lavina mengulas senyuman tipis mengerti dengan maksud Catherine. Memang benar apa yang dikatakan wanita itu jika Cedric tidak mungkin bisa menyelamatkannya karena kondisinya, tapi paling tidak bisakah pria itu sekarang datang menemuinya saja?
“Aku akan menemui Peter,” ujarnya setelah selesai mengeringkan rambut Lavina.
“Ahh ya, terima kasih bantuannya Catherine.” Kata Lavina yang diangguki Catherine dengan senyuman.
Lavina sekarang hanya diam menatap dirinya di depan cermin. Ia merasa malu untuk pergi keluar dan menemui orang-orang tadi setelah kejadian tersebut dan ia juga takut untuk bertemu Alexander dan Amber yang mungkin sudah marah besar setelah insiden tadi yang membuat keduanya malu.
...***...
Acara pembukaan bisnis baru keluarga Aaron sudah selesai dan beberapa tamu juga sudah mulai meninggalkan tempat termasuk Lavina yang sejak tadi masih berdiam diri di ruang ganti akhirnya memutuskan untuk pergi dan pulang.
Meskipun terjadi insiden yang tak terduga, ia benar-benar bersyukur karena tugasnya telah selesai sebelumnya. Dan sekarang ia harus mencari Luke memintanya untuk mengantar pulang.
“Terima kasih atas bantuanmu hari ini, dan maaf juga soal insiden yang menimpamu tadi,” ujar Aaron pada Lavina yang hendak pamit pulang.
“Aku minta maaf karena telah membuat acara berantakan karena insiden tadi,” kata Lavina merasa tak enak.
“Tidak, justru aku sangat senang karena kamu telah membantu acara ini.”
Lavina menganggukan kepalanya dan membiarkan Aaron dan istrinya pergi lebih dulu meninggalkan tempat acara yang sudah mulai sepi dan hanya tersisa beberapa pekerja lainnya yang sedang membersihkan tempat tersebut.
Dan sekarang Lavina mencari keberadaan Cedric, berharap pria itu tidak pulang lebih dulu dan meninggalkannya setelah kejadian tadi. Karena Lavina sangat takut pulang sendirian dan bertemu Alexander nanti setelah insiden yang di lihatnya tadi.
Lavina mengelilingi tempat yang sudah sepi tersebut dan mencoba bertanya pada beberapa pelayan di sana yang mungkin saja melihat sosok Cedric. Tapi sayangnya, tidak ada yang melihat Cedric dan ia juga tidak membawa ponselnya karena tasnya tertinggal di mobil Peter dan ia lupa membawanya karena sudah lebih dulu fokus pada kamera yang di bawanya tadi.
Jika begini, bagaimana caranya untuk pulang? Ia tak berani untuk menyewa taxi sendirian di malam-malam seperti ini. Dan ia tak bisa menghubungi Cedric agar menjemputnya. Mengapa nasib Lavina begitu sial sekali?
Lavina melepaskan sepatu high heelsnya yang sudah membuat kakinya lecet dan memerah, ia memutuskan berjalan dengan gaun yang diberikan Catherine tadi dan menenteng sepatu heelsnya tersebut berjalan dengan kaki telanjangnya berharap seorang pangeran datang menjemputnya dengan kereta kencananya.
Dan sosok pangeran yang diinginkan Lavinapun akhirnya datang namun bukan kereta kencanan melainkan dengan kursi rodanya yang berhenti di hadapannya.
“Ke mana pahlawanmu?” sindir Cedric.
Lavina baru saja ingin menghela nafas legah karena melihat sosok Cedric dihadapannya saat ini, tapi mendengar perkataan pria itu kini ia kembali dibuat kesal.
“Apakah kamu mau memberiku tumpangan?” tanya Lavina pada Cedric.
“Mengapa aku harus memberikanmu tumpangan?” balasnya yang sudah Lavina duga jika sekarang keduanya sama-sama dalam ego masing-masing.
“Sudahlah kalau begitu, aku akan mencari taxi.” Lavina berjalan meninggalkan Cedric sebelum pria itu menahan tangannya yang membuat langkah Lavina terhenti.
Lavina menatap Cedric dengan wajah lelahnya saat ini dan berharap agar Cedric tidak memancing emosinya lagi. Sejak pagi dia terlalu sibuk mencari cara agar bisa memenuhi janjinya pada Aaron dan hingga sore ini, ia masih harus tertimpa masalah saat terjatuh ke kolam yang membuatnya benar-benar malu.
Tapi Cedric tampak tak peduli, pandangannya menatap Lavina begitu lekat dan berhenti di leher jenjang wanita itu yang membuat Lavina gugup melihat mata tajam Cedric saat ini.
“Di mana kalung yang ku berikan untukmu?” tanya Cedric.
“Kalung?” Lavina meraba lehernya dan tidak menemukan kalung yang diberikan Cedric.
Seingatnya sejak keluarga Aaron berkunjung ke mansion Alexander, Lavina tak pernah melepaskan kalung yang diberikan suaminya itu. Dan tadi pagi, seingatnya juga dia masih menggenakannya karena kalung tersebut juga tak mudah di buka dan pasang olehnya sendiri.
Tapi sekarang, mengapa kalung tersebut tidak ada di lehernya. Apakah kalung tersebut sudah jatuh?
“Tadi pagi aku masih memakainya, tapi sekarang di mana kalung itu?” Lavina menjadi bingung ke mana kalung miliknya tersebut.
“Aku tahu benda itu mungkin tidak penting bagimu, tapi kalung itu sangat penting bagiku karena hanya ada satu di dunia ini dan aku berikan itu untukmu. Tapi kamu menghilangkannya begitu saja,” ujar Cedric yang membuat Lavina merasa bersalah.
Wajar jika Cedric berkata seperti itu karena pria itu sudah mengatakannya sejak awal jika kalung tersebut dirancang oleh desainer terkenal yang dibuatkan khusus untuknya. Meskipun kalung tersebut dibuat karena perjanjian kerjasama antara Albert—Ayah Lavina dengan perusahaan Cedric. Tapi untuk desain kalung tersebut Cedric sengaja meminta desainer yang terkenal mendesain khusus untuknya.
Tapi sekarang Lavina yang ceroboh sudah menghilangkan kalung yang tak hanya harganya yang fantastis tapi juga sangat berharga itu dari Cedric tanpa sengaja.
“Aku akan mencarinya, sepertinya tadi terjatuh saat aku mengganti pakaian.” Lavina dengan cepat kembali ke dalam ruangan ganti yang digunakan sebelumnya.
Mungkin saja kalung tersebut terjatuh saat dirinya mengganti pakaiannya tadi. Di tempat tersebut tidak ada pelayan yang masuk jadi belum di bersihkan dan Lavina masih bisa mencarinya dengan mudah.
Dengan keadaan panik karena menghilangkan barang berharga yang Cedric berikan, Lavina terus berjongkok mengangkat gaunnya mencari kalung tersebut, namun Lavina tidak menemukan benda yang di carinya itu. Ia juga sudah kembali membuka gaunnya yang masih basah dan sudah ia masukkan ke dalam tas, siapa tahu kalung tersebut terselip di gaun tersebut.
Tapi sayangnya Lavina tidak menemukan kalung tersebut terselip di gaun yang masih basah tersebut. Lalu di manakah kalung itu terjatuh? Dia juga bahkan tak tahu sejak kapan kalung tersebut sudah terlepas dari lehernya?
Lavina tidak ingin membuat Cedric kecewa karena menghilangkan barang berharga pemberian pria itu. Tak mau menyerah begitu saja, Lavina mencarinya di tempat di mana tadi dia kunjungi dan dia juga sudah meminta bantuan pada para pelayan yang sedang membersihkan tempat tersebut jika menemukan kalungnya.
Hari sudah makin malam, para pelayan juga sudah selesai membersihkan semua tempat tersebut dan juga melapor pada Lavina jika mereka tidak menemukan kalung miliknya itu.
Tapi Lavina belum menyerahkan, setelah semua kursi dan meja sudah tidak ada Lavina terus mencarinya berharap jika kalungnya terjatuh di area tersebut dan tidak ada orang lain yang mengambilnya. Satu-satunya tempat yang belum Lavina cek adalah kolam renang di sana.
Sebelumnya ia terjatuh ke kolam tersebut, apakah kalungnya juga terlepas saat itu? Tapi bagaimana cara dia mencarinya? Kolam tersebut tidak begitu dalam dan seukuran orang dewasa tapi tidak mungkin ia turun ke sana lagi bukan? Tapi bagimana jika kalung tersebut memang benar jatuh di kolam renang itu, Lavina harus memastikannya.
Tak punya pilihan lain dan tak berpikir panjang Lavina menaruh semua barang yang di bawanya dan langsung melompat ke kolam renang mencari kalungnya yang mungkin terjatuh ke dalamnya.
Lavina menyusuri dasar kolam tersebut, namun di dalam sana dia tidak menemukan apapun bahkan ia sudah memastikan posisinya saat terjatuh tadi, tapi tetap ia tidak menemukan apapun di dalam kolam.
Kaki Lavina sekarang terasa keram karena dinginnya air kolam dan dia masih belum menyerah untuk mencari kalung tersebut. Ia terus mencari ke sisi-sisi kolam namun tetap saja tidak menemukan apapun hingga Lavina merasakan kakinya makin keram di dalam kolam dan sulit untuk di gerakan.
Orang-orang di sana sudah sepi karena para pelayan telah pergi ke tempat lain, Lavina teriak meminta tolongpun tak ada yang mendengarnya karena tempat tersebut sangat luas. Lavina mencoba berenang ke tepi tangga kolam, namun tetap sulit karena kakinya terasa kesakitan karena keram. Bagaimana caranya keluar dari kolam tersebut sekarang?
Apakah Lavina akan terjebak di kolam tersebut semalaman, apakah dia akan menemukan ajalnya malam ini dengan tenggelam di kolam karena kakinya keram? Meskipun Lavina benci dengan kehidupannya sekarang, tapi dia tidak ingin mati lebih cepat karena belum berjumpa ibunya.
Tapi, kesadarannya mulai menghilang setelah beberapa kali ia merasa tertarik ke bawah kolam dan kesulitan bernafas hingga sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya, suara pria yang di kenalnya memanggilnya dengan kencang dan panik.
Samar-samar Lavina melihat pria tersebut berdiri dari kursi rodanya dan langsung turun ke dalam kolam menarik tubuhnya sebelum akhirnya Lavina benar-benar kehilangan kesadaran dan menyebut nama pria yang baru saja menyelamatkannya.
“Cedric.”