Keenan Adijaksara, pria muda 26 tahun yang sama sekali tidak memiliki minat dalam bidang bisnis, sehingga harus dipaksa selalu oleh sang Papa agar ia mau menjadi penerus perusahaan, hal itu membuat Keenan memberontak dan pergi keluar kota untuk meniti karirnya sebagai seorang penulis, cita-cita sederhana yang ia impikan sejak umur 15 tahun. Di sela-sela perjuangannya untuk bisa menjadi penulis, Keenan bertemu dengan gadis yang merupakan seorang barista disebuah Cafe, sebut saja namanya Naina. Wanita periang sederhana dan juga sedikit pemarah, ia mudah bergaul dengan siapa saja. Namun, dibalik sifatnya itu Naina melalui masa lalu yang menyakitkan tentang keluarganya. Seiring waktu, buih-buih cinta tumbuh pada keduanya, namun beberapa masalah muncul menjadi penghalang cinta mereka. Bagaiamana perjuangan Keenan dan Naina dalam mempertahankan Cinta mereka?
•••
Hi, ini karya pertama Fitriyan. Semoga kalian suka ya, jangan lupa bantu Author dengan Like, komen, Follow, Subs dan Vote🩵
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitriyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesona Keenan
Naina cukup mengangguk-ngangguk saja sembari tertawa kecil.
"Baiklah aku pulang dulu, terimakasih kopinya" Pamit Keenan ingin segera pulang.
"Iya, hati-hati"
Keenan pun melangkah menuju mobilnya sedangkan Naina masih berdiri di teras sambil melambaikan tangan pada Keenan, pria itu menjawabnya dengan membunyikan klakson dan melaju begitu saja. Setelah memastikan Keenan sudah pergi barulah Naina mengambil gelas kopi Keenan tadi dan masuk ke dalam kontrakannya.
Naina meletakkan gelas itu di dapur dan menuju kamarnya, Naina kembali mengingat bahwa tadi ia baru saja menelepon Ibunya, hingga sesaat kemudian terbesit di pikirannya tentang kejadian yang tak terduga yang telah ia alami pada dua bulan lalu. Dimana ia bertemu dengan Pak Abram dan beberapa hari kemudian tanpa sengaja bertemu dengan sang Ayah.
"Tidak mungkin jika sekarang aku memberitahukannya pada Ibu" Gumam Naina sambil duduk dipinggiran ranjang tidurnya.
Entah mengapa sangat berat rasanya jika ia tidak memberitahukan kedua hal itu pada Ibunya, terlebih lagi Pak Abram, yang waktu itu meminjamkan uang pada Ayah Haris untuk operasi syaraf terjepit yang di deritanya sebesar tujuh puluh juta, separuh dari uang itu juga ia gunakan untuk membiayai sekolah Naina pada saat itu.
Naina teringat kembali tentang dirinya yang ditemukan Pak Abram pada waktu itu.
*Flashback On
"Apa kau mau kuantar pulang, Naina?" Tawar Ani, mereka baru saja pulang dari rumah salah satu rekan kerja mereka yang mengadakan acara kecil-kecilan disana.
"Tidak perlu, Ni. Aku akan memesan ojek atau taxi saja, kau tidak perlu khawatir"
"Kau yakin?"
"Iyaa. Lagipula juga arah tempat tinggal kita itu berlawanan dan jauh juga, kau duluan saja, aku akan memesan taxi saja disini" Ujar Naina lagi berusaha untuk tidak merepotkan teman kerjanya itu.
"Baiklah kalau begitu, aku duluan ya"
"Iyaa, hati-hati" Ucap Naina sembari melambaikan tangannya pada Ani yang melaju dengan sepeda motornya.
Naina melangkah untuk menunggu taxi di pinggir jalan, ia melangkah sambil membuka tasnya berniat mengambil ponselnya, namun tiba-tiba saja tangan seseorang mencengkeram lengan wanita itu yang membuatnya tersentak kaget, Naina kemudian melihat siapa yang melakukannya.
"Pak Abram?"
Pria yang hampir seumuran dengan Ayahnya itu kemudian menarik lengan Naina dengan kasar kemudian membawanya jauh dari wilayah yang biasanya menjadi jalan orang-orang berlalu-lalang.
"Ssshh.. aww lepaskan Pak Bram!" Naina meringis karena lengannya di genggam pria itu dengan kuat dan kasar.
"Mana Ayahmu?!" Tanya Pak Abram mengecilkan suaranya tanpa melepaskan genggamannya pada Naina.
"Sshh.. A-aku tidak tahu dimana Ayah berada, dia sudah pergi meninggalkan kami, Pak" Jawab Naina, kini ia merasa takut.
"Jangan coba-coba untuk berteriak, kalau orang-orang datang kesini justru kaulah yang malu karena aku hanya ingin uangku yang dipinjam ayahmu itu kembali" Ujar Pak Abram diiringi emosi.
"Aku akan membayar hutang Ayah padamu, Pak. Tapi aku tidak tahu dimana ay.."
"Jangan berbohong, anak kecil. Kau tidak akan bisa membayar hutang ayahmu, sekarang dimana dia? cepat katakan padaku!" Ancam Pak Abram sembari memperkuat cengkramannya yang membuat Naina semakin merasakan sakit pada pergelangan tangannya.
"Aku benar-benar tidak tahu Ayahku dimana Pak Bram, dia sudah meninggalkan kami sejak tiga tahun lalu dan, aww..." Penuturan Naina terpotong karena Pak Abram kini menjambak rambutnya, pria itu benar-benar hanya ingin Ayah Haris lah yang menemuinya, bukan Naina.
"Apa kau tidak ingin memberitahunya lagi?!" Desak Pak Abram tidak peduli lagi pada rintihan Naina, wanita itu berusaha melepaskan cengkraman tangan Pak Abram dari rambutnya, "Aww.. Tolong lepaskan Pak Bram, aku benar-benar tidak tahu dimana ayah, tolong lep.."
*Bugh..
Seketika Naina terkejut melihat Pak Abram yang ambruk ke tanah karena dihajar oleh seorang pria, tanpa berpikir lama Naina langsung berlari untuk berlindung dibelakang pria itu dengan perasaan yang kini berkecamuk.
"T-tolong saya tuan" Pinta Naina pada pria yang menolongnya yang ternyata adalah Keenan.
*Flashback Off
Naina menghela nafas panjang mengingat kejadian itu, ia bersyukur karena Keenan menolongnya pada waktu yang tepat, ia tersenyum mengingat wajah Keenan yang baru saja pulang dari kontrakannya tadi.
"Untung saja Pak Bram tidak menanyakan alamatku dimana, kalau sampai dia tahu pasti dia akan mendesakku akan keberadaan ayah" Gumam Naina lagi dengan perasaan yang tak menentu.
"Baiklah, aku harus menabung lebih giat lagi agar bisa secepatnya membayar hutang itu" Gumam Naina menyemangati dirinya sendiri, ia memejamkan matanya dan menghela nafas pelan.
***
Hangatnya matahari pagi membuat Keenan menggeliat diranjang tidurnya, perlahan ia membuka mata dan mengumpulkan kesadarannya, Keenan melihat jam.
"Ugh.. jam setengah tujuh ternyata" Gumamnya sambil meregangkan otot-ototnya.
"Tidak biasanya aku cepat bangun seperti ini"
Pria itu meninggalkan tempat tidur dan bersiap untuk mandi dan berangkat ke kantor, setelah selesai barulah ia mengenakan setelan kameja berwarna abu dan celana kain formal berwarna hitam yang tentunya membuat pria itu semakin tampan dengan kulitnya yang putih, tangan yang berurat, alis tebal, hidung mancung dan bibir cerah yang cenderung tipis. Bahkan Hino yang merupakan sahabat Keenan mengakui bahwa sahabatnya itu memang tampan dari segi manapun.
Keenan mengambil tas kerjanya dan bersiap keluar berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya.
Sekitar lima belas menit waktu yang harus dibutuhkan Keenan untuk sampai ke kantor, pria itu turun dari mobilnya dan hendak melangkah memasuki gedung perusahaan.
"Selamat pagi Pak Keenan" Sapa Security yang sudah mengenali Keenan semenjak pria itu bekerja kurang lebih satu minggu.
"Selamat pagi Pak" Balas Keenan dengan senyum ramahnya.
"Apa anda ada jam tambahan? nampaknya anda lebih cepat datang dari biasanya" Ujar Security yang bernama Hendra itu dengan ramah.
"Tidak ada yang berubah, hanya saja saya cepat bangun hari ini, makanya cepat juga datangnya" Ucap Keenan jujur yang langsung diangguki oleh Security Hendra.
"Ooh baiklah kalau begitu, semoga pekerjaan anda lancar, Pak Keenan" Tutur Pak Hendra kemudian yang membuat Keenan tersenyum.
"Anda juga" Ucap Keenan sembari menepuk pundak Security itu, hati Pak Hendra menghangat seketika mendapatkan perlakuan seperti itu, Keenan pun melangkah menuju lantai tiga dan meninggalkan Pak Hendra disana.
"Hanya Pak Keenan yang mau mengobrol hangat dengan seorang Security sepertiku, semoga Tuhan selalu menjaganya" Batin Pak Hendra.
Menurut Pak Hendra, semua karyawan baik di perusahaan itu baik dari divisi atas atau bawah memang banyak yang ramah, namun yang mau menyapa dan mengobrol hangat dengannya walaupun hanya sebentar hanyalah Keenan.
Di sisi lain, Keenan sedang berada di dalam Lift untuk menuju lantai tiga, terlihat beberapa orang juga masuk dan salah satunya ada Fristy dan juga satu rekannya, keduanya terkejut melihat Keenan berada di lift itu karena tidak biasanya Keenan datang secepat ini. Hal itu membuat Fristy dan satu rekan kerjanya saling pandang, sedangkan Keenan yang menyadari itu hanya diam saja dan bersikap seolah-olah tidak peduli.
Rekan Fristy yang bernama Meliya itu merasa jantungnya berdegup lebih cepat setelah melihat Keenan dengan jarak yang lebih dekat, "Benarkah ini Pak Keenan yang sering menjadi topik hangat pembicaraan kami? astaga dia benar-benar tampan Ya tuhan.." Batin Meliya ingin berteriak sekarang juga.
Berbeda dengan Fristy, wanita itu masih merasa malu karena kejadian yang tidak mengenakkan tentang dirinya dengan Keenan pada dua bulan yang lalu, ia berpura-pura memainkan ponselnya, tidak berani melihat ke arah Keenan.
Letak ruangan Keenan memang berada di lantai tiga, sama seperti ruangan dari pekerja yang dari divisi keuangan, Keenan melangkah keluar dari dalam Lift di ikuti Fristy dan Meliya yang juga menuju ruang kerja mereka. Terlihat Keenan melangkah dengan santainya tanpa memperdulikan kedua wanita yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya, mereka hanya bisa melihat punggung pria itu melangkah menjauh menuju ruang kerjanya.
"Fristy, itu Pak Keenan tampan sekali astaga, aku ingin berteriak di lift tadi karena kegirangan" Ujar Meliya yang melompat-lompat kecil mengingat Keenan di lift tadi. Meliya yang melihat Fristy hanya diam saja melihat tingkahnya membuat wanita itu mengerutkan dahi.
"Kenapa kau diam saja dari tadi? tadi aku memberikan kode padamu untuk melihat Pak Keenan tapi kau malah asyik memainkan ponsel, biasanya kau yang lebih semangat jika membicarakan Pak Keenan" Ujar Meliya merasa aneh melihat rekannya yang satu itu.
"Ck, aku tidak apa-apa, pria itu memang tampan dan akan selalu menjadikannya topik utama pembicaraan kita Mel, tapi aku dari tadi lapar karena belum sarapan, lebih baik kita mencari sarapan dulu" Tutur Fristy yang berusaha mencari alasan yang masuk akal, ia tidak ingin Meliya mengetahui kisah memalukan yang diberikan Keenan untuknya, setelah kejadian itu ia tidak membicarakannya pada rekannya yang lain karena memang ia sangat merasa malu mengingat hal itu.
"Terus kenapa kau tidak memberitahu sedari tadi, kita sudah di lantai 3 sekarang, Fris" Keluh Meliya yang merasa kesal pada Fristy.
"Ck sudahlah, ayo cari sarapan!" Ucap Fristy penuh paksaan sambil menarik tangan Meliya kembali ke Lift, terlihat Meliya hanya pasrah saja dibuatnya.
mampir juga dikarya aku😄
Mungkin bakal lanjut lagi nanti.
Di tunggu feedback-nya ya kak.
Judul karyaku "Reinkarnasi menjadi wanita"
See you kak