Indonesia
NovelToon NovelToon
Maaf, Jika Aku Memilih Dia

Maaf, Jika Aku Memilih Dia

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen Angst / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Masalah Pertumbuhan / Tamat
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Chiavieth Annisa

Sebuah cerita tentang anak kampus yang bernama Grace yang kuliah di sebuah universitas terkenal. Memiliki wajah cantik, namun sifatnya keras kepala dan selalu melakukan kecerobohan hingga di setiap harinya selalu ada pertengkaran dengan seorang pria yang lebih tua setahun darinya.

Ethan, pria yang juga satu kampus dengan Grace namun memiliki sifat yang kebalikan dari gadis itu. Populer di kalangan para gadis, yang ternyata diam-diam menyukai sosok Grace yang diakui sebagai adiknya.

Namun, ternyata Grace telah menyukai orang lain, dan itu adalah Leon, teman dekat Ethan. Namun ternyata di balik itu ada hal membuat mereka mengalami berbagai halangan hingga kehidupan mereka memiliki konflik dan emosi yang komplek serta pertikaian yang kadang bisa merubah semuanya dan melewati masa-masa itu. Namun, Ethan segera menemukan bahwa cintanya tidak bisa membuat mereka tetap bersama. Karena ada hal yang menjadi hambatan, penasaran dengan kisah kehidupan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiavieth Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemana Grace?

"Ya tuhan, aku harus mencarinya kemana lagi?" Ethan telah lelah berjalan kesana-kemari.

Selebaran kertas pengumuman Grace yang menghilang telah tertempel di setiap tempat, di sepanjang jalan yang di laluinya.

Saat ini, ia duduk di depan gerbang kampus tempat mereka menjadi mahasiswa dulu. Pada jam ini, beberapa mahasiswa sudah berhamburan keluar untuk menuju kantin.

Ethan melihat arlogi yang melingkar di tangannya. "Sudah pukul 10.00 pagi." Dia baru menyadari kalau ternyata dia sama sekali belum makan.

Wajahnya terlihat tirus, jelas berbeda saat Grace masih setia memasakkan makanan setiap hari untuknya. Hembusan angin yang meniup wajahnya, membuat Ethan tak sadar kalau dia sudah melamun.

"Ethan...!" Suara yang tak asing, di sertai langkah mundur mendatangi Ethan, membuat lamunannya membuyar.

"Leon..." Tampak jelas bahwa temannya itu tampak penasaran melihat dirinya melamun.

"Grace sudah ketemu?"

Gelengan lemah menandakan kalau situasi hati Ethan saat ini sangat tak baik.

Hufft... keduanya menarik nafas dalam-dalam, "Sebenarnya ada masalah di antara kalian? Kenapa sampai segitunya?" tanya Leon penasaran.

Ethan tak menjawab, deringan ponsel memecah keheningan diantara mereka. Leon membuka ponselnya, "Grace ketemu!"

Mendengar pemberitahuan itu, Ethan langsung merespon, "Kamu serius? Dimana dia sekarang?" Ia benar-benar tak sabar mendengar kabar selanjutnya.

"Kayaknya di tempat kerjanya, than. Ini postingan hari ini, gimana kalau kita kesana sekarang," usul Leon.

Tanpa menunggu lama, Ethan mengangguk. Mereka segera meluncur dan tiba di depan gedung tempat Grace bekerja seperti biasanya. "Jadi gimana nih, kita langsung masuk apa gimana?"

Lagi-lagi tak ada respon balasan untuk Leon, saat itu Ethan menarik tangannya terus hingga tiba di meja resepsionis. Saat ingin menanyakan perihal tentang Grace, seorang gadis berkacamata dan masker yang menutupi sebagian wajahnya terlihat baru saja keluar dari sana dengan setumpuk dokumen dan berkas di tangannya.

"Itu..." Belum selesai Leon berbicara, Ethan langsung menghampiri gadis itu. "Grace, tunggu, tunggu sebentar. Aku mau ngomong sama kamu, kita bicara sebentar, please!" Ethan berjalan cepat mengikuti gerakan Grace yang terlalu kencang.

Namun tetap saja, yang di panggil Grace itu tak menoleh sedikitpun, entah mendengar atau tidak, tapi sepertinya Grace sengaja berpura-pura tak mendengarnya demi menghindari Ethan.

"Grace... Aku mohon..." Akhirnya Ethan berhasil menggenggam tangannya, dan menatap wajah gadis itu dengan raut memelas.

Nafasnya yang sudah sesak, membuat dirinya harus mengulur waktu untuk berbicara. "Katakan padaku Grace, kemana saja kamu selama beberapa hari ini?"

Grace sama sekali tak mengindahkan ucapan Ethan, pandangannya sengaja dialihkan ke arah berlawanan sampai Ethan kembali berbicara. "Aku cemas kamu kenapa-napa di luar. Kamu bahkan tak kasih kabar apapun lewat pesan singkat. Dan... masalah beberapa hari lalu, sebaiknya kita bicarakan secara baik-baik. Jangan mengutamakan emosi saja." Ethan akhirnya mengungkapkan rasa kesalnya.

Grace merasa penyamarannya tidak berhasil, bahkan Ethan dengan mudah mengetahui identitasnya. Padahal, ia masih tak ingin bertemu dengan keluarga Ethan.

"Memangnya kita ada masalah apa? Lagipula bukan urusanmu jika aku pergi kemanapun. Bukannya aku hanya benalu yang bukan siapa-siapa kalian." sahut Grace berusaha setenang mungkin.

"Grace! Kamu ini bicara apa? Aku sama sekali nggak ngerti apa yang kamu bilang, dan kamu belum menjawab

pertanyaanku tadi, semalam kamu tidur dimana?"

Lagi-lagi pertanyaan lain kembali muncul, padahal Grace belum menjawab apapun sejak tadi. "Sepeduli itukah kamu sama aku?" Grace mendengus, "Hebat sekali kalian menyembunyikan masalah ini selama bertahun-tahun. Kamu perlu tahu, mulai detik aku keluar dari rumah itu, aku bukan lagi bagian dari keluarga kalian. Sekarang, aku akan menetap tinggal di luar, kamu nggak perlu tahu aku tinggal dan tidur dimana."

Detik itu juga, Grace berlalu dari sana, meninggalkan Ethan yang menunduk diam. Matanya sempat melirik kearah Grace yang punggungnya mulai menjauh. pergi.

"Aku harus punya bukti...!" Tiba-tiba langkah Grace terhenti ketika mendengar pernyataan tersebut.

"Aku akan buktikan kalau mama sama papa memang nggak salah, mereka nggak tahu apa-apa tentang kecelakaan itu. Siapapun yang merekayasanya, aku akan pastikan dia hidup dalam sel tahanan seumur hidupnya!"

Mendengar itu, Grace tak menjawab. Sudut mulutnya yang berkedut, nenampakkan ekpresi dingin dari wajahnya. Pada detik berikutnya, ia pergi dari sana tanpa menoleh sedikitpun.

Leon menghampiri Ethan, setelah melihat adegan drama yang membuat hatinya menjadi iba. Secara tak langsung, ia mulai tahu permasalahan inti dari keduanya. Walau tak sepenuhnya tahu, tapi Leon mengerti suasana hati seorang Ethan yang sekarang.

"Kebetulan hari ini aku lagi sengang, mumpung hari sudah siang, kita makan siang dulu yuk!" ujar Leon menawarkan.

Namun, Ethan malah menggeleng pelan, ia menolak secara halus dan merasa tidak nafsu melakukan apapun. Jika permasalahannya sudah begini, haruskah ia memberitahu orang tuanya tentang masalah yang dia hadapi? Dia tak mungkin menyimpan beban itu sendirian.

"Grace, aku nggak terbiasa jika kamu nggak ada disini..." Suaranya tercekat dikerongkongan. "Benar, aku harus cari cara untuk membujuk Grace agar dia kembali pulang."

Tangannya dengan cekatan mengetuk layar ponsel memanggil kontak orang tuanya.

Mode telepon...

"Ya nak, apa kabar? Kalian baik-baik sajakah?"

"Ya ma."

Rasa ragu menghampiri dirinya, ia tak ingin langsung memberi tahu agar mereka tak terlalu terburu-buru mencari tiket hanya untuk kembali demi menyelesaikan masalah.

Dengan sedikit permohonan singkat dengan sedikit kiasan saja, kata-kata Ethan berhasil membuat orang tuanya akan mengunjungi setuju untuk kembali sementara....

\*\*\*

Grace memilih duduk di tempat paling sudut saat berada di tempat yang sepi, persoalan yang dihadapinya kali ini cukup mengejutkan baginya. Ia sempat berpikir bahwa kehidupannya untuk ke depan akan baik-baik saja. Namun, masalah yang tiba-tiba timbul membuatnya tersudut sendiri tanpa ada yang menyemangatinya.

Saat di kantor tadi, Grace ingat ketika dirinya berbicara empat mata di ruangan dan dengan bos-nya, ia tak pernah menduga, bahwa dirinya malah di tawari tinggal di apartemen kosong tepat di sebelah tempat tinggal CEO Raffaele, Grace juga diminta mengurus semua kebutuhan pribadinya setiap hari.

Isi kepala seakan mau pecah, dia baru menyadari kalau perkataan dua rekan sekantornya itu benar-benar nyata. Pria yang dia temui tadi benar-benar tampan, dan memikat hatinya sebagai wanita.

“Haus, aku benar-benar haus, tenggorokan juga terasa kering,” buru-buru Grace mengacak-acak isi tasnya, mencari botol minuman yang biasanya selalu sedia di dalam tas. “Kosong!”

Rautnya berubah kecewa setelah mendapati kalau botolnya kosong. “Aku nggak ingat mengisi air putih ke botol karena buru-buru.” keluh Grace dengan mulutnya yang berkedut.

Mengingat wajah tampan pria yang sedang dalam pikirannya, tiba-tiba sudut mulut Grace melengkung, tanpa sadar dia terhanyut dan membandingkan sosok wajah Ethan dengan bosnya Raffaele, "Astaga, apa yang kupikirkan barusan?” Ia berkata dalam hati sambil menepuk jidatnya, agar segera sadar. “Grace Hartley!”

Seketika pendengaran tajam yang telah Grace siapkan sejak tadi, membuatnya kaget. "Ya, apa anda memanggil saya pak?”

1
AmanteDelYaoi:3
Jelasin dong!
Lan Tian: kenapa kk? penasaran ya, lanjut swipe dong 🥺🙏
total 1 replies
Yuri/Yuriko
Gak sabar nih nungguin kelanjutannya, update cepat ya thor!
Lan Tian: di tunggu terus y kk🙏🥰
total 1 replies
Hakim Bohiran
Jangan diam aja thor, para pembaca sudah gak sabar nih!
Lan Tian: Baik kk, terima kasih udah baca cerita aku🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!