Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Pria Cantik Dan Kakek Tampan

Rahasia Pria Cantik Dan Kakek Tampan

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:80.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: CovieVy

Terdesak oleh lilitan hutang keluarganya, Nia terpaksa menyamar menjadi seorang pria bernama "Neo" demi mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi sebagai asisten pribadi seorang CEO eksentrik. Tanpa banyak pertimbangan, ia pun diterima bekerja di perusahaan milik Raffael Rana Hadinata, CEO yang diketahui sudah tua dan penuh rahasia.

Namun, pekerjaan itu tak semudah yang dibayangkan. Raffael ternyata menderita kelainan langka: alergi terhadap perempuan. Sentuhan, bahkan aroma tubuh wanita bisa membuatnya sesak napas. Maka, ia pun mencantumkan syarat: asisten pribadi harus laki-laki dan tidak boleh menyimpan ketertarikan romantis terhadapnya.

Tak ada yang mengetahui, rahasia apa yang disimpan oleh pria tua, tetapi memiliki tubuh terlalu bugar untuk seorang pria tua itu.

Dalam pusaran kebohongan, penyamaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mampukah Nia mempertahankan identitas palsunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Lelaki Sejati Tak Boleh Menangis

...*Please, kakak pembaca tersayang. Jangan berhenti membaca yah. Sepertinya ini juga gak naik, tapi aku putuskan untuk tetap lanjut walau retensi gak jauh beda dibanding kemarin. Ini artinya, memang segitu ya nilainya. Yang udah ikut, jangan lupa terus ikuti sampai akhir yaa. Walau, ini ceritanya, ga ada harganya bagi pf*...

.........

Neo tidak berani untuk bertanya lagi. Ia hanya mengangguk pelan, mengikuti langkah lebar pria di depannya. Perlahan, ia bisa memahami bahwa topeng tua yang selalu melekat itu, untuk melindungi dirinya dari berbagai macam kekhawatiran yang menyelimuti.

Perjalanan kali ini terasa sunyi. Neo bagai patung tak bergerak yang takut memecahkan gelas yang retak itu. Sejenak, Raffael berhenti di toko bunga dan kembali membawa satu buket bunga segar yang paling indah, dari yang pernah dilihat Neo.

Mata Neo berkaca-kaca, membayangkan pria yang mengemudi di depannya ini adalah refleksi terbalik dirinya yang kehilangan sosok ayah semenjak balita. Meskipun kata ibunya ia pernah dimanja dan diberi limpahan kasih sayang sebelum pergi meninggalkan mereka, tetapi ia tak bisa mengingat masa itu.

Tanpa diketahui oleh Raffael, Neo menyembunyikan tangisannya sendirian di belakang.

Saat sampai di pemakaman, dengan langkah kaki tanpa suara, Raffael memeluk buket bunga segar itu menuju pemakaman wanita yang rela mempertaruhkan nyawa demi menghadiahkan dirinya kepada sang ayah. Langkahnya mulai perlahan, saat melihat tempat peristirahatan ibunya, hingga ia benar-benar berhenti, tepat di sisi itu.

Ternyata, makam tersebut baru saja didatangi oleh seseorang. Ditandakan dengan taburan kelopak bunga yang masih wangi dan segar, di atas rumput mahal yang menghiasi makam ini.

"Sepertinya, papa baru saja ke sini," gumamnya berjongkok mengusap batu nisan yang tertulis nama sang ibu, yang wafat 28 tahun yang lalu. Bunga yang ia bawa, diletakkan di atas taburan bunga itu. Topeng yang tadi terpasang, kini ia lepaskan kembali.

"Assalamualaikum penghuni surga yang dirindukan malaikat. Putra yang engkau perjuangkan, kini hadir kembali dengan rasa rindu yang tak bertepi," bisiknya dengan senyum getir.

Kedua tangan Raffael menengadah dan memejamkan mata. Pria itu tengah khusyuk mengirimkan doa kepada sang bunda.

Sementara itu, Neo tak bergeming dengan hidung yang telah merah. Ia mulai sesegukan merasakan betapa sakitnya menajadi Raffael, meski pria itu terlihat tegar dalam kepura-puraannya.

Sejenak, ia melihat punggung Raffael bergetar. Namun, ia mengusap wajah, menyembunyikan luka yang tertoreh semenjak ia hadir di dunia ini.

“Mama,” bisik Raffael. “Hari ini aku bertemu dengan kakak yang Mama rawat dulu. Aku mendengar kembali, kata-kata yang pernah ia lontarkan dulu padaku."

Neo berdiri di belakang, membiarkan momen itu utuh untuk sang bos. Meskipun, pipinya telah dibanjiri air mata, begitu pula hidungnya telah dipenuhi air yang lebih kental. Ia tak berani menghisap cairan itu kembali masuk, takut merusak suasana haru yang kini telah menyesak bagi mereka.

“Harusnya, Mama tak perlu berjuang begitu keras demi melahirkanku,” lanjutnya.

“Aku tak tega melihat Papa menyembunyikan kesedihannya di hadapanku. Papa sangat mencintai Mama. Berulang kali aku meminta untuk menikah kembali, Papa selalu berkata 'Kalau bukan dengan Ratna, tak akan ada wanita lain di sisi Papa."

Mendengar kisah itu, Neo semakin tak kuasa menahan tangis. "Hiks ..." Getaran tubuhnya semakin hebat. Ibunya pun memilih sendirian membesarkan dirinya, dalam keadaan berbanding terbalik.

"Ma, apa aku bisa meminta waktu untuk diputar kembali? Agar aku tak mendengar lagi kata 'anak pembawa sial' dari mulut wanita itu? Jujur, aku iri padanya. Dia pernah dipeluk olehmu. Sedangkan aku, tak pernah merasakan itu." Lalu, Raffael menengadah kan wajah menatap langit, berharap air mata yang mulai menggenang, kembali masuk ke dalam.

Dalam kurun waktu yang panjang, hening pun menggantung dalam suasana duka yang tak berujung. Matanya menatap gundukan tanah di hadapannya, seolah berharap bisa menembus dan bertemu wajah wanita yang bahkan tak sempat untuk dikenali.

Neo akhirnya berjalan pelan mendekati Raffael dan berjongkok di belakangnya. Tangannya terangkat, menepuk pelan pundak kaku yang terlihat lelah, menyimpan beban yang selalu disembunyikan.

“Pak, tak ada yang namanya anak pembawa sial. Kehadiran Bapak, adalah hadiah tak terhingga yang sengaja ditinggalkan Papa Bapak, agar selalu mengingat bahwa mereka pernah bersama merajut asa. Semua manusia akan menemukan satu masa untuk berhenti berjuang. Kebetulan, ibu Bapak berhenti di saat melahirkan Anda. Semua itu telah tercatat jauh hari di Lauhul Mahfuz, sebelum ia hadir di dunia ini.”

Raffael menundukkan kepala, dan bibirnya tersenyum getir. Ia kembali menatap nisan itu, lalu menyentuh kelopak bunga melati yang terselip di sana.

“Kamu memang bisa berkata demikian, karena tak pernah tahu bagaimana rasanya hidup tak memiliki ibu.”

Neo pun bangkit. Ia tak bisa mengutarakan perasaan yang sebenarnya. Meskipun kesedihan yang ia rasakan, jauh lebih berat.

"Kau tak perlu menangis. Lelaki sejati tak boleh menangis!" tambah Raffael.

"Maaf," ucap Neo mengusap air matanya. Satu hal lagi yang membuatnya paham, alasan pria ini yang begitu sensitif setiap mendengar kata 'ibu.'

.

.

.

Pada malam harinya, Nia memilih pulang ke rumah ibunya. Dengan sesegukan, ia memeluk sang ibu.

"Buuu, aku kangen," tangisnya dalam pelukan sang ibu.

"Kamu kenapa? Tadi Ibu khawatir banget karena kamu tiba-tiba menghilang. Ibu kira, Jaron membawamu pergi." Ia mengusap rambut pendek sang putri.

"Bu, sepertinya, aku akan jarang pulang. Apa Ibu keberatan?"

Wanita paruh baya itu mendorong tubuh putrinya. "Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan pekerjaanmu?"

Nia mengangguk. "Bos-ku mewajibkan kami tinggal di asrama. Tadi pagi-pagi aku harus segera ke kantor. Karena Ibu masih tidur, aku merasa tak enak membangunkan Ibu."

Neo mengeluarkan sesuatu dari dalam tas-nya. "Bu, nanti kasih ini dulu ke Bang Jaron, ya? Gajiku belum masuk, tapi aku dikasih uang sama boss karena dinas luar."

"Jadi, jika dia datang, kasih ini dulu. Dan yang ini buat makan Ibu." Nia memberikan dua amplop kecil kepada ibunya. Satu lebih tebal dari yang lain.

Sang ibu menerima keduanya dengan mata berkaca-kaca. Ia membuka amplop pertama, lalu tersenyum dalam sesal. “Nia ... Ibu sangat merasa bersalah karena terus membuatmu susah. Namun—"

Nia menggoyang lengan sang ibu menggeleng cepat. “Ibu kan berhutang demi menyekolahkanku."

Tiba-tiba, ponsel Nia berdering. Gambar layar bertulisan 'Doberman Calling.' Nama yang selalu membuat perutnya bergejolak tiba-tiba. Namun, bagaimana pun ia harus menjawab panggilan itu.

"Tolong saya ...."

1
Esther
jangan2 Neo lagi datang bulan😂😂
Esther
Bagas sama Raffael bersaing nih untuk mendapatkan Neo😄😂
Yoga Yola Nara
ngakak🤣
SoVay: halo kakak, mampir yuk sama karya baru aku. judulnya: Terapi Hati Psikiater Gemulai. siapa tau kakak suka 😚
total 1 replies
Pa Muhsid
sakit perut aku
SoVay: halo kakak, mampir yuk sama karya baru aku. judulnya: Terapi Hati Psikiater Gemulai. siapa tau kakak suka 😚
total 1 replies
Rikarico
ketemu bapak nia
Rikarico
kan DTG bulan thor mana boleh nikah
Rikarico
si Nia blm sempat briefing ibunya ttg sttusnya🤣
Rikarico
pak Robin udah tau kalo noe itu nia
Ayu
Thor.. knp pak Robin di buat meninggal. hrs nya biar dia bs melihat cucu nya dulu. biar dia bhgia sbntr bersama cucu nya. kan ending nya jdi sedih thor. tapi mksh buat author nya. crita nya bagus. smgt trs aja👍🙏💪
Ayu
Sdh lah bu Elna.. saling memaafkan biar ht tenang. bhgia dgn kluarga masing2.ikat tali silahturahmi biar ht tentram bersama👍🙏
Ayu
Waduh.. tk sengaja pak Harun melihat ank nya yg dulu di tinggal semasa dlm kandungan istri nya. smg mereka ketemu lg
Ayu
Judul nya sdh ok kok thor. dan itu Nia.. knp. panggil suami nya kang. knp gk mas atau Hubby gitu. kan keren dikit🙏
Ayu
pada komen lho thor. aku aja smpai ngakak lht Rafael yg ketakutan. Dia yg berhrp Nia takut dan memeluk nya.. eemlh seblk nya😄🤭
Ayu
Thor si AL itu siapa. mbh Gogle kah🙏
Ayu
Rafael mgkn slh fhm sm pp nya. pp nya menyuruh Rafael sm Ni jg ibu nya mgkn krn mau menikahkan Rafael sm Nia. kejutan x ya dr pp nya🤭
Ayu
Akhir nya krn dtg bln si Rafael jdi tau neo itu wanita😄😄😄
Ayu
Waduh ibuu.. knp buka rahasia ank mu yg ptong rambut. nah.. jdi tau kan Rafael klau neo itu Nia😄🤭
Ayu
mgkn pak Robin sdh tau klau Nio itu seorang wanita ya thor
Ayu
Neo2..jdi ketawa aku dgr km mau bw bos mu ikut jihad
Ayu
jadi ngakak lihat Neo yg hrs 1 kmr sm Bagas. jdi bingung kan
SoVay: halo kakak, mampir yuk sama karya baru aku. judulnya: Terapi Hati Psikiater Gemulai. siapa tau kakak suka 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!