Riana seorang wanita sederhana bekerja di sebuah perusahaan ternama, terlibat percintaan rumit dengan orang-orang penting di perusahaan tempatnya bekerja, akibat masalah percintaan ini hidupnya yang sudah sulit bertambah semakin sulit..
Disaat tarap hidupnya mulai membaik ia malah dihadapkan dengan permasalahan diluar dugaannya. Ada rahasia dalam hidupnya yang baru ia ketahui, selain itu ia juga harus merelakan orang-orang yang dicintai pergi meninggalkannya.
Bagaimana kah kisah cinta dan kehidupannya? Kepada siapakah cinta Riana akan berakhir??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DESI.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipanggil ke Ruangan
"Selamat pagi Bu, ada yang bisa saya bantu" Ucap Resepsionis
"Saya ingin bertemu dengan Pak Direktur" Jawab Ibu separuh baya itu
"Apa ibu sudah membuat janji dengan bapak?"
"Ah belum katakan saja saya dari PT. Alisya"
"Baik bu, ditunggu sebentar silahkan duduk dulu" Ucap resepsion menunjuk sebuah sofa di tengah lobby kemudian ia menghubungi Direkturnya
Waktu istirahat sudah tiba, seperti biasa Riana membereskan meja kerja nya. Ada banyak tumpukan-tumpukan berkas disana, meja nya tertata rapi dengan alas berwarna merah muda. Tak lupa poto kedua orang tuanya dan vas kaca berisikan bunga segar disamping komputer.
"Aku harus buru-buru jangan sampai Pak Haris menunggu" gumam Riana
Riana berjalan cepat keluar ruangan sampai ia lupa untuk berpamitan dengan teman-temannya.
"Ah payung nya kan aku tinggal di pos securitty sebaiknya aku ambil dulu" dalam hati Riana
Benar saja ia ingin mengembalikan payung Haris langsung ke ruangannya, padahal ia bisa saja memberikan ketika berada di parkiran. Namun ia sudah terlanjur takut dan gugup mengira Haris akan menanyakan perihal payung tersebut.
Riana turun kebawah menggunakan lift karyawan, seperti biasa lift selalu ramai peminatnya. Sebenarnya bisa saja Riana turun menggunakan tangga, namun ia takut akan membuat direkturnya itu menunggu lama.
"Ah baiklah, aku akan menemuinya. Suruh tunggu di Lobby saja aku akan turun" Ucap Haris melalui telepon
Lalu ia menutup telepon tersebut dan berdiam sejenak. Tangannya memegang sebuah gelang berwarna coklat, ia pelintir gelang itu dan kemudian ia taruh kembali ke atas meja.
Riana sudah sampai di lobby, ia berjalan cepat ingin keluar kantor. Namun matanya kini bertemu dengan manik mata seorang ibu paruh baya yang sedang duduk di sofa.
Wanita itu sudah nampak tua, terlihat dari guratan wajahnya yang mulai keriput. Namun wajahnya yang bersih dan kulitnya yang putih membuat ia seperti masih muda.
Mungkin sering perawatan, entahlah. Orang kaya memang selalu punya cara untuk tampil berbeda. Namun bagi Riana kaya itu bukan terletak pada harta benda melainkan pada hati dan ketenangan jiwa.
Mata itu saling menatap dengan penuh arti, seperti ingin saling menyapa namun enggan berucap. Sepersekian detik tatapan-tatapan itu terjadi, Riana hanya membalas senyuman dan segera berjalan kembali menuju keluar lobby.
Terlihat wanita tua itu tatapannya masih mengikuti Riana sampai menghilang di balik pintu lobby. Sampai ia sadar seseorang datang menemuinya.
"Selamat siang tante" Ucap indra menjabat tangan wanita itu
"Selamat siang juga nak Indra, sudah lama sekali tidak bertemu. Kamu sehat nak?"
"Alhamdulillah sehat tante. kalau tante sendiri bagaimana"
"Yah seperti inilah namanya sudah tua kadang sehat kadang tidak" Ucap wanita itu sangat ramah
"Semoga selalu sehat, kalau om bagaimana?"
"Om sudah meninggal 2 tahun yang lalu, sejak kepergian Anisa kesehatannya semakin hari semakin memburuk"
"Innalillahiwainnalillahirojiun, maaf tante aku baru tau kabar ini. Jika saja tante tidak mengirim surat penawaran itu mungkin kita tidak akan bertemu"
"Iya nak Indra tante bersyukur Haris menerima surat penawaran tersebut, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik" Jawab Wanita itu
Ya wanita tua itu adalah ibu dari Anisa Kayla, kekasih tercinta Haris. Nama beliau adalah Siti Alisya, suaminya sudah meninggal 2 tahun yang lalu akibat penyakit jantung. Indra dan Ibu Alisya saling mengenal karena pernah beberapa kali bertemu ketika Haris masih berhubungan dengan Anisa.
Saking asyiknya ngobrol, Indra dan Ibu Alisya tidak menyadari kalau Riana baru saja lewat didepan mereka dan akan memasuki lift. Baru saja Riana memasuki lift karyawan, dari sebelah lift direktur terbuka dan Haris keluar dari dalamnya.
"Selamat siang bu.." Ucap Haris
"Selamat siang Haris, anakku.." Ia berdiri dan langsung memeluk Haris. Terlihat ekspresi pilu di wajahnya
Bu Alisya sudah menganggap Haris seperti anaknya sendiri, ia sangat menyanyangi Haris. Namun setelah kejadian 4 tahun lalu Haris tidak pernah menemuinya lagi, entah karena Haris kecewa atau ingin melupakan Anisa dibalik itu Bu Alisya merasa kesepian karena tidak ada lagi yang menghiburnya di kala sedih.
Bu Alisya sengaja memberikan surat penawaran tempo hari, tujuan sebenarnya hanya untuk bertemu dan bersilahturahmi lagi dengan Haris calon mantu nya dulu. Ia sangat kesepian sekarang, bahkan suami tercinta pun dipanggil oleh Tuhan menyusul anaknya ke surga.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu nak.. Ibu sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu nak?" Tanya Bu Alisya melepaskan pelukannya dan menatap Haris
"Aku baik-baik saja bu, aku juga sangat merindukanmu.." Ucap Haris , ada rasa rindu di hatinya yang menyeruak keluar. Ia seolah teringat kembali masa lalunya bersama Bu Alisya dan kekasihnya Anisa
"Baguslah nak.. kau nampak sangat sukses sekarang" Bu Alisya terus tersenyum menatap Haris. Terobati sudah rasa rindunya, ia seperti mengingat masa lalu ketika anaknya masih hidup.
"Duduklah bu.. kita akan membahas tentang penawaran yang tempo lalu Ibu ajukan" Ucap Haris, ia sepeti tidak ingin tenggelam lebih lama lagi dalam sesi kangen-kangenan ini. Hanya akan membuat lukanya terbuka lebar kembali dan menyisakan kesedihan yang berkepanjangan.
Indra yang melihat kedua orang dihadapannya tersenyum bahagia, ia ikut haru melihat pertemuan dua orang yang sudah lama tidak bersua ini. Namun ia tidak ingin menganggu pembicaraan Haris dan Bu Alisya karena memang bukan bagian dari tugasnya untuk menangani penawaran semacam itu, ia berdiri dan pamit pergi meninggalkan lobby.
Sementara Riana sudah sampai didepan ruangan Haris, seperti perintah ia disuruh untuk menghadap bosnya ini setelah istirahat. Tapi Riana takut akan terlambat, sehingga ia rela menahan lapar tidak makan siang demi bos tampannya tersebut.
Diliriknya kiri kanan tidak ada orang, karena ini waktu istirahat pasti Clarissa juga sedang makan siang.
Riana mengetuk pintu ruangan namun tidak ada jawaban. Di bukanya pintu tersebut perlahan dan ia masuk ke dalam.
"Ternyata tidak orang.. lalu bagaimana ini" gumam Riana
"Kalau aku turun aku takut Pak Haris kembali dan menunggu"
" Apa aku tunggu saja ya" Ucap Riana dalam hati
Ia menatap sekeliling ruang kantor, ruangan kantor Haris sangat melukiskan kepribadiannya yang dingin dan tegas terlihat dari beberapa desain interiornya yang minimalis. Ada beberapa lukisan abstrak tergantung di ruangan, semuanya tak lepas dari tatapan Riana.
Dilihatnya meja kerja Haris, nampak bersih dan rapi. Ada beberapa map disana dengan kertas-kertas tebal namun semua tersusun rapi. Kini mata Riana tertuju dengan sebuah gelang tergeletak disana, sangat menarik perhatiannya.
Tangannya mengambil gelang itu, ia tatap gelang tersebut sambil jari-jarinya membolak balik. Ia tersenyum mengingat seorang Haris yang terlihat cuek dan dingin ternyata mempunyai sebuah gelang lucu seperti anak-anak muda jaman sekarang.
Riana mencoba memakai gelang tersebut, kini ia tidak sadar kalo ia sudah lancang berani menyentuh barang milik direktur. Ia sangat tertarik dengan gelang tersebut.
"Jangan sentuh sesuatu yang bukan milikmu, letakkan kembali" Ucap seseorang tegas dibalik pintu
Riana menoleh ke arah suara itu dan betapa kagetnya ia ternyata Haris sudah berada dibelakangnya.
"ya Allah Matilah aku.." Lirih Riana kaget
kejamnya dirimu q nanti2 ceritanya tp blm jg ada kelanjutan 😞
dan mamaknya si alisya
mmmm btw keren thorr