Indonesia
NovelToon NovelToon
Meluluhkan Hatimu

Meluluhkan Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ibu ditca

Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.

Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.

Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.

Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Rino menyupiri Candra saat perjalanan pulang. Hari ini sang papa bertolak kembali ke ibu kota. Hanya Estu yang masih stay di sekitar proyek. Ya, walaupun tujuannya bukan semata-mata karena proyek tersebut melainkan tentang putri tunggalnya yang baru ia lihat setelah belasan tahun lamanya.

"Tumben bengong, kenapa?'' tanya Rino. Candra tak langsung menjawabnya. Pemuda itu menyandarkan kepalanya di jok.

"Pasti soal nona Auri ya?'' tebak Rino. Saat nama gadis itu di sebut, Candra pun menoleh ke samping.

"Menurut LO????''

Rino berdehem pelan mendengar sahutan tengil sahabatnya itu. Suasana kembali hening. Hingga akhirnya Candra sendiri yang memulai percakapan lagi.

"Jahat banget kek nya gue tiba-tiba deketin Auri cuma biar bisa mempersatukan Om Estu sama dia.''

"Bukan mempersatukan kali bos. Mereka bukan pasangan, tapi bapak dan anak. Yang pantes di persatukan tuh situ ama Auri. Baru nyambung tuh kalimat. Lagian, sejak kapan sih seorang Candra mendadak punya rasa kasihan? Kan Lo sendiri bilang, dia musuh bebuyutan ?''

Mulut Candra ternganga lebar. Rino benar-benar membuatnya naik darah.

"Ngga usah marah. Toh faktanya begitu!''

"Diem Lo!'' tukas Candra.

"Oke!'' Rino berlagak mengunci bibirnya.

"Ga gitu juga maksud gue Rino wengi...''

"Ya apa? Katanya tadi suruh diem. Ini diem lho!''

"Bantu gue mikir deketin Auri yang natural sampai akhirnya Om Estu bisa nemuin dia dengan bebas, ga canggung!''

"Ya ngga bisa lah Bambang! Logika aja ya, hubungan mereka udah lama banget renggang. Dan ya...kalo gue jadi Auri juga males ketemu bapak yang ga tanggungjawab, tapi kalo duitnya mau sihh....''

Candra meremas tisu yang ada di dasbord lalu melemparkannya pada Rino yang terbahak.

"Mampir dulu geh sekalian beli makan. Biar ntar malam ga berkeliaran cari makan!''

"Singa kali berkeliaran cari makan'' celetuk Rino.

.

.

"Udah mau jam lima teh, ngga pulang?'' tanya Siti.

"Pulang juga bingung mau ngapain, Ti!'' jawab Auri sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.

"Ya istirahat atuh. Kan ti isuk ge capek ngurusin disain.''

Auri tersenyum tipis. Capek? Ya, tapi capek nya terasa sekali hanya saat menghadapi Candra. Selebihnya, wajar-wajar saja!

"Oh ya teh, maap Siti sama anak-anka tadi nguping.''

"Naon?''

"Teteh jadi kan ke nikahannya A Ikhsan sama Aa tadi? Siapa namanya teh, poho...?'' tanya Siti pura-pura.

"Bukan Aa, dia orang jawa. Mas Candra namanya.''

Setelah menjawab itu, Auri menaikkan salah satu alisnya.

"Bukannya kamu catet nama dia di nota?'' tanya Auri. Siti terkekeh pelan.

"Heheh cuma pastiin aja kalo teteh mah ngga lupa namanya tuh mas-mas jawa heheheh''

"Siti...''

"Iya teh...''

"Mau potong gaji ngga?'' tanya Auri dengan nada yang sangat halus. Dua teman Siti menahan tawanya, Sedangkan Siti menelan ludahnya dengan susah payah.

"Ngga mau atuh teh, jatah libur pas habis gajian. Siti mau ke mall kabupaten sebelah Teh...jangan potong gaji ya teh...'' Siti memohon.

"Ngga janji!''

"Yah...teteh, ngga seru ih! Siti mah tadina teh cuma pengen bilang teteh dateng aja ke nikahannya A Ikhsan sama mas Candra anu kasep eta. Meuni loba duitna oge. A Ikhsan mah kalah mereun. Tunjukin kalo teteh udah move on terus gantinya ngga tanggung-tanggung lagi. Biar kicep itu mulut mantan calon ibu mertua teteh....''

Auri membuang nafas pelan.

"Mau di potong berapa persen gajinya Siti?'' tanya Auri lagi. Dua teman Siti saat ini tak bisa menahan tawa mereka. Siti memanyunkan bibirnya mendengar ancaman potong gaji dari bosnya itu.

"Iya...iya...Siti diem teh!'' sahutnya.

.

.

.

Abah baru saja menjual hasil panen tahun kemarin. Dia sengaja mengosongkan gudangnya karena sebentar lagi akan musim panen. Masih ada beberapa karung padi yang memang sengaja di sisakan untuk stok beras mereka sendiri.

"Kang Aceng mah bener-bener ya jual padinya pas harganya lagi tinggi. Pinteran si akang mah'' puji salah satu tetangga.

"Namanya juga bisnis hehehe''

"Tapi keren lho neng Auri teh. Pinter gitu investasiin uangnya buat memperluas sawah. Akang sukses mendidiknya sampai Auri bisa seperti sekarang.''

"Alhamdulillah.''

Obrolan itu pun selesai setelah Aceng akan menyelesaikan transaksinya dengan juragan padi.

"Hatrnuhun ya kang Aceng udah jual padinya sama saya terus. Padahal masih banyak jugan padi yang lebih terkenal di bandingkan saya.''

"Sami-sami A. Kita udah langganan dari dulu, justru saya malah seneng karen udah ngga perlu repot-repot cari pembeli kalo mau jual padi.''

Keduanya pun kompak tertawa.

Satu jam kemudian, Auri tiba di rumah berbahan bambu itu. Ia melihat abah dan uminya baru pulang dari mushola kampung.

"Assalamualaiku...''

"Walaikumsalam'' jawab kedua orang itu. Auri pun bergegas ke dalam untuk membersihkan diri dan bersiap menjalankan kewajibannya yang sudah hampir terlambat.

.

.

"Mami''

"Iya mas?''

"Sudah dua kali papa mendatangi kediaman Mahesa. Tapi beliau masih di luar kota.''

Erina hanya mengangguk tipis.

"Menurut mami, baiknya papi mengawali obrolan soal perjodohan anaknya pak Mahesa dan Angeline gimana ya?''

Erina yang sedang memotong steak untuk suaminya pun berhenti sesaat.

"Maaf ya mas sebelumnya. Tapi menurut ku, papi jangan membahas hal itu dulu. Ngga ada salahnya kenalin anak-anaknya dulu. Kalau memang cocok bisa....''

Ucapan Erina terjeda saat Angeline tiba-tiba menyela.

"Aku kenal sama Candra. Dia satu SMA sama aku, Pi!'' kata Angeline yang menyodorkan piring kosong ke hadapan maminya. ia memang selalu minta di layani jika makan dengan papinya.

"Oh ya? Kok papi ngga tahu ya?'' tanya Damar tersenyum.

"Ya...kita satu angkatan, cuma beda kelas aja''.

Erina menyerahkan steak untuk suamiya yang sudah selesai di potong-potog. Selanjutnya, ia menyiapkan untuk Angeline.

"Dulu dia famous ngga?''

"Banget Pi. Banyak banget cewek yang di tolak sama dia hehehe.''

"Tapi kamu ngga ikut-ikutan kaya cewek-cewek yang nyatain perasaan ke dia kan saynag?'' tanya Damar.

"Heuh? Ya-yaa ngga lah Pi. Di mana harga dirinya cewek nembak cowok?''

Damar terkekeh mendengar jawaban putrinya.

Hahh! Andai papi tahu...aku juga salah satu cewek yang di tolak mentah-mentah sama si Candra Mahesa itu! Tapi itu kan dulu...setelah ini, dia ga mungkin nolak aku karena perjodohan orang tua kita. Ya kan?? Batin Angeline sambil sesekali tersenyum tipis.

Tapi, mungkin hanya Erina yang menyadari senyuman itu. Damar sibuk dengan steak yang sudah di potong kecil oleh sang istri.

Kenapa Angeline tersenyum seeprti itu? Dalam hati Erina pun bertanya-tanya.

*******

Terimakasih

1
Asriani Rini
Iyu pssti kskaknya cadra
indy
Aamiin
Asriani Rini
Semsngat mak author semoga suaminya cepat sembuh
indy
Semangat kakak💪
Endang 💖
menarik,tp plisssss up tiap hari y thor
sakura
...
Asriani Rini
Aku kasih buga biar rajin up tiap hari
Asriani Rini
Lanju thor banyak banyakup nya biar kita enggak penasaran trrus 🙏🏻
Dhina Dindin
next yuk semangat ya Bun...selalu dinanti😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!