Indonesia
NovelToon NovelToon
Memori Terakhir

Memori Terakhir

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Gilang Akbariani

Siapa yang akan menduga, jika diusianya yang masih terbilang muda dia harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya menderita Alzheimer. Hal itu menjadi pukulan yang sangat keras bagi Liora.
Takdir pilu itu telah membuat rencana pernikahannya dan juga masa depan yang telah ia rancang bersama Abian menjadi kabur.

Di masa-masa sulitnya, Liora justru dipertemukan kembali dengan sosok Kai, cinta pertamanya di waktu SMA. Pertemuan mereka menjadi pertemuan paling ironis yang Liora rasakan. Rahasia menyakitkan yang Liora tahu tentang Kai, membuat hubungannya dengan Kai menjadi semakin dekat. Perlahan, perasaan Liora dibuat bingung oleh kehadiran Kai. Di sisi lain, Abian mulai menaruh curiga akan kedekatan Liora dan Kai.

Lalu bagaimana Liora menghadapi perasaannya? Rahasia apa yang Kai miliki? Dan bagaimana hubungan Liora dan Abian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gilang Akbariani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Pagi tadi Liora dikejutkan dengan pesan dari Kai. Pria itu mengajaknya datang ke rumah dan mengatkan bahwa dia akan melakukan pertunjukan permainan pianonya. Tentu saja Liora sangat senang saat mendengar hal itu. Dia tidak menyangka harapannya seminggu yang lalu dapat terwujud secepat ini. Namun hal yang paling membuat Liora sangat bersyukur karena Kai telah benar-benar bisa melawan rasa takut dan traumanya setelah sekian lama.

Seperti janji Kai, pria itu akan menjemputnya di rumah orang tuanya di Bogor sore nanti. Liora sudah bersiap-siap sejak satu jam yang lalu sebelum Kai datang. Gadis itu sudah tampak cantik dengan blouse satin Navy, dan rok selutut berwarna baby blue dengan motif bunga-bunga yang berwarna senada dengan bajunya. Liora tentu harus berpakaian sopan dan rapih karena menurut Kai, dia akan mengajak Liora makan malam juga dengan orang tuanya.

Tidak berapa lama Rahma sudah mengetuk pintu kamar putrinya. Ibunya membuka pintu kayu tersebut dan mengatakan bahwa Kai sudah menunggunya di bawah. Melihat Liora masih berkaca untuk memastikan dandanannya, Rahma sebagai seorang ibu paham, jika pria yang datang ke rumahnya itu bukan hanya teman biasa bagi putrinya. Raut wajah Liora dapat menjelaskan semuanya. Bahkan sorot mata gadis itu saat mendengar nama pria itu disebut menyorotkan binar mata yang tidak pernah Rahma lihat sebelumnya saat Liora masih bersama Abian.

“Udah cantik, kok,” goda Rahma yang kini sudah berjalan menghampiri putrinya yang masih berdiri di depan cermin.

Liora tersenyum malu, “mah Liora pergi dulu ya sama Kai. Nanti bilangin sama papah juga,” ucap Liora yang dijawab sebuah anggukan dari ibunya.

“Neng suka sama Kai ya?” Tanya Rahma hanya ingin mengetahui apa yang akan putrinya jawab.

Mendapati pertanyaan Rahma, Liora menjadi salah tingkah. Apakah dia terlalu kentara, sampai ibunya saja mengetahui perasaannya. Liora masih diam tidak menjawab tapi senyuman kikuk gadis itu dapat menjawab semuanya.

“Gak usah dijawab, mamah juga tahu kok,” Rahma kemudian mengelus lembut kepala putrinya.

“Mamah selalu tahu isi hati anak-anaknya kaya cenayang.”

“Karena mamah seorang ibu. Ya udah ayo cepet turun, kasihan Kai nungguin lama.”

Keduanya akhirnya turun untuk menemui Kai yang kini tengah menunggu di ruang tamu. Saat Kai melihat Liora dan ibunya muncul, pria itu langsung sigap berdiri. Sekalian langsung berpamitan niatnya, karena takut jika terlalu malam nanti akan macet. Maklum saja malam minggu.

“Saya mohon izin mengajak Liora makan makan malam tante,” izin Kai dengan sopan pada Rahma.

“Iya, tante izinkan, hati-hati ya. Nanti pulangnya jangan malam-malam,” tanpa berlama-lama, Kai dan Liora kemudian bersalaman dan pamit dengan Rahma.

Kurang lebih dua jam perjalanan yang mereka habiskan untuk sampai di rumah orang tua Kai. Saat Liora sudah sampai di rumah besar milik orang tua Kai, jantungnya mulai berdegup kencang. Dia sangat gugup, dan sungguh dia menyesal kenapa mengiyakan ajakan pria itu untuk ikut makan malam dengan keluarga Kai. Jika biasanya dirinya lah yang sering membuat Kai sport jantung dengan bucket list-nya, kali ini Kai lah yang membuatnya sport jantung hingga rasanya kaki Liora sangat lemas. Kai sudah mengajak Liora masuk ke dalam rumah orang tuanya tersebut.

“Hai… kak Lio,” pekik Viola begitu senang melihat kedatangan Liora. Gadis itu bahkan sudah berhambur memeluk tubuh Liora.

Liora sangat bersyukur di keluarga ini ada Viola. Setidaknya melihat keceriaan dan keramahan gadis itu padanya, membuat gugupnya sedikit berkurang. Tidak berapa lama seorang wanita yang terlihat begitu cantik dan anggun muncul. Dalam sepersekian detik Liora sangat terpesona dengan tampilan wanita yang dia yakini adalah ibunya Kai dan Viola. Wanita itu memancarkan aura yang sangat menenangkan. Iris matanya berwarna hazel yang indah, persis seperti Kai. Meski usianya sudah tidak muda lagi, tapi kecantikan wanita itu tidak sedikitpun termakan usia.

“Hai, sayang,” wanita itu langsung memeluk Liora dengan lembut.

“Akhirnya Kai mau ngenalin juga Liora sama mamah. Kenalin mamahnya Kai,” lanjut Sandra begitu ramah. Senyum bahagianya tidak dapat dia sembunyikan.

“Hallo tante, saya Liora,” Liora segera menyalami tangan Sandra. Sandra cukup terkejut karena masih ada anak muda yang begitu sopan seperti Liora, yang mau menjabat dan mencium tangan orang yang lebih tua.

“Oh Liora sudah datang rupanya,” Sean baru muncul dari dalam kamarnya.

Liora dengan sigap menyalami Sean. Dia tahu jika pria itu pasti ayah Kai. Wajah Kai seperti kopian dari ayahnya. Hanya mata Kai saja yang menurun dari ibunya.

“Karena semua sudah datang, kalau begitu ayo kita langsung makan malam saja.”

Sean mengajak mereka menuju meja makan besar rumahnya yang sudah dipenuhi dengan berbagai jenis makanan. Liora yang tidak pernah-pernahnya melihat meja makan sebuah rumah dengan banyak jenis lauk-pauk tersaji lengkap, reflek menelan salivanya. Perutnya yang tadi tidak begitu lapar, kini menjadi sangat lapar. Apakah keluarga Kai memang selalu menyajikan menu makan sehari-hari semewah ini? Sungguh Liora semakin sadar diri bahwa kasta keluarganya dan keluarga Kai sangat jauh berbeda hanya dari isi meja makannya saja.

Acara makan malam itu terasa begitu hangat. Canda dan tawa tak henti-hentinya mewarnai pembicaraan ringan mereka. Semua orang sepertinya sedang dalam suasana hati yang bahagia. Sandra sesekali terdiam, mengamati suasana makan malam itu yang terasa begitu menyenangkan. Masa-masa kelam yang mengungkung mereka selama ini perlahan mulai memudar. Hati Sandra begitu bahagai, melihat suami dan anak-anaknya kini bisa saling bercanda dan tertawa seperti dahulu lagi. Dia tidak ingin semua ini berakhir, dia ingin semua kebahagiaan ini terus menaungi keluarganya.

...*** ...

Seusai makan malam keluarga yang menyenangkan itu Kai kemudian mengajak Liora pergi ke rumah pria itu. Ya, Kai akan memenuhi janjinya memainkan piano untuk Liora di rumahnya karena satu-satunya piano yang Kai punya itu berada di rumahnya.

Rumah Kai seperti biasa, sangat sepi. Liora kini duduk di salah satu sofa yang berada tidak jauh dari grand piano itu berada sambil mengelus Snowbell yang saat ini tertidur di pangkuan Liora. Kai tengah duduk menghadap ke pianonya, membelakangi gadis itu.

“Kamu mau request lagu apa?’ Tanya Kai sembari menengok ke arah gadis itu.

Liora berfikir sejenak dan tiba-tiba dia teringat dengan sebuah lagu yang menjadi soundtrack film animasi Jepang kesukaannya.

“One Summer’s Day, Joe Hisaishi, ost nya Spirited Away kamu tahu gak Kai, film animasi itu? Ucap Liora penuh semangat, semoga Kai tahu lagu yang dia maksud.

Kai tidak menjawab ucapan gadis itu. Kini dia kembali berbalik menghadap ke arah piano. Pria itu sejenak menutup kedua bola matanya untuk memfokuskan konsentrasinya. Tidak lama kemudian jari-jemarinya mulai menari diatas tuts piano, memainkan lagu One Summer’s Day.

Detik saat lagu itu dimainkan, Liora dapat merasakan desir hangat menyelimuti seluruh hatinya saat ini. Terasa nyaman dan begitu mendamaikan. Liora seperti dibawa kesebuah hamparan padang rumput yang telah menguning di musim panas, dengan langit yang membiru, tempat dimana begitu asing baginya, namun begitu nyaman. Liora ingin menyimpan kenangan ini pada tempat paling istimewa di dalam ingatannya. Ingatan tentang Kai, ingatan tentang lagu ini, dan ingatan tentang perasaannya pada pria itu. Liora tidak ingin melupakannya, jika saja dia bisa. Bulir air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Pada denting terakhir suara piano itu, Liora segera mengusap air matanya, dia tidak ingin Kai melihat dirinya menangis.

Tepuk tangan penuh semangat Liora berikan untuk sang pianis yang malam itu telah mewujudkan salah satu bucket list-nya. Senyum lebar gadis itu terlihat sangat bahagia.

Kai membalik tubuhnya menghadap pada tempat dimana Liora duduk. Pria itu menatap dengan cukup lama pada gadis yang kini tengah bertepuk tangan dan tersenyum bahagia.

"Ada lagi bucket list yang mau kamu lakukan?” Tanya Kai.

Dengan cepat gadis itu menggeleng, “gak ada, semua bucket list aku udah selesai. Terimakasih karena sudah mau memenuhi bucket list aku, Kai,” ucap Liora yang matanya mulai memanas karena desakan air mata.

Kai bangkit dari kursi pianonya. Pria itu berjalan mendekati sofa tempat Liora duduk. Kai kemudian mengulurkan tangan pada Liora, mengajak Liora untuk berdiri. Snowbell yang tadi ada di pangkuan Liora secepatnya Liora pindahkan ke sofa. Saat keduanya kini sudah saling berhadap, Kai tiba-tiba mencium lembut kening Liora, begitu lembut hingga membuat jantung gadis itu terasa berhenti untuk beberapa detik.

“Terimakasih juga karena sudah membagi banyak kenangan indah sama aku. Kenangan yang berharga yang bisa aku simpan di sini. Hari-hari yang aku lalui sama kamu adalah hari-hari yang sangat membahagiakan buat aku, Ra. Terimakasih.” Ucap Kai dengan tatapan yang begitu dalam pada Liora.

“Aku mau kamu juga menyimpan sebuah kenangan, kenangan yang ingin aku hadiahkan juga buat kamu.” Kai menjeda ucapannya, tatapannya begitu intenst menatap kedua bola mata Liora yang saat ini terlihat sangat gugup.

“Kenangan tentang…. Aku yang sangat mencintai kamu Liora. Tolong simpan itu di hati kamu,” ucapan Kai berhasil membuat Liora tersentak kaget dengan pengakuan pria itu.

“K-Kai…” Suara Liora tercekat, mulutnya tidak bisa berkata-kata. Air matanya sudah jatuh tanpa permisi. Kai dengan kembut memeluk tubuh wanita itu, membawanya dalam dekapannya begitu lama.

“I love you. Cukup kamu ingat itu,” ulang Kai kembali. Malam itu dia ingin Liora menyimpan perasaannya dalam hati dan ingatan gadis itu. Hadiah yang bisa dia berikan untuk Liora.

...***...

1
Mayda Zaich
baguuussss
Gilang Akbariani: thank you 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!