Arasya dan Alvian baru saja menikah. Tak disangka oleh Arasya, bahwa ia bisa menikahi pria konglomerat yang kini sudah menjadi suaminya itu. Namun sayangnya sepasang kekasih itu kini sedang berusaha untuk melawan segala rintangan yang justru menginginkan keduanya untuk berpisah. Rintangan yang berasal dari masa lalu keduanya.
Akankah mereka sanggup mempertahankan cinta mereka atau justru Alvian akan kehilangan Arasya untuk selama-lamanya? Rahasia kelam apa yang membuat Arasya sebenci itu kepada suami ‘sempurna’ nya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adelia Raissha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGKHIANATAN KEJAM DARI CINTAKU EPISODE 24
...IVORUZ ****(4)...
Edward: YES!
Edward: KITA HAMPIR MENANG NJIR!
Edward: Impian lo tercapai sekarang, Vin.
Alvin: gnti ke plan B.
Edward: LAH SI ANJIR KENAPA?!
Edward: KITA UDAH HAMPIR MENANG, LO MALAH GANTI PLAN?
Alvin: gnti ke plan B.
Alvin: gue gk mau Asya trlibat mslh ini.
Leon: gue setuju sama Alvin😁🧐🫡👍🏻
Leon: gak seharusnya Asya masuk ke rencana balas dendam kita.
Leon: dia terlalu baik buat dijadiin bahan balas dendam.😞😔😟☹️😣😩😢😭
Alvin: dan gue gk mau Asya nnggalin gue krn hal ini.
Edward: I see, i see.
Edward: Gue tau sekarang lo udah cinta banget sama Asya, tapi impian lo di depan mata!
Edward: Dari dulu lo selalu aja mikirin gimana caranya balesin dendam atas kematian orangtua lo, lo sampe stress terus frustasi.
Edward: Dan sekarang justru lo sia-siain gitu aja?
Alvin: KLO GUE BLG GNTI KE PLAN B, YA GNTI!
Alvin: GUE GK MAU KORBANIN ASYA!
Alvin: UDH CKUP DLU DIA MNDRITA KRN GUA!!!
Leon: Ed, ikutin perintah Alvin aja.😤🤯😠😡
Leon: gue tau maksud lo baik, tapi kalo kita beneran ikutin plan A yang ada Asya bakalan bahaya.
Leon: lo inget kan akhir dari plan A gimana?
Edward: Kita suruh orang buat bunuh Asya dan bikin Kennetzo semakin menderita.
Leon: that's it!🥺😢😭😩
Leon: lo pikir Alvin setega itu ngebunuh orang yang dia sayang?😣☹️🙁😢😭😫
Edward: At least, impian dia tercapai.
Edward: Atau gak kita gak usah sampai selesai, intinya kita berhasil bikin Kennetzo menderita aja.
Leon: trus ngebiarin Asya tau kalo selama ini Alvin cuman jadiin dia sebagai bahan rencana balas dendam?
Alvin: LO MAU ASYA TAU KLO GUA YG UDH HNCURIN HDUP DIA DLU?
Alvin: UDH CKUP ADIKNYA JD KORBAN!
Edward: Yaudahlah, gue ngikut aja.
Edward: Daripada gue gak setuju terus perusahaan gue tiba-tiba bangkrut dibikin lu, Vin.
Edward: Ngikut aja dah gue, terserah lu.
Edward: btw, si buaya darat kemana?
Galexa yang sejak awal membaca isi notifikasi dari ponsel Samuel pun mengeram kesal. Pikirannya berjalan kemana-mana saat ia melihat tulisan Asya yang akan mati terbunuh dan Asya yang sengaja dijadikan bahan balas dendamnya Alvin.
Nafasnya memburu dan sudah siap-siap ia mengajar wajah Alvin saat ini, tak peduli seberapa tampan lelaki itu.
Samuel yang baru saja datang dari toilet cafe pun terlihat sedang mencari sesuatu. Lelaki itu tersenyum puas saat mendapati ponselnya ternyata tertinggal di atas meja bersama Galexa.
Samuel tanpa rasa curiga sedikitpun, segera duduk dan mengerutkan keningnya. Lelaki itu terlihat keheranan dengan perubahan mimik wajah Galexa yang terlihat sangat amat marah.
Wah, jangan-jangan pacar gua yang lain pada nelpon nih atau ngechat. batin Samuel dalam hati.
"Kamu kenap—"
"LO APAIN ASYA, ANJING?" sanggah Galexa dengan nada berteriak dan emosi yang menggebu-gebu.
Suasana cafe yang awalnya gembira, mendadak menjadi suram. Para pengunjung mulai memperhatikan Galexa yang sedang berteriak dengan nada marah.
"Maksud kamu apa sih, Galexa? Sahabat kamu yang mana, Sayangku?" balas Samuel justru berusaha menenangkan situasi dengan cara menggoda Galexa.
"GAK USAH SOK POLOS, BANGSAT! APA YANG SELAMA INI LO RENCANAIN KE ASYA, HAH?!" jerit Galexa dengan mata melotot dan wajah yang sudah merah padam.
Deg.
Jantung Samuel berdegup cepat seketika. Kemungkinan ini adalah hari terakhirnya melihat dunia yang menurutnya sangat indah ini, ia mungkin akan habis di tangan Alvin.
Samuel membatin, GALEXA TAU DARIMANA ANJIR?! MAMPUS GUE!!
"Galexa, lo salah paham. Gue gak ada rencana apa-apa ke Asya, seriusan dahh." elak Samuel yang berusaha menenangkan situasi.
Galexa menunjukkan layar ponsel Samuel yang terkunci, namun terdapat beberapa notifikasi yang berasal dari sebuah grup.
Samuel menela saliva-nya gusar, ia sungguh tidak tahu apa yang harus ia jelaskan kepada Galexa. Lelaki itu sungguh menyesal telah meninggalkan ponselnya ketika ia buang air kecil tadi.
"Itu.."
"ITU APA? LO RENCANAIN APA KE SAHABAT GUA, HAH?!" jerit Galexa yang seakan tidak peduli dengan pengunjung lain yang sedang memperhatikan dirinya.
"Fine, gue jelasin! Tapi gak disini, gue bakal jelasin secara pribadi dan lo harus janji jangan pernah kasih tau Asya tentang masalah ini." ucap Samuel mulai kehilangan arah.
Galexa menatap wajah Samuel dengan tatapan tajam. "Kalo masalah ini menyangkut keselamatan Asya, gue harus kasih tau ke dia!"
"Enggak! Gak boleh, karena gua yakin dia bakal aman. Gue yang bakal maju ke depan buat nyelametin dia kalo dia dalam bahaya." bohong Samuel.
Galexa menatap wajah Samuel yang terlihat serius, seolah tak ada kebohongan sedikitpun. Samuel lalu mengajak Galexa untuk keluar dari restoran dan membayar bill, lalu setelahnya memasuki mobil dan mulai menghela nafasnya berat.
Maafin gue, Vin. batin Samuel dalam hatinya yang sudah pasrah.
"Jelasin semuanya tanpa ada kebohongan sedikitpun." pinta Galexa kepada Samuel.
Samuel mengambil nafas panjang sebelum ia memulai pembicaraan.
"Sebelumnya lo harus janji, rahasiain semua ini dari siapapun. Apalagi Asya!" tegas Samuel.
"Iya-iya, cepetan!" Galexa mendengus sebal.
"Orangtua Alvin sebenarnya meninggal bukan karena kecelakaan pesawat, tapi karena di bunuh. Orangtuanya meninggal seminggu setelah kematian Leyna, mantannya." jelas Samuel dengan nada pelan.
Galexa terlihat serius, rasa empatinya mulai bermunculan saat mendengar kenyataan pahit yang di alami oleh Alvin.
Namun sedetik kemudian, ia berubah.
Mengingat Alvin hanya menjadikan sahabatnya sebagai bahan balas dendamnya saja.
"Alvin stress karena di tinggalin orang yang bener-bener dia sayang, dia jadi punya semacam trauma. Sifatnya juga jadi lebih cuek dan rasa kemanusiaannya hilang saat itu juga." lanjut Samuel masih dengan nada pelan.
Samuel berhenti, ia terdiam.
Ragu untuk kembali menjelaskan masalah ini kepada Galexa karena lelaki itu masih belum bisa mempercayai Galexa seutuhnya.
"Kenapa diem? Lanjutin," paksa Galexa sehingga membuat Samuel kesal.
Samuel menatap wajah Galexa dengan tatapan menahan kesal, "Gue gak bisa lanjutin, ini masalah sahabat gue. Gue gak punya hal buat ceritain ke lo."
"Tapi masalah ini menyangkut sahabat gue, jadi gue harus tau!" balas Galexa dengan nada meninggi.
"Ck," Samuel berdecak.
Samuel lalu kembali melanjutkan penjelasannya. "Orang yang ngebunuh orangtua Alvin punya dendam sama Alvin, karena dia merasa Leyna mati karena kesalahan Alvin. Orang itu punya hubungan darah sama Leyna, dia abangnya Leyna."
"Orang itu.. Kak Ken? Mantannya Asya?" tanya Galexa sedikit ragu.
Samuel hanya bisa mengangguk pelan, sangat pelan. "Iya, orang itu Kennetzo Camilton. Mantannya Asya,"
"Gue gak pernah tau Kak Ken punya adik perempuan." gumam Galexa yang terdengar oleh Samuel.
"Leyna beda rumah sama Kennetzo, tadinya Leyna tinggal di Inggris tapi pindah ke Indonesia pas mulai remaja. Dan Leyna itu beda ibu sama Kennetzo, tapi dia sayang banget sama adik tirinya itu.” jawab Samuel memberitahu.
"Jadi Alvin sengaja deketin Asya supaya Asya pisah sama Kak Ken? Jadinya Kak Ken bisa ngerasain rasanya kehilangan juga?" Galexa mulai melontarkan beberapa pertanyaan kepaa Samuel yang hanya bisa lelaki itu jawab dengan anggukan kepala.
Galexa menggeleng lemah, terlihat kurang setuju dengan jawaban Samuel.
"Tapi sebelum kenal Alvin, Asya udah putus duluan sama Kak Ken karena—"
"Karena Asya pikir Kennetzo yang udah ngebunuh adiknya." sela Samuel dengan helaan nafas pasrah.
Ting!
Suara bunyi notifikasi dari ponsel Samuel membuat kedua manusia itu menghentikkan sesi tanya-jawabnya.
Samuel langsung mengambil ponselnya dari tangan Galexa dan membaca sebuah pesan dengan mimik wajah serius.
Galexa yang melihatnya pun mengerutkan keningnya, "Dari siapa?"
"Orang." balas Samuel asal karena ia masih sibuk dengan ponselnya.
"Iyalah orang, masa setan!" ketus Galexa kesal.
Senyuman Samuel mengambang seketika, lelaki itu langsung menaruh ponselnya dan menjalankan mobilnya seolah ia melupakan kejadian sebelumnya.
"Lo kenapa sih? Kesambet setan?" tanya Galexa keheranan.
"Gue mau anterin lo pulang, gue sibuk sekarang." jawab Samuel seadanya.
"Lo belom selesai cerita ke gue tentang Asya, gue gak mau pulang." decak Galexa memaksa.
"Lo harus pulang dan rahasiain semua ini, kalo gak ini terakhir kalinya lo ngeliat muka gua di dunia ini. Mungkin nanti di neraka kita bisa ketemuan," balas Samuel dengan nada bicara serius.
"Maksud lo?" Galexa merasa aneh dengan pernyataan yang diberikan oleh Samuel.
"Kalo sampai Alvin tau gue yang bocorin masalah ini ke lo, dan Asya beneran ninggalin dia berarti itu tandanya gue harus bikin surat warisan. Lo gak akan pernah tau apa yang bisa Alvin lakuin." jawab Samuel serius.
"Alvin bisa ngelakuin apa aja ke siapapun itu kalo udah menyangkut orang yang dia sayang. Yah, walaupun Asya emang terlibat di masalah ini tapi gue yakin Alvin gak bakal setega itu buat nyakitin Asya, apalagi kalo sampai ngebunuh Asya." tambahnya.
...—Bersambung—...